
Satria POV
Setelah itu gue langsung menarik Elina untuk pulang. Lalu kami berhenti disebuah cafe.
"El makan dulu yuk. Aku laper" Kataku mengubah kalimat dari 'lo - gue' menjadi 'aku - kamu'
"Apaan sih Sat. Nggak usah manggil aku kamu aku kamu gitu deh. Geli tau" Ucapnya
"Daripada kupanggil sayang?" Godaku
"Apaan sih garing tau nggak!"
"Cie mukanya kayak tomat" Ledekku
"Satria apasih!" Katanya lalu berjalan mendahuluiku membuatku tertawa.
"Udah kamu mau pesen apa?" Tanyaku sambil membuka buku menu.
"Gue pengen koloke aja deh minumnya jus apel"
"Yaudah bentar aku pesen dulu" kataku beranjak berdiri menuju kasir.
"El aku pengen ngomong serius sama kamu"
"Ngomong apaan?" Tanyanya
"Aku suka sama kamu. Kamu wanita yang berhasil bikin hati aku penuh sama kamu. Kamu mau nggak jadi pacarku? Emang sih aku bukan cowok-"
"Aku mau kok Sat."
"Serius kamu mau?" Tanyaku memastikan
βIya sayangβ ucap Elina.
"Cie udah berani manggil sayang"
"Mulai deh ah" Kata Elina
"Aku janji sama kamu aku bakal jadi yang terbaik" Ucapku.
"Aku juga janji sama kamu. Aku bakal berusaha jadi pacar yang baik" .
"Permisi mbak mas ini pesanannya" Ucap pelayan itu lalu meletakkan pesanan mereka.
"Makasih" Ucapnya serempak.
Setelah makan dan berbincang-bincang sebentar. Gue mengantarkan Elina pulang.
"Hati-hati ya sayang. Ntar kalo sampek rumah kabarin aku"
"Pasti ntar aku langsung telpon kamu"kataku
10 menit kemudian.
__ADS_1
"Assalammualaikum" Ucapku
"Waalaikumsalam. Satria udah pulang? Mana Risa sama yang lain?" Tanya mami
"Loh belom pulang? Nggak tau mi tadi Satria nggak pulang sama mereka soalnya Satria ada urusan"
"Yaudah kamu naik gih mandi, terus istirahat" Ucap mami. Setelah itu gue mandi kemudian mengambil ponsel
Setelah berkabar-kabaran dengan Elina gue melanjutkan aktivitas gue dengan bermain game.
"Sat" panggil mommy.
"Ya mom, bentar"
"Kenapa?" tanyaku.
"Mommy mau pergi arisan, kamu jaga rumah ya"
"Lah bukannya kemarin udah?" tanyaku.
"Kapan? Ngaco deh. Inget jaga rumah, jangan kelayapan. Makan dulu kalo belum makan"
"Siap komandan. Mami kemana?" kataku.
"Mami lagi kebutik, ada client"
"Oke, mommy naik apa? Mau Satria anter?"
"Nggak usah biar mang Ujang aja. Kamu jaga rumah. Mommy berangkat dulu ya"
Dengan membawa handphone serta niat yang kuat aku menuruni tangga untuk menuju sofa.
Sebenarnya bisa saja aku menggunakan lift namun karena gue nggak mau tagihan listrik dirumah ini jadi bertambah gue memutuskan untuk menuruni tangga.
Hitung-hitung sebagai olahraga. Namun bukannya langsung menuju sofa gue mampir sebentar ke dapur dengan akad mau makan.
Namun disana tidak ada makanan, ada sih namun bahan mentah. Artinya bisa disimpulkan bahwa mommy menyuruhku untuk memasak.
"Gue gabut astaga" kataku sambil gulung-gulung disofa.
Gue akhirnya memutuskan untuk mengambil snack dan menonton film disebuah langganan saluran aplikasi.
"Assalamualaikum" kata Varo dan Azka yang datang secara bersama.
"Waalaikumsalam" jawabku tanpa melihat mereka.
"Kok sepi?" tanya Azka.
"Mami dibutik, mommy arisan"
"Risa?" tanya Varo.
"Belom balik"
__ADS_1
"Kok nggak dicari" kata Azka.
"Udah gede, nanti juga bisa pulang sendiri. Lagian kan belum juga malem"
"Yaudah oke. Eh-"
"Bisa nggak sih kalian nggak ganggu gue?" tanyaku.
"Kenapa sih?"
"Tau lo sensi amat sama kita" timpal Azka.
"Oh, tibang film doang aja" kata Varo enteng.
"Tau lo mending lo sekarang tidur aja. Simpen energi lo buat nanti malem" kata Azka.
"Buat apa?" tanyaku lalu menjeda film yang sedang kuputar tersebut.
"Nanti Nando kan balapan. Jadi ya kita harus hemat energi kalau-kalau nanti disana kita berantem kita nggak bubuk-bubuk banget gitu"
"Meskipun kita tau sampai kapanpun kita nggak akan pernah menang ngelawan GDM tapi seenggaknya kita bisa ngelawan"
"Nando jadi nerima tantangan itu?" tanyaku.
"Lo kan tau Nando anaknya keras kepala. Meskipun kita ngeyakinin Nando kayak apa dia bakalan tetep dateng"
"Gila, Gue tapi masih heran. Kenapa GDM nantang kita? Setau gue kita nggak pernah nyari masalah sama mereka" kataku.
"Lo lupa masalah Vero? Nathan? Banyak anak-anak yang cari masalah sama GDM. Kita selalu kecolongan" kata Varo.
"Iya bener, gimana kita bisa kecolongan" kata Azka heran.
"Udah biarin aja. Masalah yang lalu udah biarin berlalu, sekarang kita harus bisa cegah mereka supaya berfikir dulu sebelum bertindak." kataku.
"Kita ikutin dulu apa yang dipengen GDM dan keputusan yang udah diambil Nando. Kita support aja dia, kalo bisa kita cegah ya kita cegah kalo nggak bisa yaudah mau gimana lagi"
"Lo keren" kata Varo.
"Daridulu"
"Enggak, gue serius. Maksud gue lo diusia yang terbilang muda bahkan tuaan bang Azka walaupun terpaut beberapa bulan aja, tapi lo udah sedewasa ini bahkan lo lebih dewasa dari abang gue" kata Varo.
"Lu adik siapa sih anying, ngeselin. Lo niat muji gue apa mau jatuhin gue sih? Nggak ada wibawanya gue" kata Azka yang tak terima.
"Apaan sih bang? Bener kan?"
"Ya seenggaknya ada wibawanya sedikit kek diomongan lu" kata Azka.
"Iyaiya, ntar gue kasih lo sedikit wibawa"
"Gue keatas dulu" kataku.
Hii reader's...... Jangan lupa Like and vote nya yah.....π
__ADS_1
Next story......π§π§π§π§
Happy Reading....ππππ