The Ice Line

The Ice Line
Chapter 2: Tempat Untuk Tidur


__ADS_3

Setelah berjalan selama beberapa menit di dalam kota, aku menoleh ke kiri dan ke kanan melihat sekitar. Namun, sedari awal pandanganku selalu terpaku pada bangunan pusat pemerintahan kerajaan Setavia atau lebih tepatnya istana Setavia. Istana yang berwarna putih tersebut terletak di dataran tinggi tepat di tengah-tengah kota dan langsung terhubung ke jalanan kota. Istana tersebut dibangun dengan sangat megah, besar, dan kubahnya yang berwarna biru seperti lautan.


Aku berjalan tanpa melihat arah karena fokus kepada istana megah itu, dan hal itu membuatku menabrak seorang pria besar di depanku..., “Aduh..., m-maaf aku menabrak Anda, saya tadi fokus melihat istana kerajaan.”


Pria besar itu berbalik dan melihat ke bawah ke arahku, dengan tatapan yang menakutkan dan sangar.


“Lain kali lebih hati-hati lagi...,” ucap pria besar itu dengan nada seolah mengancam dan tanpa perasaan.


“I-Iya,” aku langsung berjalan lurus ke depan menjauhi pria besar itu, pria itu sepertinya masih menatap ke arahku. Tatapannya tadi sangat mengerikan, tapi untung saja ia tidak menyakitiku atau tiba-tiba memukuliku karena aku tidak sengaja menabraknya.


Aku segera berjalan cepat menjauhi pria besar tersebut, berbelok ke arah kanan hingga pria besar menakutkan itu tidak melihatku lagi. Setelah merasa sedikit aman, aku mengambil napas dalam-dalam untuk menenangkan diri


Aku menunduk sang menarik napas, “Huft dia tadi sangat menakutkan...,” ucapku dengan jantung yang berdebar-debar dan sedikit panik.


Saat aku menaikkan kepalaku, aku melihat banyak orang yang berkumpul menggunakan baju zirah dan membawa pedang..., apakah mereka prajurit? Tapi di sana juga adalah wanita. Ya sudahlah, aku lihat saja langsung apa yang ada di depan sana.


Aku berjalan menghampiri sekumpulan orang-orang dengan baju zirah, pedang, dan juga busur beserta tas berisi panah. Aku menanyai salah satu pria yang membawa pedang besar dan memakai baju zirah.


“H-Halo, ada apa ramai-ramai di sini? Dan tempat apa ini?” tanyaku gugup. Namun, penasaran.


Pria itu berbalik melihat ke arahku dan berkata, “Ini adalah guild, semua orang sedang berkumpul untuk pemberitahuan tentang naga bawah tanah.”


“Naga bawah tanah?” Tanyaku lagi masih penasaran.


“Guild memberitahukan hadiah untuk orang atau kelompok dari anggota mereka yang dapat mengalahkan naga bawah tanah. hadiahnya juga sangat besar seperti permata dan emas. Bahkan, jika kamu bisa mencabut sisik naga saja itu sudah berharga sangat mahal,” ujar pria itu dengan santainya.

__ADS_1


“Begitu ya..., terima kasih ya.”


“Tidak apa-apa,” pria itu kembali berbalik dan melihat pengumuman dari guild.


Yah aku tidak begitu terlalu tertarik dengan guild, menurutku guild hanya tempat sekumpulan orang-orang penantang atau orang yang suka membantai monster. Tetapi, setidak lebih baik dari pada hanya diam di rumah tidak melakukan apapun.


Aku berjalan menjauhi kerumunan, aku berjalan cukup lama di dalam kota. Terlalu asik melihat pemandangan sehingga tidak menyadari bahwa matahari sudah berwarna oranye gelap yang menandakan akan menjelang sore hari.


Saat aku berjalan di jalanan kota aku melihat ke kiri ada sebuah penginapan kecil dua tingkat lantai yang mungkin bisa ku sewa untuk setidaknya bisa tidur dan beristirahat dengan tenang.


Aku memasuki penginapan itu. Penginapan itu walaupun dari luar berukuran kecil tapi karena ini penginapan jadi jelas dalamnya akan terlihat besar, dengan banyak ornamen pajangan yang menempel di dinding.


Aku menghampiri meja resepsionis dan berbicara dengan wanita resepsionis, “H-Halo, a-aku satu kamar tidur,” ucapku yang masih gugup.


“Ah baiklah nak, biaya permalamnya adalah 25 selova ya,” tutur wanita resepsionis itu.


Aku melihat nomor pada kunci yang tertulis nomor '18'. Aku pergi meninggalkan wanita resepsionis, berjalan menaiki tangga lalu mencari kamar yang sesuai dengan nomor kunci.


“15, 16, 17..., 18!” Aku membuka pintu kamar yang bertuliskan '18' lalu masuk ke dalam kamar dan langsung berbaring telentang di kasur karena lelah.


“Capek.... Besok harus ngapain ya? Oh ya bagaimana cara aku mendapatkan uang,” Aku membalikkan tubuhku dan membentangkan tanganku di kasur.


“Kira-kira kerja apa yah? Memangnya di sini ada lowongan kerja? Besok tanya orang yang ada di resepsionis aja lah,”


Hari sudah menjelang malam, setelah bergumam sendiri aku merasa sangat mengantuk lalu memutuskan untuk tidur agar bisa melakukan sesuatu di esok hari.

__ADS_1


Keesokan harinya aku terbangun pada pagi hari lalu aku beranjak dari kasur lalu berjalan ke jendela membuka tirai dan membuka jendela kamar. Setelah membuka tirai dan jendela sinar matahari langsung masuk dan menerangi seisi kamar. Aku melihat orang-orang berjalan lalu-lalang, ada yang membawa barang dagangan, ada yang membawa..., budak dalam kandang..., dan juga ada prajurit yang sepertinya sedang melakukan patroli.


Aku memutuskan untuk keluar dari kamar dan menuju ke meja resepsionis dan menanyai mereka apakah mereka memiliki lowongan kerja.


Singkat cerita aku sampai di meja resepsionis dan kembali bertemu dengan wanita yang kemarin melayaniku, “Halo, aku ingin bertanya sesuatu padamu.”


Wanita itu melihatku dengan santai dan ramah, “Ya, ada bisa saya bantu?”


“Apakah di sekitar sini ada lowongan kerja?” tanyaku pada wanita resepsionis.


“Kalau di penginapan ini sendiri sepertinya tidak membutuhkan karyawan lagi dan jikapun kamu mau menjadi salah satu dari pegawai di sini kamu tidak boleh menginap di sini,” tutur wanita resepsionis sambil menggelengkan kepala.


“Begitu ya..., bagaimana dengan tempat-tempat lain? Apakah kamu tahu?” tanyaku lagi.


“Yah, aku tidak tahu banyak tapi pasti ada yang sedang membuka lowongan kerja. Maaf hanya itu yang bisa ku jawab karena sepanjang hari aku harus berada di sini melayani orang yang ingin menginap.”


“Tidak apa-apa terima kasih atas informasinya,” setelah itu aku pergi keluar dari penginapan.


“Berhati-hatilah!” Wanita resepsionis melambaikan tangan di saat aku pergi dari penginapan.


Setelah keluar dari penginapan aku mulai berjalan seperti orang tanpa tujuan yang luntang-lantung mengelilingi kota. Aku berjalan sambil memandangi toko-toko yang ada di pinggi jalan, tapi mereka semua masih tutup dan baru akan buka..., sepertinya aku terlalu pagi....


Entah kenapa aku merasa sedikit bosan karena tidak ada yang bisa kulakukan di dalam kota, jadi aku memutuskan untuk keluar kota dan menguji kemampuan elemen es milikku.


Aku berjalan menuju gerbang, walau aku sendiri sempat tersesat karena lupa di mana arah jalan gerbang masuk-keluar kota.

__ADS_1


Setelah mencapai gerbang aku menyapa prajurit yang berjaga di sana dengan melambaikan tanganku lalu keluar dari kota dengan santai.


__ADS_2