The Heretic Chef : Exaworld Online

The Heretic Chef : Exaworld Online
Iblis


__ADS_3

"Kakak! Bangun kak!"


"Kakak! Bangunnn!"


Beginilah rutinitas harian Remi sebelum Rein membeli Exadream Gear. Setiap pagi Remi harus meluangkan 10 menit waktunya hanya untuk membangunkan Rein.


Berbeda dengan manusia biasa, Rein sangatlah sulit untuk di bangunkan, bahkan dengan 3 alarm yang terus berdering disamping telinganya tidak membuat Rein bergeming sama sekali.


Tapi setelah tinggal bersama selama bertahun-tahun bagaimana mungkin Remi tidak memiliki cara untuk membangunkan Rein.


Hanya ada sedikit cara untuk membangunkannya, yaitu dengan...


Remi mengelus tangan Rein dan mengangkatnya hingga menyentuh bibir merah muda milik Remi.


"Kakak! Bangun!"


Hamnnhh!


Remi berteriak lalu menggigit tangan Rein sekuat yang ia bisa, dan tidak lama kemudian,


"AAHHHHH!"


Rein menjerit sangat keras, dan matanya langsung melebar melihat tangan kanannya yang sedang digigiti Remi.


"Stopp! hentikan Remi!"


Jika Rein menarik paksa tangannya, mungkin tangannya akan langsung robek dan tidak hanya itu, mungkin Remi yang sedang menggigitnya juga akan ikut terluka.


Jadi Rein mengelus kepala Remi untuk menandakan kalau dia sudah bangun. Dia mengelusnya sambil menahan air mata yang akan terjatuh akibat rasa perih di tangannya.


"Oke cukup, aku sudah bangun..."


Remi menatap wajah Rein sekilas lalu melepaskan gigitannya.


"Hmph, tidak biasanya kakak seperti ini lagi." Remi mengelap tangan dan bibirnya yang basah akibat gigitan tadi.


"... Semalam aku ketiduran." Rein tersenyum masam saat melihat bekas gigitan yang berada di tangan kanannya.


Ini bukan pertama kalinya Rein menerima gigitan cinta dari Remi, dan entah kenapa kejadian di pagi hari seperti ini sudah menjadi rutinitas mereka.


"Apa itu sakit?"


Remi menatap bekas gigitan di tangan kanan Rein dengan khawatir. Mungkin karena sudah 1 bulan lebih tidak membangunkan kakaknya, dia menjadi berlebihan.


"Hahaha santailah Remi, kulit kakakmu ini sekeras baja!" Rein memamerkan otot-ototnya yang sudah terbentuk, walaupun masih terasa sakit bagaimana mungkin dia menunjukkan kelemahan pada adik imutnya ini.


"Ngomong-ngomong, sudah berapa kali ini?" Rein mengelus tangannya ketika bertanya tentang jumlah gigitan yang telah dilakukan Remi disetiap pagi.


"Hmm, kalau gigitan sudah 1.219 kali..." Jawab Remi sambil mengelus dagunya.


"Kalau pukulan?"

__ADS_1


"1.871 kali."


".... Mandi es?"


"435 kali."


"Geuhh.. sangat banyak, apa kau sangat suka menyiksaku?"


Seperti yang Rein duga kalau Remi mengingat semuanya.


Bukan hanya Rein, Remi juga mempunyai kemampuan unik yang sama seperti dirinya. Mereka berdua memiliki kemampuan khusus untuk menghapal dan mengingat dengan mudah. Tapi kemampuan ini memiliki kekurangan yang cukup fatal, karena jika mereka tidak berniat untuk mengingat sesuatu, mereka tidak dapat mengingatnya sama sekali.


Hanya Rein dan Remi yang mengetahui ini, bahkan kedua orang tua mereka pun tidak tahu apa-apa.


Tapi Rein cukup heran pada Remi yang bisa mengingat jumlah ini walaupun sudah bertahun-tahun berlalu, bukankah informasi yang seperti ini tidak berguna?


"Jadi ada apa Remi? Tidak mungkin kan kamu membangunkanku hanya karena iseng?" Rein bertanya sambil meregangkan tubuhnya.


"Sial... Aku hampir melupakannya! Kak kau harus cepat!" Remi berteriak dan langsung menarik tangan Rein.


"Eh... Cepat apa? Aku baru saja bangun, biarkan aku mengumpulkan nyawa terlebih dahulu." Rein melepaskan kaitan tangan Remi dan kembali memeluk gulingnya.


Mau tidak mau Remi menjadi kesal melihat tingkah laku Rein yang seperti anak kecil.


"Ohh, jadi begitu... Apakah kakak tidak ingin bertemu dengan kakak ipar? Kalau begitu... akan kusuruh pulang saja." Remi tersenyum menunjukan gigi putihnya ke arah Rein yang terkejut.


"Ka-Kakak ipar? Maksudmu Lucia?"


"Memangnya siapa lagi! Ka-"


Sebelum Remi menyelesaikan kata-katanya Rein sudah berlari ke kamar mandi.


"Huft... dasar kakak, kalau masalah cinta pasti selalu seperti ini..." Remi tersenyum masam melihat kakaknya yang berlarian seperti anak kecil, "Kuharap dia tidak terluka seperti waktu itu..."


* * *


Rein mandi dengan terburu-buru, bahkan belum sampai 5 menit dia sudah keluar dari kamar mandi, lalu dalam 2 menit lagi dia sudah memakai baju dan celana kesukaannya.


Dengan rambut yang masih basah Rein berlari ke ruang tamu tapi sesampainya di sana dia tidak melihat Lucia sama sekali.


"Sial! Remi menipuku lagi!" Rein berteriak dan melempar handuknya ke lantai.


"Siapa yang bilang aku menipumu!" Tiba-tiba suara Remi terdengar dari belakangnya.


Rein langsung berbalik dan melihat Remi yang sudah memakai seragam putih abu-abunya. Dia baru teringat kalau hari ini adalah hari senin dan untungnya saja dia tidak memiliki mata kuliah pada hari ini.


'Pantas saja Remi membangunkanku, ternyata dia ingin diantarkan...'


"Aku lupa kalau ini hari senin... Kalau begitu ayo kita pergi Remi." Rein mengambil kunci motornya dan berjalan keluar.


"Tidak perlu, biar aku yang antarkan dia." Seketika gerakan Rein membeku saat mendengar suara itu, memangnya siapa lagi kalau bukan suara Lucia.

__ADS_1


Rein berbalik dan melihat Lucia yang sedang berjalan dari kamar Remi, tapi mulut dan matanya langsung terbuka lebar melihat penampilan Lucia.


"Lu-Lucia jangan bilang kau-"


"Benar!" Lucia menyeringai melihat ekspresi terkejut Rein.


Apa yang dilihat Rein memang Lucia, tetapi saat ini Lucia sedang memakai seragam yang terlihat sama persis seperti milik Remi.


"Ka-Kau sedang cosplay?"


"... Cosplay matamu!" Lucia melempar sarung tangannya ke wajah Rein.


Tapi Rein menangkap sarung tangannya dan kembali memperhatikan Lucia yang kini berada di sebelah Remi.


"Jadi kenapa kau memakai seragam adikku?"


"Ini seragamku!" Lucia menjadi kesal melihat ekspresi tidak percaya Rein, lalu dia menatap Remi yang berada di sebelahnya, "Apakah kakakmu memang selalu seperti ini?"


Remi hanya mengangguk dengan wajah yang tersipu.


"Tunggu sebentar! Lucia, kau satu sekolah dengan adikku?" Rein terperangah menatap dua gadis di hadapannya dengan tidak percaya.


"Benar, aku kelas 12 sekarang..."


"Kakak ipar adalah kakak kelasku kak..." Sambung Remi dengan suara yang pelan.


"......."


Rein kehabisan kata-kata dan tidak tahu harus bagaimana menanggapinya, siapa yang menyangka kalau gadis dewasa seperti Lucia sebenarnya masih seorang siswa.


Awalnya dia mengira umur Lucia lebih tinggi darinya. Dilihat dari bentuk tubuhnya yang matang dan sifatnya yang perhatian, sudah wajar jika dia mengira begitu.


Sekali lagi Rein menatap Lucia dan Remi, lalu keningnya langsung berkerut.


'Apakah perbedaannya sejauh ini? Blasteran memang berbeda...'


Bola mata Rein bolak-balik memperhatikan dada Lucia dan Remi. Walaupun sama-sama dada, keduanya terlihat sangat berbeda. Jika milik Lucia adalah melon maka milik Remi adalah anggur.


Rein menatap adiknya dengan kasihan dan tidak lama kemudian mata Remi malah menatap tajam ke arahnya.


'Sial, apa Remi mengetahui kalau aku sedang membandingkannya?' Rein berkeringat dingin, dia merasa Remi selalu tahu apa yang sedang dia pikirkan.


Suasana tiba-tiba berubah menjadi canggung.


"Sudahlah, 10 menit lagi kita akan terlambat." Lucia melihat jam tangannya dan berjalan keluar.


Rein melihat Lucia keluar dan kembali memperhatikan Remi yang masih menatapnya dengan tajam.


"Memang benar kalau dada besar itu adalah iblis!" Ucap Remi sambil berjalan mengikuti Lucia.


"......."

__ADS_1


__ADS_2