
Aku beristirahat di dalam gua setelah dikejar oleh orang-orang yang tidak dikenal yang terus menyerangku.
Aku rasa mereka adalah prajurit Veratha, melalui perkataan pria tadi yang mengatakan bahwa aku sudah memasuki area perang Setavia dan Veratha. Tapi ini aneh, bagaimana bisa mereka memasuki wilayah Setavia? Sepertinya mereka adalah mata-mata Veratha yang sedang menuju ke kota Letonia.... Jika benar, maka aku harus menghentikan mereka tapi juga aku tidak boleh sampai terbunuh....
Setelah bersembunyi dan beristirahat, aku memutuskan untuk keluar mengecek keadaan. Aku tidak melihat adanya jejak atau tanda-tanda musuh mengikutiku, jadi aku keluar dan berlari menuju aliran sungai.
Sebuah ledakan muncul dan mengejutkanku, orang-orang itu kembali lagi. Sepertinya mereka memang sudah menungguku untuk keluar dari persembunyian. Aku menciptakan kubah yang melindungiku dari ledakan, salah satu musuh menghancurkan kubah dan bertarung melawanku.
Aku menangkis serangannya, sementara ada musuh lain yang terus menembakku dengan busurnya. Aku menangkis anak panah sekaligus menangkis tebasan musuh yang berhadapan denganku. Aku berteleportasi ke belakang musuh yang terus menembakku dengan busurnya di atas dahan pohon, lalu aku menusuknya dan membunuhnya.... Sadis, tapi aku tidak peduli.
Aku berteleportasi lagi ke musuh-musuh yang menembakku lalu membunuh mereka satu per-satu, dan hanya menyisakan pria yang pertama kali kutemui....
__ADS_1
Aku mencabut pedangku dari musuh yang kubunuh, pedangku berlumuran darah yang terus menetes, sementara energi es terus keluar dari tubuhku.
“Hanya kau....” Aku berjalan perlahan mendekati pria itu sambil memegang pedangku yang berlumuran darah.
Pria itu ketakutan dan mencoba untuk kabur, tapi aku berteleportasi ke depannya dan mencegatnya. “Matamu?!! B-Biru es?! Anak sepertimu membunuh kami?!” Seru pria itu ketakutan.
Aku menodongkan pedangku ke leher pria itu dan menanyai siapa dia. “Kau ini siapa?! Jawab dengan jujur!” Tanyaku tegas.
“A-aku adalah bagian dari pasukan pengintai Veratha yang diperintahkan untuk mengintai kota Letonia dan melakukan serangan balik ke ibu kota Setavia,” jawab pria itu dengan penuh ketakutan.
Entah kenapa setelah melakukan pembunuhan tersebut aku tidak merasakan apapun.... Yang kurasakan adalah perasaan bingung....
__ADS_1
Aku segera meninggalkan lokasi dan berlari menuju aliran sungai.... Saat akan menjelang petang, aku mendengar suara langkah kaki dari belakang.... Itu adalah kudaku! Ia kembali!
Kudaku berhenti di hadapanku, untung ia tidak menabrakku. “Akhirnya kamu kembali....” kurasa ia kabur karena merasakan ada ancaman. Yah memang tepat setelah ia pergi langsung ada serangan dari musuh.
Aku memutuskan untuk berjalan sebentar menjauhi lokasi pertarungan. Saat malam aku beristirahat dan membuat api unggun sambil memakan buah yang kutemui di hutan.
Kudaku sedang tidur, sementara aku masih memikirkan kenapa aku tidak merasa bersalah saat membunuh mereka.... Aku heran....
Karena sudah larut malam aku memutuskan untuk tidur..., tenang saja aku bisa terbangun hanya mendengar suara kecil saja, jadi aku yakin bisa mengantisipasi serangan mendadak.
Di keesokan paginya aku terbangun dan melihat kudaku sedang memakan buah di semak-semak.
__ADS_1
Aku segera membersihkan area bekasku tidur agar tidak ada musuh yang tahu di mana lokasi terakhirku.
Aku menunggangi kuda hitamku dan kembali melanjutkan perjalanan, tapi kali ini aku harus pergi ke pasukan Setavia yang dikirim berperang untuk memberikan informasi bahwa ada mata-mata yang sempat mengawasi kota Letonia....