
Risa POV
Setelah menerima telpon gue segera meluncur ke markas. Tak lama kemudian gue sampai disebuah mansion megah yang dijaga oleh beberapa orang. Ya disanalah GDM berada
"Mana?"
"Tuh dibawah tanah-" Sahut Leo terpotong karena gue langsung menuju bawah tanah tanpa mendengarkan kata kata selanjutnya dari Leo namun ada yang mencegah gue
"Inget nggak boleh sampe bawa dia keneraka" Ingat Silla
"Iye" Sahutku kemudian berjalan dan di ikuti mereka. Tak lama gue berdiri dihadapan seorang pria yang sedang dirantai. Lantas pria itu mendongak kearahku.
"Siapa lo? Jangan jadi pengecut! Buka topeng lo *******!" Tanyanya marah dan gue cuman bisa menyeringai
"Vero Wijaya anak dari keluarga Wijayanto yang bangkrut gara gara kalah tender sama keluarga Nancy yang menjadi seorang pembalap liar selain jadi seorang pembalap lo juga jadi pengedar narkoba."
Gue pengecut? Lantas apa kabar dengan lo? Lo nyuruh anak buah lo buat nyerang GDM tapi lo gak ada dimedan pertempuran? Itu sih bukan pengecut tapi penakut! Gue jadi heran kenapa bisa lo dipilih jadi leader gangster KD."
"Katanya nangkap leader gangster Asia susah bakal banyak yang mati kalau berurusan sama KD tapi anak buah gue lebih hebat oh iya sih gue lupa KD hebat kan masih katanya!" Sahutku
"Jaga ucapan lo *******! Lo siapa?! Buka aja topeng lo? Kenapa? Malu? Kalau emang lo pemberani kita fight disini! Dan yang menang bakal jadi leader GDM? Gimana?" Ucapnya
"Sure! Tapi kalau lo kalah siap-siap kepala lo bakal gue kirim kerumah lo!" Jawabku enteng setelah itu gue nyuruh bang Leo buat ngebuka rantai tersebut.
"Kalian mundur! Jan-" Ucapku terpotong karena
Vero tiba tiba nonjok gue otomatis gue mental kebelakang karena belumย siap
__ADS_1
"Gitu doang?! Katanya leader tapi pukulan lo nggak lebih dari pukulan seorang sister" Ucapku memancing amarahnya. Tak lama gue liat Vero terbawa emosi.
Bughh...
Dguhh..
Bughh..
Krekk...
Tak membutuhkan waktu lama bagiku untuk melumpuhkan hama kecil seperti Vero. Kini Vero sudah terkapar tak berdaya.
Tanpa membuang-buang waktu gue langsung mengeluarkan belati.
"Kapten Stop! Jangan jadi pembunuh!" Ucapnya
Namun gue nggak menggubris dan terus berjalan mendekati Vero.
"Siapa lo ngelarang-ngelarang gue? Atau lo mau jadi pengganti dia?"
"Gue bakal berhentiin lo!" Ucap orang itu lagi
"Silahkan, kalau mau mencoba"
Karena sudah dikuasai oleh emosi siapa saja yang berada didalam sana harus rela menjadi korban kebrutalan gue.
"Sadar Kapten! Mana Janji lo. Jendral pasti kecewa liat lo kaya gini" kata Silla.
__ADS_1
"Justru Jendral seneng karena banyak temennya. Dan sekarang lo jadi temen Jendral selanjutnya" kataku mendekati Silla.
Leo dan Dani pun berusaha menjauhkan Silla dari gue.
"Nggak seharusnya lo ngomong-ngomong soal jendral" kata Leo menggandeng Silla menjauh.
"Sejauh apapun lo sembunyi gue bakal temuin"
"Kapten cukup! Leo bawa Silla menjauh segera!" perintah Dani.
"Leo berhenti!" kata gue.
Leo pun bingung memilih mengikuti siapa.
"Jalan satu langkah siap-siap kepala anda saya kirim"
Dani pun sudah paham bahwa situasi ini situasi bahaya.
"Jangan biarin jiwa iblis lo nguasai tubuh lo Ris!" kata Dani.
"Gue emang iblis. Iblis yang punya 1001 cara buat melenyapkan musuhnya termasuk kalian semua"
"Gue yakin lo masih punya hati Ris" kata Dani.
"Gunain pikiran jernih lo!"
Hii reader's...... Jangan lupa Like and vote nya yah.....๐
__ADS_1
Next story......๐ง๐ง๐ง๐ง
Happy Reading....๐๐๐๐