
Setelah selesai memesan makanan. Queen segera berjalan menuju halaman dimana terdapat sebuah meja dan kursi yang berukuran cukup besar, selain itu terlihat Lily yang sudah duduk menunggunya cukup lama disana.
"Maaf Lily, bisakah kau menunggu sebentar lagi? Aku benar-benar harus menyelesaikan ini apapun yang terjadi." Mohon Queen setelah duduk di depan Lily.
"Tapi kak, kita tidak memiliki banyak waktu, apa yang akan terjadi jika kita terlambat dan gagal mendapatkan Item itu? Mungkin raja akan marah besar pada kita."
"Kau benar Lily, tapi kumohon kali ini saja. Aku hanya ingin menyelesaikan taruhan aneh ini, apa kau tahu bagaimana rasanya cemas dan takut disetiap waktu? Mungkin tidak. Selama 3 bulan terakhir ini aku tidak pernah tertidur nyenyak, setiap kali aku menutup mataku, bayangan pria itu akan selalu menghantui pikiranku dengan melakukan banyak hal aneh dan tidak senonoh." Queen mendesah lagi dan lagi, ia menceritakan semua yang terjadi pada sahabatnya Lily.
Dulu, Queen sangat yakin dengan rencananya ini, ia berencana menyewa seorang pembunuh bayaran untuk membunuh Nier secara terus menerus hingga akhirnya Nier menyerah dan menjatuhkan rambut tersebut.
Yah, walaupun sebenarnya ia sudah menyewa 3 pembunuh tingkat tinggi dengan harga yang lumayan mahal, namun apa yang terjadi? Mereka semua mati dan tidak pernah kembali, sejak saat itu Queen mengetahui kalau ada master yang sangat mengerikan yang berada di belakang Nier.
Sekarang rencananya sangat kacau, ia tidak bisa membunuh Nier seperti apa yang diharapkannya. Hanya ada dua pilihan yang tersisa, menyerah atau memohon kepada Nier agar membatalkan taruhan tersebut.
"Tapi kak, bukankah agak disesalkan kalau pria itu tidak ikut bergabung dengan Guild kita? Kakak kan tahu sendiri, andai pria itu bergabung dengan kita, Guild kita pasti bisa menjadi Guild terbaik." Lily menyuarakan pendapatnya.
"Aku tahu, aku tahu Lily. Tapi aku tidak akan pernah menggunakan metode seperti itu lagi." Jawab Queen.
Seumur hidupnya, Queen sangat jarang disentuh oleh laki-laki. Bahkan jika ada seseorang yang berani menyentuhnya, ia akan segera menghajar orang tersebut sebelum melaporkannya ke pihak berwajib.
Queen sangat membenci laki-laki. Ia masih teringat jelas bagaimana rasa amarah yang memuncak saat Nier menyentuh tubuhnya. Pada saat itu, ia seakan ingin membunuh Nier lagi dan lagi.
Namun karena tahu seberapa besar potensi Nier di masa depan. Queen mencoba untuk menahan amarahnya dan bersikap baik agar bisa merekrut Nier ke dalam Guild nya.
Tapi saat sadar kalau Nier sama sekali tidak tertarik pada Guildnya, Queen mulai mencoba segala cara hingga akhirnya berakhir dengan taruhan gila yang sangat ia sesalkan.
"Kakak, apakah kakak selalu terbayang pria itu di setiap malam?" Tanya Lily, dan Queen tanpa ragu langsung menjawab.
"Iya, setiap malam bahkan setiap detik pria itu selalu muncul di dalam pikiranku. Jika mengingatnya lagi, ugh.. itu membuatku gila."
"Lalu apa yang kakak rasakan saat memikirkan itu?"
"Hmm.. aku merasa aneh, setiap kali aku memikirkannya, jantungku selalu berdebar kencang, pikiranku seketika menjadi kosong, dan bahkan kadang aku juga merasa gugup sendiri. Tapi kenapa kau bertanya?"
"Ayolah kakak, aku hanya penasaran. Lalu biarkan aku bertanya satu kali ini saja, bisakah kakak berjanji untuk menjawabnya dengan jujur?" Tanya Lily, terlihat jelas kalau ia sedang menahan senyumnya yang ingin mekar.
"Tentu, aku berjanji. Memang apa yang ingin kau tanyakan?" Melihat ada yang aneh dengan sahabatnya ini, Queen pun menjadi risih dan tidak nyaman.
"Kalau begitu, ceritakan apa yang sering kakak bayangkan bersama pria itu, dan tentu saja kakak harus menjawabnya dengan jujur karena kakak sudah berjanji." Kali ini bukan senyum, namun seringai mekar di wajah Lily.
__ADS_1
Berbeda dengan Lily, sekarang Queen mulai mengerutkan keningnya dan menatap sahabatnya dengan tatapan tidak percaya.
"Kenapa aku harus menceritakannya, bukankah sudah kubilang kalau itu adalah hal yang tidak senonoh?"
"Tidak masalah, lagi pula aku hanya ingin mendengarnya." Jawab Lily seolah tidak peduli.
"......" Queen terdiam sejenak, ia terlihat ragu ketika ingin melakukannya. Namun ia menelan keraguannya itu lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Lily dan berbisik.
"Sebenarnya aku..." Queen mulai berbisik dengan suara yang lemah. Disisi lain, Lily yang mendengar itu tubuhnya menegang dan matanya melebar seolah baru saja mendengar kejutan yang sangat hebat.
"Ohh kakak, kau sangat luar biasa. Kumohon lanjutkan lagi, sepertinya masih banyak cerita yang ingin kakak sampaikan." Ucap Lily, lalu Queen dengan ringan mengangguk dan kembali berbisik padanya.
Setelah mendengar bisikan Queen cukup lama, Lily tidak dapat menahan dirinya untuk tersenyum lebih lebar sebelum tertawa dan mengatakan sesuatu kepada Queen.
"Kakak, sebaiknya kakak jangan pernah menceritakan ini pada orang lain."
"Tentu saja! Itu sangat memalukan. Tapi jika itu Lily, kurasa itu tidak apa-apa."
"Tenang saja kakak, bahkan sampai mati sekalipun akan ku jaga rahasia ini."
Ucap Lily sebelum menyeringai dan kembali melanjutkan.
"...?"
Queen yang mendengar itu pun segera mengangkat alisnya, tampaknya ia penasaran dengan apa yang ingin Lily katakan. Jujur saja, siapa yang tidak tertarik jika sahabat mereka yang berkata begitu.
"Apa yang berubah dariku?"
Lily tersenyum lebar saat melihat Queen yang mulai penasaran, tapi walaupun begitu, Lily berjanji untuk tidak akan pernah memberi tahu perubahan ini kepada Queen. Jika tidak, mungkin nanti dirinya akan mendapat masalah besar.
'Pertama, kakak, selamat karena telah merasakan jatuh cinta untuk yang pertama kalinya.' Itulah yang ingin Lily katakan, tapi dia tahu kalau dia tidak akan pernah bisa mengatakan itu di hadapan Queen.
Jika ada seseorang yang paling membenci cinta, maka Queen-lah orangnya.
Di masa lalu, Queen pernah memiliki orang tua yang baik dan peduli padanya. Tapi sayangnya masa-masa yang indah itu berjalan dengan sangat cepat hingga pada saat ia berumur 14 tahun, tiba-tiba ayahnya membawa seorang wanita lain ke dalam rumah dan mengatakan kalau wanita itu adalah istrinya.
Tentu suasana hangat yang ada pada saat itu seketika hancur berantakan, ayahnya sibuk dengan ibu tirinya dan sedangkan ibu kandungnya terus menangis karena tidak dapat menerima hal itu.
Tapi itu bukan yang terburuk, karena setelah hampir satu tahun berlalu, Ibu kandungnya tiba-tiba berubah menjadi gila dan membunuh ayah kandung dan Ibu tirinya dengan alasan ia cinta pada mereka. Setelah Ibunya membunuh kedua orang itu, dia tertawa gila sebelum membunuh dirinya sendiri di hadapan Queen.
__ADS_1
Pasti sangat mengerikan untuk melihat kedua orang yang paling dicintainya saling membunuh seperti itu. Sejak saat itu, Queen menyerah dan mencoba untuk bunuh diri, namun untungnya saja Lily ada disana dan merawat Queen hingga Queen menjadi wanita yang seperti sekarang ini.
Itulah kenangan gelap Queen di masa lalu yang membuatnya benci pada setiap laki-laki.
Dan yang kedua, perubahan Queen yang membuatnya terkejut adalah sifatnya yang menjadi sangat mesum.
Lily akui kalau dirinya memang mesum, tapi begitu mendengar apa yang Queen bisikkan tadi, sekarang ia sadar kalau tingkat kemesumannya saat ini masih berada di level bocah jika dibandingkan dengan tingkat kemesuman Queen.
'Haruskah aku memanggilnya kakak mesum dari sekarang?'
Pikir Lily dengan serius sebelum menggelengkan kepalanya dengan cepat. Walaupun kakaknya ini mesum, tapi setidaknya ia harus menjaga image kakaknya agar tidak hancur.
'Ohh.. benar juga, sepertinya aku bisa menggoda kakak lebih sering dari sekarang.'
Lily menyeringai karena mendapat ide yang sangat bagus di benaknya. Jika Queen tidak akan pernah mengakui cintanya, lalu kenapa Lily tidak membuatnya sadar saja?
"Hei kakak, lihat pria itu kemari!" Seru Lily dengan menunjukkan tangannya ke suatu tempat.
"Nier?! Mana?" Queen seketika menyaut saat mendengar seruan Lily.
"Pffftt hahahaha, kakak kenapa kau terlihat begitu tegang? Ini sama sekali tidak terlihat seperti dirimu."
Lily tidak dapat menahan tawanya setelah melihat itu, padahal ia hanya menunjuk area kosong, namun reaksi Queen sangatlah ekspresif dari pada yang ia duga.
Setelah melihat itu, sekarang Lily benar-benar yakin kalau Queen sudah mulai tertarik pada Nier. Dan karena kebenarannya sudah terbukti, Lily pun terpaksa menghela napasnya sebelum lanjut berkata.
"Hah... Kakak, jika kau tidak cepat mengakuinya, mungkin kau tidak akan pernah bisa mendapatkannya lagi..."
"....?"
Sayangnya Queen tidak mengerti apa yang Lily katakan dan malah memarahinya karena berbohong. Yah, itu wajar, lagi pula memang Queen seperti inilah yang Lily kenal.
'Tapi... Untuk jatuh cinta hanya karena fantasi kotor seperti itu... Ah Siall, apakah kakakku memang semesum itu?'
Pada hari ini, Lily mulai khawatir tentang hubungan asmara kakaknya yang bodoh dan polos ini.
____________________
Mungkin beberapa hari ke depan bakal jarang update, maaf ya..
__ADS_1