
Deril berdiri di depan rumah Dokter Stephen dengan tangan sedingin es. Rahangnya mengeras karena merasa tegang. Beberapa detik yang lalu, dia telah membunyikan bel rumah mewah di depannya. Namun, belum ada tanda-tanda pintu depan akan dibuka.
"Apa yang tadi itu cuma basa-basi?" gumam Deril pada diri sendiri. Deril berbalik, ingin kembali ke rumah saja.
Tiba-tiba saja pintu gerbang terbuka sendiri. Deril terlonjak kaget. Dia celingukan ke sana-sini mencari siapa yang membuka gerbang itu.
"Masuklah!" suara itu terdengar dari intercom.
Deril menurut saja. Dia masuk dan melewati halaman depan rumah Dokter Stephen. Tidak ada yang berubah. Bunga-bunga palsu tetap menjadi hiasan di sana.
"Selamat datang!" Dokter Stephen menyambut kedatangan Deril. Dia tidak henti-hentinya tersenyum. Hal itu membuat Deril merasa mual. "Ayo masuk! Mika sudah menunggu di ruang makan," ujarnya sambil menepi, memberikan ruang untuk Deril masuk ke dalam rumah.
"Permisi," kata Deril saat melewati Dokter Stephen.
Dengan kakinya yang panjang, Dokter Stephen membimbing Deril menuju ruang makan. Tempat itu memiliki wangi lavender yang samar, tertutup oleh aroma masakan di atas meja. Lampu di atas meja makan sengaja dibuat agak redup, menambah kesan santai di ruangan itu.
Mika menoleh ketika mendengar suara langkah kaki. Rambut hitamnya terjalin rapi. Kali ini, Mika menggunakan pemerah pipi dan lipstik. Meski make up-nya terbilang tipis, tapi Deril dapat menyadari perubahan di wajah Mika.
"Hai!" Deril melemparkan senyuman pada Mika. Entah sudah berapa kali mereka bertemu, namun sikap Deril masih saja canggung di depan Mika. "Kata Ibu, tidak baik datang dengan tangan kosong. Jadi aku bawa cemilan untuk pencuci mulut." Deril menghampiri Mika dan meletakkan sekotak kue nastar di sebelah piring Mika.
"Kalian akan punya banyak waktu untuk mengobrol setelah makan malam nanti," Dokter Stephen duduk di sebelah Mika.
Deril duduk di hadapan gadis pujaan hatinya. Hanya itu kursi yang tersisa. Ini bukan kali pertamanya duduk berhadapan langsung dengan seorang gadis. Namun, jantung Deril terus saja melompat-lompat tidak karuan.
"Santai saja, Nak," Dokter Stephen membalik piringnya. "Setelah makan, aku akan menceritakan sesuatu."
Deril tidak memiliki kesempatan bicara, karena Dokter Stephen dan Mika sudah mulai mengambil makanan ke piring mereka masing-masing. Mau tidak mau, Deril harus bersabar dan menunggu makan malam mereka selesai terlebih dahulu.
Tidak ada percakapan yang terjadi selama mereka menikmati makan malam. Ruang makan malam itu dipenuhi dentingan sendok-garpu yang bertemu dengan piring keramik mahal. Deril menatap makanannya hingga tidak bersisa. Dia ragu untuk mengangkat kepalanya, atau sekedar membalas pandangan Dokter Stephen. Deril tidak menyukai senyuman orang itu.
__ADS_1
"Apa kamu tidak takut diracun?"
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Deril tersedak, kaget dengan pertanyaan Dokter Stephen yang diluar dugaan. "Y-ya!?"
"Hahahahahaha! Aku hanya bercanda!" Dokter Stephen tergelak, tidak sadar bahwa candaannya tidak lucu bagi Deril. "Aku kira, kamu jadi trauma karena kejadian ayahmu kemarin itu."
Deril mengusap mulutnya dengan tissue. "Tidak ada orang yang tidak takut diracuni," Deril menjawab secara logis.
Dokter Stephen mengangguk-angguk. "Aku suka cara berpikirmu. Anakku juga berpikiran yang sama."
Deril menoleh pada Mika yang langsung membalas tatapannya. "Benarkah?"
Mika menjawab dengan tatapan dalam-dalam. Ekspresi wajahnya tidak berubah sama sekali. Dia benar-benar hanya menatap Deril tanpa berkedip.
"Baiklah. Sesuai perkataanku di awal tadi, aku ingin membicarakan sesuatu mengenai Mika." Dokter Stephen menjauhkan piringnya, menandakan dia sudah selesai makan malam.
Beribu pertanyaan muncul di kepala Deril. Rasa waspada membuat jantung Deril tidak bisa santai. Kedua tangannya menjadi berkeringat. Dia memang ingin tahu tentang Mika. Bagaimanapun, dia menyukai Mika.
Mika yang mengusap ujung bibirnya mengalihkan perhatian Deril untuk beberapa detik. Deril mengagumi setiap gerakan anggun yang Mika ciptakan.
"Mika pernah diperkosa."
"Apa!?" pekik Deril. Matanya membelalak. Jantungnya serasa berhenti berdetak. 'Apa maksud perkataannya? Apa dia mau mengakui kalau pesta teh itu hanya kedok? Atau dia mau mengalihkan asumsiku selama ini?' dugaan demi dugaan terus muncul di kepala Deril. Tapi, tidak ada satu pertanyaanpun yang keluar dari mulutnya.
"Waktu Mika berusia lima tahun, Mika pernah diperkosa," Dokter Stephen mengulang kalimatnya.
Deril ingin bertanya siapa pelakunya, tapi juga tidak ingin tahu siapa yang berbuat keji seperti itu. Jadi, Deril hanya diam, menunggu Dokter Stephen melanjutkan ceritanya.
"Ada gelandangan bernama Ardi yang masuk ke rumah ini ketika aku dan istriku tidak ada di rumah."
__ADS_1
'Aku pernah mendengar nama Ardi dari Bayu,' Deril seketika teringat dengan cerita Bayu saat mereka bertemu di acara arisan. Ardi adalah gelandangan yang dinyatakan menghilang sepuluh tahun lalu. Sampai saat ini, tidak ada yang mencarinya karena dia tidak mempunyai sanak keluarga. Polisi pun menutup kasus Ardi sebagai anak yang pergi dari daerah sini setelah ayahnya meninggal.
"Waktu akan menangkap Ardi dan membawanya ke kantor polisi, anak itu malah hilang tanpa jejak. Semenjak kejadian itu, Mika yang periang berubah seperti sekarang. Dia tetap menjadi anak kesayanganku. Demi membuat keadaan Mika membaik, aku mengirimnya ke luar negeri untuk dirawat dokter-dokter terbaik. Saat itu terjadi, istriku malah menghilang tanpa jejak." Dokter Stephen terdiam sejenak. Pandangannya menerawang jauh. Air mukanya tamoak sedih. "Aku tidak menyangka. Di dalam kehidupan karirku yang sukses dan harta melimpah, kemalangan seperti ini malah menimpaku."
Mulut Deril tetap tertutup rapat. Dia memutuskan untuk menjadi pendengar saja. Tidak ada yang bisa Deril nilai saat ini. Apa yang dia lihat pastinya bukan khayalan. Dokter Rendi memang di sana bersama Mika hari itu.
"Apa Dokter tahu ke mana istri Dokter pergi?"
Dokter Stephen menggeleng. "Tidak ada yang tahu. Keluarga istriku, keluargaku, teman-teman kami, bahkan polisi sekalipun, tidak ada yang bisa menemukannya. Sebenarnya aku tahu kalau istriku punya simpanan. Tapi, aku tidak mau berprasangka buruk sebelum menemukannya."
'Aneh!' Deril memperingatkan dirinya ketika rasa iba mulai dia rasakan. 'Ini aneh! Dia tampak terlalu tenang untuk ukuran menceritakan aib istrinya pada orang lain. Itu memang cerita masa lalu. Tapi, bukankah itu termasuk luka bagi keluarga ini. Dan lagi, dia menceritakan hal buruk tentang istrinya, di depan anaknya sendiri.' Deril melirik ke arah Mika. Deril kaget bukan main saat melihat raut wajah Mika.
"Mika adalah anakku satu-satunya. Ketika aku tidak bisa menemukan istriku, aku memutuskan untuk fokus merawat Mika. Dia tidak aku masukkan ke sekolah umum, karena di sana adalah tempat yang berbahaya. Banyak ancaman yang mengintai putriku tersayang."
"Jadi, Mika bersekolah dari rumah?" Deril memalingkan wajah dari Mika. Mencoba terlihat tidak terganggu dengan Mika yang membeku seperti mayat hidup.
"Tidak," jawab Dokter Stephen. "Mika tidak perlu sekolah. Uangku sudah banyak. Dia akan hidup bahagia meskipun hanya duduk diam di rumah. Mika suka melukis. Itu satu-satunya hal yang tidak berbahaya. Kuas tidak bisa membuat anakku terluka."
"Ada yang bilang, Mika sesekali mengamuk," pancing Deril.
"Benar. Satu-satunya yang tidak bisa aku ubah adalah keinginannya untuk berhubungan s*eksual. Dia akan mengamuk sejadi-jadinya. Mika seperti orang gila karena hal ini."
Deril tidak berani melirik Mika lagi. Dari sudut matanya, Deril dapat melihat Mika. Dia tidak lagi bisa mendeskripsikan bagaimana Mika saat ini. "Dokter Rendi..."
"Dia yang membantuku memenuhi hasrat Mika," jawab Dokter Stephen.
Tangan Deril mengepal erat sampai bergetar saking marahnya. Ada pergolakan emosi yang dia rasakan.
"Setiap kali Mika ingin, Dokter Rendi akan datang dan memenuhi semua keinginan Mika. Mungkin hal ini terjadi karena tidak ada peran ibu di dalam hidup Mika."
__ADS_1
'BOHONG! DIA BERBOHONG! JANGAN PERCAYA!' Deril meneriakkan kalimat itu berkali-kali di dalam kepalanya.
***