
"Ughhh, Kenapa kau memukulku?" Rein terkejut sambil memegang perutnya yang terpukul.
"Hmphh!" Lucia menyilangkan tangan dan berpaling dari Rein.
Siapa yang tidak kesal jika dipermainkan seperti itu, bahkan untuk Lucia yang selalu tenang dan santai juga bisa menjadi kesal.
"Kenapa kau mempermainkanku pada gelombang pertama?"
"......"
Rein terdiam sejenak lalu menggaruk bagian belakang kepalanya, memang selama bermain tadi dia terlalu fokus sampai-sampai lupa akan tujuannya datang kesini.
"Te-Tentu saja tidak, aku seperti itu hanya untuk persiapan di gelombang kedua..."
"Hmm? Bukankah itu sama saja?" Lucia mengangkat alisnya.
"Tidak tidak, ini sama sekali berbeda. Zombie Disaster memiliki 50 mode pergerakan, dan untuk membacanya kau harus memperhatikan gelombang pertama terlebih dahulu..."
Lucia yang mendengarkannya semakin lama malah semakin bingung, "Rein, kau ngomong apa sih? Game ini tidak memiliki mode!"
Melihat reaksi Lucia, Rein hanya bisa tertawa dan menjelaskan apa yang terjadi, "Tadi adalah mode pergerakan ke 47, dan pada saat gelombang kedua dimulai, 5 zombie akan muncul disini, "Rein menunjuk layar monitor, "Setelah itu disusul dengan 3 zombie dan ada 6 zombie yang sedang bersembunyi disini..."
Awalnya Lucia hanya menganggap Rein bercanda, namun setelah Rein mempraktikkan semua yang ia jelaskan, Lucia langsung tercengang.
"Ka-Kau menghafal semua pergerakan mereka!?" Lucia takjub dengan kemampuan Rein, bahkan ia sendiri tidak menyadari kalau game Zombie Disaster memiliki mode seperti ini.
"Haha begitulah, ... jadi bagaimana? Ingin bertanding lagi?" Rein tersenyum sambil mengangkat tas yang penuh dengan koin.
"Hmph tentu saja, kali ini aku pasti menang!"
Beginilah sifat Lucia, dia tidak akan menyerah sebelum mendapatkan apa yang ia inginkan. Dan saat ini ia hanya memiliki satu tujuan, yaitu mengalahkan Rein dengan kemenangan mutlak!
Namun sebelum mereka berdua beranjak pergi, ponsel Rein tiba-tiba bergetar dan berbunyi.
Tonet tonet! Tonet tonet!
"......"
Tonet tonet!
"Rein, itu suara ponselmu?"
Rein terdiam sejenak sebelum mengangguk dan memeriksa ponselnya.
"Ini ayahku, tolong tunggu sebentar."
Tanpa menunggu jawaban Lucia, Rein langsung berbalik dan menjawab panggilan ayahnya.
"Halo ayah, dengan Rein yang tampan disini."
–"Rein, kau dimana? Apa kau sedang ada kelas?"
"Tidak ayah, aku sedang bermain bersama pac–temanku..."
–"Hoo, Ayah dan Ibumu sudah berada didepan rumah, mainnya jangan kelamaan ya."
"Tunggu! Kalian sudah pulang!?"
Rein bersemangat hingga tidak sengaja berteriak, namun sambungan teleponnya langsung terputus.
"Haha dasar ayah, selalu saja begini."
Tiap kali berbicara dengan ayahnya lewat telepon pasti pembicaraannya tidak lebih dari 30 detik, sangat berbeda jika bersama ibu yang kadang memakan waktu sampai belasan menit.
Setelah memasukkan ponselnya, Rein berbalik dan melihat Lucia yang masih berdiri ditempatnya tadi.
"Umm, ...Maaf Lucia, bisakah kita pulang?" Rein sangat ragu ketika mengatakan itu.
Kesempatan untuk bisa berkencan bersama Lucia sangatlah kecil, apalagi dia baru saja membuatnya bersemangat. Tapi walaupun begitu, tetap saja Rein lebih memilih keluarganya.
__ADS_1
Tidak mungkin kan dia membiarkan orang tuanya lelah menunggu sedangkan dia sendiri asik bermain.
"Baik."
Tanpa diduga Lucia langsung menyetujui permintaan Rein.
Karena telah berlatih seni beladiri tentu Lucia memiliki indra pendengaran yang kuat, karena itulah dia bisa mendengar percakapan Rein dengan ayahnya dengan jelas.
Rein tidak menanyakannya lebih jauh dan bersiap untuk pulang. Karena jarak antara dia dan rumahnya cukup jauh, ia takut orang tuanya menjadi lelah dan bosan.
* * *
Belasan menit berlalu dan sekarang Rein dan Lucia sudah sampai di depan rumahnya.
"Lucia, kau ingin bertemu dengan orang tuaku?" Tanya Rein yang masih duduk di sebelah Lucia.
Lucia segera menggelengkan kepalanya.
Bukannya Lucia tidak mau, tapi saat ini ia masih memakai seragam sekolah, ia takut kalau Orang tua Rein akan membayangkannya sebagai gadis nakal yang suka bolos sekolah.
"Baiklah kalau begitu, untuk taruhan kali ini aku yang kalah.. dan besok katakan saja apa permintaanmu aku pasti akan menurutinya."
Lucia mengangguk dan tidak mengatakan apa-apa.
Rein terdiam sejenak sebelum keluar dari mobil, ia melihat orang tuanya sedang melambai-lambaikan tangan ke arahnya.
"Lucia, terima kasih untuk hari ini." Rein tersenyum sambil mundur selangkah menjauhi mobil Lucia.
"Aku tidak akan menyerah, lain kali aku pasti akan mengalahkanmu." Setelah mengatakan itu Lucia langsung pergi meninggalkan Rein.
"Huft... sepertinya dia masih tidak terima dengan kekalahan tadi."
Rein menggelengkan kepalanya lalu berjalan cepat ke tempat orang tuanya berada.
"Ayah, Ibu, kenapa tidak bilang padaku kalau ingin pulang?" Tanya Rein sambil mengeluarkan kunci rumah.
"Itu tidak penting, yang penting siapa gadis itu? Teman? Pacar? Atau mungkin menantuku?" Ibu terlihat sangat bersemangat dengan menggoyang-goyangkan bahu Rein.
Wajar saja jika sikap ibunya begitu, sudah 18 tahun Rein menjomblo dan tidak pernah sekalipun memiliki hubungan dengan perempuan. Terkadang Ibu dan Ayahnya merasa sedih dan takut kalau anaknya memiliki gangguan mental.
Ckrek!
Rein membuka pintu lalu mengangkat tas kedua orang tuanya.
"Ayolah Ibu, kalian pasti kelelahan."
Melihat anaknya yang sudah tumbuh dewasa membuat Ibu tersenyum puas, dan akhirnya mereka bertiga masuk ke dalam rumah.
Setelah menyiapkan semuanya tanpa terasa sudah puluhan menit berlalu, kini Rein dan keluarganya sedang duduk di meja makan.
"Ayah, Ibu, apa akhirnya kalian mengambil cuti?" Rein tidak sengaja meninggikan suaranya karena terlalu bersemangat.
Belum sampai seminggu Ayah dan Ibunya pergi bekerja dan sekarang mereka berdua sudah kembali ke rumah, dapat dipastikan kalau Orang tuanya mengambil cuti.
"Hahaha dasar anak nakal, mana mungkin orang tuamu berani mengambil cuti, ya kan ayah?" Jawab Ibu sambil menyenggol Ayah yang berada disampingnya.
Ayah pun menggaguk, "Ngomong-ngomong siapa gadis tadi Rein?"
"Eh?..." Rein terkejut, tidak biasanya ayah bertanya pertanyaan seperti ini.
"Dia temanku... Tapi...." Rein tiba-tiba menjadi gugup, entah kenapa setiap kali membahas tentang asmara rasa percaya dirinya langsung jatuh.
"Kau menyukainya?" Tanya Ayah dengan memasang ekspresi serius.
"......"
'Kenapa Ayah seperti ini? Hari ini dia terlihat berbeda...'
Rein ingin langsung menjawab iya, namun setelah melihat ekspresi Ayah dia langsung mengurungkan jawabannya. Kalau Ayah sudah berekspresi seperti itu, sudah pasti pertanyaan ini adalah pertanyaan yang penting.
__ADS_1
"......"
Rein terdiam cukup lama sambil memikirkan pertanyaan ayahnya.
Semakin lama memikirkannya, ia malah semakin bingung. Rein memang menyukai Lucia, tapi apakah itu sebagai pacar?
"Apakah nama gadis itu Lucia?"
Rein terkejut hingga membuat pikirannya buyar, "Ke-Kenapa Ayah tahu?"
"Memangnya apa yang Ayah tidak tahu?" Jawab Ayah sambil tersenyum lalu melanjutkan, "Rein, Ayah memiliki sebuah permintaan."
"Permintaan?"
"Untuk melihat apakah kau memang menyukainya atau tidak, kenapa kau tidak jauhi saja gadis itu?"
Ayah bertanya dengan santai seolah-olah itu adalah hal yang mudah. Namun permintaan itu membuat Rein terdiam, pikirannya menjadi rumit karena tidak bisa menebak apa tujuan dari permintaan ayahnya.
'Ini aneh, kalau suka kenapa harus dijauhi?'
"......"
"Jangan terlalu dipikirkan, ini adalah permintaan yang mudah kan Bu?" Tanya Ayah sambil menoleh ke arah Ibu.
Ibu hanya mengangguk, namun Rein bisa melihat perubahan ekspresi di wajah kedua orang tuanya.
'Ini benar-benar aneh...'
"......" Rein terdiam menatap orang tuanya dan kepalanya memikirkan semua kejadian yang baru saja terjadi.
Pertama dimulai dari Orang tuanya yang pulang terlalu awal, Ibu mengatakan kalau mereka tidak berani mengambil cuti lalu kenapa mereka bisa pulang ke rumah?
Kedua, Ayahnya yang tahu tentang identitas Lucia, padahal dia tidak pernah memberi tahu siapapun tentang ini dan kenapa Ayahnya bisa tahu?
Dan yang terakhir tentang permintaan Ayahnya. Permintaannya sungguh aneh, untuk apa menjauhi Lucia tanpa alasan yang jelas?
Setelah menggabungkan semuanya, Dahi Rein langsung berkerut.
"Ayah, Ibu, katakan saja yang sebenarnya." Tanya Rein dengan serius.
Namun siapa sangka pertanyaan Rein membuat kedua orang tuanya terkejut, secara perlahan-lahan ekspresi mereka mulai berubah dan suasana menjadi hening.
"Hahaha, sudah kuduga kami tidak bisa menipumu Rein."
"Ceh, tentu saja itu karena aktingmu yang buruk." Balas Ibu dengan mencubit lengan Ayah.
Rein terdiam dan tidak tahu harus menanggapinya, hingga beberapa saat kemudian ia memberanikan diri untuk bertanya.
"Ayah, Ibu, sebenarnya apa yang telah terjadi?"
Kedua Orang tuanya terdiam lalu tidak lama kemudian,
"Kami berdua dipecat." Jawab Ayah dengan nada yang tidak berdaya.
Seketika jantung Rein melemah dan semangatnya turun drastis. Dia tahu betapa kerasnya Ayah dan Ibu bekerja, namun sekarang mereka tiba-tiba dipecat? Rein benar-benar tidak mengerti.
"Ayah.. kenapa bisa?" Tanya Rein sambil menundukkan kepalanya.
Ayah menghela napas panjang sebelum menjawab, "Kami berdua juga tidak benar-benar mengerti, tapi mereka mengatakan kalau kami sudah menyinggung perusahaan Golden Dragon."
"Golden Dragon?" Gumam Rein pelan sambil mengingat apa Golden Dragon itu, namun tak lama kemudian.
Dug!
Dug!
Jantung Rein berdebar kencang dan amarah mulai menguasai dirinya.
"ARIIIE!"
__ADS_1