The Ice Line

The Ice Line
Chapter 32: Kivasta


__ADS_3

Untuk sementara aku harus beristirahat di kota Rossa setelah pasukan Veratha mundur dari pertempuran.


Di dalam kota Rossa aku menyaksikan prajurit yang terluka sedang dirawat. Sementara aku mengambil air minum yang berada di dalam tasku.


Saat aku sedang minum air dari botolku, ada ada seorang prajurit yang menghampiriku.


Aku berbalik menatap prajurit tersebut, lalu prajurit itu berkata. “Terima kasih telah membantu kami mempertahankan kota ini nak dan juga sihir es dan air yang kamu gunakan tadi sangat luar biasa. Boleh kutahu siapa namamu?”


“Kivasta Ekova Lanhamr,” jawabku.


Pandangan semua orang langsung teralihkan ke arahku saat aku mengungkapkan namaku.


Benyak warga dan prajurit yang menghampiriku, juga ada beberapa orang dengan pakaian penyihir yang ikut-ikutan mengerubungiku....


“Eh, eh, eh ada apa ini?” Tanyaku saat semua orang mengerumuniku.


“Apa kamu benar Kivasta yang bisa menggunakan sihir es?!” Tanya wanita yang berpakaian penyihir.


“Y-ya aku adalah Kivasta.” Jawabku sambil terus bergerak perlahan menghindari mereka.


Orang-orang yang mengerumuniku semakin ribut sesaat setelah aku memberi tahu namaku.


“Bagaimana caramu bisa menguasai sihir es?!” Tanya penyihir wanita lain.


Aku menjawab pertanyaan mereka dan terus bergerak mundur perlahan. “Aku tidak tahu, sejak lahir aku sudah memiliki kekuatan ini.”


“Tolong ajari kami menggunakan sihir es!” Ucap salah satu pria dari kerumunan di depanku.

__ADS_1


Aku berusaha untuk menjauh dari kerumunan yang semakin ramai dan hampir membuatku tidak bisa melarikan diri.


Walau sudah menjauh dari kerumunan, aku tetap saja dikejar oleh orang-orang dan pada akhirnya aku berlari menuju ke kumpulan prajurit. Saat sampai di kumpulan prajurit tersebut, aku berhenti sebentar dan meminta mereka untuk tidak memberitahu lokasiku. Lalu langsung saja aku teleport ke atas tembok pertahanan agar tidak terlihat oleh orang-orang....


Orang-orang yang mengejarku tadi bertanya pada kumpulan prajurit di bawah. Untungnya prajurit-prajurit itu tidak memberitahu di mana aku berada.


“Sepertinya sudah lumayan aman...,” ucapku merasa sedikit lega.


Seorang prajurit dengan busur di tangannya menghampiriku. “Apa yang kamu lakukan di sini nak?” Tanya prajurit tersebut.


Aku berdiri dan segera menjawabnya. “Aku Kivasta Ekova Lanhamr, diberi misi oleh yang mulia raja Ron melalui sebuah kontrak untuk membantu melawan kekaisaran Veratha,” jawabku.


“Jadi kamu anak yang bisa menggunakan sihir es? Namamu mungkin sudah tersebar di sebagian wilayah Setavia, tapi tentu orang-orang tidak akan tahu rupamu jika belum pernah bertemu,” tutur prajurit tersebut dengan nada santai.


Untung saja dia tidak mencurigaiku dan menodongkan busurnya.... “Bisa kamu tunjukkan sihir es mu?” Pinta si prajurit.


“Baiklah....” Aku menyetujuinya, tapi aku bingung akan mengeluarkan teknik apa.... Aku punya ide.


Sesaat kemudian sebuah anak panah es muncul pada tali busur tersebut. Aku langsung saja melepaskan tanganku dari tali yang membuat anak panah es itu terlontar dengan jejak ekor es yang terang.


Prajurit yang terus memperhatikan cukup kagum dan mulai percaya. “Luar biasa, sepertinya kamu tidak perlu khawatir jika kehabisan anak panah....” Kata si prajurit sambil terus memperhatikan arah laju anak panah.


Sebenarnya sedari awal misi aku memang tidak membawa anak panah satupun karena memang tasku sudah terisi dengan barang-barang penting, dan lagi pula jika aku bisa membuat anak panah melalui kekuatan es kenapa aku masih harus membawa anak panah biasa? Itu hanya akan memberatkan saja.


Aku tetap berada di atas dinding pertahanan sembari melihat pemandangan matahari yang akan terbenam....


Aku mendengar seseorang memanggil namaku dari bawah, dia menyuruhku untuk turun karena ada orang yang ingin bertemu denganku.

__ADS_1


Aku berjalan turun ke bawah melalui tangga dari menara yang tersambung ke dinding. Sambil berjalan sempat berpikir mungkin orang yang ingin bertemu denganku adalah orang-orang yang tadinya mengerumuniku.


Saat aku sudah berada di bawah aku melihat empat orang yang tidak asing.... Salah satunya dengan suara cempreng mirip perempuan....


“Kiva!” Seru orang itu. Ternyata yang memanggilku adalah Chiva.... Tunggu! Kenapa Chiva ada di sini?! Dan kenapa juga ada Rovka dan Zhela?! Apa yang sedang mereka lakukan di sini?


Aku berjalan menghampiri mereka. “Kenapa kalian ada di sini?” Tanyaku penasaran.


“Kami ke sini untuk membantumu,” jawab Chiva.


Membantuku? Bukankah kontrak misi ini hanya aku sendiri yang menjalankannya? Kenapa tiba-tiba raja Ron mengirim mereka untuk membantuku? Yah bukannya aku menolak bantuan, tapi aku khawatir dengan keselamatan nyawa mereka jika ikut menjalankan misiku....


“Apa kamu tidak senang?” Tanya Chiva seperti orang khawatir.


“Bukannya aku tidak senang, tapi aku khawatir jika nyawa kalian akan terancam apa lagi kalian adalah bangsawan...,” ujarku. Kemudian kesatria di samping mereka membalas. “Mereka sudah mendapat izin dari yang mulia Ron, walau aku sendiri tidak yakin pada kompetensi mereka dan dirimu....” Balas si kesatria. Sempat-sempatnya orang ini mengejek kami.


“Lalu kau sendiri akan melakukan apa setelah ini?” Tanyaku pada si kesatria.


“Aku? Aku memiliki tugasku sendiri....” Jawab kesatria.


Kesatria berbalik dan berjalan menjauh, tapi sebelum itu dia mengatakan. “Aku tidak punya waktu untuk kalian, pesan terakhirku adalah.... Jangan buat yang mulia kecewa....” Setelah mengatakan itu kesatria tersebut langsung pergi keluar dari kota.... Sepertinya dia akan kembali ke kota Letonia.


Pada malam hari aku berjaga di atas dinding pertahanan, mengamati area luar kota.


Tapi aku mendengar informasi dari prajurit pemanah di sisi timur kota, bahwa mereka melihat pergerakan pasukan Veratha yang cukup banyak dari serangan di sisi selatan.


Namun, beberapa saat kemudian komandan di sisi selatan mengabarkan pada kami bahwa Veratha melakukan serangan di sisi timur dan kami harus segera ke sana.

__ADS_1


Walau akan memakan waktu yang cukup lama, tapi aku, Chiva, Rovka, dan Zhela tetap pergi ke sisi timur untuk membantu pertahanan. Tapi komandan mengatakan untuk membiarkan Rovka dan Zhela tetap di sisi selatan....


Aku dan Chiva menaiki kuda kami dan segera menuju ke sisi selatan....


__ADS_2