
Aku bisa merasakan Rovka menatapku dengan perasaan kesal, tapi aku tidak peduli dan terus memetakan rute menuju wilayah Veratha.
Setelah selesai memetakan rute, aku bersiul untuk memanggil burung elang. Ya, aku menggunakan burung elang sebagai alat untuk mengirim surat kepada pihak Setavia.
“Kau memanggil burung elang di malam hari? Apa kau tidak takut dengan serangan mendadak jika musuh menemukan kita?” Sergah Rovka saat burung elang mendarat di tanganku.
“Tenang saja, mereka akan hilang sebelum menemukan kita.” Balasku sambil memberi makan burung elang dengan biji-bijian yang kutemukan.
“Kita baru saja berjalan setengah hari dan kau sudah memanggil burung untuk mengirim surat ke Setavia?”
Aku menoleh ke Rovka. “Siapa bilang aku akan mengirim surat kepada Setavia?”
“Lalu kenapa kau memanggil burung elang?” Tanya Rovka.
Aku menerbangkan elang itu lagi. “Aku menggunakannya sebagai pelacak musuh.”
“Pelacak musuh? Memangnya burung bisa melakukan hal seperti itu?” Tanya Rovka lagi.
Aku berjalan ke sebuah pohon lalu menjawab Rovka. “Tidak perlu bertanya lagi, aku pun sulit untuk menjelaskannya secara mudah.” Jawabku sambil mengubur biji-bijian di tanah.
“Jadi kau menganggap dirimu itu lebih pintar.” Balas Rovka.
__ADS_1
“Terserahlah, tapi ini sudah tengah malam lebih kau tidur lebih dahulu.” Ucapku.
“Kenapa harus aku? Memangnya kau tidak merasa mengantuk?”
“Tidak. Sudah, tidur saja dari pada besok kau akan mengantuk diperjalanan.”
Setelah beberapa saat Rovka yang sudah sangat mengantuk memutuskan untuk tidur di sebelah pohon. Sementara aku mengamati busur yang kubawa sembari duduk di batang pohon.
“Kalau dipikir-pikir kenapa aku membawa busur ini jika aku sendiri selalu bertarung di jarak dekat? Apa aku harus memberi busur ini pada salah satu dari mereka agar bisa digunakan? Hmmm....” Ucapku dalam kesunyian malam.
Aku menatap langit melihat bulan dan bintang-bintang yang bersinar di langit yang gelap. “Mereka semua berasal dari masa lalu.”
“Kalian cuci muka dulu di sungai yang ada di sana.” Pintaku sambil menunjuk ke arah sungai.
Mereka semua pergi ke sungai yang tadi kusebutkan. Sementara aku membereskan bekas mereka tidur agar tidak ada jejak apapun yang tersisa.
Mereka bertiga kembali setelah mencuci wajah. “Jadi langsung lanjut nih?” Tanya Chiva.
“Ya langsung, ayo naik kuda kalian.” Ucapku lalu naik ke kudaku.
Chiva, Rovka, dan Zhela lalu mengambil tas mereka kemudian naik ke kuda mereka masing-masing.
__ADS_1
“Ayo jalan, kita santai saja kali ini.”
Kudaku mulai berjalan meninggalkan hutan, hamparan rumput yang hijau kembali terlihat dengan gunung-gunung dan bukit yang indah.
Kali ini aku tidak ingin terburu-buru dan memilih untuk berjalan santai saja.
Setelah berjalan cukup lama, tiga orang pedagang dengan kereta kuda lewat dan menanyai kami di mana lokasi kota Letonia. “Halo anak muda, apakah kalian tahu di mana lokasi pasti kota Letonia?” Tanya salah satu pedagang.
“Kota Letonia ada di sana.” Tunjuk Zhela ke arah kota Letonia.
“Begitu ya, terima kasih anak muda. Omong-omong kalian mau ke mana?” Tanya pedagang itu lagi.
“Kami akan ke-” Aku mencubit kaki Chiva sebelum dia dapat menyelesaikan perkataannya. “Kami adalah petualang, dan kami sedang menuju ke Kerajaan Al-Fayha melalui Kekaisaran Veratha.” Jawabku memotong perkataan Chiva.
“Begitu ya, semoga perjalanan kalian berjalan dengan lancar dan selamat. Kami pergi dulu ya.” Tiga pedagang itu lanjut pergi menjauh menuju kota Letonia.
“Kiva, kenapa kamu mencubitku?” Tanya Chiva.
“Salahmu sendiri menjawab pertanyaan mereka, kita tidak boleh membiarkan orang lain tahu tujuan kita.” Jawabku serius.
Sebenarnya aku punya kecurigaan pada pedagang itu, terutama melihat kereta kuda mereka seperti ada yang bergerak di dalamnya....
__ADS_1