
🏀
"Aaawww... semangat...!!
"Aaaaaaaa... ayo semangat..!!
"yeeeee... huuuu....!!"
Sorak soray di lapangan basket bergemuruh dipenuhi kaum hawa yang bergerombol dimana-mana..
Teriakan histeris para gadis disana yang menyaksikan pertandingan basket di waktu istirahat itu membuatku pusing..
"berhentilah berteriak.. aku bisa tuli..!"
bentak Luna pada Chery yang duduk bersebelahan dengannya...
"dasar kau ini.. hanya dirimu yang tak bersorak untuk menyemangatinya disini...!" bantahnya tak peduli dengan omelan Luna dan masih terus bersorak soray untuk seorang most wanted di sekolah mereka..
Ya.. saat ini Luna tengah berada di ujung kursi penonton bersama Chery yang tentu saja karena dia memaksa Luna untuk menemaninya. Bahkan Cherry tak mengijinkan Luna berganti pakaian dan kini ia masih mengenakan seragam olahraga lengkap dengan handuk kecil dibahunya yang biasa ia pakai untuk menyeka keringatnya..
"aku heran.. bukan pertandingan resmi saja hebohnya minta ampun..!" dumel Luna menyaksikan antusias para gadis yang menyaksikan permainan basket hari itu yang bahkan pemainnya saja masih memakai seragam sekolah.. cuaca yang sedikit mendung mendukung mereka bermain basket di jam istirahat.
Keramaian itu karena adanya Satya disana..
Hampir semua gadis menyukainya.. bahkan dia menjadi daya tarik dari gadis di sekolah lain.. namun belum ada yang bisa menaklukannya..
"kau lihat.. dia tampan sekalii...!" Chery memukul-mukul bahu Luna karena gemas. Matanya berbinar saat menatap pria yang banyak digandrungi gadis itu.. dan Luna hanya merotasikan matanya malas..😒
"tampan kak Devin kemana-mana kali..!" celetuk Luna ketus..
"ahh.. kau ini.. itu karena matamu belum terbuka sepenuhnya.. yang kau lihat hanya Devin dan Devin lagi..!"
"apa kau tak bisa lihat betapa tampannya Devinku itu, hah..?" bela Luna
"haiisshh.. tentu saja aku tau.. tapi dimataku Satya lebih mempesona..!"
Chery mengaguminya dengan wajah tersenyum malu-malu membuat Luna merasa mual..
"aku juga tau dia tampan pintar dan juga kaya.. tapi dia itu seperti monster yang kejam.. tidak seperti Devin yang selalu jadi malaikat penolongku..!"
aku tak mau Devin yang sangat baik hati di banding-bandingkan dengan Satya yang jauh dari kata baik..
"heh.. kau harus ingat.. dia kejam hanya pada orang yang melakukan kesalahan kepadanya.. dan dia tak pernah berurusan dengan wanita..!"
"ya ya ya.. karena itu juga setiap wanita merasa kecewa karena selalu di acuhkan olehnya.. benarkan??"
Chery mencebikkan bibirnya tak menjawab karena ucapan Luna memanglah benar.
Tapi yang lebih mengherankan.. kenapa mereka masih mengejar pria sombong itu..? batin Luna
Tak habis fikir pada para gadis yang seolah tak punya rasa sakit hati atas perlakuan Satya pada mereka yang selalu bersikap kasar saat menolak mereka mentah-mentah..
"jangan sampe deh Satya jadi artis, kalo tidak maka seantero negri ini pasti jadi pesaingku. Oh Satya,, aku juga akan selalu menyukaimu setiap hari..!" celoteh Chery masih dengan mata berbinar tak peduli dengan setiap ucapan Luna dan itu mampu membuat ia bergidik..
Chery yang sedang bersorak ria mendadak terhenti saat ada tiga gadis berdiri tepat dihadapan Luna..
ia menelusuri sosok dihadapannya dari bawah sampai atas.. dan Luna senyum dengan senyuman yang tercetak terpaksanya dibibirnya..
Mungkin beberapa hari kebelakang Luna bisa selamat.. namun kali ini Luna tak yakin untuk keselamatannya sendiri..
"HEH...!!"
gadis bernama Fetty menatap tajam arah Chery mengisyaratkan untuknya segera menyingkir..
"hehehe.. Luna, aku bantu mendoakan mu dari kantin oke?.. semangat.!!" bisiknya pada Luna sebelum ia berlari meninggalkan Luna bersama tiga senior super galak itu..
"sekarang kau tak bisa lari lagi Luna..!"
Maura membuka pembicaraan dengan nada santai namun tatapannya tajam dengan tangannya yang menyilang didada..
"kak.. apa kau masih penasaran dengan 'itu'..?"
tanyanya sedikit ragu dengan wajah yang mendongak..
"tentu saja..!" jawabnya singkat
Luna berdiri dan kini mereka saling berhadapan.. sebisa mungkin Luna harus bisa membuatnya menyerah..
"kak.. hal seperti itu tidak ada.. dan sebenarnya aku tak tau apa-apa tentang itu.!"
Maura spontan melotot dan memelintir pergelangan tangan Luna hingga memekik kesakitan.
"a..a..a..aaah.. dukunnya sudah tak ada kak..!" jawab Luna sedapatnya dan berhasil membuat Maura melepaskan cengkramannya.
__ADS_1
Fetty dan Fera menganga dengan jawaban Luna.. sebenarnya mereka tak tau masalah apa yang Luna bahas bersama Maura..
Dia kembali menarik tangan Luna ke arah toilet wanita. Meski belum paham, Fetty dan Fera tetap menuruti perintah Maura untuk berjaga di depan pintu masuk..
"kenapa kita kesini kak..?" tanyanya heran setelah berada didalam toilet..
"aku tak mau jadi pusat perhatian dan disini Davin tak bisa melihatmu..!"
Maura menekan setiap kata-katanya dengan menatap tajam padanya..
Luna bersandar di tembok dengan kaki sedikit bergetar membayangkan apa yang akan Maura lakuakan padanya didalam sana.
"apa maksudmu dukunnya sudah tak ada?? apa dia mati.. hah..??"
Maura membentak sampai Luna menutup mata menahan kaget..
"kak.. saat aku pulang dia sudah tak ada..!" kilahnya dengan gemetaran..
"kalu begitu berikan milikmu..!" kini nadanya mulai rendah..
"kak.. percayalah.. aku tak punya benda seperti itu..!" Luna mulai frustasi
"apa..?? percaya..??
dulu kamu meyakinkanku untuk percaya.. tapi sekarang kau memintaku untuk tidak mempercayainya...!! hebat sekali kau mempermainkanku Luna..!"
tangannya mengawang bersiap memberiku sebuah tamparan.
tapi ketukan di pintu menghentikannya..
"apa..?" maura berteriak..
"De.. devin mencarimu..!" melihat aura iblis di mata Maura membuat Fera berkata dengan terbata-bata ..
Hanya hitungan detik wajah Maura berubah menjadi manis menggemaskan seperti barbie dan ingin rasanya Luna mendandani wajahnya dengan tepung kanji..😡
"aku akan membuat perhitangan denganmu pulang sekolah nanti.. ingat itu..!"
wajahnya kembali menyeramkan saat menatap Luna.. tapi lagi-lagi Devin menyelamatkannya. kini maura pergi dan Luna ambruk melemas..
"apa jadinya aku setelah ini...!"
* * *
"eh.. apa yang terjadi padamu? kau baik-baik saja..?"
Chery panik melihat ia datang yang langsung membenamkan wajahnya diatas meja..
"apa kau pikir setelah bertemu Maura aku akan baik-baik saja..?" tanyanya balik masih dengan wajah menunduk.
"haiisshh.. sebenar apa yang membuat senior Maura begitu mengincarmu..hmm??"
Luna mendongak dan melihat kanan kiri.. dengan sedikit memajukan wajahnya dan di balas Chery yang ikut mendekat, Luna pun berbisik..
"Maura minta jimat pemikat cinta kepadaku..!"
"APA..??"
"sshhtt.. sssshhhtt... pelankan suaramu..!" pekik Luna
"apa maksudmu jimat pemikat itu..??"
Luna menghela nafas dan menyandarkan penggungnya di kursi..
"sebenarnya selepas ujian semester lalu Maura menindasku.. dia hampir menceburkanku ke dalam kolam..!" ceritanya pada Chery
"kenapa..??"
"kau tau kan Maura menyukai Devin?? dia itu marah padaku karena Devin selalu melindungiku.. sebelum dia memasukanku kedalam air, aku asal bicara kalau aku punya jimat yang bisa membuat Davin dekat dengan diriku..!"
"aaah.. kau tidak benar2 memilikinya..??"
"tentu saja tidak.. aku terpaksa.. kalau aku tak mengatakan itu mungkin aku sudah mati di dasar kolam..!" jawabnya dengan gaya dramatis yang membuat Chery spontan menciut..
"dan parahnya, dia percaya kalau aku mendapatkan benda itu dari kampungku. karena itu dia menagih benda yang ku janjikan itu...!"
"kenapa juga harus pake janji..??" nada Chery meninggi karena gemas..
"sudah kubilang aku terpaksa.. dan rasanya sekarang aku ingin melarikan diri sejauh mungkin.."
"kemana emang??" tanyanya dengan nada meledek
"ke planet mars mungkin..!"
__ADS_1
Chery tertawa..
"naik apa..hah??"
"TERBANG..!" jawabnya semangat dengan membentangkan tangan dan__
bhukk
"ahh... sial..!"
Luna berbalik melihat siapa yang terkena pukulan tangannya..
Dan seketika wajahnya berubah memucat..
"Ya Tuhan!!"
Luna hampir tak percaya jika tangannya yang melayang mengenai Satya yang sedang berjalan dari arah belakang..
Wajahnya basah kerena tumpahan minuman yang ia bawa.. sangat menyeramkan melihat ekspresi wajahnya yang terlihat sangat geram....
Luna seakan melihat bola api didalam matanya..
"Oh.. maaf.. maaf.. aku tak sengaja..!"
reflek tangannya membersihkan wajah Satya dengan handuk kecil milinya..
"HENTIKAN..!!" teriaknya lantang..
Wajahnya merah padam dan tatapannya sungguh mengerikan..
Luna menghentikan aksinya karena terkejut dengan bentakan pria berwajah blestran itu..
"handukmu itu bisa merusak wajahku..!!"
dia mengambil paksa haduk ditangan Luna yang masih mengawang dan melemparkannya ke atas lantai..
Semua mata menatap Luna tajam seperti anak panah yang menghujaninya..
"a.. aku minta maaf..! sungguh, aku tak sengaja.."
"kau sudah merusak wajahku, dasar gadis bodoh!" teriaknya lagi memaki
Luna memperhatikan wajahnya dan tak ada sedikitpun yang berubah.. ia tetap tampan seperti semula..
"hey.. apanya yang rusak.. wajahmu itu tak ada yang berubah sedikitpun..! apa kau butuh cermin hah..??"
Luna mulai kesal karena dia terlalu melebihkan..
"kau harus bertanggung jawab jika terjadi sesuatu pada wajahku..!"
"sudah ku bilang kau ini tidak apa-apa..!"
"jaga bicaramu.. jangan berteriak didepanku..!"
"kau yang duluan berteriak..!"
"beraninya kau.. dasar gadis gila..!!"
"heh.. kau yang harus jaga bicaramu.. mungkin aku bodoh tapi aku tidak gila..!"
Suasana pun memanas.. tatapan yang sama tajamnya seakan saling menusuk..
tak ada yang seberani ini padaku sebelumnya.. gadis ini sudah mempermalukanku..
Satya mengepalkan tangan menahan emosinya..
"awas kau.. kita belum selesai..!!"
Satya pergi diikuti antek-anteknya meninggalkan kantin dengan rasa jengkel..
Luna terduduk semakin lemas..
"apa yang sudah kulakukan??"
Chery tak mampu berkata-kata.
ia tak menyangka kalau sahabatnya bisa seberani itu.
Lula menggeram kesal, membayangkan hukuman Maura saja membuatnya takut.. dan sekarang ia berurusan dengan monster sekolah.. itu sama saja dia menggali kuburannya sendiri..
MENYEBALKAAAANNNN..!!!
__________________________________
__ADS_1
jangan lupa kasih semangat dengan like n komen ya.. makasih😙