
Memasuki sebuah ruangan degan meja bundar di tengah tanpa kursi. Aku, raja Ron, dan para petinggi akademi berhenti di depan meja bundar itu....
“Kivasta.... Untuk saat ini misimu masih dalam kategori pengintai namun setelah ada informasi yang menyatakan bahwa tragedi itu benar-benar melibatkan Kekaisaran Veratha, maka misimu langsung berubah menjadi perlawanan ke Kekaisaran Veratha dan kalau bisa menghabisi sang kaisar...,” ucap raja Ron.
“Tadi Anda bilang misiku adalah menghabisi sang kaisar? Kenapa berubah lagi?” Tanyaku terheran-heran.
“Aku tidak bilang jika kamu harus kan?” Jawab raja Ron. Aelah kukira beneran harus melawan kaisarnya. Kalo iya kayaknya aku bakal hilang duluan deh....
“Kami memang tidak bisa menjamin apakah kau akan selamat.... Tapi jika kamu berhasil menyelesaikan kontrak, maka kamu bisa meminta apa saja sebagai hadiah. Tapi jelas ada pengecualian...,” tutur salah satu petinggi akademi dengan suara berat.
“Aku hanya ingin kembali ke Alvia.... Lagi pula aku sudah tahu apa yang kalian maksud dengan pengecualian itu...,” balasku. Tapi lumayan juga dapat hadiah, walau aku gak yakin bakal selamat.... Kenapa sih aku harus setuju dengan kontrak ini...?
“Kivasta, kamu telah diberi kebebasan untuk melakukan apapun pada saat misi dan kontrak berjalan. Namun, kamu harus bijak dalam memilih keputusan.... Walau sebenarnya kami tidak berharap banyak...,” ucap salah satu dari petinggi lain. Mereka ini aneh, mereka yang buat kontrak bersamaku tapi mereka juga yang tidak yakin. Untung saja selama dalam misi aku diberikan bantuan persediaan.
__ADS_1
“Lalu kapan misi dimulai?” Tanyaku.
“Kapan saja.... Itu adalah kebebasanmu,” ucap raja Ron.
“Kalau begitu..., sebelum misiku dimulai, aku memiliki satu permintaan.... Aku ingin sebuah pedang dengan desain khas bangsa padang pasir.... Apakah bisa?” pintaku.
Raja Ron berpikir sejenak sambil menoleh ke arah para petinggi. “Mungkin masa pembuatan pedangmu akan lama dan memakan banyak waktu.... Tapi aku akan meminta pandai besi yang ahli untuk membuatkan pedang yang kamu minta, sementara untuk sekarang aku akan memberimu pedang....”
Setelah diskusi yang panjang tersebut, aku, raja Ron, dan para petinggi akademi keluar dari ruangan tersebut.
“Apa yang terjadi di dalam?” Tanya Chiva penasaran.
Entah bagaimana aku harus menjawabnya.... “Ada urusan penting menyangkut tentang kelanjutanku di akademi....”
__ADS_1
“Oh begitu ya....”
Syukur Chiva tidak curiga, aku tidak ingin dia terlibat dalam masalah yang sedang kuhadapi.
Sementara itu saat aku menoleh ke arah raja Ron, Rovka sedang ribut dengan ayahnya.... Sepertinya dia mempertanyakan tindakan raja Ron padaku.
Di situasi saat ini aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa-apa. Namun, beberapa saat kemudian beberapa orang dengan pakaian mewah dan elegan datang ke istana dan tiba-tiba mengomel ke para guru akademi.... Sepertinya mereka adalah para orang tua dari murid yang hilang....
Para orang tua itu adalah bangsawan dan sedang ribut dengan para guru. Percakapan mereka benar-benar sangat cepat bahkan aku tidak mengerti apa yang mereka katakan.
Kemudian para petinggi akademi datang dan melerai perdebatan mereka. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi Alissa datang dan mengajakku untuk mengikutinya.... Sementara Chiva diminta untuk tetap di istana.
Alissa mengajakku ke taman di dekat istana. Taman ini memang indah tapi sepi dan hanya ada beberapa penjaga dan pengurus taman.
__ADS_1
Setelah itu Alissa membicarakan sesuatu yang penting....