
Aku berjalan ke istana yang mulia raja Ron namun aku dihadang oleh penjaga di depan pintu.
“Biarkan aku masuk!” Perintahku pada prajurit penjaga.
“Tidak bisa, yang mulia sedang ada acara khusus.” Balas para prajurit sambil terus menghalang pintu masuk dengan tombak mereka.
“Aku tidak peduli! Aku adalah Chiva Anjulio, aku juga bangsawan dan aku berhak untuk menemui yang mulia sekarang juga!” Perintahku dengan keras.
“Tetap tidak bisa nak, yang mulia sedang sibuk.” Prajurit itu tetap saja menghadangku untuk masuk ke dalam istana.
Mereka berdua benar-benar menyebalkan! Memangnya acara apa sih yang digelar oleh sang raja? Situasi perang begini malah enak-enaknya santai!
Aku mencoba untuk menerobos masuk tapi prajurit penjaga tetap saja menghalangiku, dan karena keributan yang telah kubuat yang mulia raja Ron pun keluar dari istana....
“Ada apa? Chiva? Kenapa kamu ada di sini?” Tanya yang mulia Ron.
“Yang mulia! Aku ingin ikut menjalankan misi bersama Kivasta!” Seru ku.
“Tapi misi yang kuberikan adalah kontrak, sementara kamu tidak ada masalah apapun dan lagi pula Kivasta sudah pergi sejak 2 hari yang lalu,” balas yang mulia Ron.
“Aku tidak peduli! Aku akan menyusulnya!”
__ADS_1
Suara langkah kaki terdengar dari belakang yang mulia Ron dengan diiringi suara seruan dari orang yang tidak asing.
“Aku ikut!” seru suara yang tidak asing.
“Aku juga!” Seru satu orang lagi.
Yang mulia berbalik ke belakang. Kukira siapa ternyata yang bicara tadi adalah Rovka dan Zhela. Entah kenapa mereka malah ikut campur....
“Rovka? Zhela? Apa yang kalian lakukan di sini?” Tanyaku penasaran.
“Kau pikir aku akan membiarkan Kivasta menang begitu saja? Tentu tidak,” jawab Rovka.
Ternyata Rovka masih dendam dengan kekalahannya pada pertarungan akademi waktu itu....
“Aku tetap ingin ikut! Tidak peduli dia sedang berada di mana, akan kucari dia!” Seru Rovka. Kenapa malah dia yang bersemangat?
“YANG MULIA!” Teriak seorang pria dari kejauhan di gerbang istana.
Seorang pria berlari ke istana sambil membawa sepucuk surat di tangannya. Pria itu naik melalui tangga ke pintu masuk istana. Lalu pria itu berhenti dengan napas yang terengah-engah.
“Ada apa? Bicaralah,” pinta yang mulia Ron pada pria tersebut.
__ADS_1
“Ini surat dari komandan Erlic di kota Rossa.” jawab pria itu lalu memberikan kertas tersebut pada yang mulia Ron
Yang mulia membaca isi kertas tersebut dengan serius....
Setelah membaca surat tersebut, yang mulia melipat-lipat kertas tersebut lalu berkata.... “Baiklah, kalian boleh menyusul Kivasta.”
Kenapa dia tiba-tiba memperbolehkan? Padahal tadi dia menolak untuk mengizinkan kami menyusul Kivasta dalam misinya. Apa karena tulisan dalam kertas tersebut? Memangnya apa isi dalam kertas tersebut?
“Apa?! Benarkah?! Tapi kenapa tiba-tiba Anda mengizinkan?” Tanyaku heran.
“Jangan banyak tanya, bersiaplah dan besok kalian akan dikirim ke kota Rossa,” balas yang mulia Ron.
Setelah itu yang mulia langsung kembali masuk ke dalam istana sambil membawa kertas tadi, dia memanggil menteri militernya ke sebuah tempat....
Rovka berjalan ke arahku dengan raut wajah kesal....
“A-ada apa?” Tanyaku.
“Kau akan menerima balasan karena sudah menendangku....” Setelah mengatakan itu Rovka langsung pergi yang disusul oleh Zhela di belakangnya.
“Dia benar-benar tidak bisa melupakan kejadian yang lama....”
__ADS_1
Aku pergi dari istana karena tujuanku sudah tercapai. Mendapatkan izin dari yang mulia Ron, dan sekarang aku harus berurusan dengan orang tuaku....