The Magic Girlfriend

The Magic Girlfriend
cieee.. rebutan.!!


__ADS_3

"kamu..??"


Luna masih menatap tak percaya siapa yang menemuinya saat ini.


"apa??" tanyanya songong..


" nih aku bawain makanan buat kamu..!" lanjutnya dengan menyodorkan sekantong makanan yang berlebelkan nama restoran cepat saji yang terkenal pada kantongnya..


Dia tau, kalau makanan rumah sakit tidak akan membuat Luna berselera.


"hah?? ini beneran buat aku??"


"ya terus buat siapa lagi??" dia balik bertanya..


"apa aku tidak sedang bermimpi..?" Luna mengusap-usap matanya berulang kali


"rasanya mataku masih normal deh, kamu Satya kan??" Luna benar-benar belum yakin jika orang yang kini duduk menghadapnya adalah Satya. Orang yang sempat marah besar padanya karena kesalahan yang tak sengaja ia perbuat..


Bukannya menjawab, Satya malah menyentuh kening Luna menggunakan punggung tangannya..


"suhu tubuh kamu masih belum normal, kamu harus lebih banyak beristirahat..!"


Luna mengerjapkan matanya berulang kali, dan menyentuh keningnya sendiri. Seperti yang Fengying bilang, meskipun dia tidak merasakan apa-apa, tapi orang lain taunya dia masih sakit.


Tapi yang paling mengherankannya adalah, seorang Satya yang ia kenal angkuh dan berhati batu kali ini bersikap baik terhadapnya..


Sungguh Luna tak mampu berkata-kata.


benar-benar ajaib,,


apa ini ulahmu Feng??


gumam Luna membatin


"baiklah, ini sudah malam. cepat makan lalu kembali istirahat. aku pulang..!" imbuh Satya seraya beranjak berdiri untuk keluar..


"tunggu..!!" teriak Luna yang membuat Satya berhenti dan menoleh.


Satya menatap Luna menunggu kalimat yang ingin diucapkan gadis itu..


"apa kamu yang membawaku kesini..??" tanyanya ragu-ragu dan Satya hanya mengangguk pelan..


"terimakasih..!!"


Satya kembali mengangguk dan hanya mengatakan "iya..!" lalu pergi..


Luna masih termangu, dia tak pernah menyangka Satya akan melakukan ini untuknya. Jangankan berharap, membayangkannya saja tak pernah terlintas sedikitpun..


Apakah dia Satya yang aku kenal??


"heyy..!!"


Luna kembali tersentak dengan mengusap-usap dadanya karena kaget.


Lagi-lagi Feng muncul dengan tiba2.


"seneng banget ngagetin si ahh..??" omel Luna dengan memukul lengan Fengying karena gemas. Dan sipelaku hanya tertawa..


"kemana saja kau..?"


"ya menghindarlah..!" jawab Feng santai


"aku fikir cuma aku yang bisa melihatmu, dan orang lain tidak bisa..!" oceh Luna sambil memakan makanan yang Satya bawa


"memang iya,, cuma kamu yang bisa melihatku..!"


"terus, kenapa kamu pergi..!" tanya Luna penasaran


Feng menghela nafas pelan "baiklah kalau kau memaksa, lain kali aku tidak pergi..!"


Luna mencebikkan bibirnya "siapa juga yang maksa, mau pergi ya pergi aja..!" jawab Luna acuh tapi Feng malah tertawa geli..


"kau mau??" Luna mengacungkan sepotong ayam pada Fengying

__ADS_1


"tidak, sudah kubilang aku tidak memakan apapun yang ada didunia ini..!" tolaknya dengan mendorong tangan Luna yang masih mengacungkan sepotong ayam


"oh iya, aku lupa, hehe..!" tawanya dengan mulut penuh..


**


01:30


"Feng,, apa kamu yang membuat Satya jadi baik kepadaku??"


tanya Luna dengan menatap langit2 ruang inapnya yang ternyata ia tak bisa tidur lagi setelah ia menyelesaikan makannya


"tidak..!" jawab Feng santai yang setia menemani Luna


"tapi kenapa dia tiba2 baik padaku?" Luna menoleh


"asal kau tau, aku memang bisa melakukan apa saja, tapi tidak dengan merubah hati seseorang!"


"tapi kamu tidak pernah memberikan apa yang aku inginkan..!" sindir Luna dengan memanyunkan bibirnya


"heh.. sudah kubilang, aku hanya membantu sebatas wajar saja Luna..!"


Gadis yang terlihat sehat-sehat saja itu menggembungkan pipinya karena kesal dengan melipat tangannya didada. Feng hanya tersenyum melihat wajahnya yang begitu menggemaskan..


"tapi aku masih belum mengerti dengan sikap Satya yang berubah drastis, sebenarnya dia kenapa ya..??" Luna menggaruk keningnya yang tak gatal menggunakan telunjuk mencoba berfikir..


"ohh.. aku tau Luna..!" seru Feng dengan melipat tangannya ditepi tempat tidur Luna. Dan dengan antusiasnya Luna ikut mendekat karena penasaran dengan apa yang akan Feng katakan..


"kau tau apa Feng..??" tanya Luna begitu penasaran


"mungkin saja Satya sengaja agar kamu tak sanggup membayar dan sebagai gantinya dia akan menjadikan kamu sebagai budaknya..!" ujar Feng menakuti Luna. Dan bodohnya, gadis itu nampaknya percaya..


"APA..???" seketika wajah Luna berubah histeris, dan Feng memperhatikan Luna dengan menahan tawanya..


"kau benar Feng, Satya masih dendam padaku...


Oh Tuhaaan.. kenapa aku baru menyadarinya..!" Luna terlihat semakin frustasi


"bagaimana ini..?? apa yang harus aku lakukan..??"


"lakukan sesuatu Feng, jangan diam saja. Apa kamu benar-benar ingin aku mati berdiri hah..??" cerocos Luna yang semakin dibuat kesal karena Feng terus mengacuhkannya


"sudahlah, tak ada yang perlu kau takutkan. aku sudah berjanji akan menjagamu..!" ucap Feng dengan mengusap puncak kepala Luna.


"kau janji..??"


"iya, janji.. sekarang tidurlah..!" titahnya yang langsung diangguki gadis bermata kebiruan itu.


Luna membaringkan tubuhnya dan tidur menyamping membelakangi Feng yang masih duduk menghadapnya..


aku berjanji akan membantumu menemukan kebahagiaan mu didunia ini, hingga saatnya tiba kau harus ikut bersamaku..


ucap Feng dalam batinnya dengan menyelimuti tubuh Luna hingga batas lehernya.


***


Sudah tiga hari Luna menginap dirumah sakit. Kejenuhan hampir membuatnya gila. Selama itu pula Satya selalu menjenguknya dengan membawakan makanan yang berbeda..


"sus.. kapan aku bisa pulang?? aku sudah sembuh lho ini..!" rengek Luna yang kesekian kalinya setiap ada suster yang mengecek kondisinya.


"sabar nona,, tunggu sampai dokter bilang boleh ya..!" ujarnya dengan tersenyum ramah kemudian meninggalkannya..


"Feeengg... pengen pulaaang...!" rengekannya beralih pada pria berambut putih dan panjang dengan mengenakan pakaian khasnya yang kini sedang rebahan disofa ruangan Luna..


"tunggulah sebentar lagi, dengarkan ucapan wanita cantik itu tadi. S-A-B-A-R., sabar..!!"


Luna berdecak kesal.. "aku kan gak sakit Feng, kenapa menginap dusini lama sekali..!?" gerutunya yang membuat Feng beranjak dari rebahannya


"kau ini cerewet sekali, tunggulah sebentar lagi, nanti juga kamu akan tau sendiri!" ucapnya yang ikut kesal karena lelah mendengar rengekan Luna..


"huwaaa...pengen pulaaaangg...!!"


rengeknya sekali lagi yang membuat Feng meringis dengan menutup telinganya menggunakan dua tangan..

__ADS_1


ceklekk


Suara pintu terbuka, dan Luna meyakini orang itu adalah Satya seperti biasanya. Sejujurnya Luna merasa takut setiap kali Satya berbuat baik padanya, karena takut suatu saat Satya akan meminta imbalan atas apa yang sudah ia lakukan untuk Luna.


Namun tak seperti dugaannya, seseorang yang masuk ke ruangannya adalah Devin dengan wajah panik yang diikuti Chery dibelakangnya..


"Luna, bagaimana keadaan kamu? kenapa tak memberiku kabar..?" Devin terlihat sangat khawatir..


Luna tak mampu berkata-kata, entah ekspresi apa yang mampu menggambarkan perasaan Luna saat ini. Jiwanya terasa terawang kala pemuda tampan yang disukainya sangat mengkhawatirkannya..


"a..aku.. sudah baikan kak..!" jawab Luna kaku


"syukurlah, lain kali kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk menghubungiku..ya?!"


Luna menipiskan bibirnya dan mengangguk pelan. Jantungnya semakin meronta saat Devin mengusap kepalanya dengan lembut.


Dan heyy.. bagaimana dengan Chery??


Gadis itu terkesima dengan ruangan rumah sakit yang ditempati Luna saai ini, sahabat Luna itu masih tak percaya. Tempat itu lebih cocok disebut kamar hotel dibanding kamar rumah sakit.


"Luna,, bagaimana bisa kamu menempati ruangan sekeren ini..?" tanya Chery dengan antusiasnya..


Luna menepuk keningnya sambil menggeleng kepala..


bukannya menjawab, Luna malah memberinya pertanyaan balik


"apa kau tidak ingin tau keadaanku..hmm?"


Chery spontan memamerkan deretan gigi putihnya..


"iya.. iya Luna,, bagaimana keadaan mu? sudah lebih baik??"


"basi.!!" jawab Luna ketus dan mendapat cebikan bibir dari gadis imut itu..


Namun rasa keingintahuannya lebih mendominasi dari apapun..


"ehh.. aku serius Luna, kenapa kau bisa berada ditempat seperti ini, keren sekali..??" tanya Chery dengan wajah polosnya.


"iya Luna, siapa yang membawamu kesini..??" sambung Devin yang juga penasaran..


"emm... itu.. e... yang bawa aku kesini itu Satya..!!"


"APA..??" tanya Devin dan Chery bersamaan..


"bagaimana bisa dia membawamu kesini..??" Devin sama sekali tidak menyangka Satya lah yang membawa Luna kesana.


"aku juga belum mengerti, dia bilang cuma ingin menolongku, itu saja..!" jawab Luna canggung dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"ya sudah, jangan khawatir. nanti aku saja yang membayar semuanya..!" ujar Devin menenangkan Luna


"tidak...!! aku yang bawa dia kesini, jadi aku yang bertanggung jawab..!"


Serempak mereka bertiga menoleh kearah suara dibelakang mereka.


Seorang Satya sudah berdiri tegap menatap Devin dengan tatapan penuh kebencian.


Aura ruangan itu pun berubah kelam..


Satya mendekat dan meletakkan makanan yang ia bawa dimeja samping tempat tidur Luna


"tidak apa apa Sat, biar aku saja yang membayar tagihannya..!"


"sudah ku katakan ini tanggung jawabku..!" bentak Satya yang menanggapi ucapan santai dari Devin..


Mereka yang saling tatap membuat Luna bertanya-tanya. Devin dan Satya memang tidak berteman. Tapi dari cara mereka bersitatap, mereka lebih terlihat seperti pasangan musuh. Padahal selama ini mereka tak pernah terlihat bermasalah bahkan tidak bertegur sapa sama sekali.


Jangan tanya bagaimana ekspresi Chery. Belum selesai keterkejutannya tentang Satya, kini ia semakin terperangah dengan perdebatan dua orang pemuda tampan yang memperebutkan tanggung jawab atas sahabatnya yang tidak cantik itu.


*Luna,, kau ajaib..!!


bersambung*


_______________________________________

__ADS_1


jangan lupa kasih Like n komentar ya..


Salam lope lope 💕💕😙


__ADS_2