The Ice Line

The Ice Line
Chapter 37: Kecurigaan


__ADS_3

Setelah tiga pedagang itu pergi menjauh aku bersiul untuk memanggil burung elang.


“Rovka.” Sahutku memanggil Rovka, lalu Rovka menoleh. “Kau bilang ingin duel kan?” Tanyaku sambil mengedipkan sebelah mata.


“Ya, kenapa? Kau ingin melakukannya sekarang?” Tanya balik Rovka.


Rovka menghela napas sebentar. “Ya, kita lakukan di antara dua bukit yang ada di sana.” Jawabku sambil menunjuk ke dua bukit.


“Hei kenapa kalian tiba-tiba ingin berduel?” Tanya Zhela yang heran.


Aku hanya memberinya kedipan sebelah mata, berharap dia mengerti rencanaku.


Setelah itu aku mengajak Rovka ke antara dua bukit yang untuk bertarung. Kami berdiri di tempat kami masing-masing dan bersiap untuk saling memulai pertarungan.


Chiva dan Zhela melihatku dan Rovka bertarung dari kejauhan.“Kenapa mereka malah bertarung?” Tanya Chiva yang heran.


“Entah, tapi sepertinya Kivasta punya alasan dan rencananya sendiri.”


tiga sambaran petir besar menyambar secara berkala dengan cepat ke arahku. Aku bisa menghindari setiap sambaran petir itu, tapi pepohonan yang terkena sambaran terbakar walau pada akhirnya padam sendiri karena durasi dari petir yang menghilang.

__ADS_1


Aku menebas pedangku lalu gelombang badai es keluar menyerbu Rovka. Aku mengembalikan pedangku ke sarung, lalu mengambil busurku dan mulai menembakkan anak panah es ke Rovka.


Rovka tiba-tiba muncul di depanku dengan petirnya, di mengayunkan pedang menebasku tapi aku menghindari tebasannya dan menjauh darinya.


Aku berhenti lalu membidik Rovka dengan busurku, aku menembakkan panah es tiga kali dan saat ditembakkan ke empat aku menambah daya serang panah es.


Rovka menghindar serangan panahku yang membekukan area ditempat panah itu mendarat.


Tiba-tiba sebuah petir yang sangat besar menyambar tempat kami bertarung.


“Dugaanku benar.”


Kubah es perlahan lenyap, lalu beberapa orang terlihat sedang berdiri di atas bukit yang tidak terlalu tinggi.


“Sergapan Veratha! Bersiap!”


Puluhan anak panah elemen ditembakkan ke arah kami, aku dan Rovka menghindari setiap panah yang mendarat.


Chiva dan Zhela ikut membantu kami menghadapi sergapan pasukan Veratha. Aku balik berlari ke pasukan Veratha yang memanah sambil mengelak dari setiap anak panah mereka. Beberapa pasukan Veratha muncul di belakangku, tapi aku sudah menyadarinya terlebih dahulu jadi aku langsung berbalik dan menangkis tebasan pedangnya.

__ADS_1


“Chiva belakangmu!” Teriak Zhela memperingati ada musuh di belakang Chiva.


Chiva terkena hantaman serangan petir dari salah satu prajurit Veratha yang menyerangnya.


Chiva yang terpental karena hantaman petir diangkat lehernya oleh prajurit yang tadi menyerangnya.


“Jadi ini bangsawan mereka? Lemah.” Prajurit itu semakin mencekik leher Chiva dengan kuat membuat Chiva kesulitan bernapas.


“LEPASKAN DIA!” Aku tiba tepat di belakangnya, langsung menebasnya dengan pedangku melepaskan cengkraman Chiva dari prajurit itu.


Prajurit itu melompat cukup jauh. “Cih, dari tampangmu kamu terlihat seperti orang Porava.”


“Terserahlah.” Kataku dalam bahasa Fidhya. Bahasa yang digunakan orang-orang Alvia.


Aku maju melawan prajurit itu sambil membawa pedangku. Prajurit tersebut juga sudah siap untuk bertarung kembali.


Prajurit yang kulawan sempat melakukan penghinaan pada Setavia, tapi peduli apa aku? Aku hanya menjalankan kontrak, dan selama dia tidak menghina Alvia maka dia tidak akan mati mengenaskan.


“Sepertinya kau adalah orang yang dimaksud Kaisar, seorang pemuda dari Alvia dengan kekuatan es.”

__ADS_1


__ADS_2