The Mafia Girl

The Mafia Girl
Part 2


__ADS_3

******


06.00 wib, waktu di LA.


"Halo?" ucapnya dengan suara khas orang bangun tidur.


"Halo sayang, Apa kabarmu disana? Sepertinya kau baru bangun tidur? Apaka-"


"Sudahlah dad, ada apa tak usah berbelit-belit. Sampaikan saja apa maksud daddy menelpon" potongnya cepat.


"Baiklah, dengarkan baik-baik sayang"


"Daddy ingin kau pulang kemari, aku ingin kau meneruskan bisnis dan bersekolah disini"


"What do you mean?"


"Pulanglah, daddy ingin kau bersekolah dan berbisnis" kata daddy


"Aku sudah bersekolah disini bahkan aku sudah lulus S2-"


"Kau masih mau bersembunyi sampai kapan? Sampai kau mati sekalipun?" potongnya.


"Ya, you know my reason"


"Daddy tau kau membenci mereka. Tapi untuk apa kau bersembunyi? Ingat Risa sembunyi dan melarikan diri dari masalah hanya untuk seorang pecundang. Kalau daddy menjadi kau, daddy akan tunjukkan pada mereka bahkan pada dunia bahwa mereka akan menyesal karena membuangku" nasihat daddy.


"Tapi dad-"


"Daddy tidak menerima jenis penolakan apapun sayang. Jam 10 jet pribadi kita akan menjemputmu, daddy tunggu kau dimansion. Abangmu akan menjemputmu dibandara"


"Tapi-"


Sambungan telepon tiba-tiba diputus secara sepihak.


"Damn it!" Teriaknya sambil melemparkan handphone. Seketika benda persegi panjang itu hancur berkeping-keping karena menghantam dinding.


Risa pov


Nama gue Larisa Chastine Bramantyo. Namun sebenarnya bukan itu nama asli gue, nama asli gue Larisa Chastine Nancy. Namun nama gue bukan Nancy lagi sejak kejadian 9 tahun silam.


Perkataan daddy terus terngiang-ngiang dikepala gue. Entah mengapa daddy menyuruhku untuk kembali.


Apa gue sanggup melihat wajah mereka?


Apakah gue bisa mengendalikan rasa benci gue?


Akankah luka lama itu sembuh atau bertambah parah?

__ADS_1


15 menit kemudian.


Gue tiba dibandara dan disambut oleh orang suruhan daddy.


"Permisi nona, jet sudah siap" katanya serambi membungkuk hormat.


"Bisa nggak sih lo bersikap wajar, selayaknya manusia normal?"


"Maaf nona, saya hanya bersikap professional saja"


"Aneh ya lo, kemarin malam lo message gue pakek lo-gue, sekarang pakek saya-anda. Lo nggak papa kan?" tanyaku.


"Saya sedang berkerja nona, jadi menurut saya sedikit tidak sopan jika berbicara kepada atasan tidak menggunakan bahasa tersebut."?


"Bukannya tadi malem lo juga kerja?" tanyaku.


"Lo emang ******* ya, durhaka lo dasar ****. Kenapa sih gue selalu kalah debat kalau sama lo? Heran gue" kata Silla.


"Risa dilawan"


Selama perjalanan gue berjalan melihat seluruh isi awak pesawat. Dimulai dari kabin, dapur, hingga kamar mandi. Alasan gue berjalan-jalan dan tidak mau diam karena gue tengah memikirkan sebuah rencana balas dendam


Sementara gue melihat Silla, ia seperti kebingungan melihat tingkahku. Mungkin ia berfikir apakah ada yang salah dalam pesawat ini.


"Lu kenapa sih nggak bisa diem? Kurang kerjaan lo? Sini bantuin gue atur schedule lo yang kaya artis padahal juga enggak"


"Nggak mampu lo ngatur schedule gitu doang? Ngakunya Silla Amalia yang jago dalam urusan apapun, eh nyatanya nol besar" ledek gue.


"Ngeselin lo anying, Napa sih pulang segala, udah enak-enak di LA juga"


"Gue juga males kali pulang kesini. Ya mau gimana lagi bokap maksa, yaudah sekalian aja bales dendam" kataku menaik turunkan alis.


"Lo jangan gila bangs*t, gitu-gitu juga keluarga lo" tutur Silla


"Mana ada keluarga yang nuduh anaknya, darah dagingnya sendiri yang ngebunuh saudaranya sendiri. Mana ada orang tua yang nampar anaknya saat itu juga. Mana ada orang tua yang tega ngusir anaknya sendiri?! Mana ada?! Mana?! Cuma mereka aja"


"Tenang Ris, gue tau perasaan lo. Gue paham apa yang lo rasain ." kata Silla.


"Lo nggak tau perasaan gue, lo nggak paham dan nggak akan pernah bisa ngerti dan paham dengan kondisi gue"


"Yang tau semua apa yang gue rasain cuma diri gue sendiri. Nggak ada yang berhak ngatur bahkan ngasih motivasi ke gue selain gue sendiri" kataku.


"Tapi lo harus tetep bersyukur dan sabar Ris. Kalo nggak ada kejadian itu mungkin lo nggak bakal jadi Risa yang sekarang"


"Mau di gimana-gimanain juga mereka adalah masa lalu lo. Masa lalu adalah sejarah hebat yang pernah kita lewati" kata Silla


"Gue denger lo kemarin dapet mangsa baru?" tambahnya.

__ADS_1


"Jadi?"


"Lo apain anak orang? Kasian keluarganya Ris, mereka juga punya masa depan" kata Silla


"Gue benci tantangan dan lo tau itu. Mereka nantang gue. Gue nggak bisa nolak, kalau gue nolak sama aja gue pecundang."


"Gue hidup bukan terlahir dan tumbuh menjadi seorang pecundang. Gue adalah seorang malaikat maut yang terjebak didalam tubuh manusia cantik ini." Kataku serius.


"Iya gue tahu, tapi dengan lo lenyapin begitu aja bukan jalan keluar Ris, bang Dani cerita semuanya sama gue. Tadi malem dia marah besar, karena ia gagal menahan orang suruhan lo buat bawa anak-anak Werewolf. Dia telat satu menit, ketika dia sampe disana mobil orang suruhan lo barusan keluar" jelas Silla.


"Jadi?"


"Bang Dani ngerasa gagal jagain lo Ris, dia ngamuk karena ulah lo" kata Silla.


"Yaudah"


"Susah ngomong sama batu kaya lo" kata Silla geleng-geleng.


Setelah melewati perjalanan kurang lebih 18 jam LA-Indonesia. Gue sampai di Bandara. Banyak orang berbisik-bisik disaat gue turun. Ternyata menjadi selebgram ada sedikit efeknya.


"Masyaaallah cantik"


"Ibu dari anak-anakku"


"Id dong"


"Pasti kaya, tuh liat pengawalnya ada berapa"


"Ikan hiu bikin baper, I love you forever"


"Jangan digodain punya gue"


"Songong bat, mukanya minta ditampol"


"Bad girl"


"Fashionya oke"


Ya, mungkin seperti itulah tanggapan mereka ketika melihatku. Menurut perkataan daddy gue akan dijemput oleh bang Satria. Namun gue belum melihat tanda-tanda keberadaannya.


"Woy kecebong!" teriak seseorang dari jauh.


Hii reader's...... Jangan lupa Like and vote nya yah.....😘


Next story......🧐🧐🧐🧐


Happy Reading....😊😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2