The Ice Line

The Ice Line
Chapter 33: Serangan Lanjutan


__ADS_3

Aku dan Chiva berkuda melalui jalan-jalan di kota Rossa untuk mencapai sisi timur.


Namun sebuah ledakan dan cahaya terang seperti api muncul di sisi timur.


Chiva bertanya saat sedang menunggangi kuda. “Ledakan apa itu?!” Tanya Chiva yang terkejut mendengar suara ledakan.


“Sepertinya itu adalah ledakan dari sihir petir. Baru juga lewat 12 jam mereka sudah melakukan serangan lanjutan.” Kataku sambil terus memacu kuda menuju ke sisi timur kota Rossa.


Para penduduk di kota Rossa juga mulai menutup pintu dan jendela mereka setelah mendengar suara lonceng yang menandakan ada serangan, serta suara dentuman ledakan di sisi timur.


Aku dan Chiva memacu cepat kuda kami, melewati jalan-jalan kota untuk segera membantu pasukan Setavia agar pasukan tidak menembus pertahanan kota.


Kami pun sampai di depan gerbang yang tertutup dan berjumpa dengan seorang prajurit pria yang langsung menghampiri kami.


“Siapa kalian?!” Tanya prajurit tersebut.


“Aku Kivasta dan dia adalah Chiva Anjulio, kami dikirim oleh komandan yang beroperasi di timur kota.” Jawabku tegas.


“Kivasta yang mengalahkan pasukan Veratha itu?” Prajurit tersebut kemudian menoleh ke arah Chiva. “Dan kamu adalah bangsawan bermarga Anjulio itu? Bagus, kami butuh bantuan karena pasukan Veratha mengerahkan banyak penyihir mereka yang terus memberikan serangan dukungan, ditambah pasukan kami juga tidak bisa bertahan lebih lama lagi,” ujar prajurit tersebut.

__ADS_1


“Kalau begitu kami akan langsung menuju ke medan perang.”


“Hei Tunggu!” Kami langsung naik ke atas dinding pertahanan melalui menara tanpa mempedulikan perkataan prajurit tersebut.


Saat tiba di atas dinding pertahanan, banyak prajurit pemanah yang terus memanah dan ada beberapa yang menggunakan panah sihir.


Aku mengeluarkan pedang dari sarung pedang lalu melompat turun ke bawah dan saat di udara aku berteleportasi ke tanah kemudian berlari maju menghadapi pasukan Veratha.


“Kiva tunggu!!!” Chiva ikut melompat turun tapi dia menggunakan sihir angin agar tidak terjatuh.


Aku berlari maju lalu berteleportasi menghabisi setiap prajurit Veratha yang berada di depanku.


Aku mengamati area medan perang dan berusaha untuk menembus bagian belakang pasukan Veratha yang berisi pasukan penyihir mereka.


Saat aku berlari menuju para penyihir Veratha, serangan sihir mereka terus menerus terarah kepadaku dengan berbagai macam serangan sihir mereka, seperti petir, api, dan bayangan.


Sembari berlari aku mengubah pedangku menjadi es dan saat aku berteleportasi ke belakang para penyihir tersebut, aku mulai menghabisi mereka semua satu per satu secara cepat....


“SIAPA DIA?! KENAPA DIA BISA ADA DI SINI?!!” Teriak penyihir tersebut sesaat aku tiba di belakang mereka.

__ADS_1


Para penyihir mengalihkan serangan mereka ke arahku dan menyerangku dengan berbagai sihir mereka, tapi itu tidak berguna karena setiap kali mereka menyerang aku akan berteleportasi menghindar.


Setelah berhasil mengalahkan para penyihir itu, aku berlari kembali untuk mengalahkan pasukan Veratha yang tersisa.


Prajurit Veratha meneriakkan sesuatu tapi aku tidak peduli apa yang mereka katakan karena aku tidak mengerti bahasa mereka.


Aku kembali berjumpa dengan Chiva yang sedang berhadapan dengan prajurit Veratha. Kemudian dari belakang aku menghabisi prajurit yang menyerang Chiva....


Segerombolan prajurit Veratha datang, jelas aku langsung berteleportasi dan menghabisi mereka semua meskipun ada beberapa dari mereka yang menggunakan sihir di senjata mereka. Tapi apa gunanya menyerang tanpa formasi.... Sepertinya seranganku tadi benar-benar membuat formasi pasukan Veratha menjadi berantakan....


Karena formasi mereka yang telah hancur dan berantakan, pasukan Veratha memutuskan untuk mundur dari pertempuran dan meninggalkan kota Rossa....


......................


Sementara di sisi selatan....


Zhela menghampiri Rovka yang sedang mengamati area luar kota dari atas dinding pertahanan. “Rovka, aku melihat sebuah pergerakan aneh di sekitar luar dinding kota,” ujar Zhela.


Rovka menoleh ke Zhela dan bertanya. “Pergerakan aneh? Apa itu prajurit kita?” Tanya Rovka.

__ADS_1


“Sepertinya bukan, pasukan kita sudah ditarik masuk ke dalam kota Rossa jadi tidak mungkin ada prajurit di luar di tengah malam begini,” tutur Zhela.


“Sepertinya kita harus memeriksanya sendiri....” Balas Rovka lalu mengajak Zhela keluar dari kota secara diam-diam dengan cara melompat dari atas dinding pertahanan....


__ADS_2