The Ice Line

The Ice Line
Chapter 23: Taman


__ADS_3

Alissa mengajakku ke taman istana untuk berbincang....


“Ada apa?” Tanyaku penasaran sambil tanganku ditarik olehnya.


“Ikut saja,” ucap Alissa sembari terus menarikku ke taman.


Kami sampai di taman yang indah namun sepi. Alissa berhenti dan melepaskan genggaman tangannya.


“Dengarkan aku Kivasta. Sebenarnya ini terlalu awal untuk anak seusiamu menjalankan misi yang diberikan oleh yang mulia, jadi kamu harus sangat berhati-hati...,” ucap Alissa. Sepertinya dia agak khawatir dengan kontrak yang kuemban.


“Tenang saja, aku adalah orang Alvia dan kami adalah para petarung yang selalu menepati janji dan moral. Bahkan ada kisah anak-anak usia 12 tahun yang ikut berperang melawan musuh yang menyerang Alvia, anak-anak itu bisa menghabisi sebagian besar pasukan musuh meskipun mereka harus berakhir tewas dalam keadaan hormat...,” balasku dengan bangga.


“Oh jadi kamu ingin mati seperti mereka juga?” Tanya Alissa datar.

__ADS_1


“Bukan gitu! Maksudku adalah sebagai orang Alvia jelas aku tidak akan gagal pada misi ini dan tidak mencoreng nama kerajaan Alvia,” jawabku membantah pertanyaannya.


Alissa sedikit memiringkan kepala dan tersenyum lalu meletakkan tangannya di kepalaku kemudian mengelus kepalaku. “Kamu lucu juga ya....”


Kenapa sih wanita ini selalu mengelus kepalaku? Memangnya ada yang unik dari rambutku ini?


Aku menghindar saat dia masih mengelusku. “Sudah kubilang berkali-kali untuk tidak mengelus kepalaku lagi!” seru ku sambil menutupi kepalaku dengan tangan.


“Kamu gitu terus, padahal kamu itu unik loh...,” ucap Alissa sambil terus berjalan perlahan dengan tangannya yang ingin menyentuh kepalaku.


Karena keributan yang kami buat, para penjaga datang ke taman ini menanyai apa yang kami lakukan di sini....


“Tidak ada apa-apa kok, aku hanya sedang mengajak muridku untuk jalan-jalan saja...,”

__ADS_1


“Lalu kenapa kalian ribut-ribut di sini?” Tanya salah satu prajurit penjaga.


“Kami tidak ribut kok, kami hanya sedang berbincang-bincang saja...,” jawab Alissa dengan nada sedikit menggoda.


“Benarkah?” Sepertinya para prajurit penjaga masih tidak percaya.


“Baiklah kalau begitu, jangan buat suara-suara keras di sini...,” kemudian para prajurit penjaga pergi kembali ke pos mereka.


Sepertinya mereka sudah tahu jika kami datang karena sang raja, atau.... Dikarenakan lokasi akademi dan istana yang cukup dekat membuat mereka tahu siapa saja yang ada di akademi atau mungkin ini bisa dibilang sudah menjadi hal umum di kalangan bangsawan dan prajurit.


Aku dan Alissa saling tatap-tatapan sesaat setelah para penjaga pergi. Lalu kami pergi kembali ke dalam istana....


Setelah di dalam istana, kupikir masalah yang ada telah selesai. Ternyata masih berlanjut.... Raja Ron pun meminta untuk semua orang pergi dari istana, sementara para guru dan murid akan tinggal sementara di bangunan bekas bangsawan lama.... Sebenarnya ada opsi bagi beberapa murid untuk kembali kepada orang tua mereka, tapi yang aku sorot adalah Chiva. Entah kenapa dia malah ikut bersamaku, padahal aku sudah menolak untuk jawab ikut.... Mau bagaimana lagi. Sementara Rovka jelas dia akan tidur di istana karena dia adalah putra raja. Sedangkan para petinggi.... Aku tidak tahu mereka pergi ke mana....

__ADS_1


Malam hari tiba.... Aku sedang berada di kamar bangsawan lama dan Chiva berada di kamar sebelah. Ada beberapa murid yang memang memilih untuk menginap di sini, tapi sebagian besar kembali kepada orang tua mereka.


Aku melihat ke luar melalui jendela kamar. Aku menyadari seperti ada sesuatu yang lewat barusan lewat di dekat taman, tempat aku dan Alissa berbincang....


__ADS_2