
Aku berjalan kembali ke kediamanku.... Saat aku masuk ke dalam kediamanku, di dalam entah kenapa terasa sangat sepi....
Aku berjalan perlahan menuju kamarku dan berusaha tidak membuat suara apapun....
Saat sampai di kamarku aku membuka pintu dan.... Tepat di dalam kamar sudah ada mamaku yang menunggu....
“Kamu seharusnya tidak ikut campur masalah Kivasta,” ujar mamaku dengan raut muka serius.
“Tapi Kiva adalah temanku dan lagi pula aku sudah mendapatkan izin dari yang mulia, bahkan Rovka dan Zhela pun akan ikut,” balasku.
Yang tadinya serius sekarang mamaku malah heran. “Apa? Rovka dan Zhela ikut? dan dapat izin dari yang mulia? Apa dia sudah gila?” Cibir mamaku.
“Aku tetap ingin ikut menyusul Kiva, lagi pula apa gunanya aku punya kemampuan sihir elemen jika aku sendiri tidak boleh menggunakannya,” ujarku.
Mamaku memegang bahuku dengan kedua tangannya. “Bukannya tidak boleh menggunakan sihir, tapi apa yang dilakukan oleh Kivasta itu sangat berbahaya dan seharusnya kamu tidak membahayakan dirimu sendiri,” tutur mamaku.
“Aku adalah temannya dan aku akan tetap ikut bersamanya!” Tegasku agar bisa diizinkan.
__ADS_1
Dari samping kiri koridor terdengar langkah kaki yang berjalan ke arah kami. Aku menoleh ke kiri dan melihat bahwa kakak perempuanku sedang berjalan ke sini....
“Ada apa mama? Apa Chiva masih ingin menyusul Kivasta?” Tanya kakakku.
“Iya dia masih tetap ingin ikut. Chiva juga mendapat izin dari yang mulia, bahkan Rovka dan Zhela pun akan ikut...,” tutur mamaku dengan nada rendah.
Mamaku menghela napas sebentar lalu berkata. “Jika kamu memang ingin ikut, kamu harus janji akan kembali ke rumah ya?” Pinta mamaku.
“Iya aku janji kok akan kembali,” balasku bersemangat.
Akhirnya aku bisa pergi! Aku hanya perlu mempersiapkan diri untuk pergi ke kota Rossa! “Terima kasih mama!” Aku langsung pergi ke halaman belakang untuk mengambil pedang milikku yang merupakan pemberian dari ayahku.
Aku mengambil pedang tersebut lalu meletakkannya di dalam sarung pedang yang telah tersedia.... Aku kembali ke kamarku untuk memindahkan pedang tersebut ke kamarku....
Keesokan harinya aku terbangun di atas kasur dan aku langsung bersiap untuk menjalankan misi menyusul Kivasta.
Setelah mempersiapkan segala hal, aku langsung pergi dari kediamanku dan menuju istana kerajaan. Di istana aku melihat Rovka dan Zhela yang sudah berpakaian seperti orang yang ingin perang....
__ADS_1
Di samping mereka juga ada kesatria Erik yang sepertinya akan memandu kami untuk ke kota Rossa.
Aku menghampiri mereka dan bertanya apakah mereka akan segera pergi....
“Ya, ikuti aku.” Aku, Rovka, dan Zhela mengikuti kesatria Erik ke sebuah tempat yang berisikan kuda.
“Kalian bisa berkuda?” Tanya kesatria Erik.
“Ya!” Jawab kami serentak.
Kesatria Erik mengeluarkan kuda-kuda dari kandang mereka, kami pun naik ke kuda tersebut dan mengikuti kesatria Erik yang mulai berkuda keluar dari kota Letonia....
Jarak kota Rossa dari Letonia tidak terlalu jauh, jadi kami masih bisa menyusul Kiva di sana.
Aku berkuda sembari melihat pemandangan hamparan rumput yang sebenarnya jarang kulihat karena aku sendiri jarang keluar kota.
Bagaimana pun itu aku akan bertemu denganmu kembali Kiva! Tunggu saja dan kau jangan pergi dulu dari kota Rossa.
__ADS_1