The Ice Line

The Ice Line
Chapter 29: Serangan


__ADS_3

Tidak ada tanda-tanda munculnya pasukan Veratha. Namun, setelah menunggu selama beberapa saat komandan menerima surat informasi dari pasukan pemanah yang berjaga di sisi selatan kota Rossa. Para pemanah sedang diserang oleh pasukan Veratha, sementara pasukan dalam kota Rossa telah dikerahkan untuk mencegah pasukan Veratha masuk ke dalam kota.


Komandan Erlic yang mendengar hal itu langsung memerintahkan pasukan untuk segera menyerang balik pasukan Veratha sebelum terlambat. “APA?! PASUKAN VERATHA MENYERANG DARI SISI SELATAN?! SEGERA KIRIM PASUKAN GARIS DEPAN UNTUK KE SISI SELATAN!!”


“Kivasta! Kamu juga harus ikut untuk melawan pasukan Veratha!” Seru komandan Erlic.


“Akan kulakukan.” Tanpa basa-basi aku langsung menaiki kudaku dan menuju ke arah selatan kota Rossa.


Setelah mencapai sisi selatan kota Rossa, ternyata apa yang dikatakan memang benar. Pasukan Veratha menyerang dari sisi selatan dan hampir akan menembus pertahanan kota.


Sambil berkuda aku mengeluarkan pedang dari sarungku dan menebas setiap musuh tanpa ada keraguan. Tapi tebasanku tidak sampai membunuh musuh, jadi prajurit Setavia membantu untuk menghabisi mereka.


Tapi di saat sedang menebas musuh, sebuah ledakan muncul di hadapanku membuatku terjatuh dari kudaku. Tapi sebelum pasukan Veratha mengepungku, aku berteleportasi untuk menjauh dari pasukan Veratha.


Setelah menjauh aku mengamati situasi dan mencari di mana posisi penyihir yang menggunakan sihir petir untuk menciptakan ledakan.

__ADS_1


Ledakan kembali muncul dengan pancaran petir yang tersebar setelah ledakan.


Aku melihat bayangan penyihir di belakang pasukan pemanah Veratha. Aku langsung saja berlari dan berteleportasi menyerang penyihir-penyihir elemen tersebut.


“APA ITU?!” Para penyihir tersebut terkejut saat melihat aku sudah berada tepat di depan mereka menggunakan teleportasi es.


Langsung saja kuhabisi mereka semua melalui setiap tebasan pedangku yang menjadi es. Bahkan pasukan pemanah Veratha pun tidak sempat untuk berbalik menyerang karena saking cepatnya pergerakanku.


Pasukan Setavia maju menyerang balik pasukan Veratha yang mungkin jumlahnya ribuan. Aku menciptakan gelombang air besar untuk menjatuhkan pasukan pemanah Veratha sekaligus mengacaukan formasi mereka.


Aku menghabisi setiap musuh yang ingin membunuhku, sementara pasukan Setavia menerobos pasukan Veratha yang mengeroyokku.


Aku menciptakan jarum es lalu melemparkan jarum-jarum es tersebut ke setiap prajurit kavaleri Veratha untuk menjatuhkan mereka.


Aku kembali menebas musuh yang selalu mencoba untuk menyerangku tapi beruntung pasukan Setavia membantu melakukan serangan balik dan berhasil mengusir pasukan Veratha menjauh dari kota Rossa....

__ADS_1


Kemenangan telak bagi pasukan Setavia....


...****************...


Di istana Veratha....


Seorang pria dengan pakaian ala militer berjalan ke sebuah ruangan yang terdapat seorang pria yang sedang berdiri di balkon. “Yang mulia, pasukan kita kalah dalam invasi ke kota Rossa.” Ucap seorang pria sambil berlutut satu kaki.


“Kalah? Bagaimana bisa?” Tanya sang kaisar.


“Ini dikarenakan Setavia mendapat bantuan dari seorang pemuda yang menggunakan sihir es,” ujar pria tersebut.


“Oh, jadi pemuda itu sudah beraksi di kota Rossa? Pantas saja mata-mata yang kukirim tidak kunjung kembali....” Sang kaisar berbalik ke arah pria itu dengan jubahnya yang seolah terbang. “Kirim pasukan khusus untuk memburu anak itu.... Oh ya, namanya adalah Kivasta Ekova Lanhamr. Jangan sampai lupa,” perintah sang kaisar.


“Baiklah yang mulia, segera saya laksanakan.” Balas pria itu lalu pergi dari hadapan sang kaisar menuju suatu tempat....

__ADS_1


__ADS_2