
"Kamu tidak akan ke sini hari ini?" tanya Mia dari seberang telepon.
"Tidak," jawab Deril. Dia sudah mengayuh sepedanya setengah perjalanan pulang, sebelum tiba-tiba Mia menghubunginya.
"Apa rencana itu, akan kamu jalankan hari ini?"
"Ya," Deril menjawab singkat. Jantungnya memburu setiap kali mengingat rencana yang akan dia lakukan dengan Mika hari ini.
Seperti yang sudah mereka sepakati, Deril akan berkunjung ke rumah Mika hari ini, dengan dalih melukis bersama. Mika sudah meminta izin kemarin pada Dokter Stephen. Sekarang, tinggal menunggu hasil apakah Deril diizinkan atau tidak. Jika Mika membukakan Deril pintu, artinya Deril bisa melancarkan rencananya untuk mencari bukti kejahatan Dokter Stephen di dalam rumah besar itu.
"Aku akan berjaga di sekitar rumahnya," sambung Mia. "Aku dalam perjalanan."
"Jangan buru-buru," potong Deril. "Saya tidak tahu apakah rencana ini akan berjalan mulus atau tidak."
"Makanya aku ada di sana," sanggah Mia. Suara mesin mobil yang dihidupkan menjadi latar belakangnya. "Aku tidak akan terlalu dekat. Aku juga tidak akan menghidupkan sirine. Beri saja tanda, kalau kamu ada di dalam masalah!"
"Seperti?"
"Mmm," Mia berpikir sejenak. "Misscall aku?"
"Setuju."
"Oke, berhati-hatilah selalu! Ingat, lawanmu adalah iblis!" pesan Mia. Sejujurnya, Mia tidak mau melepas anak remaja yang dia kenal baik seperti Deril, masuk ke dalam lubang neraka. Apalagi, hal itu bisa membuat nyawanya terancam. Mia lebih suka terjun langsung untuk menghajar Dokter Stephen. Tapi, dia tidak bisa berbuat banyak. Jika Dokter Stephen tahu ada polisi yang mengincarnya lagi, orang itu akan semakin berhati-hati. Bukti apapun, akan lenyap dan tidak pernah ditemukan.
Deril kembali mengayuh sepedanya menuju rumah, setelah Mia memutus sambungan telepon mereka. Isi kepalanya berantakan. Dia tidak bisa berkonsentrasi. Deril tidak pernah membayangkan, bahwa dia akan mengalami hal seperti ini di dalam hidupnya.
"Mika... Semoga Tuhan berpihak pada kita," doanya berkali-kali.
***
Deril tidak bisa tersenyum secara natural, ketika Mika membukakan pintu depan rumah Dokter Stephen untuknya. Ditambah, melihat kondisi Mika yang semakin buruk, membuat Deril ingin menangis.
Mika berjalan tertatih-tatih. Dia mengenakan dress putih pendek, hingga Deril bisa melihat lebam di paha bagian dalam dan juga di lengan kurusnya. "Kamu... tidak apa-apa?" Deril tidak tahu harus bertanya apa lagi, selain melontarkan pertanyaan basa-basi seperti itu.
Mika memandang Deril tanpa ekspresi. "Semalam buat Papa senang," jawabnya. "Jadi, hari ini bisa melukis."
Tangan Deril mengepal di sisi tubuhnya. Rahangnya mengeras. Dia akui, berkali-kali, bahwa Mika memang sangat cantik. Dia remaja perempuan yang sempurna dengan wajahnya itu. Tapi, orangtua mana yang tega melukai anaknya sekejam Dokter Stephen. Sampai detik ini, Deril tidak bisa menduga kenapa Dokter Stephen tega melakukan hubungan suami-istri pada anak sematawayangnya.
"Aku bantu jalan, ya?" Deril hendak meraih tangan Mika, tetapi langsung ditepis oleh Mika. "Ma-maaf!"
"Maaf," Mika mengatakan hal yang sama.
__ADS_1
Deril mengerti. Jauh di dalam lubuk hatinya, Deril sangat mengerti kenapa Mika melakukan hal itu. Dia pasti sangat ketakutan dengan hadirnya laki-laki di sekitarnya. Ayahnya menjualnya pada laki-laki paruh baya yang gila s*eks. Apalagi, Mika juga 'digunakan' oleh ayahnya sendiri. Deril ada di sini hanya untuk membantu Mika kabur. Deril harus menarik batasan yang jelas dengan Mika. Dia tidak mau membuat gadis pujaannya terluka karena dia.
Mika menuntun Deril menuju lorong lantai satu, di mana mereka melukis sebelum-sebelumnya. Cahaya matahari sore yang masuk dari jendela, membuat tempat itu terasa hangat.
"Bu Sonya tidak datang?" tanya Deril. Dia harus memastikan bahwa mereka benar-benar hanya berdua di rumah itu.
"Sudah pulang," jawab Mika. Dia meletakkan kanvas di depannya. Tanpa bicara lagi, Mika mulai melukis. Deril baru akan mulai, saat Mika menggeser kanvasnya.
LISTRIK AKAN KONSLET. CCTV MATI.
Deril menelan ludah membaca pesan Mika. Entah bagaimana, Mika sudah memikirkan rencana itu dan sebentar lagi akan dimulai.
BAGAIMANA CARAMU?
Deril memperlihatkan kanvasnya pada Mika. Mika tidak serta-merta menjawab. Dia tampak kusyuk melukis dan bermain warna. Deril tidak mendesak lebih jauh. Dia menunggu dengan sabar. Hanya itu yang harus dia lakukan sekarang.
PATS!!!
Suara listrik padam mengejutkan Deril. Dia mendongak ke atas, untuk memastikan bahwa lampu di atas kepalanya mati. "Sudah padam!"
Mika langsung berdiri. "Aku rusak kabel di kamarku," Mika menjawab pertanyaan Deril. "Cepat!" dia menarik tangan Deril agar bangkit dari duduknya.
Deril buru-buru mengikuti. Mika menyeretnya menuju dapur. Dia berjongkok di depan minibar berukuran besar dengan batu marmer melapisi permukaannya. Mika mengulurkan tangannya, lalu mendorong dinding minibar yang tidak tampak seperti ada pintu di sana. Mata Deril membelalak ketika melihat dinding itu bergerak ke samping dan ada sebuah tangga di dalamnya.
Deril bergegas menuruni anak tangga. Mika mengikuti. Anak tangga itu membawa Deril ke sebuah ruangan seluas kamarnya dengan penerangan yang cukup. Ada empat kulkas berukuran besar berjajar di salah satu sisi ruangan.
Mendapatkan firasat buruk, Deril langsung merogoh handphone-nya dan menghubungi Mia. "Bu Mia!" desis Deril.
"Apa kamu dalam bahaya!?" sambar Mia dari seberang, terdengar panik.
"Tidak sekarang," Deril menjawab cepat. "Ada ruang bawah tanah yang terhubung dengan meja minibar di dapur. Saya sedang ada di dalamnya."
"Apa kamu melihat sesuatu?"
"Ya. Ada empat kulkas berukuran besar. Saya akan cek satu per satu," Deril mulai maju. Dia menoleh pada Mika. "Apa ini?"
"Buka! Cepat!" desak Mika.
Deril menelan ludah. Firasatnya benar-benar buruk saat ini. Saking takutnya, dia bahkan tidak mengeluarkan keringat dan giginya bergemeretak seperti kedinginan. Tangannya meraih gagang pintu kulkas pertama. Dia membulatkan tekad, dan menarik pintu itu hingga terbuka sebelum dia kehilangan tekad.
"Astaga!" Deril hampir jatuh terjengkang.
__ADS_1
"Apa, Der!?" seru Mia dari dalam handphone-nya.
"Ma-manusia..." suara Deril bergetar. Dia yakin, bahwa benda di depannya bukanlah boneka. Tapi, dia juga ragu, karena benda di depannya tidak persis seperti manusia.
"Itu Fiki," jawab Mika. "Cowok yang suka aku. Ngajak kabur. Papa marah. Lalu ditusuk. Dan sekarang di sini."
Mata Deril mengarah pada rembesan darah di bagian perut orang yang bernama Fiki. Matanya tertutup. Kulitnya pucat dengan bunga es menyelimutinya. "Kapan kejadian ini?" tanya Deril.
"Lama. Sebelum kamu datang."
"Deril, tenanglah! Kamu tidak punya banyak waktu! Buka kulkas yang lainnya!" seru Mia.
Deril menurut. Dia membuka kulkas kedua. Ukurannya sama besar dengan kulkas pertama. Mata Deril melotot ketika melihat wajah kedua yang ada di dalam kulkas nomor dua. "Aku mengenal wanita ini!" seru Deril.
"Siapa?" tanya Mia.
"Aku tidak tahu pasti. Tapi, aku mengenal wajahnya," Deril menjawab. Dia berusaha mengingat wajah cantik yang familiar di depannya.
"Mama Mika."
Deril menoleh kaget. "Apa?"
"Mama Mika," ulang Mika. "Mama Mika yang hilang. Dia di sini," Mika menunjuk pada jasad seorang wanita dengan wajah rupawan di hadapan Deril.
"Itu ibumu?" Deril memastikan lagi.
Mika menggeleng keras. "Mama Mika!" bentaknya.
Deril yang tidak mengerti, hampir mendebat lagi. Namun, mengingat dia tidak mempunyai banyak waktu, Deril menutup mulutnya. "Itu ibunya Mika," lapor Deril pada Mia yang masih terhubung di telepon.
"Sudah aku duga! Buktinya masih orang itu simpan!" Mia menjadi antusias.
Selanjutnya, Deril berjalan cepat menuju kulkas ketiga. Tanpa menunggu instruksi, dia membuka pintu kulkas itu. Kali ini, Deril tidak bisa menahan rasa kagetnya. Dia sampai jatuh ke lantai. Kakinya bergetar hebat.
Jasad seorang anak kecil tanpa busana, tergeletak di dalam kulkas ketiga. Rambut panjangnya tergerai rapi menutupi dada anak itu. Wajah mungilnya seperti sedang tertidur. Tapi Deril yakin, kalau anak itu tidak bernyawa. Sama seperti yang lainnya.
"Itu Mika!"
Deril mendongak pada Mika yang ada di belakangnya. "Apa?"
"Itu Mika! Aku Ardi!" jawab orang yang selama ini Deril panggil dengan sebutan 'Mika'.
__ADS_1
***