
Deril bergegas menyembunyikan handphone-nya di bawah kulkas. Dia hanya berharap, Ardi tidak akan memberitahukan lokasi handphone itu pada Dokter Stephen hanya untuk sekedar mencari muka.
"Aku akan mengendurkan tali itu," ujar Deril, lalu berjalan pelan menuju katrol di mana ujung dari tali yang menjerat leher Ardi diikat oleh Dokter Stephen.
"Maaf..." Ardi berkata pelan, hampir tidak bisa Deril dengar. "Harusnya aku bilang di awal. Aku takut."
Deril tersenyum hampa. Dia akhirnya mengerti alasan penolakan yang dia terima. Dia tidak mungkin menyukai sesama jenis. Bagaimanapun Dokter Stephen mengubah Ardi mendekati Mika, di dalamnya, Ardi tetaplah laki-laki.
"Aku tidak bisa lawan dia. Kalau kamu bisa, kabur saja sendiri."
Deril membelakangi katrol dan memutar tuasnya dengan tangan yang terikat di punggung. Hanya tiga kali Deril berhasil memutar tuas. Setelah itu, Deril kembali terjatuh ke lantai.
"Aku juga tidak bisa kabur. Tubuhku lemas sekali. Kepalaku rasanya mau pe-uhuk!" tiba-tiba Deril merasa mual, lalu dia muntah. Semua isi perutnya keluar. Jelas bahwa tekanan kepalanya meningkat gara-gara pukulan dari Dokter Stephen. Deril tidak bisa menjaga kesadarannya lebih lama lagi. Dia sudah pingsan untuk kedua kalinya.
***
"Hmp! Hmp! Hmp!"
Deril mengerjap. Kedua tangan dan kakinya lemas. Pandangannya buram untuk beberapa saat. Melihat ada seseorang di sudut ruangan, Deril berusaha untuk memfokuskan pandangan matanya.
"Bu Mia?"
"Oooh, jadi kamu kenal wanita itu?" suara Dokter Stephen terdengar dari arah tangga.
__ADS_1
Deril tidak sanggup untuk mengangkat tubuhnya. Jadi, dia hanya berbaring sambil mengatur nafas.
"Polisi, hah?" Dokter Stephen melempar kartu identitas dan borgol Mia ke depan Deril. "Ternyata kamu pintar, tidak bertindak sendirian untuk melepas bocah itu."
Deril melihat Mia dengan kondisi tangan dan kaki terikat, serta mulut tersumpal kain. Dia tidak menyangka kalau Dokter Stephen berani berbuat begitu pada Mia yang merupakan seorang polisi.
"Dia tidak ada hubungannya!" sanggah Deril.
"HAHAHAHAHAHA!" tawa Dokter Stephen meledak. "Hei, Nak! Siapa yang mau kamu bohongi?" sindirnya. "Apa ada lagi orang yang akan datang kemari? Atau aku sudah bisa melakukan eksekusi pada kalian berdua?"
Rahang Deril mengeras. Dia merasa sangat kesal dengan perkatan Dokter Stephen. Tapi, apa daya. Tubuhnya tidak bereaksi sebagaimana otaknya perintahkan.
'Apa kami akan mati di sini?'
Pikiran itu terus-menerus terlintas di kepalanya. Dia tidak tahu bagaimana cara melarikan diri dari genggaman Dokter Stephen. Tiba-tiba, Dokter Stephen bangkit. Dia berjalan santai ke arah Mia yang mundur sebisa mungkin.
"TIDAK!" seru Deril, ketika melihat Dokter Stephen mengacungkan sebuah pistol seukuran telapak tangannya ke arah pelipis Mia.
"Hehehehehe," Dokter Stephen terkekeh, tahu Deril sedang panik. "Kira-kira, apa yang akan terjadi kalau pelatuk ini aku tekan?"
"TIDAK! JANGAN! KENAPA ANDA MELAKUKAN INI!?" Deril gelap mata.
"Lalu, apa yang harus aku lakukan untuk bersenang-senang?" Dokter Stephen balik bertanya. "Kalian datang ke hidupku, untuk bermain, kan? Kalian tidak akan mendapatkan siksaan seperti bocah itu. Bagaimanapun, aku tidak punya dendam dengan kalian."
__ADS_1
"Meski begitu," Deril buru-buru menjawab. Dia tidak akan bisa memaafkan dirinya, jika terjadi sesuatu pada Mia yang rela menolongnya. "Meski begitu, jangan libatkan Bu Mia!"
Senyuman di wajah Dokter Stephen kian melebar. "Kamu bodoh dan naif. Ciri-ciri orang yang akan cepat mati di dunia ini."
DORRR!!!
Mata Deril membelalak. Dia menyaksikan bagaimana peluru dari ujung pistol itu, keluar dan melesat menembus kepala Mia. Darah segar mengucur dari tempat di mana peluru itu keluar. Sedetik kemudian, Mia jatuh ke lantai dengan mata masih terbuka. Tubuhnya menggeliat, seolah kesakitan. Darah mulai menggenang di sekitar kepala Mia.
"Benar, kan? Sakitnya tidak lama," kata Dokter Stephen.
Deril masih membeku. Dia tidak percaya dengan apa yang matanya saksikan. Suara Mia masih bisa dia dengar di kepalanya. Mereka masih saling bicara beberapa jam lalu. Deril merangkak sebisa mungkin mendekati tubuh Mia. Dia hendak mencoba membangunkan polisi yang selama ini membantunya.
"Bu Mia!" panggil Deril, putus asa. "Bu Mia! Bu Mia!"
"Apa kamu pikir aku menembakkan peluru mainan?" tanya Dokter Stephen. Dia kembali mengarahkan moncong pistol ke tubuh Mia. Tidak menunggu aba-aba, Dokter Stephen menarik pelatuknya berkali-kali. Satu demi satu peluru bersarang di tubuh Mia yang sudah tidak bernyawa. Deril menutup mata ketika mendengar suara letusan pistol. Dia tidak bisa menyaksikan bagaimana brutalnya Dokter Stephen membunuh Mia.
"Jangan bunuh aku... Jangan bunuh aku..." tiba-tiba Ardi merengek. Dia menangis ketakutan dengan leher setengah tergantung.
"Bukannya kamu pernah ada di posisiku?" tanya Dokter Stephen pada Ardi. "Bagaimana rasanya membunuh ayahmu sendiri?"
"Tidak... Tidak... Tidak..." rintih Ardi.
Deril tidak membuka mulutnya. Dia bisa mencium bau darah kali ini. Mia sudah pasti tidak selamat. Di titik itu, Deril berpasrah. Dia tidak bisa mengharapkan apapun. Tidak ada yang tahu bahwa mereka di sini, kecuali Mia. Namun, Mia sudah tiada saat ini.
__ADS_1
"Apa kamu mau mencoba rasanya tubuh bocah itu? Dia benar-benar mirip perempuan. Setidaknya, sebelum kamu mati, kamu sudah merasakan nikmatnya surga dunia," Dokter Stephen menawarkan Ardi pada Deril.
***