
Di kamar yang sepi, Rein terbaring lemah diatas tempat tidur. Kepalanya terasa sangat pusing hingga membuatnya ingin muntah.
Terlalu banyak kejutan yang ia terima hari ini. Apalagi semua kejutan itu berawal dari perbuatannya. Dia merasa seolah-olah beban di pundaknya bertambah 100x lipat.
Setelah berdiskusi dengan kedua Orang tuanya, akhirnya Rein mengetahui semua yang terjadi.
"Arie..."
"Aku akan menghancurkanmu..."
Sudah ratusan kali Rein menggumamkan itu, namun apa daya karena saat ini hanya itu yang bisa ia lalukan. Orang tuanya juga sudah menyuruh Rein untuk berhenti menyinggung Arie, tapi bagaimana mungkin amarahnya bisa hilang begitu saja.
Rein menatap Exadream Gear yang berada di sampingnya, belum sebulan ia memainkan permainan ini namun sudah banyak kenangan yang berada di dalamnya.
"Lucia..."
Gumam Rein sambil mengelus helm permainannya. Selain berhenti menyinggung Arie, Orang tuanya juga melarang Rein bertemu Lucia, baik di permainan maupun di dunia nyata.
Walaupun Rein ingin menolak larangan itu, tapi dia sadar kalau keegoisannya dapat membuat keluarganya lebih menderita.
Rein tidak takut pada Arie, namun ia khawatir terhadap adiknya Remi yang masih sekolah. Dia tidak tahu apa lagi yang akan dilakukan Arie terhadap keluarganya.
"Ternyata begini ya cara orang kaya menyelesaikan masalah..."
"Lihat saja, aku pasti akan membalasmu!"
Rein melompat dari tempat tidur dan langsung menghidupkan komputernya.
Tentu yang pertama ia cari adalah informasi! Semua informasi yang berhubungan dengan Guild Mystic dibacanya satu persatu.
"Ternyata basis mereka berada di Kekaisaran Aloria... Ah sialan kenapa tempatnya sangat jauh!"
Jika menaiki kereta kuda mungkin membutuhkan waktu seminggu perjalanan dari Kerajaan Karade sampai ke Kekaisaran Aloria, namun karena perjalanan dipenuhi oleh monster tingkat tinggi biayanya sudah pasti tinggi.
Satu jam berlalu dengan cepat dan Rein sudah menghapal semua informasi yang berkaitan dengan Guild Mystic.
"Baiklah, sekarang hanya perlu mencari uang."
Ayah dan Ibunya perlu mencari pekerjaan baru dan tentu saja semua tidak semudah yang dibayangkan, Rein tidak tahu apakah Arie akan terlibat lagi dalam masalah ini, jadi dia memutuskan untuk membantu kedua orang tuanya.
Rein segera membuka forum Exaworld Online dan melihat fitur lelang, tapi dalam seketika mulutnya langsung terbuka lebar.
"Ti-tidak mungkin! Kenapa harganya turun begitu jauh!"
Apa yang dilihatnya adalah harga daging yang dulunya 10 koin emas sekarang sudah turun menjadi 2 koin emas.
"Ini mustahil, bagaimana bisa aku membantu mereka jika keadaannya seperti ini!"
Buk!
Rein membanting tinjunya ke keyboard, tapi saat melihat kuantitas daging yang sudah mencapai ribuan, dia merasa putus asa seakan-akan sudah tidak ada harapan lagi baginya.
"Sialan! Sialan! Job sampah ini bagian mananya yang spesial!"
__ADS_1
Saat emosinya memuncak, tanpa sengaja tangan Rein menyenggol tas berwarna merah dan membuatnya jatuh ke lantai.
Cringgg!
Seketika emosi Rein mereda saat melihat isi tas tersebut, isinya tidak lain adalah koin permainan yang tidak jadi ia gunakan. Benar itu hanya koin biasa, namun koin itu mengingatkannya pada Lucia yang kalah dalam permainan.
"......"
Rein mengambil koin itu satu-persatu.
1 koin.
100 koin.
200 koin.
300 koin.
Setiap kali ia mengambil koin, bayangan Lucia terus bermunculan di benaknya. Dan saat koin terakhir masuk ke dalam tas, Rein mengingat perkataan terakhir Lucia sebelum pergi meninggalkannya.
"Aku tidak akan menyerah, lain kali aku pasti akan mengalahkanmu." Gumam Rein sambil mengulang perkataan Lucia.
"Pffttt hahahahaha menyerah apanya, bukannya kau sudah menang!?" Tawa Rein lepas sambil memeluk tas berwarna merah.
Hingga beberapa saat setelah Rein tertawa, pikirannya menjadi jernih dan bebannya menghilang.
Rein berjalan ke arah cermin dan melihat dirinya yang sangat kusut, rambutnya acak-acakan, baju kausnya terbalik, dan matanya yang terlihat seperti orang mati.
"Hei kau bodoh, sejak kapan di kamusmu ada kata menyerah!?" Rein menunjuk bayangannya di cermin.
"Apa kau sadar kalau kau adalah orang tertampan di dunia?"
Tanpa terasa 30 menit berlalu.
"Uhuk uhukk, sialan suaraku habis!" Rein meminum air dengan jumlah banyak lalu kembali ke kamarnya.
Di kamarnya Rein melihat Exadream Gear yang masih tergeletak diatas kasur, dia terdiam sebentar sebelum berjalan dan memakainya.
"Dream Start!"
* * *
Saat Nier kembali ke dalam permainan, ruangan gelap langsung memenuhi visinya. Ruangan ini tidak lain adalah Dungeon yang terakhir kali dimasukinya bersama Lucia.
"Aneh, kenapa aku tidak Respawn di kota?"
Nier memperhatikan sekitarnya namun tidak melihat apa-apa lagi selain ruangan yang gelap dan pintu keluar Dungeon.
Karena merasa tidak ada gunanya terus berada disini, Nier memilih untuk keluar.
Tepat saat satu langkah kakinya meninggalkan Dungeon, ia melihat ratusan orang yang memakai set baju zirah lengkap dengan senjata yang berkilau berdiri di depan pintu Dungeon.
Nier langsung membeku, "Ya Tuhan, cobaan apalagi ini."
__ADS_1
Dengan pasrah Nier menutup mata dan berharap kematiannya tidak menjatuhkan Item tingkat tinggi, namun saat memikirkan Itemnya ia malah tersenyum karena teringat Item yang dimilikinya hanyalah Item sampah.
"Hmm?" Nier menaikan alisnya karena serangan yang diharapkannya tidak juga datang, lalu dengan perlahan dia membuka matanya.
"Hei bocah! Apa yang kau lakukan disana, cepat minggir!" Teriak salah satu dari orang-orang tersebut.
"Kalau kau tidak pergi dari sana aku akan datang membunuhmu!"
"......."
'Sebenarnya ada apa sih!? Eh.. jangan bilang kalau mereka datang bukan untuk membunuhku?'
Nier tidak membuang waktu dan langsung berlari ke samping pintu masuk Dungeon. Seperti yang dikatakan orang-orang itu, tidak ada satupun dari mereka yang mengejarnya.
Tentu Nier menjadi penasaran dengan apa yang sedang mereka lakukan. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk bertanya pada orang yang berada di dekatnya.
"Halo teman, apa kau tahu apa yang terjadi?" Tanya Nier dengan nada bersahabat sambil menunjuk kerumunan.
"Hmm? Siapa kau?"
"Apa? Kau tidak ingat siapa aku?"
Pemuda yang ditanyai Nier terdiam dan termenung seperti sedang mengingat siapa laki-laki didepannya ini.
"Tenanglah teman, aku juga tidak mengenalmu. Tapi aku lebih penasaran dengan mereka." Nier sekali lagi menatap kerumunan.
Pemuda itu menyipitkan matanya lalu tidak lama kemudian ia menghela napas panjang dan menjelaskannya pada Nier.
"Kami semua sedang menunggu pemain bernama Nier disini, menurut informasi yang kami dapatkan Lucia dari Garuda Crown dan Nier masuk ke dalam Dungeon bersamaan."
"Kenapa kalian hanya mengincar Nier? Padahal kan yang masuk ke dalam Dungeon Lucia dan Nier?" Nier bertanya seolah-olah Nier yang dibicarakan bukanlah dirinya.
"Tunggu, jangan bilang kau tidak tahu kalau kepala Nier memiliki harga 1.000 koin emas?" Pemuda itu menatap Nier dengan tidak percaya.
"Uhuk uhuk, 1.000 koin emas!? Bukankah itu sangat banyak?" Nier tanpa sengaja tersedak air ludahnya sendiri.
"Benar, dan sekarang kami semua sedang menunggu pria itu keluar dari sini..."
"Ohh ternyata begitu, terima kasih atas informasinya teman." Nier menepuk bahu pemuda itu dan ingin segera pergi dari tempat terkutuk ini.
"Ngomong-ngomong bukannya kau barusan juga keluar dari Dungeon?" Pemuda itu menatap Nier dan memperhatikan perlengkapannya.
"Wow kau tahu? Mungkin saja aku Nier hahahaha," Nier tertawa sambil menepuk bahu pemuda tersebut, walaupun dari luarnya Nier terlihat tak bersalah, namun punggungnya sudah basah dengan keringat dingin.
"Hahaha kau benar juga, mana mungkin Nier terlihat seperti pemula sepertimu."
"Hahahahahahahahahaha."
Ya, sekali lagi Nier terselamatkan oleh penampilan jeleknya.
____________________________________________
Maaf sebelumnya jarang update, saia khilaf main gim gacha
__ADS_1
Teehee