The Ice Line

The Ice Line
Chapter 35: Hamparan


__ADS_3

Pada pagi harinya aku dan Chiva kembali ke sisi selatan kota untuk menemui Rovka dan Zhela.


Aku dan Chiva naik ke kuda kami dan segera memacu kuda kami dengan cepat melalui jalan-jalan kota. Penduduk di kota belum ada satupun yang keluar, entah karena masih takut akan adanya serangan lanjutan atau karena masih terlalu pagi. Tapi aku tidak peduli, sekarang aku dan Chiva hanya perlu kembali menemui Rovka dan Zhela.


Sesampainya di selatan kota, aku bertemu dengan Rovka dan Zhela yang sedang berbicara dengan komandan pasukan Setavia.


Rovka yang menyadari kehadiran kami menoleh ke arah kami. “Sampai juga kalian,” sahut Rovka.


“Ada apa ini?” Tanyaku lalu berhenti di depan mereka.


“Yah jadi malam tadi ada serangan dadakan dari mata-mata Veratha, tapi beruntung aku dan Zhela bisa menghabisi satu dari dua orang,” ungkap Rovka.


“Lalu di mana satunya lagi?” Tanya Chiva.


“Sedang berada di penjara, sebelumnya dia sudah kami interogasi,” jawab Zhela.


“Begitu ya....”

__ADS_1


“Lalu informasi apa saja yang sudah kalian dapatkan darinya?” Tanyaku.


“Belum ada informasi yang jelas karena dia tidak ingin bicara, kami akan menginterogasinya lagi nanti,” jawab komandan pasukan Setavia.


“Jadi begitu. Rovka, Zhela apa kalian ingin ikut lanjut menjalankan misi?” Tanyaku lagi pada mereka berdua.


Rovka dan Zhela saling bertatapan sebelum menjawab. “Baiklah kami ikut.” Jawab mereka serentak.


Kami berpamitan dengan komandan pasukan Setavia dan semua prajurit, termasuk penduduk yang memperhatikan kami.


Setelah itu kami langsung menaiki kuda kami masing-masing dan mulai berjalan keluar dari kota.


Malam hari tiba kami pun memutuskan untuk beristirahat di hutan terdekat, juga untuk mengisi energi dan mencari perbekalan untuk perjalanan.


Kemudian Rovka menghampiriku yang sedang membaca peta. “Aku sudah menunggu untuk hal ini.” Kata Rovka lalu berhenti di belakangku.


Aku berbalik melihatnya. “Hmm? Ada apa?” Sahutku penasaran.

__ADS_1


“Ayo kita duel.” Balas Rovka serius.


Anak ini, apa dia benar-benar tidak menerima kekalahannya di fase ujian kemarin? Memang keras kepala dia ini.


“Jadi kau masih belum menerima kekalahanmu? Untuk apa bertarung lagi jika hasilnya sudah jelas begitu, lagi pula tujuan kita di sini untuk menyelesaikan misi bukan bertengkar atau kau ikut hanya untuk berduel denganku saja.” Jelas aku akan menolak ajakan duelnya, aku heran apa dia tidak bisa melupakan sesuatu yang sudah terjadi?


“Ya aku ikut karena ingin berduel. Jadi apakah kau takut dan tidak ingin duel? Akui saja bahwa kau tidak bisa bertarung tanpa bantuan orang lain.” Ledek Rovka dengan seringainya.


“Ya yah, terserahmu. Jangan ganggu aku membaca peta.” Balasku lalu berbalik kembali membaca peta.


Rovka memegang bahuku lalu berkata. “Kau ingin mulai secara adil atau aku yang memulainya duluan?”


“Bisakah kau tidak menyulut api di saat misi sedang berjalan?!” Bentakku, lalu Zhela dan Chiva datang menghampiri kami.


Zhela melerai pertengkaran kami sebelum duel benar-benar terjadi. Chiva datang dan membawaku pergi dari hadapan Rovka. “Dia memang tidak bisa menahan sabar, memang sedari awal dia hanya ingin bertarung denganmu tapi aku lupa memberitahumu, hehe.” Ujar Chiva sambil menyengir.


“Yah sudahlah, aku harap besok dia tidak mengajak duel lagi....”

__ADS_1


Setelah membaca peta dan membuat rute, sementara Chiva dan Zhela sudah tertidur dan Rovka sedang berjaga.


__ADS_2