The Ice Line

The Ice Line
Chapter 8: Pengetahuan


__ADS_3

Beberapa orang datang dari belakang dengan langkah separuh yang terdengar jelas. Aku dan Chiva berbalik menghadap ke belakang siapa yang ada di belakang kami....


Mereka lagi.... Lima murid bangsawan.... Entah apa yang mereka inginkan kali ini....


“Hei! Siapa yang suruh kalian duduk di sini?!” Gertak dari suara Rovka yang menepuk keras kursi kami.


Salah satu dari mereka dengan nama yang tertulis di seragam mereka, yaitu Gevario Ounata merebut roti yang sedang dipegang Chiva dan melemparnya ke tanah.


“Rotiku!” Teriak Chiva setelah rotinya dilempar ke tanah.


Aku berdiri dan berjalan tepat ke hadapan mereka, “Woi! Apa masalah kalian?!”


“Kalianlah masalah di sini.... Tidak ada orang rendahan yang boleh duduk di sini!” Gertak Rovka sambil menunjuk-nunjuk ke dadaku.


“Aku baru tahu jika kecerdasan dan hak seseorang diukur melalui sebuah kursi...,” balasku mencemooh pernyataan Rovka.


Chiva tiba-tiba menarikku pergi menjauh dari kelima pengganggu itu. Chiva membawaku ke bawah sebuah pohon besar di balik bangunan sekolah.


Chiva memintaku untuk tidak terbawa emosi dan membiarkan mereka mengambil tempat duduk kami. Ini jelas penghinaan. Walau begitu, aku juga sebenarnya setuju dengannya. Lagi pula aku hanya orang baru di sini jadi jelas tidak pantas orang baru datang sudah membuat masalah di tempat yang bukan tempat kelahirannya....


Aku dan Chiva kembali ke asrama dan kami berpisah saat setelah sampai di kamar masing-masing. Aku masuk ke dalam kamarku, berbaring telentang di atas kasur dengan keadaan lelah.


Yah, baru masuk sudah mengalami pengalaman diejek. Sebenarnya ini bukan pertama kali aku dirundung seperti itu. Sebelumnya aku juga pernah diejek karena dulu aku memiliki tinggi badan yang tergolong pendek untuk anak-anak pada masa itu. Namun, jelas bertahun-tahun telah berlalu dan aku tumbuh dengan tinggi yang normal untuk usia 15 tahun.


Tidak ada yang bisa kulakukan..., jadi aku mengambil buku yang kemarin aku baca untuk melanjutkan bacaanku kemarin.


Setelah membaca buku itu cukup lama sampai menghabis semua bab pada buku tersebut. Namun, Aku tidak menemukan pengetahuan apapun tentang sihir elemen es. Apa sihir es benar-benar selangka itu? Bahkan, sihir gelap, cahaya, dan yang bukan tergolong elemen saja masuk di dalam buku ini. Namun, kenapa sihir es tidak? Sepertinya aku harus mencari tahu sendiri.

__ADS_1


Aku menutup buku itu lalu mengembalikannya ke lemari dan dikarenakan hari sudah mulai gelap, aku memutuskan untuk segera mandi dan mengganti pakaianku.


Pada malam hari aku menutup tirai jendela dan setelah itu ada seseorang yang mengetuk pintu kamarku.


Aku membuka pintu dan di depan ada sosok wanita yang cukup tinggi membawa buku catatan kecil dan sejenis bulu bertinta. Kenapa aku menyebutnya bulu bertinta? Karena aku lupa nama benda itu..., “H-Hai, ada apa ya?” Tanyaku dengan gugup. Tidak kusangka aku masih gugup.... Atau aku gugup karena bertemu lawan jenis....


“Hai, aku ingin mencatat apa yang ingin kamu makan malam ini,” tanya Si wanita dengan pakaian pelayan. Sekolah ini benar-benar mewah sampai ada pelayan.


“O-oh, y-yah Aku ingin makanan yang biasa saja dan air putih. Itu saja,” kenapa sih aku jadi gugup begini.


Si wanita mulai menulis di buku kecil, “Begitu..., aku tahu menu yang biasa tapi enak. Sebentar lagi akan ada yang membawakan makananmu, mohon sabar ya,” Si wanita pergi dan aku menutup pintuku kembali.


Aku berpikir kenapa aku bisa gugup di hadapannya? Tapi ya sudahlah ia memang cantik dengan rambutnya yang cukup pendek.


Entah apa yang inginku lakukan. Jadi aku coba-coba untuk menciptakan senjata dari es selain pedang. Dengan kekuatan es yang aku miliki, aku mencoba untuk menciptakan senjata lain. Namun, tetap saja yang kuciptakan adalah pedang.


Aku berjalan ke pintu dan membuka, “Halo, ini makananmu,” ucap seorang pelayan pria memberikanku nampan yang di atasnya berisi makanan dan segelas air putih.


Aku mengambil nampan dan mengucapkan terima kasih padanya. Sebelum pelayan pria itu pergi ia mengingatkanku jika aku sudah makan. Nampan beserta piring dan gelas diletakkan di luar depan pintu saja.


Aku menutup pintu lalu berjalan ke meja lemariku meletakkan nampan di atasnya. Aku duduk di depan makananku dan mulai memakannya.


Saat aku sedang makan aku malah kepikiran sesuatu. Kenapa aku bisa dekat dengan Chiva? Padahal aku baru sehari mengenalnya, cara ia senang atau ceria pun malah lebih seperti anak perempuan dibandingkan laki-laki. Namanya juga nama perempuan, Chiva. Tapi, karena ada nama belakang Anjulio di belakangnya saja yah membuatnya menjadi laki-laki. Coba kalau nama belakangnya dihapus, pasti sudah banyak orang yang mengira ia adalah perempuan. Emang aneh.


Kurasa di sekolah sihir ini memang dipenuhi oleh para bangsawan dari berbagai negeri. Yah, wajar saja kenapa di sini penuh dengan bangsawan. Sekolah sihir ini saja sangat mewah dan elegan, jadi rakyat biasa tidak mungkin bisa membiayai anak mereka untuk sekolah di sini.


Terlalu banyak berpikir sehingga aku tidak sadar aku telah menghabiskan makananku dan sampai lupa minum. Aku meminum minumanku. Masa makan tapi tidak minum....

__ADS_1


Setelah aku menghabiskan makananku, aku membuka pintu dan meletakkan piring dan gelas bekas aku makan di atas nampan ke luar depan pintu.


Aku kembali menutup pintu dan segera berbaring di kasur dengan keadaan mengantuk.... Perlahan menutup mata dan tertidur....


Aku terbangun di pagi hari. Beranjak dari kasur membuka tirai dan jendela untuk menerangi kamar dengan cahaya matahari. Tanpa berpikir panjang aku langsung masuk ke kamar mandi dan tentu saja aku mandi....


Seusai mandi selama beberapa saat aku memakai pakaian seragam akademi. Setelah menyiapkan segala hal. Aku membuka pintu dan segera keluar.


Sesaat setelah aku membuka pintu seorang wanita tinggi berdiri di depanku yang membuatku terkejut hampir menabraknya.... Dia Alissa..., kali ini apa urusannya....


“Selamat pagi Kivasta,” sapa Alissa yang berdiri tepat di depanku.


Aku menghadap ke atas dan menatapnya, “S-selamat pagi.... Apa keperluanmu hari ini?” Tanyaku dengan raut muka datar.


“Pihak kerajaan memanggilmu ke istana untuk berbicara langsung denganmu....”


“Untuk apa?” Tanyaku lagi.


“Masa sudah lupa? Kontrak mu dengan kerajaan Setavia.”


“O-ouh..., Baiklah. Apakah aku perlu ganti pakaian?”


“Tidak perlu. Langsung saja ikuti aku.”


Aku keluar dari kamar dan tidak lupa untuk menutup pintu kamar. Aku mengikuti Alissa berjalan keluar dari bangunan akademi menuju istana kerajaan yang terlihat jelas berada dekat dengan Akademi sihir.


Setelah sampai di gerbang depan istana. Beberapa penjaga berkumpul di depan kami lalu membawa kami menaiki tangga ke istana yang begitu besar dan megah. Penjaga pintu istana membuka pintu dan di depan ada seorang pria dengan mahkota dengan duduk di atas kursi raja....

__ADS_1


__ADS_2