The Ice Line

The Ice Line
Chapter 25: Perlengkapan dan Busur Ajaib


__ADS_3

2 Hari kemudian aku dipanggil ke istana untuk menemui raja Ron....


Aku pergi dengan pakaian yang rapi berwarna hitam. Bukan pakaian akademi tapi jelas pakaian ini terlihat elegan dan berkharisma untukku.


Aku berjalan ke istana sendirian tanpa siapapun yang menemani....


Sesampainya di istana raja Ron telah menunggu di depan istana dan mengajakku masuk ke dalam istananya.


Sang raja berjalan sambil berbicara tentang kontrakku rangkaian tujuanku dalam misi. Ia mengajak ke ruangan yang sama seperti yang kami masuki bersama para petinggi akademi.


Di dalam ruangan ini tidak ada siapapun.... Raj Ron mulai berbicara tentang orang asing yang ku serang 2 hari yang lalu....


“Kami telah menginterogasinya dan ditemukan bahwa dia memang orang yang bertanggung jawab atas hilangnya murid di Akademi Sihir Setavia,” ujar raja Ron.


“Lalu apakah aku akan langsung memulai misi?” Tanyaku serius.

__ADS_1


“Woah sabar nak, walau kamu sudah menyetujui kontrak ini tapi apakah kamu yakin dapat menyelesaikannya tanpa terbunuh?” Tanya balik raja Ron.


“Tergantung takdir Tuhan akan berkehendak seperti apa...,” jawabku.


“Kamu benar-benar mencerminkan orang-orang Alvia ya, baiklah kamu bisa memulai dari mana saja pada misi tapi tidak boleh lewat dari seminggu. Kami juga sudah menyiapkan perlengkapan untukmu.” Kemudian raja Ron berjalan ke sebuah lemari yang cukup besar, ia membuka pintu lemari tersebut dan menunjukkanku berbagai perlengkapan tapi ada satu hal yang paling menarik perhatianku....


Aku melihat busur yang diberikan oleh raja Ron ada di lemari tersebut. “Kenapa ada busurku di lemari itu?” Tanyaku heran kenapa busur itu bisa berpindah tempat dari kamarku, atau mereka memindahkannya karena aku lupa mengambil busur itu?


“Aku memerintahkan prajuritku untuk mengambil busurmu, sekaligus busur itu juga sudah di perkuat agar bisa kembali ke pemilik asalnya,” jawab raja Ron.


Raja Ron mengambil busur yang penuh hiasan itu dan memberikannya kembali padaku. “Cobalah untuk mengalirkan kekuatan sihir elemenmu ke busur ini,” ucap raja Ron memintaku untuk mengalirkan energi sihir elemen.


“Busur itu sekarang telah benar-benar resmi menjadi milikmu. Jika ada orang yang berniat ingin mengambilnya darimu, busur itu akan langsung mengeluarkan partikel yang akan meledak sesuai dengan sihir elemen apa yang kamu masukkan pada busur itu,” ujar raja Ron.


“Jadi aku bisa memasukkan elemen lain ke busur ini?” Tanyaku.

__ADS_1


“Ya, setelah kamu memasukkan energi sihir es ke dalam busur itu kamu juga bisa mengalirkan energi sihir lain ke dalamnya...,” ungkap raja Ron.


Raja Ron menunjuk ke arah lemari yang berisi peralatan seperti baju zirah dan pedang. “Kamu bisa memilih apa yang kamu suka.”


Aku berjalan ke lemari tersebut dan melihat-lihat sebentar.... Memang bagus sih, tapi menurutku pakaian zirah itu berat walau musuh yang kuhadapi menggunakan pedang.... Tapi siapa peduli jika aku bisa teleportasi.


Aku mengambil pedang berwarna hitam dan memiliki corak sayap burung di gagang pedangnya.


Aku memperhatikan pedang itu sebentar lalu memantapkan niat bahwa pedang ini akan kugunakan selama dalam misi.


“Kamu bisa menggunakan pedang tersebut, aku sudah menyiapkannya sebagai pengganti dari pedang pesananmu,” ucap raja Ron.


“Tidak apa-apa, membuat pedang memang sulit,” balasku.


Pedang tersebut sudah dilengkapi dengan sarung yang berbahan dari kulit sapi. Aku juga mengambil baju zirah rantai kecil, setidaknya ini lebih ringan dari zirah biasa.

__ADS_1


“Jadi Kivasta, apa kamu sudah siap?” Tanya raja Ron serius.


Aku berbalik lalu menjawabnya. “Kapan saja.”


__ADS_2