
Aku Kivasta Ekova Lanhamr. Biasanya orang-orang memanggilku Kivasta. Aku lahir di negeri yang berada di gurun pasir yang bernama Alvia. Aku memiliki tiga saudara dan satu saudari, tetapi semua keluargaku telah berpisah dan menjadi keluarga hancur.
Keluargaku mengalami banyak masalah, seperti masalah ekonomi, pekerjaan, hingga makan saja susah. Suatu hari pada saat aku baru menginjak usia 14 tahun, ayah dan ibuku memutuskan bercerai. Dua saudara dan satu saudariku mengikuti ibuku, satu saudara lain mengikuti ayahku. Sementara aku memutuskan untuk tidak mengikuti siapapun dan memilih untuk memulai peruntungan baru di tempat berbeda.
Aku mengambil beberapa uang dari lemari sebelum pergi. Aku menumpang ke salah satu rombongan kereta kuda pedagang yang akan pergi ke kerajaan Setavia, sebuah kerajaan yang berada di benua Yhokava. Benua dengan suhu yang cukup dingin dan dikenal dengan sihir mereka yang hebat.
Awalnya saat aku ingin menumpangi rombongan kereta kuda pedagang aku ditolak oleh mereka, tetapi setelah mereka melihatku mengeluarkan kekuatan es mereka langsung percaya dan memintaku untuk menjadi pelindung mereka selama perjalanan ke Setavia.
Selama perjalanan yang memakan waktu 2 bulan lamanya, aku mempelajari bahasa Setavia dari para pedagang yang pernah ke Setavia. Para pedagang juga mengatakan bahwa walau Setavia adalah negeri yang cukup makmur, tetapi perbudakan masih terjadi di sana dan para pedagang mengingatkanku agar jangan sampai menjadi budak di Setavia.
Singkat cerita, Kami pun sampai di kerajaan Setavia atau lebih tepatnya kami sedang berada di ibukotanya, yaitu kota Letonia yang dikenal dengan tembok beton putih yang sangat kuat mengelilingi sisi kota. Aku turun dari kereta kuda para pedagang dan memasuki kota melalui gerbang yang besar. Sebelum itu ada beberapa pedagang yang memberiku perak dan sedikit emas sebagai imbalan karena telah melindungi mereka selama perjalanan, aku mengambil perak dan emas yang mereka berikan, yah barang-barang berharga ini bisa kutukarkan menjadi mata uang Setavia agar aku bisa menjalani hidup baru di sini.
Aku meninggalkan para pedagang dan berjalan di kota yang benar-benar sangat berbeda baik dari desain bangunan dan kondisi sosial di sini. Setelah berjalan selama beberapa saat aku menemukan toko emas dan aku langsung memasuki toko tersebut dan berbicara kepada pemilik toko yang merupakan orang yang sudah agak tua dan berambut putih dengan kulit yang sudah keriput. Aku berbicara dengan aksenku yang masih cukup buruk.
Karena ini pertama kalinya diriku berada di tempat yang sangat asing jadi saat aku berbicara dengan pemilik toko membuat aku merasa agak malu, “H-halo pak, a-aku ingin menjual emas dan perak ini...,” ucapku dengan suara yang agak terpotong-potong karena agak malu.
“Baiklah anak muda.”
__ADS_1
Aku mengeluarkan emas dan perak lalu memberikannya pada pemilik toko. Pemilik toko memeriksa emas. Namun, saat ia memeriksa perak matanya sedikit membesar seperti orang yang terkejut akan sesuatu.
“Ada apa pak?” tanyaku pada pemilik toko.
“Ini adalah perak vatia, perak yang sangat langka dan hanya ada di wilayah kerajaan Alvia! Dari mana kamu menemukan ini?” tanya balik pemilik toko.
“Aku menemukannya di lemari orang tuaku, kupikir ini adalah perak biasa. Oh ya aku berasal dari Alvia.”
“Kamu dari Alvia? Pantas saja perak ini sangat asli. Apa yang membawamu kemari ke Letonia nak?”
“Masalah keluarga dan sosial, jadi aku lebih memutuskan untuk merantau ke kerajaan Setavia melalui kereta kuda para pedagang.”
Karena perak vatia adalah perak yang langka jadi aku hanya menjualnya separuh saja, sementara yang lain aku simpan. Tetapi, semua emas kujual padanya.
Setelah melakukan transaksi dan mendapatkan banyak uang, aku memutuskan untuk langsung pergi dari toko emas. Tetapi sesaat aku baru saja berbalik untuk menuju pintu depan, pemilik toko memanggilku.
“Ada apa pak?” tanyaku sambil kembali berbalik ke arahnya.
__ADS_1
“Aku hanya ingin mengingatkan saja, bahwa walaupun Setavia dikenal sebagai bangsa yang cukup maju tetapi perbudakan masih terjadi di sini dan kebanyakan dari para budak adalah orang-orang yang berasal dari luar Setavia dan ras Reva, ras yang memiliki ciri fisik mirip hewan. Kamu juga masih baru di sini jadi berhati-hatilah jangan sampai menjadi budak di sini, oh ya bukannya aku ingin menyebarkan keburukan tetapi kau harus berhati-hati jika ingin bertransaksi permata di toko emas lain karena mereka semua adalah penipu dan bahkan aku membuka toko ini untuk memerangi mereka. Jadi lebih berhati-hati jika perlu bawa senjata seperti pedang.” ucap pemilik toko dengan nasihat panjangnya.
“B-Baiklah, aku akan lebih berhati-hati.”
“Baiklah kalau begitu, selamat tinggal! Kapan-kapan berkunjunglah kemari!” ucap pemilik toko dengan suara keras saat aku keluar dari toko emasnya.
Keluar dari toko emas, aku kembali berjalan-jalan di jalanan kota pada siang hari sembari memerhatikan bangunan kota dan penduduk yang berjalan lalu-lalang. Saat aku melihat ke arah kiri aku melihat sebuah kandang yang berisikan manusia dan manusia dengan ciri fisik hewan seperti yang dijelaskan oleh pemilik toko tadi, yaitu ras Reva. Seorang gadis dengan ekor dan telinga berwarna putih tapi agak kotor seperti kucing menatapku dengan tatapan kosong. Namun, seolah ia berkata bahwa ia membutuhkan bantuan. Aku sendiri merasa bahwa sepertinya tatapan itu akan menjadi hutang bagiku padanya. Namun, bagaimana bisa ku menyelamatkannya jika aku saja belum punya tempat untuk tidur....
Aku meninggalkannya dengan perasaan yang tidak enak, yah mungkin aku terlalu baik? Tapi sepertinya seolah aku sudah membuat janji untuk menyelamatkannya. Yah nanti saja yang penting bagaimana bisa bertahan hidup di sini itu adalah prioritas pertamaku.
Berjalan beberapa langkah aku menoleh ke arah kanan dan melihat sebuah bar kecil dengan berisi cukup banyak pelanggan. Berhubung aku sedang lapar jadi aku memasuki bar itu untuk memesan makanan.
Bar kecil ini terlihat bagus dengan beberapa ukiran dan lukisan pajangan di dindingnya. Aku berjalan ke tempat untuk memesan makanan, aku hanya memesan sepotong daging, roti, dan air putih saja. Kemudian setelah memesan makanan aku berjalan ke kursi dan meja kosong yang berada di sebelah dinding dan duduk di situ.
Beberapa saat kemudian seorang pelayan wanita dengan baju berwarna putih, rok berwarna hitam, seperti seragam datang membawa makanan pesananku.
“Ini pesanan Anda,” pelayan wanita meletakkan piring yang berisi sepotong daging panggang dan roti tidak lupa juga ia meletakkan segelas air di mejaku.
__ADS_1
Pelayan itu pergi meninggalkan mejaku untuk kembali bekerja. Aku mulai melahap daging dengan menggunakan pisau dan garpu yang disediakan. Setelah memakan makanan dan minum yang cukup, aku berdiri dan menuju ke tempat pemesanan makanan untuk membayar makananku tadi.
Makan telah selesai sekarang aku harus mencari tempat agar aku bisa tidur, aku keluar dari bar dan kembali berjalan di jalanan kota dan melihat istana yang begitu megah. Namun....