
『 Gate of Dimension
Rating: Unique ( Fragmented Legendary )
Special
Durability: 106/666
Sebuah kunci dimensi yang diciptakan oleh Solomon si raja sihir dengan menggunakan konsep ruang dan waktu.
Awalnya kunci ini merupakan sebuah mahakarya, namun karena keadaannya yang sudah sangat tua dan berkarat, kunci ini menjadi kehilangan setengah dari kekuatan aslinya.
Gunakan 3 keping Philosopher's Stone untuk mengembalikan keadaannya seperti sediakala. ( 0/3 )
* Skill Teleport dihasilkan.
[ Teleport
Pengguna dapat melakukan teleportasi ke tempat yang telah ditandai.
Mana Cosumption: 5.000
Cooldown Time: 30 Minutes. ]
* Skill Gate of Dimension dihasilkan.
[ Gate of Dimension
Pengguna dapat membuka portal teleportasi selama 5 menit ke tempat yang telah di tandai.
Mana Cosumption: 10.000
Cooldown Time: 60 minutes. ]
[ ♦ Tempat-tempat yang telah ditandai
• White Forest
• Qwinzi Empire
• Karade Kingdom ]
Gunakan 1.000 mana point untuk mengubah tanda yang telah ditetapkan. 』
"Ya tuhan, apa-apaan ini? Apa ini benar-benar skill teleportasi?!"
Mata dan mulut Nier seketika melebar, ia sangat terkejut saat membaca informasi tersebut. Kunci yang awalnya ia kira sebagai hadiah perpisahan ternyata memiliki skill teleportasi yang sangat langka di dalamnya!
Exaworld Online dikenal sebagai dunia fantasi tanpa skill teleportasi, walaupun banyak rumor yang membahas tentang keberadaan skill tersebut, namun tidak ada satupun pemain yang dapat membuktikannya.
Jantung Nier segera berdebar kencang karena tahu seberapa berharganya kunci ini. Apalagi di statusnya tertulis sebagai Fragmented Legendary, bukankah itu artinya kunci ini akan menjadi Item legendaris jika dipulihkan ke keadaannya semula?
Item legendaris pertama dan skill teleportasi pertama, memikirkannya saja sudah membuat Nier terengah-engah tidak percaya.
"Lucia.. kenapa kau memberiku harta seperti ini? Apa kau sangat mempercayaiku?" Gumam Nier lalu menggenggam erat kunci tersebut.
Jika kunci ini dijual, pasti harganya bisa menembus sampai satu miliar rupiah. Namun yang menjadi pertanyaan, kenapa Lucia menyerahkan benda ini padanya? Apa Lucia tidak takut kalau Nier menjual kunci ini lalu pergi meninggalkannya?
"Gahhh, sialan! Entah kenapa bebanku terasa semakin berat!" Nier berteriak sebelum berlari ke dalam hutan lalu menghilang.
Menurutnya, dari pada terus merenung dan berpikir secara berlebihan, lebih baik dia membunuh monster dan meningkatkan levelnya secepat yang ia bisa.
***
Hari pun dengan cepat berganti.
Walaupun sekarang masih fajar dan udara juga masih terasa dingin, namun kini Nier sudah berada tepat di depan halaman rumah Momo untuk berlatih memasak.
Ia dari kemarin sudah menunggu saat-saat ini, bahkan sebelum latihan dimulai pun ia sudah membeli semua bahan-bahan yang diperlukan untuk pelatihannya nanti.
Nier sekali lagi memeriksa bahan-bahannya, ia tidak ingin kekurangan bahan apapun saat berlatih nanti, dimulai dari daging, bumbu, sayur-sayuran, dan bahkan potion sudah tertata rapi di dalam inventory-nya.
Setelah semuanya selesai, Nier segera berjalan menghampiri Momo yang saat ini sedang duduk santai sambil menikmati kopi susu buatannya.
"Anu.. Momo, bisakah kita mulai latihannya sekarang? Walaupun masih agak gelap, tapi setidaknya kita tidak boleh menyia-nyiakan waktu seperti ini."
"......"
Momo melirik Nier sekilas sebelum mengerutkan dahinya. Jujur saja pada awalnya Momo sangat menyukai murid yang sangat antusias seperti Nier, tapi, untuk sekarang ia mulai menyesali keputusannya.
Ini masih jam 5 pagi dan matahari pun belum sepenuhnya terbit, tapi, muridnya satu ini sudah masuk ke dalam kamarnya dan bertanya 'kapan kita akan berlatih?' disaat ia masih tertidur pulas. Bukankah ini namanya bukan antusias lagi?
"Ayolah Momo, kapan kita akan berlatih? Kau sudah duduk diam disana selama lebih dari setengah jam. Bukankah ini waktu yang tepat untuk kita latihan?"
Mendengar Nier yang terus mengomel tanpa henti, Momo pun menghela napasnya. Ia tidak bisa menolak karena telah berjanji untuk mengajarinya hari ini.
Namun, sebelum ia beranjak pergi, tiba-tiba ide yang sangat cemerlang terlintas di kepalanya. Momo tanpa sadar mulai tersenyum lalu berbicara kepada Nier.
"Baik, kalau begitu buatkan aku sarapan, sepertinya hari ini aku ingin makan ayam goreng, ohh.. jangan lupa siapkan aku susu panas dan kentang goreng juga."
Momo tidak dapat menahan senyumnya, ia bisa memakai alasan ini untuk bersantai lebih lama. Lagi pula caranya juga tidak salah, sebelum mengajar tentu ia harus mengetahui seberapa jauh keterampilan muridnya ini.
"Aku ingin tahu seberapa jauh kemampuanmu dalam memasak, jadi jangan pernah bicara padaku sebelum kau menyelesaikannya." Sambung Momo sebelum duduk di kursinya.
Nier menatap Momo dengan tatapan tidak percaya lalu kemudian bertanya, "Tapi, aku belum pernah–"
"Cukup, jika kau berbicara lagi, maka aku tidak akan pernah mengajarimu." Tegas Momo.
"......."
Kali ini Nier benar-benar dibuat terdiam, sebenarnya ia ingin mengatakan kalau ia belum pernah menyentuh alat penggorengan. Ia bahkan tidak tahu bagaimana dasar-dasarnya.
__ADS_1
Selama Nier berlatih memasak bersama Remi, ia selalu memasak sup dan tidak pernah memasak yang lain selain itu. Dan sekarang ia disuruh menggoreng ayam? Jangan bercanda, mana mungkin dia bisa melakukannya!
Hah....
Nier menghela napasnya sambil menatap Momo, setidaknya ia ingin bertanya bagaimana resep dan caranya. Tapi disaat ia melihat tatapan tajam Momo, ia segera mengurungkan niatnya. Sepertinya Momo sangat serius dengan ancamannya tadi.
"Baik.." Singkat Nier lalu mengeluarkan semua bahan-bahan yang diperlukan seperti ayam, air, minyak, garam, dan beberapa bahan lain.
Karena Nier tidak tahu seperti apa resepnya, ia mengambil ayam terlebih dahulu dan menaruhnya diatas talenan. Walaupun tidak tahu bagaimana caranya, setidaknya ia bisa memasaknya dengan menggunakan metodenya sendiri.
Pertama, potong dan pisahkan ayamnya menjadi beberapa bagian.
Bahkan anak kecil saja tahu bagiamana cara memotong ayam, jadi mana mungkin Nier tidak bisa.
Dengan perlahan ia memindai ayam tersebut sambil menentukan bagian mana saja yang nanti ia potong, dan setelah selesai, ia mulai mengeluarkan pisaunya.
"Dark Knife."
Takk!
Pisau hitam terjatuh diatas talenan. Nier mulai tersenyum, jika masalah memotong, maka dia adalah ahlinya.
Tapi tepat setelah ia mencoba mengambil [Dark Knife], ia baru sadar kalau pisau hitam di tangannya ini memiliki beban yang sangat luar biasa. Dan tentu itu membuat Nier panik.
Nier mencari pisau lain yang ada di dalam Inventory-nya, namun sayangnya tidak ada satupun pisau yang tersisa. Pada saat ini Nier mulai menyadari kesalahannya, ia terlalu fokus pada bahan-bahan sampai lupa peralatan memasaknya yang sangat kurang.
"Sial.. apa yang harus kulakukan?"
Nier berpikir apakah ia harus menggunakan pedang untuk memotong ayam ini? Tapi ia segera menggelengkan kepalanya. Mungkin jika ia melakukan itu, Momo akan segera menendangnya dari sini.
Hanya ada satu cara untuk menyelesaikan masalah ini, namun Nier benar-benar tidak ingin menggunakannya karena ia harus meningkatkan status strength-nya sampai ia bisa mengangkat pisau tersebut.
"Hoi, kenapa kau diam saja? Jika kau memang tidak niat maka sudahi saja latihan ini." Momo mulai mendengus kesal ketika melihat Nier yang terus mengelus pisaunya selama lebih dari 5 menit.
Mendengar ancaman itu lagi, Nier memutuskan untuk meningkatkan status strengthnya sebanyak 150 poin, itu adalah setengah status poin yang telah ia simpan selama ini.
Ia tidak bisa memasukkan semua status poinnya ke dalam kekuatan, sebab jika ia melakukan itu, karakternya akan benar-benar berantakan dan hancur. Jika ingin memasukkan seluruh status poinnya, maka itu haruslah ke agility karena itu sangat cocok dengan gaya bermainnya.
Selain itu, Nier merasa menaikkan level semakin lama juga semakin sulit, sebab jebakan yang ia buat untuk para Minotaur tidak berefek sama sekali seolah minotaur itu sudah mengetahui jebakannya.
Bahkan kemarin ia dikejutkan dengan minotaur yang melemparkan batu besar ke arah jebakannya, bukankah itu artinya mereka sudah tahu kalau ada jebakan di sekitar sana?
Nier mendesah pelan sebelum bergumam, "Dark Knife bergeraklah!"
Kemudian ia mengangkat pisau itu sekali lagi, namun sayangnya ia hanya bisa mengangkat pisau itu sedikit, mungkin itu hanya beberapa sentimeter dari tanah. Bebannya masih sangat berat untuk Nier angkat.
Tapi Nier tidak menyerah, ia telah berjalan sejauh ini hanya untuk belajar memasak, jadi mana mungkin ia menyerah begitu saja.
"Gahh sialan, ini masih tidak berhasil, kalau begitu, sistem masukan semua status poin yang tersisa ke dalam strength!"
Setelah Nier mengatakan itu, otot-otot di tangannya mulai membengkak dan pada akhirnya pisau itu benar-benar berhasil terangkat.
"...... Apa yang kau lakukan bodoh! Aku menyuruhmu untuk memasak, bukan mengangkat pisau itu!" Momo tidak tahan lagi dan berteriak. Apa yang dilakukan Nier benar-benar membuatnya kesal.
"......."
Nier sekali lagi terdiam sebelum menenangkan dirinya, ia menatap ayam yang ada di hadapannya lalu..
Slash!
Ayam tersebut terpotong, itu benar-benar terpotong bersih menjadi dua, bahkan talenan yang ada di bawahnya juga ikut terpotong.
Mulut Nier seketika melebar, ia lupa kalau kekuatannya saat ini sudah mencapai 327 poin.
"......"
"Baik, selanjutnya menggoreng."
Nier memotong ayam tersebut menjadi beberapa bagian sebelum memasukannya ke dalam panci yang baru saja ia siapkan. Ia juga tidak lupa memasukkan minyak sayur ke dalamnya.
Namun setelah ia melakukan itu, tiba-tiba sebuah kaki putih nan halus menendang pancinya hingga terbang tinggi.
Pangg!
"Ayamku!" Teriak Nier sebelum ia mendapat tendangan lain dari kaki putih itu.
"Ackkk!"
『 Anda telah menerima 103 kerusakan. 』
Nier terjatuh ke samping, dan pada saat ia melihat pemilik kaki putih itu, ia segera terkejut dan bangkit.
"Momo apa yang kau lakukan?! Kenapa kau menendang ayamku seperti itu? Bukankah kau yang menyuruhku untuk memasak?!"
"Kau! Kau bilang itu memasak?! Kenapa kau menggoreng di dalam panci?! dan kau bahkan tidak membumbuinya! Apa kau bodoh?!"
"Itu.. itu adalah gaya memasakku! Apanya yang salah?!"
"Si bodoh ini...."
Nier dan Momo mulai berdebat, walaupun Nier hanya mengatakan omong kosong, setidaknya ia mendapat pencerahan setelah Momo menjelaskan beberapa hal yang tidak ia ketahui.
Benar, Nier mengambil kesempatan di dalam kesempitan, dan pada akhirnya ia mengetahui dasar-dasar untuk menggoreng ayam.
Setelah mereka berdua menjadi tenang, Nier kembali melanjutkan latihan memasaknya.
Momo mengatakan kalau menggoreng itu membutuhkan wajan, namun ia sama sekali tidak memiliki wajan di dalam Inventory-nya.
'Apa yang harus kulakukan? Apa aku bisa menggunakan panci saja?' pikir Nier, namun karena panci adalah satu-satunya peralatan memasak yang ia punya, Nier pun terpaksa memanggil kembali pancinya.
Singg!
__ADS_1
Pancinya yang telah terbang menjauh, kini telah kembali lagi ke atas kompor, namun sayang daging ayam yang ada di dalamnya telah hilang tak bersisa.
Nier mulai berpikir keras dengan apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Ia mengerutkan keningnya sebentar karena mendapatkan ide yang lumayan aneh, namun setidaknya ide ini patut dicoba.
Dengan tenang ia mendekatkan wajahnya ke dalam panci lalu berbisik.
"Anu.. Dark Pan, bisakah kau berubah menjadi wajan? Aku ingin menggoreng ayam."
Jika orang melihatnya, mungkin mereka akan berpikir Nier sudah gila. Namun...
Tepat setelah Nier mengatakan itu, [Dark Pan] yang ada di tangannya mulai mengeluarkan kabut hitam yang sangat tebal sampai-sampai membuat panci itu tidak lagi terlihat.
Singg...
Kabut itu secara perlahan mulai menghilang, dan setelah beberapa saat. Mata Nier seketika melebar saat melihat pancinya yang kini telah berubah menjadi wajan!
"......."
'Apa-apaan panci ini, sejak kapan dia memiliki fitur ini?!'
Nier menatap pancinya dengan tatapan tidak percaya, dan secara perlahan mulai memeriksanya.
Nier mendapat ide ini karena telah melihat [Dark Knife] yang berubah menjadi pedang, lalu [Dark Fork] yang berubah menjadi tombak. Ia bertanya-tanya apakah [Dark Pan] juga bisa berubah atau tidak, namun siapa yang menyangka jika ide itu berhasil.
Karena pancinya telah berubah menjadi wajan, sekarang yang perlu ia lakukan hanyalah menyalakan api dan memanaskan minyak. Itu sangat mudah hingga membuat Nier menyeringai.
Srtttt..
Minyak sayur telah dituangkan ke atas wajan, sekarang ia hanya perlu menunggu minyak itu mendidih.
Sambil menunggu, Nier juga membumbui potongan ayam tersebut dengan garam. Ia juga tidak lupa mencelupkan ayam tersebut dengan tepung. Dengan ini mungkin ayamnya akan terasa lebih gurih, itulah yang ada dipikirannya.
Untung saja Nier melakukan semua itu sambil membelakangi Momo, andai Momo melihatnya sekarang, sudah pasti ia akan mendapat tendangan lain.
Waktu pun dengan cepat berlalu, minyak yang ada di dalam wajan kini telah mendidih. Namun Nier tidak langsung memasukkan semua ayamnya, sebab ia menduga memasukkan semuanya sekaligus akan menjadi lebih cepat.
Namun tepat setelah ia menunggu sedikit lebih lama, api merah menyala tiba-tiba muncul diatas wajannya.
Flashh..
"Sial, apa lagi ini!"
Nier menjadi panik, dan saat ia berbalik ke arah momo, ia mendapati kaki putih yang sudah berjarak sangat dekat dengan wajahnya, lalu..
Duarr!
『 Anda telah menerima 313 kerusakan. 』
Benar, Nier tertendang lagi tepat di pipinya.
Nier merasa tendangan Momo terasa lebih keras daripada sebelumnya, bahkan kerusakan yang ia terima juga naik menjadi tiga kali lipat.
"Kau gila, apa kau tidak bisa memasak?!" Momo berteriak kesal sebelum menendang wajan yang terbakar itu lalu kembali berbalik ke arah Nier.
"......"
Nier terdiam dan tidak bisa menjawab, ia telah melakukan apa yang dikatakan Momo tadi. Tapi, kenapa api itu bisa berada diatas wajannya? Padahal ia merasa tidak melakukan kesalahan apapun.
"Maaf..." Nier mengakui kesalahannya, seharusnya tadi ia langsung mengakui saja kalau dia tidak bisa memasak sehingga tidak terjadi kejadian yang seperti ini.
Melihat Nier yang tulus meminta maaf, Momo pun segera mengerutkan alisnya.
"Tunggu, jangan bilang kalau kau benar-benar tidak tahu caranya memasak?"
"Maaf..."
"Walaupun Jobmu koki, tapi kau tidak bisa memasak? Apa kau serius?"
"Maaf..."
"Tunggu, kau bercanda kan?"
"........"
Kali ini malah Momo yang dibuat terdiam, dan ia mulai berpikir.
'Apa yang terjadi disini? Bukankah aku sudah menyeleksinya dengan benar? Kenapa dia tidak tahu cara memasak? Seharusnya seseorang yang telah menyelesaikan ujian dengan tingkat tersulit pastilah seseorang yang berbakat, kan?"
Setelah memikirkan itu, kerutan di dahi Momo segera berubah semakin dalam.
"Ya tuhan, aku lupa kalau aku mengujimu untuk mencuri buah keron dan bukan mengujimu untuk memasak..." Momo menyesal, ia benar-benar merasa sangat menyesal karena telah melakukan hal yang sangat bodoh.
Andai saja dulu dia menguji Nier dengan tantangan normal, mungkin Nier tidak akan pernah menjadi muridnya. Dan sekarang karena kecerobohannya, ia mendapatkan murid terburuk dari yang terburuk.
Seorang murid yang sangat antusias yang bahkan sampai membangunkan dirinya hanya untuk belajar memasak.
Seorang murid yang sangat tidak berbakat yang bahkan sampai membuat wajan terbakar.
Hah...
Momo menghela napas panjang sebelum menatap tajam ke arah murid bodohnya ini.
"Nier, untuk latihan pertamamu, ambil semua bawang yang ada di gudang lalu kupas semuanya! Dan jika tidak selesai hari ini, maka jangan harap kau bisa belajar dariku lagi!"
"........"
Dengan ini, hari pertama Nier yang menjadi murid Momo pun dimulai.
_______________________________________
Jangan lupa Like, Vote, dan Comment!
__ADS_1