
Aku mengikuti Alissa ke asrama laki-laki. Berjalan melewati jendela yang mengarah ke lapangan, aku mengamati melalui jendela di sebelah kanan ada beberapa murid yang sedang duduk dan jalan-jalan di lapangan tersebut.
“Kamu tidak perlu khawatir di sini karena semu kebutuhanmu telah disiapkan oleh pihak akademi, baik dari makanan, pakaian, dan lain-lain,” tutur Alissa sambil berjalan lurus.
“Jadi semuanya ditanggung oleh pihak akademi?”
“Ya.”
Setelah berjalan tidak cukup lama kami tiba di sebuah pintu ruangan yang bertuliskan "Y-47[A]". Alissa membuka pintu dengan kuncinya dan mengajakku masuk ke dalam kamar itu. Awalnya kupikir aku akan tinggal sekamar dengan orang-orang baru, ternyata tidak. Aku diberikan kamar sendiri dan sepertinya murid juga sama.
Aku masuk ke dalam kamar baru itu. Kamar itu sangat lengkap dengan berisi lemari, kasur, meja belajar, dan beberapa buku yang tertata rapi di dalam lemari. Kamar ini cukup bagus dengan desain yang minimalis dan campuran warna putih dan hitam yang elegan.
“Ini adalah kamarmu. Ingat bahwa jika kamu bertemu dengan dalam keadaan formal seperti saat aku sedang mengajar kamu harus memanggilku 'Bu guru' dan jika bukan kondisi formal kamu harus memanggil 'nyonya' karena secara hukum aku adalah pemilikmu, dan ini jadwal dan kelasmu. Kelas akan dimulai besok...,” Alissa memberiku Kunci kamar dan kertas yang berisi tulisan jadwal pelajaran lalu pergi dan menutup pintu begitu saja meninggalkanku di kamar ini. Aneh kenapa aku bisa mempercayai orang sepertinya? Yah terserahlah lagipula aku sudah membuat kontrak di sini, jadi jalani saja.
“Wanita aneh. Tapi, yang penting aku bisa cukup santai di sini tanpa harus memikirkan beban pekerjaan...,” ucapku lalu terbaring di kasur yang berwarna biru.
Kasur itu terasa empuk sekali..., “kurasa julukan akademi sihir terbaik untuk Setavia Magic Academy memang bukan sekedar isapan jempol apalagi mereka langsung menyediakan fasilitas secara lengkap untuk para murid,” ucapku dalam hati sambil memeluk bantal di kepalaku.
Aku berpikir untuk melihat isi dari lemari, aku hanya ingin tahu di dalam ada apa. Aku beranjak dari tempat tidur, berdiri lalu berjalan ke arah lemari dan membuka lemari.
“O-ouh..., hanya ada pakaian seragam laki-laki.... Kukira akan ada hal yang memberiku kejutan...,” Yah, pada saat itu aku benar-benar berpikir kalau di dalamnya akan ada banyak baju yang bagus.
Tiba-tiba aku mendengar ketukan dari luar jendela kamar, tapi aku tidak melihat siapa pun setelah membuka jendela. Juga rasanya aneh jika ada orang yang mengetuk jendela di ketinggian tiga lantai seperti ini.
“Hai!” Muncul seorang laki-laki antah-berantah dari langit di depan jendela tepat di hadapanku. ia membuatku terkejut hingga aku terjatuh ke belakang.
“O-oh maaf!” Ia masuk melalui jendela dan membantuku untuk berdiri.
__ADS_1
Aku berdiri lalu bertanya siapa namanya dan kenapa tiba-tiba ia ada di sini, “Siapa kau?! Tiba-tiba muncul dari antah-berantah!” Ucapku yang terkejut akan kehadirannya di kamarku.
“Aku naik ke sini menggunakan sihir angin! Dan aku tebak ini adalah ruangan 'Y-47[A]' kan?!” Entah kenapa orang ini tiba-tiba menebak-nebak.
“Y-yah, kenapa?” Jawabku.
“Sudah ketebak! Berarti kita akan satu kelas!” Tandasnya dengan semangat dan kegirangan.
“Jawab pertanyaan ku dulu! Siapa kamu?!” Tanyaku dengan tegas. Orang ini aneh tiba-tiba muncul tanpa salam apapun. Bahkan, ia saja tidak mengenalkan dirinya terlebih dahulu.
“Namaku adalah Chiva Anjulio! Salam kenal!” Jawabnya sambil mengajakku berjabat tangan.
Aku membalas jabat tangannya dan balik memperkenalkan diriku, “Namaku Kivasta Ekova Lanhamr.”
“Apa tujuanmu ke sini?” Tanyaku dengan sinis terhadap Chiva. Kalau dipikir-pikir namanya lebih terdengar seperti nama perempuan dibandingkan laki-laki.
“Jangan dibahas, kamu tidak tahu apa-apa...,” ucapku sembari memalingkan wajah darinya.
“Perlahan-lahan juga semua orang akan tahu....”
Aku pergi ke pintu kamar dan membukakan pintu sambil mengarahkannya untuk keluar dari kamarku
Chiva menolak untuk keluar dari kamarku dengan dalih ia punya kepentingan di sini. Aku mendorong paksanya untuk keluar dari kamarku, mungkin ini tidak sopan. Tapi ia lebih tidak sopan karena masuk ke kamar orang lain tanpa izin. Masuknya lewat jendela pula.
“Loh? Kok ngusir gitu?!” Tanya Chiva sambil berusaha bergerak mundur saat aku mendorongnya keluar.
“Keluar. Kamu sangat tidak sopan karena masuk ke kamar orang lain tanpa izin,” aku mengeluarkannya dari kamarku lalu menutup pintu dan mengunci pintu kamarku. Semoga ia tidak masuk kamarku lagi.
__ADS_1
“Aku sudah bertemu dua orang aneh..., salah satunya malah menjadi majikanku.... Ini gila,” gerutuku lalu menutup jendela agar ia tidak sembarang masuk ke kamarku lagi.
Aku duduk di kasur lagi sembari memandangi pemandangan murid berseragam yang sedang berjalan-jalan di lapangan yang luas melalui jendela kamar. Ada dari mereka yang sedang latihan sihir, berjalan-jalan bersama teman mereka, duduk santai. Bahkan, ada murid yang duduk di atas dahan pohon besar yang mengelilingi lapangan tersebut.
Selama tiga tahun aku akan berada di sini. Tapi aku masih heran kenapa Setavia membutuhkanku untuk melawan kekaisaran Veratha melalui akademi Sihir ini? Yah sebenarnya aku sangat beruntung bisa menjadi salah satu murid di sini. Tapi yang menjadi masalah adalah..., aku tidak punya kepentingan di akademi sihir ini. Aku ke sini hanya untuk hidup lebih tenang, malah berakhir menjadi babu milik Alissa. Wanita gila.
Omong-omong, kamar ini memang cukup lengkap. Bahkan di sini ada kamar mandi pribadi untuk para murid. Keren sekali.
Yah.... Karena tidak hal yang bisa kulakukan, jadi aku membaca buku saja. Aku mengambil buku yang terdapat pada rak lemari, buku itu agak terlihat berdebu mungkin ini kamar yang sudah lama tidak ditinggali seorang murid pun. Aku membaca judul buku itu, buku itu berjudul "Keterkaitan Sesama Elemen Sihir". Cukup menarik, buku ini sepertinya membahas tentang hubungan elemen dan bagaimana cara memaksimalkan potensinya....
Tidak terasa hari sudah menjelang malam, aku terlalu asik membaca buku itu hingga benar-benar tidak sadar bahwa cahaya matahari telah meredup dan akan menaikkan bulan. Namun, aku belum menemukan pembahasan sihir es di dalam buku itu..., kenapa ya? Apakah sihir es memang selangka itu?
Sebelum menutup buku aku melipat halaman yang sedang kubaca, agar saat aku membaca buku itu aku dapat menemukan halamannya tanpa membaca ulang. Setelah itu aku meletakkan buku itu kembali ke rak lemari dan melepaskan pakaianku mulai untuk mandi. Dipikir-pikir aku belum selama 2 bulan karena menjadi budak, hehehe....
Setelah mandi, aku memakai pakaian yang sudah tersedia di dalam lemari. Pakaiannya hanya ada satu set. Baju dan celana tidur. Tapi ya sudahlah yang penting aku bisa tidur dengan nyenyak....
***
Cahaya matahari masuk melalui jendela menandakan pagi hari telah tiba, aku terbangun dari tidurku yang begitu nyenyak. Hal yang tak pernah kurasakan selama 2 bulan selama menjadi budak.
Aku bergegas mandi, kemudian menggunakan seragam hitam dan putih murid laki-laki Akademi Sihir Setavia. Kemudian aku keluar dari kamar dan menutup pintu, tidak lupa aku juga membawa satu buku tulis.
Aku pergi dengan petunjuk yang telah diberikan dari Alissa, aku berjalan menuju kelas yang katanya adalah kelas sihir air.
Aku berjalan ke kelas sambil terus mengatakan dalam hatiku..., “Ini gila, ini gila, ini gila,” aku mengatakan itu dalam hatiku secara terus menerus.
__ADS_1
Sesaat aku akan masuk ke kelas, sudah ada sosok yang menungguku di dalam kelas itu....