
Aku berhenti di depan pintu kelas sesaat setelah satu langkah masuk, aku melihat sosok yang menatapku, “Wow.... Sungguh tidak terduga bahwa dia akan menjadi guruku...,” Yah..., sosok guru itu adalah Alissa. Sebenarnya aku sudah punya perasaan. Bahwa, dia akan menjadi guruku dan ternyata itu benar-benar dia.
Aku melangkah masuk ke kelas menuju ke sisi Alissa....
Aku berhenti di sisi Alissa dan menghadap ke murid-murid yang sedang duduk di meja masing-masing, “Baiklah murid-murid, hari ini kita kedatangan murid baru dari tempat yang jauh, yaitu kerajaan Alvia. Dia memiliki kemampuan unik untuk mengendalikan sihir elemen es dan dikarenakan akademi ini belum memiliki kelas khusus untuk sihir es maka dari itu para pimpinan akademi memutuskan untuk memasukkannya ke kelas sihir air. Kamu boleh memperkenalkan namamu sekarang dan juga kamu bisa menunjukkan sihir milikmu kepada teman-temanmu,” tutur Alissa kepada seluruh murid yang ada di kelas ini.
Para murid mulai berbisik satu sama lain, mungkin mereka membicarakanku yang berasal dari padang pasir. Namun, dapat dapat menggunakan sihir es yang "katanya" sangat langka. Yah bisa saja kan?
Aku mengambil napas dan mulai memperkenalkan diriku, “Hai semuanya, namaku Kivasta Ekova Lanhamr, panggil saja aku Kivasta. Aku berasal dari kerajaan Alvia. Namun, aku memutuskan untuk tinggal di Setavia. Salam kenal semuanya,” ucapku mengenalkan diri dengan cara bicara yang tidak niat dan tatapan mata yang tidak berekspresi. Lebih seperti orang yang dipaksa dan aku benar-benar sedang dipaksa.
Lalu aku mengeluarkan semacam energi sihir es di tanganku untuk menunjukkan sihir es yang aku miliki. Semua murid terkagum melihat sihir es yang kumiliki.
Setelah menunjukkan sihir es, Alissa memintaku untuk duduk, “Kamu bisa duduk di sana Kivasta,” ucap Alissa sambil menunjukkan meja berada di belakang atas dan di sana ada orang yang sedikit melambaikan tangan padaku. Ya, dia yang kemarin. Chiva. Ternyata apa yang dia katakan benar. bahwa, aku akan sekelas dengannya.
Aku berjalan menaiki tangga di antara meja murid lain. Aku duduk di bersebelahan dengan Chiva yang tersenyum saat aku duduk di sebelahnya.
Alissa memulai pelajaran sihir. Sementara aku mengamati seisi kelas dengan cermat. Menurutku kelas ini sangat bagus dengan lukisan yang indah, dan tata letak meja dan kursi yang langsung menyatu dengan lantai dan bentuk yang menanjak ke atas layaknya universitas di Alvia.
Awalnya kupikir setiap kelas akan terisi penuh oleh laki-laki atau terisi penuh oleh perempuan. Ternyata tidak, walau di sini memiliki sistem asrama. Tetapi, di sini murid masih bergaul satu sama lain tanpa memandang jenis kelamin.
Chiva menepuk bahuku saat aku sedang memperhatikan lukisan dan dinding kelas, “Apa yang kamu perhatikan Kivasta?” Tanya Chiva dengan rasa penasaran.
“Hanya sedang memperhatikan lukisan dan dinding kelas saja kok,” jawabku sambil terus memperhatikan lukisan pemandangan gunung salju di dinding.
“Apakah ada yang menarik perhatianmu dari semua lukisan yang terpampang di dinding?” Tanya Chiva lagi sambil mendekatkan dirinya kepadaku.
“Aku hanya sedang melihat saja, tolong jangan terlalu dekat-dekat...,” balasku sambil mendorongnya sedikit agar tidak terlalu dekat dengan tubuhku.
__ADS_1
“Hei, tanda apa yang ada di belakang lehermu itu?” Sial, aku lupa kalau aku masih memiliki tanda budak di leherku! Bisa gawat jika murid lain tahu akan tanda yang ada di leherku.
Aku menutupi bagian belakang leherku dengan kerah seragam akademi, “Kamu tidak perlu tahu....”
“Oh, itu adalah tanda-”
Sebelum dia dapat menyelesaikan perkataannya aku sudah memotongnya, “Diam!” Bentakku menyuruhnya agar diam dan tidak mengatakan sesuatu yang bisa membuat orang-orang tahu rahasiaku.
Alissa menyebut nama kami, menyuruhku dan Chiva unik tidak berisik selama jam pelajaran, “Kivasta, Chiva. Kalian jangan berisik saat Ibu sedang mengajar, perhatikan pelajaran dengan lebih baik,” ucapnya dengan suara lembut seolah merayu.
“Baik Bu...,” jawab kami berdua dengan kompak.
Kali ini aku memperhatikan apa yang sedang diajarkan oleh Alissa di depan kelas. Dia mengajar tentang pengertian dari manipulasi sihir menjadi sebuah senjata, sama seperti apa yang kulakukan waktu itu.
Aku masih tidak menyangka bahwa nasibku akan berakhir di sini. Walau, ini lebih baik dari sebelumnya.
Saat Aku sedang memperhatikan Alissa, tiba-tiba dia memanggilku untuk mempraktikkan manipulasi sihir elemen menjadi sebuah senjata, “Kivasta, tolong kamu contohkan pada teman-temanmu bagaimana cara memanipulasi sihir elemen menjadi sebuah senjata.”
Aku berdiri, turun melalui anak tangga menuju ke depan depan kelas. Aku menghadap ke semua murid di kelas lalu mulai melakukan praktik seperti yang Alissa katakan.
Dengan sihir es aku menciptakan sebuah pedang dengan bentuk khas Alvia atau padang pasir, yaitu melengkung. Semua murid yang melihat kagum dan terpesona setelah aku menciptakan pedang yang berasal dari sihir es. Tentu saja seluruh bagian pedang itu berbahan es.
“Bagus Kivasta kamu menunjukkannya dengan baik di depan teman-temanmu. Sekarang Ibu ingin kalian dalam 2 pekan ke depan sudah menguasai setidaknya satu sihir elemen senjata, baik itu pedang, busur, tombak, atau apapun itu yang penting kalian sudah menguasai satu saja. Mengerti semuanya?” Tanya Alissa menunggu jawaban dari semua murid.
“Mengerti Bu,” jawab semua murid.
“Baiklah pelajaran sudah habis, kalian boleh istirahat dan setelah itu kembali melanjutkan pelajaran yang lain.”
__ADS_1
Alissa tiba-tiba menarik tanganku membawaku keluar dari kelas.
“Kita mau ke mana?!” Tanya yang terkejut saat dia membawaku keluar.
“Ikut saja aku.”
Dia membawaku ke tempat yang sepi, yaitu di bawah anak tangga lantai satu.
“Aku membawamu ke sini karena aku ingin memberitahumu. Bahwa, tanda budak itu tidak akan hilang sebelum kamu menyelesaikan kontrakmu, yaitu membantu melawan kekaisaran Veratha dan Jika kamu tidak patuh..., Aku bisa membuatmu menjerit kesakitan.... Mengerti?” Tanya Alissa sambil sedikit menunduk dan mendekatkan wajahnya yang menakutkan dekat sekali dengan wajahku.
Aku menoleh ke kanan dan menjawabnya, “Ya, ya aku mengerti....”
Alissa menjauhkan wajah dariku, “Bagus, sekarang kamu boleh istirahat,” Alissa pergi begitu saja sesaat sebelum dentingan bel berbunyi yang menandakan waktu istirahat.
Aku berjalan mencari kantin. Namun, bukan kantin yang kutemukan melainkan Chiva yamg sedang berjalan ke arahku....
Chiva mulai berlari ke arahku dan berhenti di depanku, “Kamu mau ke mana?” Tanya Chiva.
“Aku sedang mencari kantin,” jawabku.
“Ah..., jadi kamu belum tahu di mana kantin, ikuti saja aku.”
“Baiklah...,” aku mulai mengikutinya menuju kantin karena aku tidak tahu di mana kantin berada.
Saat sudah ada di kantin aku dan Chiva langsung memesan makanan, makanan di sini gratis untuk para murid. Setelah itu aku dan Chiva berjalan ke meja makan sambil membawa makanan masing-masing.
Baru saja duduk datang 5 orang murid yang menggertak kami, menyuruh kami untuk pergi dari meja ini....
__ADS_1