
📄
"namanya Syakiya Luna Haniya, putri dari pasangan tuan Bayu dan nyonya Maryam. Lahir tiga hari setelah kelahiran nona kecil..!"
Lebih tepatnya bertepatan dengan hari dimana kecelakaan yang terjadi pada tuan muda Ikhsan dan nona muda Shanty yang juga merenggut nyawa nona kecil mereka yang tak lain adalah orangtua Devin dan adiknya..
"nona Luna lahir dan tinggal dikota SS bersama kedua orang tuanya. Tapi nyonya Maryam meninggal saat nona Luna masih kecil, Tuan..!"
Abimana mendengarkan sambil melihat berkas identitas Luna yang diberikan orang suruhannya..
matanya mirip sekali, tapi ternyata wajahnya tidak secantik yang kubayangkan. aku tak bisa melihatnya kemarin..
gumam Abimana dalam hati menyesali karena Luna mengenakan masker saat itu.
"tapi tuan Bayu sudah menikah lagi dengan nyonya Ramona yang sudah memiliki putri bernama Keisya. Dan sepertinya mereka tidak menyulain nona Luna sampai menyekolahkan nya dikota ini agar dia berjauhan dengan ayahnya..!"
Abimana mengangguk paham lalu meletakkan berkas itu diatas meja kerjanya dan terdengar mendesah pelan..
"sepertinya dugaanku salah..!" ucapnya dengan melepas kacamatanya lalu menutup mata sambil memijit pangkal hidungnya..
Pria tua itu terlihat lelah..
"tuan, apa anda berfikir kalau______"
kalimat itu terputus saat Abimana mengangkat tangannya yang membuat orang yang berdiri didepannya seketika diam..
"jangan mendahului, kau tidak tau apa yang aku fikirkan..!"
ucapnya tanpa menatap pria itu..
"maaf tuan..!" sesalnya dengan membungkuk hormat..
"tugasmu hanya mencari informasi, jangan menebak apapun ataupun menduga-duga, sekarang pergilah..!"
Orang itu membungkuk sekali lagi kemudian pergi meninggalkan tuannya yang terlihat sangat kecewa. Walaupun hasil dari rasa penasarannya tidak memuaskan, tapi setidaknya dia sudah berusaha..
"maafkan papa Shanty.. papa mengecewakanmu..!" ucap Abimana sambil menyentuh foto putri dan menantunya yang sudah tiada..
⛅⛅
"ahh.. segar sekali...!" ucap Luna riang yang membuat sesosok disampingnya juga ikut tersenyum.
Mereka berjalan beriringan di area taman kota untuk menikmati pagi diakhir pekan..
"kau lihat kan Feng, dunia ini tidak kalah indah dari duniamu yang kau ceritakan itu..!" Luna menyombongkan keindahan dunianya ..
"tetap saja duniaku lebih bagus, tidak ada asap menyengat dan bau seperti ini, bikin sesak nafas saja..!" balas Feng tak mau kalah dengan mengibaskan tangannya didepan hidung..
Luna berdecak, ia berjalan mundur dengan memasukan tangan disaku hoodienya..
"didunia ini juga ada tempat seperti itu Feng, air terjun.. taman bunga yang luas.. binatang liar yang menggemaskan dan ahh.. semua itu ada, tapi bukan diperkotaan, dan kau harus pergi kepegunungan jika tidak mau ada polusi seperti disini....!" ucapnya yang kemudian berbalik kembali berjalan beriringan dengan Fengying..
"kalau begitu, kita kesana saja sekarang..!" ucap Fengying bersemangat
"aaa.. mana bisa, hari ini aku harus ke cafe. akhir pekan biasanya sangat ramai pengunjung, kak Devin pasti sudah menungguku..!" tolak Luna..
"sebentar saja Luna..!" sosok berwujud serba putih itu menahannya.
Luna berdecak lagi lalu berhenti..
"kau pikir ketempat seperti itu hanya butuh waktu hitungan detik hm?" melipat tangannya didada dengan tatapan menantang..
Dan sosok berambut putih panjang itu menanggapinya dengan senyum menyeringai..
"apa kau lupa kalau aku ini bisa melakukan apa saja??" balik bertanya dengan bersidekap sama seperti yang Luna lakukan..
" bisa melakukan apa saja apanya?? aku minta kau mendatangkan makanan saja tidak bisa..!" cibir Luna
"baik, aku akan datangkan berbagai makanan sekarang juga..!" menantang balik...
"dasar bodoh, kau lupa kalau diperutku sudah ada bubur, hah??"
sengaja sekli menawariku makanan setelah aku sarapan.😡
Feng menahan tawa..
Orang yang melewati Luna terlihat heran sambil bergidik. Sepertinya gadis ini gila, kurang lebih begitulah arti tatapan mata mereka yang tidak tau karena tak bisa melihat adanya Fengying..
__ADS_1
Sosok tampan itu tertawa lepas dan langsung mendapat pukulan bertubi-tubi dari Luna dengan gemasnya..
"ampun Luna..!" ucapnya dengan membuat pertahanan diri dengan tangannya namun tidak bisa untuk berhenti tertawa..
"senang kau ya melihat aku dianggap aneh oleh mereka..!"
"hahaha... lalu aku harus bagaimana??"
Fikiran aneh Luna tiba2 muncul, entah cuma untuk mengerjai atau ingin melihat kemampuannya, tapi pertanyaan itu ia ucapkan juga..
"apa kau bisa menampakkan diri seperti manusia biasa??"
Seketika tawa Fengying terhenti..
"tapi,,, aku kan bukan manusia..!" jawabannya terdengar ragu..
Luna menghela nafas.. "ya, aku tau. Sudah kuduga kau tidak mungkin berubah wujud seperti manusia. orang akan selalu berfikiran aneh kalau aku berbicara denganmu..!" Luna berjalan cepat untuk mendahului Feng karena sedikit kesal..
"heyy.. kau bisa meminta apapun asal jangan memintaku berubah wujud menjadi manusia..!" Feng mengejar
"tidak, terimakasih..!" jawabLuna yang tengak tengok kanan kiri hendak menyebrang dengan mengacuhkan Feng yang sudah ada disampingnya..
"katakan apa yang kau inginkan, aku akan mengabulkannya..!" berharap Luna meminta yang lain asal jangan meminta hal yang ia ucapkan beberapa saat tadi..
"ah.. sudahlah.. lupakan..!"
Luna mulai melangkahkan kakinya di jalan raya untuk menyebranginya.
Namun tanpa Fengying sadari sebuah truk barang melaju dengan kencang dari arah kanan Luna. Sepertinya si pengemudi dalam keadaan kantuk karena begadang semalaman.
tiiiiddd.....
suara klakson panjang menjadi pusat perhatian, nampaknya pengemudi truk itu juga terkejut melihat penyebrang didepannya...
Luna ikut terkejut, kakinya mendadak kaku dan sulit digerakan..
Dan akhirnya....
"AAAAAA.....!" Luna menjerit dengan tangan yang ia gunakan sebagai perlindungan walau tidak berpengaruh apa-apa..
"LUNAAA....!!" Feng yang juga terkejut reflek menarik tubuh Luna membuatnya seolah melayang..
Feng mendekap dan mendudukkan Luna ditrotoar..
Truk yang sempat oleng itu berhasil menguasai kendalinya dan segera melaju menjauh tanpa berniat melihat kondisi gadis yang nyaris terhantam truk yang ia kemudikan..
"Luna, kau baik-baik saja..??"
Seakan tersadar dari mimpi buruk, ia mengerjapkan matanya berulang kali merasa belum yakin dengan apa yang baru saja terjadi kepadanya..
"ap.. apa aku sudah mati Feng..?"
"phfftt....!!!"
Fengying yang berjongkok didepannya hanya menahan tawa melihat wajah bodoh Luna yang mengira dirinya sudah mati..
"nak.. kamu gapapa..?"
perhatiannya teralih saat beberapa orang pria dewasa datang mengerumuninya..
"iya paman, saya tidak apa-apa..!" jawabnya yang berajanjak bangun sambil mengibaskan bagian belakang celananya yang kotor..
"syukurlah,,!" ucap yang lain
"waah... tadi kamu sangat keren, tadi kamu bisa menghindar begitu, kamu ajaib nak..!" ucap seorang disebelahnya.
Karena melihat dari posisinya, sudah pasti Luna langsung kena hantam saat itu juga..
"hehe.. tadi aku cuma melompat kok paman..!" jawabnya canggung.
Melirik kearah Feng meminta bantuan pun tak ada hasil, sosok tampan itu hanya mengangkat bahunya dengan menahan senyum..
"kamu itu ya, selalu saja menertawaiku kalau aku kesusahan..!" dengus Luna sambil melanjutkan perjalanan pulang setelah bisa melepaskan diri dari orang-orang yang penasaran dengan insiden yang baru saja terjadi padanya..
"memangnya aku harus bagaimana? menghilangkan kamu dan membuat mereka semakin heboh begitu??"
Luna mencebikkan bibirnya, tapi tidak selang beberapa lama senyumnya terbit..
__ADS_1
"terimakasih Feng,, aku tidak tau bagaimana jadinya kalau tidak ada kamu..!" ucapnya tulus dengan menghentikan langkahnya untuk menatap wajah Feng lebih lekat..
"kau ini bicara apa?"
"aduhh..!" Luna mengusap kening tak berdosanya yang mendapat sentilan..
"bukankah aku sudah berjanji akan selalu melindungimu??"
Luna tersenyum, walaupun Feng tidak bisa memberikannya sesuatu yang mustahil, setidaknya kehadiran Feng membuatnya merasa berharga walaupun kadang dia sangat menyebalkan.
Entah anugrah atau musibah, Luna tetap bersyukur atas kehadirannya..
"percayalah, aku akan selalu ada untukmu..!" kepala Luna yang disentuh tangan Feng itu mengangguk sambil tersenyum..
Mereka kembali melangkah, senyum dibibir keduanya masih belum memudar. Dengan sesekali saling mencuri pandang..
Namun sesaat kemudian perhatiannya teralih pada kerumunan ibu-ibu diparkiran depan tempat tinggalnya..
"ada apa bibi..?" tanya Luna pada seorang ibu yang baru keluar dari kerumunan..
"itu, ada motor bagus banget parkir disitu dari pagi tadi. tapi pemiliknya gak tau kemana..!" ucap wanita paruh baya yang Luna tanyai lalu pergi..
Karena penasaran, Luna pun ikut bergabung dengan ibu-ibu disana..
"heuhh?? bukankah ini.....???"
Luna menutup mulutnya yang menganga karena terkejut setelah melihat sepeda motor didepannya yang ia rasa mengenalinya..
"kenapa kamu terburu-buru Luna..??"
Feng mengejar Luna yang sedikit berlari menaikai setiap anak tangga menuju kamar kostnya dilantai empat.
ceklekk..
Luna membuka pintu. Ia yang tidak takut adanya pencuri masuk memang sengaja tidak ia kunci. Lagipula apa yang orang bisa curi? Dia kan tidak memiliki benda berharga apapun..fikirnya.
"apa yang kamu cari??" Feng masih bingung dengan perubahan sikap Luna. Apalagi saat ini ia celingukan seperti kehilangan sesuatu..
"ah.. tidak Feng..!"
Luna menggaruk kepalanya yang tidak gatal
" Tadi ku fikir motor tadi milik Satya, jadi ku fikir dia ada disini, ternyata tidak ada siapapun yang masuk kesini.. hehe!" jawabnya dengan cengengesan sambil meremas jemarinya sendiri..
Entah kenapa ada rasa gugup, ia merasa takut jika harus bertemu Satya. Apalagi sampai dia datang kerumahnya..
"Oh.. begitu?? apa kau yakin tidak ada orang lain yang masuk kesini??"
Luna mengernyit bingung, "maksudmu??"
"aku merasakan ada seseorang didalam kamarmu..!" ucap Feng yang duduk disandaran sofa kecil disana..
aaa.... kenapa ada tamu tak diundang dirumahku? eh bukan.. kostanku..
"apa itu maling Feng??"
Lagi-lagi Feng menjawab dengan mengangkat bahunya..
Dengan sigap Luna meraih sapu dan bersiap siapa dengan posisi siap hantam..
Yang dilakukannya sudah seperti adegan dalam film action saja, sampai-sampai Fengying berusaha menahan tawanya..
Dia lupa untuk memanfaatkan Feng disaat seperti ini...
Setelah mengatur nafasnya berulangkali, Luna memberanikan diri membuka pintu kamarnya dan dengan cepat ia mendorongnya..
"jangan bergerakk...!!" teriaknya dengan mengacungkan gagang sapu dihadapannya seolah itu adalah samurai yang siap menebas siapapun yang ada didalamnya..
krik.. krik.. krik..
Tidak ada pergerakan apapun dari orang yang memang ada didalam kamarnya. Justru Luna sendiri yang terperangah tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini...
"Satya..?? apa benar ini kau??" Luna menggoyang-goyangkan tubuh yang terkulai tak berdaya diatas tempat tidurnya...
bersambung
🍁
__ADS_1
jangan lupa tinggalin jejak dengan Like n Komen yaa...🤗🤗🤗