
Sebuah ledakan muncul di dekat penyihir jubah hitam itu dan menghancurkan area sekitar. Aku dan Chiva yang melihat melalui kaca jendela terkejut. Bukannya bersembunyi ke tempat yang aman, aku dan Chiva pergi keluar melihat penyihir itu secara dekat.
Saat kami sudah di luar. Penyihir itu masih merapalkan mantra gelap. Para guru mulai berdatangan termasuk ada Alissa juga, mereka menyuruh kami untuk mundur dan masuk ke bangunan. Aku tidak ingin masuk ke bangunan dan tepat pada saat itu Si penyihir berbicara.
“Siapa di antara kalian yang bernama Kivasta....?” Tanya Si penyihir dengan suara yang mengerikan di balik jubah yang menutupinya.
Aku maju beberapa langkah dan mengatakan. Bahwa, aku adalah Kivasta. Aku heran siapa dia sebenarnya? Apa dia penyihir dari Kekaisaran Veratha yang dikirim untuk menyerang akademi ini?
Para murid melihat kami dari dalam bangunan. Situasi menjadi sangat tegang, Alissa juga menyuruhku untuk mundur dan jangan berbuat hal nekat. Siapa peduli, Aku maju di saat pedang es muncul di tanganku. Siapa takut berduel dengannya....
Penyihir itu masih merapalkan suatu mantra. Aku berlari ke arahnya bersiap untuk menebas leher penyihir tersebut. Namun, tepat pada saat itu Alissa muncul di depanku mengganggu aksiku. Bahkan, dia menggunakan sihirnya untuk membuatku terjatuh dan tidak dapat bergerak.
“Apa yang kau lakukan Alissa!” Jeritku setelah terjatuh di belakangnya.
Alissa menggunakan sihirnya untuk melawan penyihir itu. Si penyihir membuat sebuah kubah yang melindungi dirinya dari serangan sihir air Alissa. Pak Hendry menggunakan sihir petir untuk bergerak cepat ke bagian belakang Si penyihir. Kini Si penyihir harus membagi fokus kedua arah. Si penyihir menyerang Pak Hendry. Namun, itu menjadi kesempatan bagi Alissa untuk menyerang balik Si penyihir. Dengan sihir air milik Alissa. Alissa menjebak Si penyihir di dalam gelembung air dan sekaligus melindungi Pak Hendry dari serangan sihir gelap yang dilontarkan padanya.
Seusai berhasil menjebak Si penyihir. Alissa berjalan ke arahku setelah itu mengangkat ku dengan kedua tangannya dan membawaku ke dalam bangunan akademi.
“Lepaskan aku! Aku bisa berjalan sendiri jika kau melepas sihirmu itu!” Aku memberontak saat dia seenaknya mengangkatku seperti ini di depan semua orang. Harga diriku sangat dipertaruhkan.
Dia terus mengangkatku tanpa mengatakan sepatah kata pun. Alissa membawaku ke ruang kerjanya lalu menurunkanku.
Aku dengan lancang langsung menanyai tanpa basa-basi, “Apa yang kau lakukan! Seharusnya aku tadi-”
Alissa tiba-tiba berbalik dan langsung memotong kalimatku dengan penuh amarah, “Apa?! Seharusnya apa?! Baru saja kontrak di mulai kamu sudah menjadi sok hebat begitu! Kamu mau tewas begitu saja?! Kita tidak tahu seperti apa kekuatan penyihir itu! Dan kamu malah maju menyerangnya tanpa berpikir panjang!” Sumpah kali ini Alissa benar-benar membuatku bungkam tidak bisa berkata-kata saat dia mengatakan semua itu dengan cepat dan penuh emosi....
__ADS_1
“Aku akan membuatmu mematuhiku...,” Alissa berjalan ke belakangku dan menyentuh leherku, sepertinya dia akan melakukan itu....
“Tidak!!!” Aku berteriak karena tahu apa yang akan dia lakukan.
Alissa akan memasang sebuah sihir yang akan membuatku patuh pada orang yang memasang sihir tersebut. Sial! Aku tidak akan mematuhi siapapun!
Aku merasakan sebuah tanda muncul di belakang leherku. Tanda itu menutupi tanda budak milikku. Saat tanda itu muncul leherku terasa sangat sakit hingga aku menjerit. Namun, Alissa menutup mulutku dengan tangannya membuatku tidak bisa berbuat apa-apa.
Setelah rasa sakit yang luar biasa itu, Alissa melepaskan tangannya dari mulut dan leherku.... Sepertinya sihir itu sudah terpasang padaku, jijik harus patuh padanya meskipun dia cantik.
Alissa berjalan ke hadapanku dan menyuruhku berdiri. Akibat dari sihir yang telah pasang Alissa padaku, aku langsung berdiri sesuai perintahnya.
Aku berusaha untuk tidak melakukan apa yang dia perintahkan. Namun, sangat sulit untuk menolaknya karena perintah dari sihir ini adalah mutlak.
“Kau melanggar perjanjian pada kontrak!” Sergahku maju ke hadapannya dengan amarah.
“Jika kamu berbuat hal nekat lagi, aku akan membuatmu menjadi budak selamanya. Mengerti?!”
Aku benar-benar ingin marah. Tetapi, tidak ada yang bisa kulakukan saat ini. Jika aku mencoba untuk melukainya itu hanya akan membuat kondisiku semakin parah....
“Baiklah...,” balasku dengan kesal.
“Nyonya?”
“Baiklah nyonya!” Balasku sekali lagi sambil memalingkan wajahku saat dia menyuruhku untuk memanggilnya "nyonya".
__ADS_1
Setelah aku ribut-ribut di dalam ruang kerja Alissa, aku keluar dari ruangannya dan berjalan kembali ke kamarku. Situasiku semakin terpuruk saja. Padahal aku menyerang penyihir itu karena mengira dia adalah penyusup dari Kekaisaran Veratha.
Sial. Sepertinya aku harus meminimalisir pertemuanku dengan Alissa, atau dia bisa memerintahkanku sesuai keinginannya.
Kalian pasti bertanya bagaimana keadaan Si penyihir jubah hitam? Yah, penyihir itu sudah dibawa oleh para guru ke pihak militer kerajaan dan penyihir itu pastinya akan diinterogasi.
Sudahlah. Aku lebih baik ke kamarku dan tidur siang saja.
Aku masuk ke dalam kamar, menutup pintu lalu menguncinya. Kemudian aku langsung berbaring di kasur dan menutup mata untuk tidur....
Tuk, tuk, tuk
Suara ketukan dari kaca jendela membuatku terbangun dari tidurku yang begitu nyenyak. Aku penasaran siapa yang mengetuk jendela itu? Apa itu Chiva?
Aku beranjak dari kasur dan melihat ke jendela. Namun, aku tidak melihat siapapun di luar jendela.... Aneh, padahal jelas sekali ada suara ketukan dari luar.... Aku curiga jika yang mengetuk itu Chiva. Tapi, aku tidak melihat seorang pun.
Kemudian sebuah kertas jatuh dari atas. Aku menangkap kertas itu dan melihat ke atas siapa yang menjatuhkan kertas tersebut. Tapi, aku tetap tidak melihat siapa pun di atas, mungkin mereka bersembunyi di atas atap?
Aku membuka kertas yang telah dilipat dan membaca isinya....
“HAHAHAHA DASAR BUDAK SURUHAN BU ALISSA! SOK BERANI MELAWAN PENYIHIR TAPI MALAH DIJATUHKAN OLEH BU ALISSA! KALAU KAU MEMANG BERANI TEMUI KAMI DI BELAKANG BANGUNAN AKADEMI PADA SIANG HARI!”
Penghinaan. Walau tidak ada nama penulisnya. Namun, aku tahu siapa yang menulis kertas ini. Tapi, apa masalah ia denganku? Kok tiba-tiba mengajakku bertemu di belakang bangunan akademi.
Terserahlah. Aku tidak peduli dengan perkataannya, suasana juga sudah menjelang malam dan aku harus segera mandi dan mengganti bajuku.
__ADS_1
Keesokan harinya aku bersiap untuk menjalani aktivitas kelas seperti murid pada umumnya. Namun, saat aku baru saja akan keluar tiba-tiba sebuah kertas melayang dan menempel di wajahku. Aku mengambil kertas yang tertulis "BACA!" dan membuka isi kertas tersebut. Dalam kertas itu tertulis....