
Keesokan harinya aku dengan pedang hitam dan busur pergi ke gerbang belakang kota Letonia sesuai permintaan dari raja Ron, di sana sudah ada ada tiga orang prajurit yang berdiri di samping satu kuda hitam.
“Oh ini dia orangnya, kami sudah menunggumu,” ucap salah satu prajurit.
“Ada apa?” Tanyaku.
“Ini adalah kuda yang akan kamu gunakan dalam perjalanan, kamu bisa menunggangi kuda?” Tanya balik prajurit tersebut.
“Tentu bisa.” Aku berjalan ke arah kuda hitam tersebut lalu mengelusnya. Aku mengeluarkan sebuah apel dari tasku kemudian memberinya apel untuk ia makan.
Kuda tersebut memakan apel yang kuberikan, sementara aku masih mengelusnya. “Sepertinya dia menyukainya,” ucapku sedikit tersenyum.
Aku menaiki kuda tersebut dan lanjut mengelusnya. “Dia sangat jinak.” Aku masih mengelus kepalanya.
“Hebat sekali kamu bisa menjinakkannya, padahal kamu bukan orang yang ia kenal,” puji salah satu prajurit.
Prajurit tersebut memberikanku sebuah peta yang mencakup seluruh wilayah Setavia, Veratha dan negara sekitarnya. Tapi ada satu hal yang menarik perhatianku, yaitu sebuah wilayah kecil di antara Kekaisaran Veratha dan Kekaisaran Porava (Kekaisaran Porava berada di Yhokava Timur). Wilayah tersebut tak bernama dan hanya ditandai dengan tanda tanya.
Aku bertanya maksud dari wilayah kecil tersebut pada prajurit yang memberiku peta ini. “Wilayah apa ini? Kenapa ditandai dengan tanda tanya?” Tanyaku penasaran.
“Kami pun tidak tahu itu wilayah apa. Bahkan, prajurit yang berperang di garis depan pun dilarang untuk melewati wilayah tersebut...,” ujar salah satu prajurit.
Bahkan mereka pun tidak tahu dengan wilayah kecil tersebut... Kira-kira apa yang disembunyikan dari wilayah tersebut? Sampai-sampai tidak ada orang yang tahu tentangnya....
__ADS_1
Daripada aku terus memikirkan hal tersebut, lebih baik aku memastikan telah membawa perlengkapan dan perbekalan yang kuperlukan sebelum melakukan misi.
Setelah memastikan semuanya telah ada dan siap, aku kembali menaiki kuda hitam tersebut lalu mulai meninggalkan kota Letonia sambil melambaikan tangan sebentar ke arah tiga prajurit....
Aku berkuda menuju ke titik tujuan yang telah ditentukan melalui peta. Sekarang misi pertamaku adalah mengintai pasukan Veratha dan lalu memberikan laporan pada jenderal pasukan Setavia yang berada di garis depan.
Setelah berkuda dalam waktu yang cukup lama aku melihat sebuah hutan lebat dan berniat akan menjadikan hutan tersebut sebagai tempat untuk beristirahat....
Sesampainya di hutan tersebut, aku memberhentikan kudaku dan turun dari kudaku. Aku memberinya apel untuk dimakan lalu membiarkannya minum sebentar....
Saat aku sedang mengistirahatkan kudaku, aku mendengar suara langkah kaki berjalan dari belakang. Aku menarik pedang dari sarung sambil berbalik ke belakang....
Tapi aku tidak melihat apapun.... “Mungkin hanya hewan kecil yang sedang lewat,” ucapku sambil memperhatikan area sekitar.
Saat aku ingin melihat siapa yang menembakku, sebuah anak panah kembali ditembakkan dan untung aku bisa menghindar.
Aku berlari ke pohon lain sambil melihat siapa yang menyerangku. Aku melihat seorang pria yang wajahnya tertutupi oleh jaring hitam sedang berdiri di atas batang pohon. Aku tidak tahu siapa ia, tapi ia terus membidikku dengan busurnya.
Panahnya menjadi biru sesaat setelah ia melepaskan anak panahnya dari busur. Anak panah tersebut meledak dan ledakannya menyebarkan petir ke segala arah, tapi beruntung aku bisa menghindar dan menyelamatkan diri.
“Dia pengguna elemen petir, aku harus segera menghabisinya.” Aku keluar dari belakang pohon sambil membidik musuh dengan busurku. Aku melepaskan anak panah yang membekukan pohon tersebut, tapi musuh berhasil melompat dari pohon sebelum ikut membeku.
Musuh melompat ke bawah dan mengeluarkan pedang dari sarungnya, aku juga menyimpan kembali busurku dan mengeluarkan pedang dari sarungku lalu berlari menghadapinya....
__ADS_1
Kami saling beradu pedang sebelum aku mengubah bilah pedangku menjadi es dan mulai menebasnya. Musuh membalas dengan menangkis tebasanku bahkan ia memanggil petir dari pedangnya untuk menyambarku.
Aku berteleportasi ke belakangnya dan langsung menebasnya, tapi ia menghilang sesaat aku akan menebasnya. Aku menyadari ia sedang berdiri di atas dahan pohon.
“Pergilah dari sini, seharusnya kau tidak ada di medan perang,” ucap pria itu dengan nada rendah.
“Tidak akan,” tegasku.
“Baiklah kalau begitu....” Pria itu langsung bergerak sangat cepat seperti sambaran petir, pria itu menebas dengan kecepatan tinggi tapi aku berhasil menangkis setiap tebasannya dan melakukan serangan balik.
Aku menebaskan gelombang es ke arah pria itu berkali-kali, juga sempat berteleportasi untuk bertarung dalam jarak yang lebih dekat. Namun saat aku mendekatinya ia pasti akan langsung menghindar dan kali ini dia kabur dengan meninggalkan pesan....
“Banyak....” Ucap pria itu sebelum akhirnya pergi dengan cepat entah ke mana....
Aku curiga jika ia adalah salah satu dari prajurit atau mata-mata Veratha, aku cepat-cepat pergi dari lokasi dan kembali mengejar kudaku yang kabut dengan mengikuti arah aliran sungai.
Sudah beberapa jam aku mencari tetap saja tidak menemukannya.... Entah pergi ke mana kuda itu....
Sebuah panah tertancap di pohon tepat di dekatku, aku berbalik dan melihat sekelompok orang membidikku dengan busur. Aku berteleportasi dengan sihir es untuk kabur dari serangan panah mereka, memalukan jika aku tewas saat misi pertama.
Kelompok tersebut masih mengejarku bahkan anak panah mereka sempat meledakkan area sekitar.
Setelah kabur selama beberapa menit dan tidak melihat mereka lagi, aku menemukan sebuah gua dan memutuskan untuk bersembunyi di sana....
__ADS_1