
Deril berdiri di depan kantor polisi. Sebelumnya, ketika dia menemukan adiknya terkubur di halaman belakang, rasa ingin berlari ke tempat ini sangatlah tinggi. Dia ingin berteriak kepada setiap orang yang ada di dalam kantor polisi itu, untuk menangkap si pelaku.
Namun, sekarang, saat beberapa hari berlalu, akal sehatnya kembali bekerja. Tidak ada bukti apapun di tangannya. Di sekitarnya juga tidak ada saksi mata. Mika tidak mungkin menjadi sekutunya.
"Sudah berapa kali aku lewat sini, ya?" gumam Deril.
Sebenarnya, jalan pulang ke rumahnya bukanlah melewati kantor polisi ini. Dia harus memutar agak jauh untuk sampai di sini. Saking putus asanya, belakangan dia malah melewati tempat itu terus setelah sekolah usai.
"Hhh, ayo pulang!" ujarnya pada diri sendiri. Deril sudah siap mengayuh sepedanya kembali, sebelum seseorang tiba-tiba berdiri di depan sepedanya.
Wanita dengan rambut tergerai berantakan, berdiri di hadapannya. Wajah pucatnya sangat kontras dengan sinar matahari berwarna oranye yang jatuh di sekitar mereka.
"Hai, Dik!" wanita itu mencoba bersikap ramah. Tapi, bagi Deril, senyumannya malah terlihat mencurigakan.
"Maaf, siapa, ya?" Deril berbasa-basi.
"Saya Mia. Petugas di kantor itu," jawabnya sambil menunjuk kantor polisi. "Saya lihat, adik sedang kebingungan. Mau cerita sama Kakak?"
Alis Deril terangkat. Dia sangsi dengan wanita di depannya. Penampilan orang itu lebih mirip dengan penculik daripada petugas polisi. "Kakak?" ulang Deril. "Saya rasa, Anda lebih cocok dipanggil 'tante' daripada 'kakak'."
Bukannya tersinggung, wanita bernama Mia itu malah terbahak mendengar jawaban Deril. "Oke, terserah kamu saja mau panggil saya apa. Tapi, saya yakin bisa membantu. Begini-begini, saya ini lulusan terbaik."
"Saya hanya lewat," dusta Deril.
Mia tersenyum lebar. "Bohong."
"Kenapa bohong?"
"Tidak ada yang berdiri di depan kantor polisi selama lima hari berturut-turut, kalau hanya kebetulan lewat," jelas Mia. Dia melirik logo di dada kiri Deril. "Sekolahmu tidak di sekitar sini. Kamu perlu waktu sekitar dua puluh menit ke sini."
Tenggorokan Deril langsung terasa kering. Dia seperti tertangkap basah telah melakukan sesuatu yang salah. "Saya cuma jalan-jalan. Saya baru di lingkungan ini."
Mia mengangguk-angguk. Dia terlihat ambigu, antara percaya dan tidak percaya. Sinar matanya seperti anak kecil yang ingin tahu segala hal. Tapi, Deril tidak melihat adanya niat buruk pada wanita yang berpenampilan acak-acakan ini.
__ADS_1
"Kalau tidak ada yang mau dibicarakan, saya permisi," Deril mengangguk sekali, berpamitan.
"Ah, tunggu!" Mia menangkap stang sepeda Deril. Tangannya sangat kurus dengan jari-jari panjang. "Kalau ada apa-apa, kamu bisa hubungi saya," dia bicara masih penuh semangat. Lalu, Mia mengeluarkan sebuah kartu nama yang terselip di kantong celananya. "Kapanpun."
"Saya punya Ayah yang bisa diandalkan," jawab Deril, namun tetap menerima kartu nama milik Mia. Setelah memasukkan kartu nama itu ke dalam tasnya, Deril mengayuh sepedanya kembali, menjauh dari kantor polisi. Dia sedikit mempercepat laju sepedanya, takut dihentikan lagi oleh Mia. "Apa petugas polisi semuanya aneh begitu?" gumam Deril.
***
Deril duduk terpaku ketika mendapati Mika berdiri di depan pintu gerbangnya. Entah kenapa, pintu gerbang berbahan kayu itu, menjadi sangat cantik ketika Mika ada di sana. Padahal, sebelumnya Deril tidak terlalu memperhatikan hal sepele begitu.
Dia buru-buru bangkit dari duduknya. Deril bahkan tidak repot-repot meletakkan palet cat air dan kuas di tangannya terlebih dahulu, sebelum menghampiri Mika. Deril merasa seakan tersedot oleh kehadiran gadis pujaan hatinya itu.
"Hai, Mika!" Deril menyapa meski terdengar kaku.
Mika tersenyum simpul. Senyuman yang bisa membuat hari Deril menjadi baik selama dua puluh empat jam. Hari ini, Mika berpenampilan rapi. Dia memakai midi dress berwarna putih bersih. Rambut panjangnya terjalin rapi, tersampir di bahu kanannya. Ujungnya bahkan dihiasi pita berwarna merah. Wangi bunga mawar terkuar setiap kali angin menyapa tubuhnya.
"Ada apa ke sini?"
Mika mengangkat cat air yang dia bawa. "Papa kasih izin. Menggambar."
"Mau menggambar di rumahku?" tanya Deril sambil membukakan gerbang untuk Mika.
Mika mengangguk. "Di halaman. Tidak boleh masuk rumah."
Deril setuju saja, yang penting dia bisa bersama Mika. "Ayo, sebelah sini!" Deril mempersilakan Mika mengikutinya, kembali ke tempat dia melukis tadi. "Aku punya kanvas baru. Kamu bisa pakai."
"Makasih." Mika meraih kanvas Deril. Dia meraba permukaannya. "Cat pakai punyaku."
"Oke. Tidak masalah."
Deril sebenarnya sudah mulai terbiasa dengan cara bicara Mika yang agak aneh. Mika memang hampir sebaya dengannya. Namun, caranya bicara masih seperi balita yang belajar merangkai kata.
"Kamu mau menggambar apa?" Deril sengaja tidak bertanya menjurus pada izin yang Dokter Stephen berikan pada Mika. Dia harus terlihat senang karena Mika bertamu ke rumahnya. Deril tidak boleh menimbulkan kecurigaan sedikitpun. Dia bertekad membuat Dokter Stephen lengah.
__ADS_1
"Bunga."
Deril mengangguk-angguk. "Kamu cocok sama bunga," puji Deril. "Sama-sama cantik."
Mika tidak merespon. Dia meletakkan kanvas pada penyangga dan mulai sibuk menuang cat airnya ke dalam palet cat.
'Hhhh... Mungkin pujian seperti itu sudah menjadi makanan sehari-harinya. Jadi nggak berharga lagi kalau aku yang mengucapkan,' pikir Deril, sedih.
Ketika Deril sibuk dengan pikirannya, Mika menyodorkan cat warna miliknya pada Deril. "Coba?"
"Maksudmu, aku boleh mencobanya?"
Mika mengangguk. "Ini bagus. Papa beli. Paris."
"Cat ini dari Paris?" ulang Deril.
Mika mengangguk lagi. "Aku punya banyak. Nggak apa-apa habis."
Deril menerima cat air Mika dengan senang hati. Dia mencuci palet miliknya, kemudian menuangkan cat baru. Saat melirik ke arah kanannya, Mika sudah mulai menarik garis di atas kanvas.
"Kamu tidak perlu sketsa?" tanya Deril.
Mika menggeleng. Dia menoleh pada Deril yang masih menatapnya. "Aku mau bebas," bisiknya.
Bulu kuduk Deril meremang ketika pandangan mereka bertemu. Namun, rasa aneh muncul memenuhi ulu hatinya. Dia merasa keganjilan dari tatapan mata Mika dan caranya menjawab.
"Menggambar memang harus bebas," timpal Deril. Dia harus menimbang jawaban yang keluar dari mulutnya. Deril belum tahu apa tujuan Mika ke sini. Dia juga tidak bisa mengesampingkan bahwa Mika adalah anak Dokter Stephen.
Mika memalingkan wajahnya. Dia terlihat sedih setelah mendengar jawaban dari Deril. "Bunga. Aku gambar banyak. Kamu bisa baca lukisan?"
Deril tidak menjawab untuk beberapa saat. Tentu saja Deril tidak pandai membaca arti lukisan, meski dia jago dalam hal melukis. Hobi ini tercipta karena banyaknya waktu luang yang dia punya.
"Lihat bunga-bunga nanti," Mika menambahkan, berhubung Deril hanya melongo.
__ADS_1
***