The Girl Next Door

The Girl Next Door
Luka


__ADS_3

Langit malam sangat indah. Lantunan lagu jazz memenuhi ruangan restoran. Wangi semerbak mawar merah yang tergeletak di atas meja menambah kesan romantis. Dua orang berpakaian rapi duduk saling berhadapan. Senyuman di wajah mereka terus terukir. Ini adalah Hari Sabtu di minggu ke empat bulan April. Mereka memutuskan untuk selalu makan malam bersama di hari itu. Kesibukan mereka harus diimbangi dengan hal-hal semacam ini, agar pernikahan mereka tetap bertahan.


"Restoran kali ini, sangat bagus. Apa ini tidak mahal?"


"Tentu saja ini mahal. Tapi, semuanya terbayar dengan wanita cantik yang duduk bersamaku."


"Hahahaha! Kamu bisa saja!" wanita itu menyesap wine di gelasnya.


Mata laki-laki di depannya tidak bergerak sesentipun. Dia mabuk kepayang dengan kecantikan istrinya. Setelah menghabiskan lima tahun untuk mengejar cintanya, akhirnya laki-laki itu berhasil mempersunting wanita pujaannya, meski tidak ada satupun keluarga yang mendukungnya.


"Lain kali, kita harus mengajak Mika ke sini."


"Kita bisa mengajaknya di lain hari. Aku hanya ingin bersama istriku tercinta di hari ini."


Senyuman wanita itu melebar. Pipinya merona dengan sempurna. "Aku memberimu seorang anak yang sangat cantik. Apa kamu tidak jatuh cinta padanya?"


"Tentu saja aku jatuh cinta padanya. Tapi, kamu harus mendapatkan tempat spesial. Apa kamu tidak setuju?"


"Dengan semua hal indah ini? Apa aku masih bisa menolaknya?"


"Tentu tidak. Kamu harus menerima perlakuan manja suamimu ini!"


Hari itu adalah salah satu malam terindah bagi mereka. Tidak ada yang mengganggu. Semuanya berjalan sangat mulus. Mereka bahkan menikmati wine terenak yang pernah mereka coba.


Jam menunjukkan pukul sebelas malam ketika akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke rumah. Anak mereka sudah menunggu. Di dalam mobil, mereka masih sempat bercanda dan bercumbu, seolah melepas rasa rindu yang selama ini mereka tahan.


"Kita sudah sampai," sopir taksi yang mengantar mereka memberitahu saat mobilnya berhenti di depan sebuah rumah megah dengan lampu taman indah pilihan nyonya rumah.


"Terima kasih," laki-laki bertubuh kekar dengan dasi sedikit miring menyerahkan empat lembar uang seratus ribu pada sopir taksi yang mengantarnya. "Ambil kembaliannya. Kami sedang bahagia saat ini. Terima kasih sudah mengantar kami."


Mereka berdua keluar dari dalam taksi. Udara dingin langsung menyergap pundak mereka. Pilihan untuk tinggal di sebuah desa dengan udara segar adalah rencana mereka setelah menikah, dan tampaknya mereka betah di rumah itu karena sudah melewati tujuh tahun.


"Ayo, cepat masuk!"


"Ssst, jangan bersuara! Mika pasti sudah tidur."


"Harus aku bangunkan. Dia harus tahu kalau papanya sudah pulang."


"Bangunkan setelah kamu mandi."


"Tidak boleh sekarang?"


"Kamu penuh kuman! Mandilah dulu!"

__ADS_1


"Baik, Nyonya~"


Cklek!


"Lho?"


"Kenapa?"


"Pintunya tidak terkunci."


"Benarkah?"


"Apa Bi Maria lupa mengunci pintu depan?"


"Itu sangat berbahaya!"


"Aku akan bicara dengannya nanti. Kamu pergilah duluan ke kamar. Aku akan mengecek keadaan Mika terlebih dulu."


"Jangan langsung membangunkannya!"


"Iya, Sayang~"


Laki-laki itu mengendap ke lantai dua, tempat kamar putri tersayangnya berada. Dia sengaja tidak menyalakan lampu utama, takut mengganggu anaknya yang sedang beristirahat. Perlahan, dia mendekati kamar putrinya. Pintu kamar yang terletak di ujung lorong sedikit terbuka. Sinar lampu menyeruak dari arah dalam. Laki-laki itu bingung, menduga anaknya belum tidur padahal sudah hampir tengah malam.


Langkahnya terhenti. Telinganya tidak salah mendengar suara ******* seorang pria. Jantungnya menjadi berdebar tidak karuan. Dia berlari ke arah kamar putrinya.


BRAK!


Pintu terbanting hingga terbuka. Matanya membelalak tidak percaya dengan apa yang ada di hadapannya. "SIAPA KAU!?" suara itu menggelegar, memenuhi seisi rumah. Bagai petir di siang bolong, laki-laki itu hampir pingsan dibuatnya.


Seorang remaja tengah menyetubuhi putrinya. Putrinya yang baru berusia lima tahun. Tubuh mungil itu terkulai di atas tempat tidur berbentuk bunga yang dia pilih sebagai hadiah ulang tahun kelimanya bulan lalu.


Remaja yang tidak menduga bahwa akan ada orang yang datang, langsung menarik dirinya. Dia buru-buru memakai celananya kembali. Dia mundur, menjauh dari tubuh mungil yang tidak bergerak di atas tempat tidur.


"MIKA!"


Remaja yang melihat ada celah untuknya kabur, langsung menyelinap ke belakang laki-laki yang meneriakkan nama anak di atas tempat tidur. Namun, dugaannya salah. Lengannya langsung ditangkap dan dia tidak bisa melarikan diri.


"Ada apa?" wanita yang tadi mengenakan dress mermaid berwarna hitam, kembali hanya dengan mengenakan handuk. Dia buru-buru naik ke lantai dua setelah mendengar teriakan suaminya. "Siapa di--MIKA!?"


Remaja itu meronta dengan sia-sia. Kemarahan telah menguasai diri laki-laki yang menangkapnya. Dengan satu pukulan, dia berhasil menumbangkan remaja bertubuh kurus yang sudah memperkosa putrinya.


"MIKA! MIKA! SUAMIKU, MIKA TIDAK BERGERAK!"

__ADS_1


Laki-laki itu menghampiri gadis kecil yang kini berada di dalam dekapan ibunya. Dia mengecek nadi anaknya. Nihil. Dia mencoba memberi pertolongan pertama selama semenit. Namun, tangan anaknya tidak kembali hangat. Tangan mungil itu terasa sangat dingin.


"Suamiku... Mika... Mika..." wanita itu jatuh ke lantai. Dia kehilangan kesadarannya.


Suaminya tetap berusaha melakukan pertolongan pertama selama sepuluh menit ke depan. Rasa takut yang luar biasa membuatnya memiliki tenaga lebih untuk melakukan pijat jantung bahkan labih lama dari seharusnya.


Namun, nasib baik pada hari itu seolah sudah habis untuknya. Setelah menghabiskan waktu yang indah bersama istrinya, dia merasa tidak mempunyai sisa keberuntungan lagi hari itu. Tubuh kecil yang ada di depannya tidak merespon terhadap pertolongan pertama yang diberikan. Nyawanya sudah lama menghilang sebelum disetubuhi.


"Apakah ini ganjaran karena aku terlalu bahagia?" tanyanya pada diri sendiri. "Apakah salah memiliki wanita yang aku cintai, sekaligus memiliki anak yang sangat aku sayangi?"


"Uhuk! Uhuk!"


Laki-laki itu menoleh. Remaja yang tadi dia tinju, mulai sadar kembali. Dia meletakkan tubuh anaknya dengan hati-hati ke atas tempat tidur. Kemudian, dia menghampiri remaja itu dan menarik kedua tangannya ke punggung.


"Pak! Ampun, Pak! Lepaskan aku!"


"Setelah semuanya, kamu berharap aku untuk membiarkanmu pergi?"


"Aku salah! Aku salah!"


Dia tidak mengindahkan jeritan remaja itu yang memohon pengampunan. Rasa marah sudah membutakan matanya. Dia mengikat tangan remaja itu dengan celana anaknya yang tergeletak di lantai, kemudian menyumbat mulutnya dengan pakaian dalam anaknya.


"Kamu suka, kan? Kamu suka wangi anakku? Apakah kamu jadi bernafsu lagi setelah ****** ***** ini aku sumpal ke mulutmu?"


"Suamiku..." wanita itu juga mulai sadar. "Astaga... Suamiku... Apa yang kamu lakukan? Mika? Mika!" Wanita itu bangun dan berjalan ke ranjang anaknya dengan langkah lunglai. "Mika!"


"DIAMLAH!"


"Suamiku... Ayo ke rumah sakit! Putri kita harus ditolong!"


"Percuma."


"Apa maksudmu percuma!? Kamu bahkan belum berusaha!"


"DIAMLAH! INI SEMUA GARA-GARA KENCAN SIALAN ITU!"


"Kenapa kamu marah pada hal yang tidak ada hubungannya!? Cepat bawa anakku ke rumah sakit!"


"Anakmu!? Dia juga anakku!"


"KALAU BEGITU, SELAMATKAN DIA!!!"


Laki-laki itu tersenyum. Matanya berkilat membalas tatapan putus asa remaja di tangannya. "Ya... Aku akan menyelamatkan putriku."

__ADS_1


***


__ADS_2