
Karena Nier telah menyelesaikan semua keperluannya di istana Kerajaan, ia pun segera beranjak pergi ke rumah Momo untuk menyelesaikan Questnya.
"Momo, apa ini buah keron yang kau cari?" Tanya Nier setelah ia tiba di hadapan Momo, ia juga mengeluarkan setumpuk buah keron dari Inventory-nya lalu menaruh semua itu di depan Momo.
"I-Ini..."
Mata Momo segera melebar, ia sama sekali tidak pernah menyangka jika Nier berhasil menyelesaikan ujian tersebut. Dan tidak hanya itu saja, ia bahkan kembali dikejutkan dengan Nier yang kembali mengeluarkan beberapa buah keron lagi dari Inventory-nya.
'Berapa banyak yang dia punya?!'
Momo menatap wajah Nier dengan tidak percaya sebelum mengambil salah satu buah keron yang diberikan Nier. "Benar, ini memang buah keron, tapi.. bagaimana kau bisa mendapatkannya?"
"Itu mudah, aku hanya perlu memetik buah ini langsung dari pohonnya." Jawab Nier dengan ringan.
"......"
Kening Momo segera berkerut, ia tidak tahu bagaimana harus menanggapi jawaban Nier, jika mengambil buah keron memang semudah yang diucapkan Nier, maka mungkin saat ini sudah banyak peserta yang lolos dari ujiannya.
"Bagaimana? Apa sekarang aku sudah bisa belajar memasak?" Tanya Nier dengan antusias. Ia berharap bisa langsung belajar memasak dan menghasilkan banyak uang hari ini.
"......"
Momo tidak langsung menjawab, ia terdiam sebentar sambil mengamati buah keron yang ada di tangannya, ia mulai berpikir apakah ia harus menerima Nier atau tidak? Ia sebenarnya masih sedikit curiga apakah Nier benar-benar ingin belajar memasak atau sedang mengincar harta berharga yang telah ia sembunyikan dirumahnya.
Namun setelah Momo melihat mata Nier yang berbinar dan wajahnya yang terlihat bersemangat, ia pun menjadi teringat dengan dirinya di masa lalu diwaktu ia memohon kepada gurunya dengan tampang yang terlihat sama persis seperti Nier saat ini.
Itu adalah wajah yang penuh dengan gairah memasak.
'Mungkin tidak ada salahnya aku menerima murid yang seperti ini.' Pikir Momo dalam hati lalu kembali menatap wajah Nier dan tersenyum.
"Karena kau sudah menyelesaikan ujian ku dengan sempurna, bagaimana mungkin aku bisa menolaknya."
『 Quest telah berhasil. 』
『 Poin pengalaman diperoleh. 』
『 Afinitas Momo bertambah +25 』
"Datanglah besok pagi, aku harus melakukan sesuatu dengan buah ini." Sambung Momo, lalu ia pun segera meninggalkan Nier dengan membawa semua buah keron ke dalam rumahnya
"Tunggu.."
Nier berteriak, ia ingin membujuk Momo untuk mengajarinya sekarang, namun sayangnya Momo langsung masuk dan membanting pintu tanpa mendengarkan sepatah kata pun dari Nier.
Bam!
Melihat itu, Nier pun hanya bisa tersenyum masam lalu menghela napasnya, ia akhirnya benar-benar bisa belajar memasak, yah walaupun masih harus menunggu esok hari lagi.
"Lalu sekarang apa?"
Setelah ujiannya selesai dan Questnya berakhir, Nier menjadi bingung karena tidak tahu apa yang akan ia lakukan sekarang, selain itu ia juga masih memiliki banyak waktu sebelum log out.
Ding!
Notifikasi sistem tiba-tiba berbunyi seolah menanggapi pertanyaan Nier.
『 Whisper
Lucia: Rein, bisakah kau datang ke taman Karade sekarang? Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu. 』
Nier yang membaca itu pun seketika membeku. Ia tidak pernah menyangka kalau Lucia akan mengirimkannya pesan.
"Lucia ya.. sudah lama aku tidak melihatnya." Gumam Nier, dan tanpa sadar dirinya mulai tersenyum.
Sudah hampir seminggu sejak terakhir kali ia bertemu dengan Lucia, walaupun Nier telah diperintahkan oleh orang tuanya untuk tidak bertemu dengannya lagi, tapi tetap saja, mana mungkin ia bisa melupakan Lucia begitu saja.
'Itu benar, setidaknya sekali-kali aku harus bertemu dengannya.' Pikir Nier lalu membalas pesan Lucia dengan tanggapan positif.
『 Whisper
Lucia: Rein, bisakah kau datang ke taman Karade sekarang? Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu.
NieR: Tentu, aku akan segera ke sana. 』
Setelah membalas pesan dari Lucia, Nier memutuskan untuk segera pergi ke sana, ia tidak ingin membuat Lucia menunggu terlalu lama hanya karena menunggu dirinya.
Nier berlari dan terus berlari, ia berlari mengabaikan semua monster dan pemain yang berada disekitarnya, walaupun ada beberapa monster yang menyerangnya, ia hanya mengaktifkan Dark Prison untuk mengurung monster tersebut lalu ia kembali melanjutkan larinya hingga akhirnya tiba di depan taman Karade.
Karena saat ini Nier sedang berada di dalam Ibu kota, tentu saja ia sudah mengaktifkan skill Masquerade-nya dan menyamar menjadi penjaga yang disebut sebagai Dory. Dengan wujud ini, ia bisa dengan bebas memasuki taman tanpa takut dibunuh oleh para penjaga.
Selain itu, ia juga harus memakai wujud ini untuk mengawasi Lucia. Jika saja Lucia sedang diikuti oleh seseorang atau bisa dibilang sebagai bawahan Arie, tentu Nier akan segera menanganinya.
Ia benar-benar tidak ingin Arie mengganggu hubungannya lagi.
Namun setelah beberapa menit Nier berjalan, ia sama sekali tidak menemukan seseorang yang terlihat mencurigakan. Dan tidak hanya itu, ia bahkan tidak melihat sosok Lucia di taman ini.
"Sial, apa aku salah tempat?" Gumamnya sambil membuka pesan Lucia tadi. Ia mulai merasa cemas sebab sudah hampir 30 menit sejak ia mendapatkan pesan dari Lucia.
Tapi tepat setelah ia membuka pesan tersebut, tiba-tiba suara Lucia terdengar dari belakangnya.
"Rein, kau sangat lama."
Nier tersentak kaget dan segera berbalik. Saat ia menoleh ke belakang, ia mendapati Lucia yang sedang menatap ke arahnya.
"Lucia?!" Sekali lagi Nier dibuat terkejut oleh temannya ini. Kemarin Yue dan sekarang Lucia, padahal saat ini ia sedang menyamar sebagai Dory, namun kenapa Lucia masih bisa mengenalinya?
"Ayo cepat ikuti aku.." Lucia segera menarik tangan Nier lalu membawanya berjalan ke sudut taman.
Suasana di sudut taman sangatlah sepi, bahkan tidak ada seorang pun yang berada di sekitar sana. Disaat Nier melihat itu, ia pun menjadi bingung dan bertanya-tanya, kenapa Lucia membawanya ke tempat seperti ini?
"Lucia, apa kau baik-baik saja?" Tanya Nier dengan khawatir, ia takut terjadi sesuatu pada Lucia.
Lucia mengangguk lalu menarik tangan Nier untuk mengajaknya duduk di kursi panjang yang berada di dekat mereka.
"Duduklah dulu, ada sesuatu yang ingin kubicarakan."
Nier hanya bisa menurut, ia melepaskan skill Masquerade-nya lalu ikut duduk di sebelah Lucia. Karena Lucia ingin berbicara empat mata dengannya, pastilah Lucia ingin membicarakan sesuatu yang penting.
Setelah beberapa saat mereka duduk, Nier mulai merasa aneh karena Lucia yang terus diam dan tidak berbicara, ia juga melihat Lucia yang terus membuka dan menutup mulutnya beberapa kali seolah ingin berbicara, namun tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.
Suasana pun menjadi semakin hening karena kebisuan ini.
"... Rein, bisakah kau memaafkanku?" Lucia akhirnya berbicara.
"...?"
'Maaf?', Nier pun seketika menjadi bingung. Tidak biasanya Lucia meminta maaf seperti ini, lagi pula ia juga tidak tahu kenapa Lucia tiba-tiba meminta maaf padanya.
"Tunggu sebentar, memangnya apa salahmu?"
__ADS_1
Lucia mulai tersenyum pahit sebelum tangannya membuka sistem dan menunjukan beberapa foto kepada Nier. "Lihat ini, kau akan mengerti apa maksudku."
"Hmm?"
Karena merasa penasaran, Nier segera menggeserkan dan merapatkan tubuhnya kesamping Lucia, lalu ia pun melihat foto tersebut. Namun setelah melihatnya, ekspresi Nier langsung berubah kaget.
"Ini kan! Siapa yang mengambil foto ini?" Tanya Nier dengan terkejut.
Pada foto tersebut terlihat gambar Nier dan juga Lucia yang sedang sarapan dan bermain di Game Center. Namun yang membuatnya terkejut, di foto tersebut terdapat gambar dirinya dan Lucia yang dipenuhi dengan simbol cinta, dan tentu simbol itu membuat mereka berdua tampak mesra.
'Aku tidak ingat pernah semesra ini dengan Lucia.' Pikir Nier, lalu melihat gambar itu sedikit lebih dekat.
Nier masih ingat dengan jelas kalau kejadian pada saat itu sangatlah biasa dan tidak ada romantisnya sama sekali, ia juga masih mengingat bagaimana rasa pukulan Lucia disaat ia mengalahkannya di permainan Zombie Disaster.
"Hmm.."
Nier melirik Lucia sesekali, ia tidak mengerti kenapa Lucia menyuruhnya memperhatikan foto ini dan ia juga tidak tahu kenapa Lucia sampai meminta maaf hanya karena foto ini.
'Tidak mungkin Lucia meminta maaf hanya karena foto editan seperti ini. Apa mungkin ia memiliki maksud lain?' Pikir Nier.
Yang ia tahu, Lucia itu tidak akan pernah meminta maaf jika kesalahannya tidak terbukti. Dan ia sama sekali tidak akan pernah meminta maaf jika ia merasa tidak pernah melakukan kesalahan.
Itulah Lucia yang dikenalnya.
Namun disaat melihat Lucia yang meminta maaf seperti ini, membuat alis Nier menjadi berkerut.
Sekali lagi Nier mencoba untuk menenangkan pikirannya, ia mencoba untuk memahami maksud Lucia dengan melihat foto selanjutnya.
Ada puluhan foto yang menampilkan kemesraan mereka, dan Nier yang melihat itu pun juga menjadi agak malu karena memperhatikannya dengan serius. Ia mulai berpikir apakah ia bisa menyimpan semua foto ini tanpa sepengetahuan Lucia?
Namun pada saat Nier melihat foto terakhir, ekspresinya langsung berubah karena ia dikejutkan dengan foto yang berisi dengan informasi dan riwayat hidupnya yang tertulis dengan sangat lengkap. Selain itu ia juga menemukan beberapa kalimat yang bertujuan untuk merendahkan dan menghina dirinya.
"Lucia, apa maksudnya ini?" Nier mengerutkan keningnya. Ia tidak tahu kenapa foto yang awalnya romantis diakhiri dengan caci maki seperti ini.
"Aku juga tidak tahu.. orang tuaku yang memberikan ini padaku." Tubuh Lucia bergetar saat ia menjawab pertanyaan Nier.
'Orang tua?' Nier membeku. pantas saja Lucia menjadi sangat cemas dan meminta maaf padanya, jika orang tuanya melihat foto ini pastilah ia akan menjadi sangat malu.
Tapi Nier masih bingung. Kenapa foto ini sampai menghina dirinya? Apa mungkin orang tua Lucia membenci dirinya sampai-sampai mereka tega melakukan semua ini?
Namun Nier segera menggelengkan kepalanya dan menolak gagasan itu, sebab akhir-akhir ini ia sendiri sudah sering memperhatikan kedua orang tua Lucia yang tampil di televisi, ia juga tahu kalau orang tua Lucia itu memiliki sifat yang baik dan ramah, bahkan sering kali mereka melakukan kegiatan amal secara rutin di akhir bulan.
Dan setelah mengingat semua itu, menurutnya tidak mungkin orang tua Lucia sampai berbuat seperti ini hanya karena ia bermain dengan Lucia. Ditambah lagi mana mungkin ada orang tua yang menambahkan simbol cinta di foto anak gadisnya sendiri dengan pria lain.
Setelah memikirkan banyak hal, Nier akhirnya menyimpulkan kalau foto ini bukan berasal dari keluarga Lucia. Mungkin saja ada orang lain yang ingin menjauhkan dirinya dengan Lucia.
Ia berpikir begitu karena hampir di setiap hinaan yang terdapat pada foto tersebut membahas tentang perbedaan status antara dirinya dan Lucia.
[ Lihatlah anak ini, seekor katak yang ingin memakan daging angsa. Sungguh anak yang tidak tahu malu.]
[Anak seorang pengangguran, namun masih ingin menggapai langit? Kuharap bocah ini cepat menyadari tempatnya.]
[Si miskin dan si kaya, sungguh perbedaan yang sangat konyol.]
Seperti itulah hinaan yang tertulis pada foto tersebut.
Dan jika memikirkan siapa pelakunya, Nier langsung terbayang seseorang di benaknya.
'Apa mungkin ini perbuatan Arie lagi?'
"Ehem."
Lucia berdeham karena melihat Nier yang terus terdiam. Tidak, sebenarnya Nier sudah terdiam begitu lama sampai-sampai ia mengira Nier sedang mengalami masalah dengan koneksi internetnya.
Nier merespon dengan cepat. Sepertinya ia terlalu fokus pada foto ini, sampai melupakan kehadiran Lucia masih ada di hadapannya.
"Tidak mungkin orang tuamu marah hanya karena foto ini kan?" Sambungnya lagi.
Mendengar pertanyaan Nier yang seperti itu, Lucia pun menjadi tersenyum kecut lalu secara perlahan menutup matanya sebelum menjawab pertanyaan Nier dengan pertanyaannya yang lain.
"Nier, apa kau tahu kalau aku dilarang berpacaran sebelum lulus dari sekolah?"
"......" Nier seketika terdiam, ia baru tahu dengan hal ini. Ia juga merasa aneh ketika ia melihat ekspresi Lucia yang seperti itu.
Sepertinya masalah ini tidak sesederhana yang ia pikirkan.
"Saat orang tuaku menyerahkan foto ini, mereka berdua langsung memarahiku dan melarangku untuk bertemu denganmu lagi." Sambung Lucia, ada sedikit getaran pada suaranya.
Sebenarnya hubungan Lucia dan Nier saat ini hanyalah sebatas teman, namun jika dilihat dari foto editan tersebut. Orang tua Lucia pasti akan langsung salah mengira kalau Nier dan Lucia sudah menjadi pasangan.
Dan jika orang tua Lucia memang melarang anaknya untuk berpacaran, tentu mereka akan segera marah karena melihat foto yang seperti ini.
"Setelah aku mendapat peringatan itu, aku dilarang memasuki permainan dan bahkan tidak diperbolehkan untuk keluar dari kamar."
"......."
Nier terdiam dan alisnya berkedut, ia tidak tahu kalau keluarga Lucia itu sangat ketat dalam hal hubungan.
"Lucia..." Ucap Nier dengan lirih, ia ingin mencoba untuk menenangkan Lucia, tapi ia tidak tahu bagaimana caranya.
Walaupun ia sendiri sudah menjadi gugup dan cemas ketika mendengar tidak boleh bermain bersama lagi. Ia tidak boleh menjadi egois dan memaksa Lucia untuk tetap terus bermain dengannya.
Nier menyadari kalau sudah hampir satu minggu sejak Lucia tidak Login ke dalam permainan, dan selama seminggu terakhir ini ia sama sekali tidak mengkhawatirkan Lucia dan malah fokus pada Questnya.
'Apakah aku ini benar-benar partnernya?' Pikir Nier. Ia merasa kecewa karena tidak menyadari masalah ini.
Hahh...
Nier menghela napasnya, sepertinya banyak masalah yang akan terjadi jika mereka berdua tetap ingin bersama. Namun, untuk saat ini, ia harus tetap tenang dan berpikir untuk maju.
"Begitu ya... Tapi Lucia, kenapa kau tidak menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada orang tua mu?"
Benar, jika Lucia menjelaskan semua yang terjadi pada hari itu, orang tua Lucia pasti akan langsung mengerti. Sebab, untuk seorang pebisnis besar seperti mereka, mana mungkin memiliki pemikiran yang sempit.
"....... Sudah aku jelaskan, namun tetap saja itu percuma. Mereka sama sekali tidak mendengar alasanku." Jawab Lucia dengan menggelengkan kepalanya.
"Hmm..."
Tatapan mata Nier beralih ke tangan Lucia yang kini telah meremas kuat ujung roknya, Lucia sepertinya memang telah menjelaskan semuanya, namun itu tetap berakhir dengan kegagalan.
"Ini sulit..." Gumam Nier dengan mengelus dahinya. Dari tadi ia telah mencoba mencari berbagai macam cara untuk menangani masalah ini, tapi tetap saja pada akhirnya ia tidak tahu bagaimana cara menangani orang tua Lucia.
Jika orang tua Lucia tetap melarang anaknya bahkan setelah mendengar penjelasannya, bukankah itu artinya orang tua Lucia memang tidak ingin anaknya berhubungan lagi dengan Nier?
Melihat kerutan di dahi Nier yang semakin dalam, Lucia merasa bersalah lalu ia kembali menundukkan kepalanya.
Sejak seminggu yang lalu ia sudah memikirkan bagaimana cara menangani masalah ini. Namun sama seperti Nier, ia juga tidak tahu bagaimana cara menangani kedua orang tuanya yang terlalu protektif ini.
Dengan suara yang lirih, Lucia pun terpaksa berkata, "Sekali lagi maaf Rein, tapi untuk sementara... bisakah kita berpisah?"
__ADS_1
Lucia sekali lagi mendesah pelan, ia sama sekali tidak ingin mengatakan ini, dan ia juga tidak mau berpisah dengan Nier, namun karena ini adalah paksaan dari orang tuanya, ia pun terpaksa harus menurut.
"Aku bersumpah untuk bermain denganmu lagi di akhir tahun ini." Sambung Lucia.
"......"
Nier benar-benar dibuat terkejut saat Lucia mengatakan itu.
Ia sudah menduga jika Lucia pasti akan menyarankannya untuk berpisah, Namun saat ia mendengar kata 'Sementara' keluar dari mulut Lucia, mata Nier seketika melebar dan dirinya pun langsung dipenuhi dengan harapan.
"Sementara? Maksudmu kita masih bisa bertemu lagi?"
"Tentu saja, aku pasti akan datang menemuimu di akhir tahun ini. Percayalah padaku, aku tidak akan melupakan janjiku."
Ucapan Lucia benar-benar terlihat meyakinkan saat ia mengatakannya dengan lantang. Selain itu mata Lucia juga terlihat berbinar dengan semangat seolah-olah ia akan mewujudkan janji itu apapun yang terjadi.
"Pfftt ahahaha, sepertinya aku sudah berpikir berlebihan. Aku mengira kita akan berpisah selamanya." Nier benar-benar tertawa lepas, ia mengabaikan tatapan Lucia yang kini menatap heran ke arahnya.
"Baik, baik, aku akan menunggumu sampai hari itu tiba, tapi Lucia.. aku menjadi sedikit penasaran, apa yang akan kau lakukan setelah ini?" Tanya Nier setelah dirinya mulai tenang.
"Hmm.. sebenarnya ada banyak yang ingin kulakukan. Mungkin yang pertama kali kulakukan adalah leveling, lalu memecahkan record, dan menyelesaikan semua Quest yang telah kutumpuk sejak lama."
Lucia membuka Menu Quest lalu memperlihatkan semua Quest yang telah diterimanya kepada Nier.
Tanpa ragu Nier pun melihat dan memperhatikan satu persatu Quest yang Lucia tunjukan, dan setelah mengamatinya dengan sekilas, Nier pun mengangguk lalu menutup Menu Quest tersebut.
Quest yang telah diterima Lucia ternyata memang cukup banyak, mungkin ada sekitar 30an Quest tingkat normal, dan ada beberapa diantaranya Quest dengan tingkat B dan B+.
"Yah.. sepertinya kau akan sangat sibuk, Lucia."
"Begitulah, mungkin aku tidak akan beristirahat dan fokus pada peningkatan levelku saat ini. Oh, kau sendiri bagaimana Rein? Apa yang akan kau lakukan?"
Suasana yang awalnya suram, mulai berubah menjadi sedikit lebih nyaman dan menenangkan setelah mereka berdua berbicara tentang masa depan.
"Kau tahu Lucia, mungkin selama beberapa bulan ini aku juga akan memfokuskan diriku untuk latihan memasak, dan ada kemungkinan besar levelku nanti akan jauh lebih rendah darimu di masa depan." Jawab Nier, ia juga menceritakan bagaimana ia akan belajar memasak dan dimana ia belajar agar memudahkan Lucia untuk menemuinya nanti.
"Ummh, aku tidak sabar menunggu masakanmu itu, dan mungkin jika kita bertemu lagi di masa depan, jangan lupa untuk menghidangkanku dengan puluhan makanan yaa." Ucap Lucia dengan tertawa, namun setelah ia teringat dengan daging busuk yang pernah ia buat bersama Nier di waktu itu, tawanya segera menghilang dan kecemasan mulai menghantui dirinya.
Ia masih bisa mengingat bagaimana rasa daging busuk yang pernah dimasak Nier waktu itu, dan setelah ia mengingatnya, Lucia tiba-tiba mulai merasa menyesal karena meminta banyak makanan dari Nier.
"Tentu Lucia, tentu aku akan memberikanmu semuanya." Jawab Nier dengan cepat, ia benar-benar gembira jika ada seseorang yang menyukai makanannya.
"Gehh... Sialan, Oh iya sepertinya waktuku tidak banyak lagi." Lucia memperhatikan jam hologram yang ada pada sistemnya, lalu alisnya seketika mengerut dan ia pun bergumam.
"Hanya tersisa 5 menit lagi, sial aku harus cepat."
Lucia melirik Nier sebentar lalu ia mengeluarkan sebuah item yang berbentuk kunci dari Inventory-nya.
Kunci itu berwarna emas, tidak, mungkin sebenarnya memang berbahan emas, tapi yang membuatnya menarik, kunci itu mengeluarkan aura ungu yang terlihat sangat mempesona.
Lucia menatap dan menggenggam kunci yang berada di tangannya dengan erat. Jika ada seseorang yang bertanya 'apa item terbaik yang Lucia miliki saat ini?' Sudah pasti ia akan langsung menyebutkan kunci ini.
Dan jika mereka bertanya kenapa Lucia memiliki level rendah walaupun sudah bermain game Exaworld Online sejak lama, jawabannya pun tetap sama, itu karena kunci ini.
Kunci yang telah dicarinya selama berbulan-bulan, dan item Unique pertama yang didapatkannya.
[Gate Of Dimension]
Itulah namanya, namun saat ini Lucia tidak akan ragu untuk menyerahkan kunci ini kepada partner satu-satunya yang ia miliki.
"Rein, ambil ini." Ucap Lucia lalu menyerahkan kunci itu kepadanya.
Nier terlihat tidak menolak, mungkin karena ia mengira itu hanyalah item biasa, ia menerimanya dengan ringan lalu kembali menatap wajah Lucia.
Yah, itu tidak heran. Kunci yang terlihat seperti kunci biasa, mana mungkin bisa menarik perhatian Nier. Lucia tahu kalau Nier tidak akan tertarik pada item yang memiliki penampilan biasa saja.
Huh...
Lucia mendesah pelan lalu menggelengkan kepalanya. Ia merasa aneh pada sifat partnernya satu ini. Biasanya para pemain akan menggunakan armor dan senjata yang kuat tanpa mempedulikan bentuk dan modelnya, apalagi untuk para ranker yang berada di puncak permainan. Mereka bahkan tidak ragu untuk menggunakan armor yang terlihat aneh sekalipun, asalkan status mereka bisa meningkat pesat, mereka pasti akan menggunakannya.
Tapi untuk Nier? Jangankan armor dengan model yang aneh, armor yang menurutnya normal saja mungkin sudah ia buang ke tempat sampah.
Bahkan saat ini saja, Nier masih memakai pakaian pemula karena tidak ingin memakai armor yang terlihat tidak cocok dengannya. Lucia tidak tahu harus tertawa atau bagaimana, sepertinya Nier benar-benar memperhatikan penampilannya dari pada kekuatan.
"Lucia, ini kunci rumahmu?" Tanya Nier setelah menerima kunci tersebut.
Disini Lucia benar-benar ingin tertawa, ia sudah menebak kalau Nier tidak akan melihat status kunci tersebut. Tapi siapa sangka kalau tebakannya ternyata benar.
Sebelum Nier benar-benar membuka status kunci tersebut, Lucia kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Nier, lalu berbisik.
"...... Rein, aku tidak akan pernah menikahi pria yang berada di bawahku, jadi.. selamat berjuang."
Usai Lucia berbisik, bunyi singkat dan menggemaskan tiba-tiba terdengar dari pipi Nier.
Chup..
Benar, itu suara ciuman! Lucia baru saja mencium Nier tepat di pipinya! Dan tentu itu membuat Nier terkejut sehingga matanya terbuka lebar seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia alami.
"Rein, sampai jumpa lagi!"
Setelah mencium pipi Nier, dengan wajahnya yang telah memerah seperti tomat, Lucia segera berlari lalu menekan berbagai macam tombol pada sistemnya.
Lalu setelah menurutnya selesai, tiba-tiba sinar putih mulai muncul dan mengelilingi tubuh Lucia. Tampaknya gadis berambut silver itu berniat untuk logout lalu meninggalkan Nier yang masih membeku di belakangnya. Namun sebelum tubuh Lucia benar-benar menghilang, ia berbalik lalu berteriak lagi ke arah Nier.
"Rein, aku mencin—"
Singg!
Seolah-olah surga menentang dirinya, tubuh Lucia segera berubah menjadi butiran partikel lalu menghilang ke udara tanpa bisa menyelesaikan kalimat yang ingin diucapkannya.
"........"
Nier benar-benar masih membeku, ia terdiam untuk waktu yang cukup lama, walaupun begitu, ingatan tentang bisikan Lucia, ciuman Lucia, lalu teriakan Lucia tadi masih teringat jelas di kepalanya.
'Apa ini? Apa yang terjadi? Apa aku bermimpi? Ya tuhan, kalau ini hanya mimpi, tolong jangan bangunkan aku. Kumohon, untuk kali ini saja, biarkan aku bermimpi lebih lama.'
Nier masih menatap kosong ke tempat Lucia tadi. Sekarang, kepalanya benar-benar kosong. Tidak, lebih tepatnya sudah berhenti bekerja karena kejutan yang diberikan Lucia.
Namun, dengan otaknya yang kosong itu, Nier meneriaki semua yang ada dihatinya. "LUCIA, AKU JUGA MENCINTAIMU!"
Ding!
Sekali lagi suara notifikasi sistem berbunyi seolah-olah kembali menanggapi teriakan Nier.
『 Pemain Lucia telah menghapus anda dari FriendList. 』
"..........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................."
__ADS_1
____________________________________________
Maaf lama ga update, dan terima kasih karena telah setia menunggu cerita erotic chef ini.