The Heretic Chef : Exaworld Online

The Heretic Chef : Exaworld Online
Habis


__ADS_3

"Ap-Apa katamu tadi?"


Mata Lucia melebar lalu kembali menatap tajam pria dihadapannya. Walaupun dia mendengar dengan jelas setiap perkataan Rein, tapi tetap saja dia tidak percaya.


"......."


Seketika Rein terdiam, dia benar-benar cemas dan tubuhnya langsung berkeringat dingin.


'Sialan, aku sangat bodoh! Jika aku menyatakannya sekarang sudah pasti akan ditolak!' Rein berteriak di dalam hati, tapi setelah melihat ekspresi Lucia, ia langsung membeku. Seperti yang ia duga, ini adalah tanda-tanda penolakan.


Terkadang dia sangat membenci kemampuan anehnya ini. Setiap kali dia memikirkan sesuatu, pasti ada saja beberapa kata yang tanpa sengaja keluar dari mulutnya.


Rein sadar dengan perkataannya barusan dapat mengubah suasana menjadi lebih buruk. Walaupun begitu, dia tetap tidak ingin berbohong pada Lucia.


"Eh kenapa? Apa aku mengatakan sesuatu?" Rein memasang wajah sepolos mungkin sambil sedikit memiringkan kepalanya.


"Tadi kau bi-"


"Aku apa?" Sebelum Lucia menyelesaikan pertanyaannya, Rein langsung memotongnya dengan cepat.


"Tadi-"


"Apa?"


"......" Lucia terdiam melihat tingkah Rein, tapi setelah melihat ekspresinya yang aneh dan tubuhnya yang penuh dengan keringat, dia tidak mau menanyakan lebih jauh.


"Tidak..."


Keduanya terdiam dan suasana berubah menjadi canggung, untung saja tidak lama kemudian pesanan meraka datang.


Hingga beberapa menit kemudian kecanggungan itu menghilang.


"Lucia, sebenarnya apa tujuanmu membawaku kesini?" Rein bertanya sambil memakan kentangnya.


"Hmm.. tadinya memang ada."


"Tadinya?"


Lucia memperhatikan tubuh Rein sekilas. Memang, dia membawa Rein ikut dengannya bukanlah tanpa alasan.


Setelah Rein logout tanpa adanya kabar, Lucia menjadi panik dan khawatir. Bahkan dia sampai menunggu selama 3 jam penuh di dalam dungeon, tapi tetap saja Rein tidak kembali.


"Sudahlah, tidak perlu membahasnya lagi. Jadi apakah kau sekarang ingin pulang? Atau ingin pergi ke suatu tempat?" Lucia bertanya sambil memainkan sendok pudingnya.


Rein terdiam sejenak mendengar pertanyaan Lucia.


'... Bukankah ini sebuah kesempatan kencan?'


Akan sangat sia-sia jika Rein pulang ke rumah kalau sudah diberikan kesempatan seperti ini.


"Ehem, karena sudah seperti ini kenapa kita tidak berkeliling sebentar?" Rein meminum kopinya sambil melirik-lirik Lucia.


"Berkeliling ya, ... Memangnya mau kemana?"

__ADS_1


Otak Rein langsung berputar dengan sangat cepat memikirkan tempat yang paling cocok untuk mereka berdua, dan seketika ia tersenyum sambil menatap Lucia.


"Game Center!"


"Hmm, Game Center... Kau yakin ingin pergi ke sana?" Lucia mengangkat alisnya. Entah kenapa ia memiliki firasat, kalau Rein pergi ke sana semua uangnya akan segera habis.


"Benar sekali! Ayo kita pergi!"


Dan tidak lama kemudian mereka berdua selesai menghabiskan sarapannya.


Pada awalnya Rein ingin membayar semua biaya sarapan mereka, tapi saat berada di kasir dia terkejut bukan main karena semua makanan yang ia makan tadi gratis! Wajar saja gratis jika pemilik kafe ini adalah Lucia!


Sekali lagi Rein tersenyum pahit saat menerima kenyataan. Walaupun hubungannya semakin dekat, tapi entah kenapa Lucia terasa semakin jauh.


* * *


"Sudah lama aku tidak pergi ke sini."


Rein menatap gedung di hadapannya sambil bernostalgia dengan kenangan indahnya dulu.


"Benar ...tapi semenjak game Exaworld Online rilis, tempat ini jadi semakin sepi."


"Hmm, kau benar juga..." Rein memperhatikan sekitarnya dan mengangguk setuju.


"Kalau begitu aku pulang ya..." Lucia berbalik dan berjalan ke arah mobilnya.


Tapi sebelum dia beranjak pergi, Rein langsung memegang tangannya.


"Ap-Apa yang kau katakan, bukankah kita baru saja akan bersenang-senang!?"


Rein terdiam sebentar. Jika tidak bermain bersama Lucia, lalu untuk apa dia pergi kesini?


Tapi Rein tidak kehabisan akal, dia menyeringai sambil menatap Lucia, "Tunggu, ...jangan bilang kamu takut?"


Ini adalah kata-kata yang sama saat Lucia mengajaknya taruhan. Setelah mengatakan itu Rein tersenyum melihat sedikit kerutan di dahi Lucia.


"......"


"Yahhh... Kalau begitu apa boleh buat." Rein terus menggoda Lucia dengan seringai di wajahnya. Dia tahu kalau Lucia sangat suka bersaing dan tidak suka direndahkan.


"Kurasa aku akan memecahkan semua rekor disini."


"......"


Lucia terdiam mendengar perkataan Rein yang terus menggodanya, dia tahu kalau dia sedang digoda tapi entah kenapa setiap perkataan Rein selalu membuatnya kesal.


"Tidak kusangka ternyata partnerku sedikit penakut, hehehe," Rein tertawa kecil sambil berbalik dan berjalan meninggalkan Lucia.


'Sial, apakah ini sukses?' Dahi Rein berkerut karena Lucia terus diam dan tidak bergerak.


"......"


Disisi lain Lucia mengepalkan tangannya sambil menatap Rein dengan tajam.

__ADS_1


"Tunggu!"


Seketika Rein berhenti berjalan dan berbalik menatap Lucia, walaupun wajahnya datar tapi didalam hatinya dia sudah berteriak gembira karena rencananya sukses.


"Siapa yang bilang aku takut!" Lucia berjalan cepat menghampiri Rein.


Sebenarnya Lucia ingin pulang dan mengganti seragam sekolahnya yang sudah sedikit basah terkena keringat. Tapi dia tidak tahan lagi saat melihat ekspresi Rein yang seperti itu.


Sebelum Rein menjawab, Lucia menggenggam tangannya dan menariknya masuk ke dalam Game Center.


"Hehehe, kau ingin bersaing denganku disini? Ckckck... kurasa kesempatan menangmu hanya 1%." Rein tersenyum melihat Lucia yang sedang menarik tangannya.


Apa yang ia katakan bukanlah omong kosong belaka. Sebelum Rein menjadi seseorang yang gila kerja hanya karena ingin membeli Exadream Gear, dulunya ia sering bermain di Game Center.


Tapi bukan bermain seperti orang pada umumnya, dia memecahkan semua rekor yang ada di game center! Jadi wajar saja dia menjadi sedikit sombong.


Lucia mempercepat langkahnya dan akhirnya mereka berdua tiba di depan mesin penjual koin otomatis.


"Bersaing? Tidak Rein, kita bertaruh!"


Mendengar ucapan Lucia yang percaya diri, membuat Rein mengangkat alisnya.


"Hoo... bertaruh? Lalu apa yang kita pertaruhkan?"


"Sama seperti sebelumnya, yang kalah harus menuruti satu permintaan dari sang pemenang." Lucia tidak terlihat ragu dengan perkataannya.


"Menarik," Rein menganggukkan kepala sambil menyeringai, "jadi bagaimana kita menentukan pemenangnya?"


"Itu mudah, di tempat ini ada 181 mesin permainan dan siapapun yang mendapat kemenangan terbanyak, dia yang menang."


"Baiklah, aku setuju." Rein tanpa ragu setuju. Kenapa dia ragu kalau taruhan ini seperti kue gratis baginya?


Melihat Rein yang sudah setuju, Lucia mengangguk, "Baiklah aku akan menunggumu disana, dan jangan lupa membeli koinnya ya!" Lucia mengatakan itu sambil berjalan menuju salah satu mesin permainan.


"......"


'Apakah begini rasanya punya pacar?'


Rein tersenyum sebentar lalu memperhatikan mesin penjual koin otomatis di depannya.


Di sana tertulis, untuk 1 mesin permainan membutuhkan 2 sampai 4 koin.


"Tunggu, jika 1 mesin permainan saja membutuhkan 2 koin ....bagaimana dengan 181 mesin!?" Rein berkeringat dingin dan langsung membuka dompetnya.


Didalamnya ada belasan uang seratus ribu, untung saja dia tadi menyiapkan uangnya sebelum pergi.


"Tapi... apakah aku harus menghabiskan semuanya?"


Jika Rein memainkan semua permainan bersama Lucia setidaknya uang satu juta akan menghilang dari dompetnya.


"Tidak, sebagai pria bagaimana mungkin aku menarik kata-kataku!"


Dengan tangan yang bergetar dan mata yang berkaca-kaca, Rein memasukan belasan uang seratus ribu ke dalam mesin.

__ADS_1


Cring! Cring! Cring!


__ADS_2