The Magic Girlfriend

The Magic Girlfriend
berlian yang tersembunyi


__ADS_3

"Aarrgghhhhh....."


Fengying yang terhuyung mengerang memegangi dadanya dengan bertumpu pada salah satu lututnya. Tubuhnya tak berdaya menahan rasa sakit yang teramat hebat seakan puluhan pedang berhasil mengujam tepat dijantungnya.


"jangan bilang kau tidak tau konsekuensinya Feng...!" sesosok cahaya yang bersinar terang dihadapan Fengying membuatnya mendongak.


"memangnya dimana kesalahanku?" Fengying menatap dingin sosok bercahaya dihadapannya.


"berhenti bersikap bodoh Feng, aku sudah memberimu kesempatan untuk bertemu reinkarnasi YangMi, tapi bukan untuk merubah takdirnya..!"


Fengying terdiam masih dengan menahan rasa sakit didadanya. Sosok bercahaya yang tak lain adalah Dewi Cahaya memang benar.


Feng sudah tau kalau perbuatannya yang menyelamatkan Luna dari hantaman truk pagi itu sudah menyalahi takdir sang gadis yang mungkin harus berakhir saat itu.


Dan inilah yang harus Fengying rasakan, jika sekali lagi dia menggunakan kekuatannya untuk merubah takdir, maka dia harus bersedia untuk 'MUSNAH'.


"tapi aku ingin dia hidup!" pekik Fengying dalam kelemahannya.


"Aku tau Feng, Aku juga tau semua yang terjadi dalam hidupnya ada campur tanganmu dan aku masih bisa memaafkan. Tapi tidak dengan tindakan besar seperti itu. Takdir tetaplah takdir, semuanya sudah tertulis digaris kehidupannya. Tidak bisa dirubah dan kau berani merubah segalanya. Keseimbangan diantara dua dimensi bisa berubah karena tindakanmu Pangeran Fengying!"


Dewi Cahaya menatap tajam kearahnya.


"To..tolong izinkan aku kembali kedunia manusia. Ak..aku sudah berjanji akan melindunginya. Setidaknya, dia harus hidup sa..sampai menemukan kebagiaannya" ucap Feng terbata dengan menahan rasa sakitnya.


Dewi Cahaya menyeringai


"bukankah kau menginginkannya? kenapa kau ingin dia bahagia didunia? bukannya akan lebih baik jika kau membiarkan dia mati dan kau bisa membawa jiwanya kembali?"


Fengying tertegun.


Bukan cara seperti itu yang ia inginkan.


Feng ingin Luna ikut kembali kedunianya atas keinginannya sendiri. Dan sebelum itu, Feng ingin membahagiakan Luna didunia nyata sebelum gadis itu benar-benar ikut kembali bersamanya.


"tolong aku Dewi, biarkan aku menyelesaikan tugasku" ucapnya penuh permohonan.


Dewi Cahaya mulai berfikir.


Bagaimanapun juga, Fengying adalah pangeran negeri cahaya yang kelak akan menguasai segalanya.


Dan dengan membiarkan Feng hidup didunia justru akan membahayakannya jiwanya sendiri.


Rasa cinta bisa membutakannya, bukan tidak mungkin Feng akan mengorbankan jiwanya demi wanita yang ia cintai. Kenyataannya mungkin akan berlainan dari apa yang Fengying rencanakan sebelumnya.


"Baiklah..!" ucap Dewi Cahaya setelah ia cukup lama berfikir.


"aku akan memberimu satu kesempatan lagi. Tapi kau harus ingat, sekali lagi kau menyalah gunakan kekuatanmu. Maka kau harus siap untuk musnah dari dunia nyata dan tak akan pernah bisa kembali." ujarnya memperingatkan.


Fengying tau akan hal itu, dan akan menggunakan kesempatan yang Dewi Cahaya berikan sebaik mungkin. Dia harus bisa meyakinkan Luna untuk ikut bersamanya.


"sekarang tetaplah didalam giok sementara waktu untuk memulihkan kekuatanmu. Jangan coba keluar sebelum kau pulih."


"Baik Dewi, tapi apa aku boleh meminta satu kuasa lagi?" pinta Fengying dengan menengadahkan wajahnya menatap sosok cahaya dihadapannya.


"apa?" tanyanya datar.


"berikan aku kuasa untuk menjadi manusia sementara!"


"APA??" Dewi sangat terkejut dengan permintaan Fengying

__ADS_1


"Apa kau sudah gila Feng?" tatapan matanya jelas mengatakan ketidaksukaannya dengan permintaan Feng.


"Tidak Dewi, dan aku tau konsekuensinya!" jawab Feng yakin.


☘☘


tok tok tok


"Feenggg... apa kau mendengarku?" Luna mengetuk-ngetuk batu gioknya berharap mendapat respon dari Fengying.


Sudah beberapa kali Luna melakukan itu, bahkan semalam diapun melakukannya berulang kali. Tapi tetap saja sosok putih nan tampan itu tidak muncul juga.


Jujur saja, Luna merasa khawatir. Sejak kehadiran Feng dalam hidupnya, baru kali ini Feng menghilang tanpa sebab. Tentu saja karena Luna tidak tau permasalahan yang saat ini dihadapi Feng.


"ahh.. Feng.. kau kemana?" ucapnya lemah seraya meraih tas sekolahnya yang sudah ia siapkan lalu menggendongnya.


Tak lupa ia mengenakan masker seperti yang Satya sarankan.


Luna menuruni tangga dengan langkah tak bersemangat. Terasa ada yang kurang tanpa ucapan Feng yang selalu menyemangatinya sebelum ia pergi kesekolah.


Meski awalnya kesal, lambat laun justru membuat Luna membutuhkannya.


"Luna..!"


Gadis itu menoleh saat namanya dipanggil


"bibi??"


waduh.. kenapa bibi pemilik kost mencariku lagi? bukankah kemarin Satya sudah membayarkan sewanya?


ada apa lagi ini?


Luna sudah mulai panik.


"kamu mau kesekolah ya?" tanyanya ramah


Luna mengangguk


"pasti kamu belum sarapan kan? ini bibi buatkan sarapan untukmu!" ucapnya dengan menyodorkan kotak bekal kearah Luna dengan dibumbui senyuman manis semanis gulali.


eh..kenapa dia bisa sebaik ini??


"ta..tapi aku harus cepat berangkat bi, aku____"


"ah.. tidak apa, bawa saja kesekolah. ini roti panggang selai kacang buatanku sendiri. makan disekolah ya..!"


waw..


apakah dia benar-benar pemilik kost yang aku kenal?


tapi selai kacang? ahh sayang sekali aku tidak bisa memakannya.


"terimakasih bi" ucap Luna tulus dengan tetap menerima pemberiannya.


"jangan sungkan Luna. Oh iya, sering-sering ajak teman kamu yang tampan itu, ajak dia main kerumahku juga. Nanti kita bisa makan malam bersama, ya!"


ya ya ya, seharusnya aku menyadari hal itu. Tidak mungkin dia begitu baik padaku seperti sekarang kalau bukan karena Satya. Saat ibu tiriku mentransfer uang saja dia tidak sebaik itu.


Aku jadi penasaran, apa saja yang sudah Satya berikan sampai bisa merubahnya jadi sangat manis padaku?

__ADS_1


Lunapun berlalu setelah berterimakasih untuk yang kedua kalinya.


"dasar bodoh!" umpatnya dengan menepuk kepalanya sendiri setelah cukup lama berfikir.


Sepanjang perjalanannya ke sekolah Luna merutuki kebodohannya yang membiarkan Satya membayar sewa rumahnya. Bukan tidak mungkin kan pemuda itu akan kembali meminta imbalan?


Luna menghela nafas berat, "apa yang harus aku katakan jika bertemu dengannya nanti?" gumam gadis berpakaian seragam sekolah itu sambil menatap pintu gerbang sekolahnya.


ciiitttttt....


decitan kendaraan roda empat yang berhenti mendadak membuat Luna terperanjat kaget dan menoleh.


"sedang apa kau disana, minggir!!" tetiak gadis berkacamata hitam dengan menyumbulkan kepalanya dijendela mobil.


Tanpa diminta dua kali, gadis bermata kebiruan itu minggir teratur.


"huh, gadis miskin, bodoh dan jelek sepertimu masih saja bertahan disekolah sekeren ini!" cibir sipemilik mobil dengan sedikit menurunkan kacamatanya menatap sinis saat kendaraannya melewati Luna yang berdiri disisi jalan.


Siapa lagi kalau bukan Maura?


ya, aku tau!


tapi apa hubungannya denganmu, bicaramu seperti membiayai hidupku saja?


ucap Luna yang hanya bisa membalas cibirannya dalam hati.


-ditempat lain-


"wiihh.. tumben jam segini udah ada sekolah! biasanya juga terakhiran" ledek Dion yang melihat Satya sudah menduduki kursinya saat ia memasuki kelas.


Satya hanya melirik sekilas ketiga temanya yang masuk bersamaan


"gak usah komen!" balas Satya acuh.


"kemaren tante Shinta telfonin kita terus. Gue telfon lu juga gak diangkat-angkat. Ngilang kemana si lu?" tanya Bian yang menarik kursi samping Satya dan mendudukinya.


"gue gak nyangka, ternyata kemaren gue berada ditempat berlian yang tersembunyi" ucapnya dengan menaikkan sudut bibirnya dan tatapan yang menerawang.


"gila, lu dapet harta karun Sat??" Gio antusias


"kenapa gak ngajakin kita? bagi-bagi lah..!"


Spontan Satya menatap Gio dengan mata mendeliknya. Jelas sekali dia tidak suka candaan Gio.


"eitss.. sabar bro.. gue cuma bercanda, hehe" ucap Gio yang sadar situasi dengan mengacungkan dua jari.


"berlian tersembunyi apa maksud lu?" Dion penasaran


"pokoknya, lu bertiga harus bantuin gue jagain tu berlian. Jangan sampe ada yang nyentuh dia apalagi ngerebutnya dari gue. Karena berlian itu akan jadi mainan baru gue!"


Dion dan Gio hanya mengangguk meski belum sepenuhnya mengerti. Toh yang diucapkan Satya tetap harus mendapatnkan jwaban 'iya' kan?


Tapi lain dengan Bian, sikap Satya yang sangat tidak biasa membuatnya semakin tertarik. Berlian yang Satya maksud pasti bukanlah sebuah barang seperti yang difikirkan teman-temannya.


Siapa sih si Berlian itu??


bersambung


☘☘

__ADS_1


bantu Like Komen n Vote doongg


😙😙


__ADS_2