The Heretic Chef : Exaworld Online

The Heretic Chef : Exaworld Online
Lenia


__ADS_3

Di dalam sebuah kamar yang lumayan besar dan mewah, terlihat seorang gadis berambut silver sedang berguling-guling sambil menutup wajahnya dengan bantal.


Ia sesekali berteriak lalu kembali membenamkan wajahnya ke dalam bantal. Sebenarnya ia sudah melakukan itu selama lebih dari 15 menit, dan mungkin jika ada seseorang yang melihatnya sekarang, mereka pasti akan mengira kalau gadis itu sudah gila.


"Aaaaaaagh, apa yang baru saja aku katakan?! Kenapa aku bisa melakukan itu?! Aaaaaaaahhh!" Teriak gadis itu lalu kembali memeluk bantalnya dengan lebih erat.


Benar, gadis itu adalah Lucia. Setelah ia keluar dari permainan tadi, ia langsung melompat ke atas kasur dan berteriak histeris seperti ini.


"Sialll, itu sangat memalukan!"


Teriaknya lagi. Wajah Lucia kini telah benar-benar memerah, ia merasa sangat malu ketika mengingat kejadian tadi. Tidak hanya ia menyatakan cintanya, ia bahkan mencium pipi Nier tanpa memperhatikan status mereka saat ini.


Lucia pada saat itu tahu kalau hubungan mereka masihlah sebatas teman, tapi, untuk beberapa alasan tubuhnya seolah bergerak sendiri dan mencium pipi Nier tanpa disadarinya.


Lucia mengakui kalau dirinya memang memiliki rasa kepada Nier. Tapi, untuk seorang gadis seperti dirinya, sangat memalukan jika ia harus melakukan itu terlebih dahulu sebelum pihak laki-laki yang memulainya.


"Rein, kau bodoh, bodoh, bodoh!" Teriaknya lagi sambil memukul guling yang awalnya ia peluk.


Namun sebelum ia menyelesaikan combonya pada guling tersebut, suara ketukan terdengar dari pintu kamarnya.


Tuk tuk tuk!


Lucia yang awalnya malu dan gugup, ekspresinya seketika berubah menjadi dingin saat mendengar suara ketukan itu. Bahkan rona merah di wajahnya juga telah sepenuhnya hilang.


Walaupun belum terlihat jelas siapa yang mengetuk pintu kamarnya, tapi Lucia sudah tahu siapa itu.


Tuk tuk tuk!


Suara ketukan itu berbunyi lagi, Lucia mengerutkan keningnya sebelum dengan cepat merapikan pakaiannya yang kusut dan berjalan membuka pintu kamarnya.


Creeaakk.


Pintu terbuka dan Lucia segera mendapati seorang wanita berambut pirang, sedang berdiri diam di depan pintu kamarnya.

__ADS_1


Tsk!


Lucia mendecakkan lidahnya saat melihat penampilan wanita itu, jika ada seseorang yang bertanya 'Siapa orang yang paling kau benci?' maka Lucia tidak akan ragu untuk menunjuk wanita ini.


"Apa yang kau lakukan di depan kamarku?" Tanya Lucia dengan dingin.


Saat mendengar pertanyaan Lucia yang seperti itu, tatapan wanita itu berubah menjadi tajam, "Kau bocah sialan, jangan berpura-pura bodoh, cepat berikan aku ponselmu!"


Lenia Santika, itulah nama wanita ini. Ia adalah seorang wanita dengan rambut panjang sepinggang, mata birunya yang berkilauan dan disertai dengan bulu mata yang panjang dan lentik, ia juga memiliki paras yang lumayan cantik untuk seorang wanita dengan umur 29 tahun.


"Cepat berikan! Ohh... tunggu sebentar, jangan bilang kau tidak jadi melakukannya?" Lenia mengulurkan tangannya ke depan, sebelum menyeringai dan kembali bertanya, "Kau tahu kan akibatnya jika berani menentang ku?"


"......"


Lucia mengepalkan tangannya dan matanya juga mulai menyipit, ia benar-benar tidak menyukai wanita ini, andai saja wanita ini bukan bibi-nya dan bukan pemegang saham terbesar di Garuda Crown, ia tidak akan pernah memedulikannya.


Lucia tahu dengan jelas kalau wanita di depannya ini sering mengganggu kehidupan pribadinya, dimulai dari kenalan, teman, bahkan pacar. Lucia tidak diperbolehkan untuk berteman dengan seorang pun yang berada di bawah tingkatannya juga karena wanita ini.


Lenia mengangguk puas dan tanpa ragu mengambil ponsel tersebut. Ia melirik ke arah Lucia sebentar dan ketika melihat tidak ada perlawanan, ia segera memeriksa ponsel tersebut dengan perlahan.


Pertama, ia mulai membuka satu persatu akun sosial media Lucia, dimulai dari kontak, email, hingga akhirnya akun Exaworld Online milik Lucia. Senyum Lenia juga semakin melebar ketika melihat tidak ada seorang pun teman yang ada di dalamnya, dan setelah selesai memeriksanya, ia segera mengembalikan ponsel tersebut tanpa rasa bersalah.


"Bagus, bagus sekali Lucia, kau sudah menghapus semuanya. Mungkin dengan begini Guild kakakmu bisa berjalan dengan lancar." Lenia terlihat menahan tawanya saat mengatakan itu, ia menepuk bahu Lucia beberapa kali sebelum pergi meninggalkannya.


"......"


Lucia masih terdiam, bahkan setelah Lenia benar-benar hilang dalam pandangannya. Ia sangat membenci saat-saat ini, walaupun dirinya memiliki banyak uang, ia tidak tahu bagaimana cara menghilangkan pengaruh wanita itu dalam hidupnya.


Setelah cukup lama terdiam, Lucia akhirnya mengucapkan sepatah kata sebelum masuk ke dalam kamarnya dan kembali memainkan Game Exaworld Online.


"Rein... Jangan menyerah..."


***

__ADS_1


Disisi Lain, Nier saat ini sudah kembali ke rumah Momo. Ia sedang duduk dan termenung di depan teras rumah sambil mengamati langit dengan tatapan kosong.


Setelah ia mendapat kejutan dari Lucia tadi, awalnya ia merasa sangat gembira sampai-sampai ia berteriak dan bahkan menjadi pusat perhatian di sana.


Namun, itu hanya kesenangan sesaat. Sebab setelah ia mengingat kembali bisikkan itu, ekspresinya seketika menegang karena menyadari seberapa berat beban yang akan ia tanggung di masa depan.


[...... Rein, aku tidak akan pernah menikahi pria yang berada di bawahku, jadi... Selamat berjuang..]


Itulah yang Lucia bisikkan sebelum menghilang.


Jika Nier pikirkan baik-baik, Lucia tidak hanya menembaknya, namun ia juga menetapkan syarat untuk menjadi pacarnya.


Tapi syarat yang Lucia tetapkan sangatlah gila, bahkan hampir mustahil bagi Nier untuk mewujudkannya.


Pertama jika Nier ingin melebihi Lucia, tentu ia harus memiliki banyak uang. Tapi untuk seorang mahasiswa biasa yang bahkan belum bekerja, apakah mungkin untuk melakukannya?


Itu hampir mustahil, bahkan jika Nier bisa menjual makanannya dengan harga tertinggi di Exaworld Online, masih mustahil baginya untuk mencapai ke tingkatan Lucia.


Apalagi Nier sadar kalau tingkat persaingan antar koki juga kian memanas, bahkan untuk harga daging yang awalnya ia jual seharga 10 koin emas, sekarang hanya bisa laku terjual dengan harga 1 koin emas.


Dan untuk yang kedua, Nier juga harus meningkatkan status dan ketenarannya sehingga bisa menyaingi Lucia.


Mungkin ini akan menjadi sangat sulit, namun Nier sudah memiliki beberapa rencana di benaknya.


Salah satunya adalah mengikuti turnamen yang akan diadakan pada akhir tahun nanti. Jika Nier bisa memenangkan turnamen bergengsi tersebut, sudah pasti status dan ketenarannya akan meningkat sangat cepat dan bahkan bisa melampaui Lucia.


Yah, walaupun Nier tahu seberapa sulit memenangkan turnamen itu, tapi setidaknya ia harus tetap mencoba.


Setelah memikirkan banyak hal di kepalanya, tatapan mata Nier kini beralih pada kunci emas yang berada di tangan kanannya.


Ini adalah kunci yang diberikan Lucia pada saat perpisahan mereka tadi. Nier tidak tahu kunci apa ini karena dari tadi ia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri dan bahkan tanpa sadar ia telah mengabaikan kunci tersebut.


Mungkin karena ini hanya sekedar kunci, Nier benar-benar tidak tertarik dengan statusnya. Namun, matanya seketika melebar saat informasi tentang kunci itu terbuka.

__ADS_1


__ADS_2