The Ice Line

The Ice Line
Chapter 7: Kebangsawanan


__ADS_3

empat murid laki-laki dan satu perempuan mendatangi kami berdua, menggertak kami dan memaksa kami untuk pergi dari meja ini.


Lima murid itu. Bahkan, sempat menghina Chiva dengan sebutan "Bangsawan sampah". Aku tidak mengenal siapa lima orang ini, tapi perilaku mereka jelas sangat tidak sesuai dengan etika dan tata krama. Saat aku berdiri Chiva memegang tanganku dan dia menggelengkan kepalanya, sepertinya dia tidak ingin ada keributan di kantin. Yah, aku juga. Aku hanya pendatang baru jadi sangat tidak pantas jika baru saja datang sudah membuat masalah.


“Sudahlah sampah! Bertemannya dengan pendatang dari kalangan rendahan!” Ejek murid berambut pirang dengan nama yang tertulis di seragamnya "Rovka Zivanna". Empat murid lain juga ikut mengejek Chiva dengan hinaan. Bahkan, mereka juga mengejekku sebagai murid babu.


“Benar-benar...!” Tanganku mengeluarkan energi es saat mereka terus menghinaku. Chiva yang melihat tanganku mengeluarkan energi es memintaku untuk bersabar dan membiarkan mereka pergi.


Aku tidak terima mereka menghinaku dengan menyebut aku sebagai murid babu. Tetapi, Chiva mencoba untuk membuatku sabar dan tidak gegabah.


kelima murid-murid itu pergi. sebelum pergi mereka satu per-satu memukul kepala Chiva dan akhirnya pergi.


Raut muka Chiva terlihat sangat depresi dan tidak seperti sebelumnya yang selalu ceria dan bersemangat.


Aku bertanya kepada Chiva kenapa dia membiarkan mereka melakukan itu padanya. Bahkan, tidak ada murid lain yang berniat untuk membantunya selain aku.


“Chiva, kenapa kamu membiarkan mereka mengejekmu seperti itu?” Tanyaku sambil memperhatikan raut muka yang terus murung setelah diejek.


Chiva menghela napas dan berbicara, “Sebenarnya aku berasal dari keluarga bangsawan yang tidak terlalu terhubung dengan garis keturunan kerajaan secara langsung. Sekolah ini juga lebih banyak orang yang berasal dari keluarga bangsawan yang terkenal seperti keluarga Zivanna yang merupakan keturunan langsung dari keluarga kerajaan Setavia,” ujarnya dengan nada tanpa ekspresi.


Setelah mendengar penjelasan dari Chiva aku mulai berpikir. Bahwa, akademi ini memang penuh dengan murid dari kalangan atas yang sombong. Mereka jelas akan menunjukkan perasaan superioritas saat bertemu dengan seseorang yang mereka anggap lebih lemah dan juga derajatnya lebih rendah. Termasuk aku..., mereka menghinaku karena aku tidak berasal dari keluarga bangsawan manapun, mereka juga menghinaku sebagai "murid babu". Sial, sepertinya orang-orang sudah tahu jika aku adalah budak Alissa. Tetapi, bagaimana mereka bisa tahu?


“Jangan terlalu dipikirkan Kivasta, biarkan saja mereka pergi dan lelah dengan perbuatan mereka sendiri. Sekarang kita makan saja makanan kita sebelum pelajaran selanjutnya dimulai.”


Aku dan Chiva memakan makanan dengan cepat agar tidak disusul suara bel. Aku menghabiskan makanan pertama kali. Lalu Chiva juga sudah selesai menghabiskan makanannya.

__ADS_1


Aku mengikuti Chiva ke meja kantin dan memberikan piring bekas kami makan kepada penjaga kantin.


Dentingan bel berbunyi menandakan sudah masuk sesi pelajaran selanjutnya. Lalu aku dan Chiva berjalan dengan cepat menuju kelas kami, menaiki anak tangga ke lantai dua. Setelah berjalan sebentar kami sampai di depan pintu kelas yang terbuka. Kami masuk dan untungnya guru masih belum masuk ke kelas. Aku dan Chiva segera menaiki anak tangga menuju meja kami yang berada di belakang atas. Lalu kami duduk, jelas kami duduk bersebelahan.


Beberapa saat kemudian seorang guru pria menggunakan kacamata dan pakaian hitam yang elegan datang ke kelas membawa satu buku. Lalu ia berhenti di depan meja guru, meletakkan buku itu di atas meja guru.


Guru memberi salam pada semua murid. Lalu para murid membalas salam guru tersebut. Saat ia akan baru memulai pelajaran, ia bertanya tentang siapa murid baru di kelas ini.


“Sebelum kita mulai, saya dengar ada murid baru di sini..., siapa murid baru itu?” Tanya guru itu sambil memegang kapur papan tulis.


Aku mengangkat tangan kananku dan berdiri, “Saya! Nama saya Kivasta Ekova Lanhamr dari Alvia!” Jawabku memperkenalkan diriku pada guru tersebut.


“Oh jadi kamu yang namanya Kivasta, jangan kecewakan saya di kelas ini...,” ia memulai pelajaran sambil menulis sesuatu di papan tulis dengan kapur putih.


Aku tidak mengerti apa yang ia maksud "Jangan kecewakan saya di kelas ini". Tapi, yah lihat saja apa yang akan ia ajarkan nantinya.


“Arrghhh..., kenapa harus fisika.... Udah ada sihir kenapa harus ada fisika?!” Gerutu Chiva sambil membaringkan kepalanya di meja sembari melihat ke papan tulis. Sepertinya Chiva sangat tidak menyukai pelajaran ini, sampai-sampai dia mengeluh seperti itu.


“Kenapa kamu tidak suka pelajaran ini?” Tanya padanya.


“Iyalah, kenapa sih harus repot belajar kek gini kalo ada sihir,” jawabnya sambil menggerutu.


“Semuanya membutuhkan prinsip, tidak terkecuali sihir.... Mungkin fisika akan membuat sihir menjadi lebih efisien,” balasku.


Melalui perkataan guru pria itu aku bisa menebak. Bahwa, sebagian besar murid di sini tidak suka fisika. Jelas sekali karena rumus fisika memang sulit untuk dipahami, aku saja hanya mengerti sebagian rumus saja....

__ADS_1


“Oh iya, nama guru itu siapa Chiv?” Tanyaku.


“Hendry Morgan.... Biasa dipanggil Pak Hendry,” jawabnya dengan lesu.


“Oh....”


Entah aku harus berkata apa lagi menghadapi anak ini. Dari pada aku mendapat masalah lebih baik aku perhatikan saja apa yang terpampang di papa tulis dan mendengarkan Pak Hendry.


Kuperhatikan dengan baik rumus yang ada di papan tulis.... Rumus itu adalah yang ditemukan oleh para ilmuwan di Alvia dan beberapa negeri padang pasir lainnya. Sepertinya ilmu tersebut sudah dimasukkan ke dalam kurikulum akademi ini.


Kalau kupikir-pikir tentang perkataan Chiva mengenai fungsi fisika pada sihir. Itu membuat penasaran, karena sebelumnya aku tidak pernah mencoba untuk menggabungkan konsep fisika dengan ilmu sihir.... Mungkin aku bisa mencobanya nanti.


Singkat cerita pelajaran pun selesai pada siang hari. Kami pun pergi meninggalkan kelas. Aku berjalan keluar dari bangunan akademi menuju lapangan besar. Aku duduk di kursi kayu yang terlihat indah dan elegan layaknya kursi bangsawan, meskipun memang sebenarnya ini hanya kursi biasa.


Beberapa saat kemudian seseorang datang menghampiriku..., siapa lagi kalau bukan Chiva yang dari awal sok akrab. Dia duduk di sebelahku sambil membawa roti. Ia menawarkan rotinya padaku. Namun, aku menolak tawarannya


Dia memakan rotinya hingga habis. Kemudian aku bertanya padanya, “Chiva, siapa nama orang-orang yang mengejekmu di kantin tadi?”


Chiva menoleh padaku sambil menelan rotinya, “Mereka adalah, Rovka Zivanna, Gevario Ounata, Zhela Festania, Kylian Aliva, dan Neka Ventova. Mereka semua masih satu kerabat dekat dengan keluarga kerajaan utama, terutama keluarga Zivanna,” Jawabnya.


“Oh begitu ya, jadi mereka itu adalah calon-calon pewaris takhta?” Tanyaku lagi.


“Bisa dibilang begitu sih.... Mau roti?” Jawabnya sambil menawarkan rotinya.


“Tidak terima kasih.”

__ADS_1


Beberapa langkah kaki terdengar di belakang kami. Langkah kaki tersebut terdengar jelas lebih dari satu orang, kami berbalik dan melihat siapa itu....


__ADS_2