The Magic Girlfriend

The Magic Girlfriend
masalah wajah Luna


__ADS_3

Entah harus bagaimana Luna menutupi wajah yang menurutnya sendiri semakin menyedihkan, lantas bagaimana menurut pandangan orang lain?


Dengan wajah menunduk yang tertutupi masker, gadis bermata kebiruan itu sengaja datang lebih awal dan berjalan cepat melewati koridor sekolah bertujuan tidak terlalu banyak orang yang melihat keadaannya. Hanya teman sekelasnya saja yang tahu sudah cukup membuatnya pusing memikirkan bagaimana kepo nya mereka..


jedukk..


"aduhh..."


Luna mengusap pelan keningnya yang tidak sengaja menabrak seseorang. ia pun terbelalak saat mendongak dan mendapati orang itu tengah menatap dengan tatapan yang sulit dia artikan..


"eh.. Pak Abimana.. maaf pak..saya tidak melihat tadi, maafkan saya..!" ucapnya berulang kali mengatakan maaf berusaha memperbaiki keadaan karena sepertinya hanya melihat dari sorot matanya saja orang itu terlihat tidak suka..


"dimana matamu, apa kamu tidak punya sopan santun hah??" bentak seseorang bertubuh tinggi tegap dibelakangnya dengan maju beberapa langkah mensejajarkan dengan orang yang ia lindungi untuk memberikan peringatan pada Luna..


"ma..maaf..!" sekali lagi Luna meminta maaf dengan wajah yang menunduk..


Luna tau, orang yang ia tabrak itu punya kedudukan sangat penting di sekolahnya..


Ia yakin, tidak akan mudah jika harus berurusan dengan orang2 kalangan atas seperti mereka yang ada dihadapannya kini. Membayangkannya saja rasanya tenaga Luna langsung melemah.. Masih bisa berdiri diatas kakinya sendiri saja sudah beruntung, fikirnya..


kenapa mereka ada di sekolah sepagi ini? batinnya..


"sudahlah, dia tidak sengaja..!" ujarnya dengan menahan pengawalnya untuk tidak bertindak berlebihan..


"maafkan saya tuan..!" ucapnya dengan membungkuk hormat lalu mundur kembali..


Dengan sisa sekuatannya Luna memberanikan diri mendongak, kembali menatap orang itu hingga tatapan mereka kembali bertemu.


apa dia tidak marah??


batin Luna lagi


Dia memandang wajah yang bergaris halus dikening dan dibawah matanya menandakan orang itu sudah tidak muda lagi. Namun masih terlihat gagah dengan postur tubuh tegap dalam balutan jas hitam berbahan kualitas tinggi..


"siapa namamu??"


apa?


dia menanyakan namaku??


apa aku akan mendapatkan hukuman setelah ini??


Meski ragu dan takut, mau tak mau Luna harus menjawab..


"s..saya.. Luna pak..!" jawabnya terbata tak berani menatapnya lebih lama lagi..


"sejak kapan kamu sekolah disini??"


Luna mengerutkan keningnya "tentu saja sejak kelas sepuluh pak, dan sekarang saya kelas sebelas, hehe..!" setelah menjawab dengan sedikit canggung dia menunduk lagi..


"Ohh..tapi kenapa saya tidak pernah melihatmu ya,?"


Luna hanya tersenyum meringis sambil meremas tangannya sendiri..


mana mungkin anda melihatku, anda kan bukan guruku..


"baiklah Luna, saya harus pergi. Lain kali saya ingin mengobrol lagi denganmu.."


"hah??" Luna mendongak dan sedikit berteriak karena merasa tak yakin dengan apa yang dia dengar..


"heyy jaga sopan santunmu..!"


"ma..maaf..!" luna kembali menunduk saat pengawal itu membentaknya lagi.

__ADS_1


Namun saat pria lanjut usia itu mengangkat tangannya, pengawal itu kembali diam.


"pergilah ke kelas mu Luna, saya suka anak rajin sepertimu. Dengan selalu datang lebih awal akan memberi contoh baik untuk teman2mu..!"


"i..iya pak..!" Lagi-lagi Luna hanya mengangguk canggung dan mengangguk lagi setelah orang penting itu berpamitan pergi..


Luna masih belum faham situasi yang baru saja ia lewati. Baru kali ini ia berhadapan langsung dengan penguasa sekolah yang tak lain adalah kakek Devin. Tapi kenapa beliau menyapanya seperti tadi?


"kenapa aku jadi takut ya? apa dia menyukai gadis dibawah umur seperti aku?? hiihh..."


Luna bergidik ngeri dengan pemikirannya sendiri..


Tapi itu tidak mungkin, dia hanya menyapa dan menyanjungnya. Luna merasa menyesal datang lebih awal, lagi pula kalau bukan karena malu dengan wajahnya, ia tak mungkin datang sepagi ini..


Dengan membetulkan letak maskernya, Luna lekas menuju kelasnya dengan sedikit berlari.


Ahh.. ternyata kak Devin setampan itu memang sudah keturunan. Lalu bagaimana dengan ayahnya kak Dev ya?? hehe..


Ditempat lain..


"cari tau semua tentang gadis tadi. saya mau informasi lengkap tentang dia..!" titahnya pada orang yang mengikutinya..


"baik tuan..!" jawabnya patuh


🍃🍃


"sudah Luna, dibuka saja maskernya.. aku sampai kasihan melihatmu tersiksa begini..!" ucap Chery setelah semua teman sekelasnya sudah keluar kelas untuk istirahat pertama..


Luna pun menurutinya..


"huuff....! ahh.. rasanya lega sekali.."


gumamnya setelah membuka maskernya yang baru terlepas sejak sedari pagi tadi..


"uuuhh.. lihatlah.. wajahmu masih merah merah Luna..! kamu pasti sangat menderita.." ucap Chery mengiba dengan membolak balikan wajah Luna kekanan dan kekiri..


Dengan memasang wajah mode kesal, Chery mencibir dengan melipat tangannya didada..


"maunya Satya apa sih, menyiksamu sampai seperti ini.. tapi kenapa dia membawamu ke salon kecantikan ya??"


Sedari Luna menceritakan keadaannya pada Chery, gadis imut itu sudah heran dengan menerka-nerka maksud Satya melakukan hal itu pada sahabatnya..


"apa Satya suka sama kamu ya?"


Luna tak menjawab..


"aaa... aku tidak rela kalau sampai Satya menyukaimu..!" imbuh Chery dengan sedih yang dibuat-buat ..


"haishh.. kau pikir aku ini siapa? kau tau, level Satya itu sekelas Freya Felisha tau...!'"


"siapa?? Freya?? model cantik itu??"


Luna mengangguk..


"ya Tuhaaan.. kalau aku harus bersaing denganmu aku tidak takut Luna, tapi bagaimana bisa aku bersaing dengan gadis secantik dan sepopuler dia..??" Chery terkulai lemas diatas mejanya..


"sabar ya Chery sayang,, seperti nya kamu harus oplas sungguhan, jangan hanya oplas lewat aplikasi aja, seperti itu mana bisa menyaingi Freya..!"


"huwaaaa....!"


Luna meringis dengan menutupi telinganya dengan kedua tangan. Sahabatnya itu malah semakin berisik dengan menangis tanpa mengeluarkan air mata..


"sudah.. sudah.. berhentilah berdrama..!" ucap Luna jengah dengan menepuk-nepuk punggung Chery..

__ADS_1


"Luna..!!"


spontan Chery menegakkan duduknya dan Luna segera mengenakan kembali maskernya setelah mengetahui siapa yang memanggilnya dan semakin mendekat..


"kak Dev..!" ucap dua gadis itu bersamaan dan pemuda itu tersenyum


Devin mendekat dan duduk dibangku tepat didepan meja Luna..


"ada apa kak? kenapa kakak kesini??"


Devin tersenyum lagi.. "aku mencarimu, temanmu bilang kamu ada dikelas. Makanya aku kesini..!"


Luna meng Oh dan menunduk menyembunyikan wajahnya dari Devin. Walaupun sudah mengenakan masker, tetap saja dia tak mau Devin melihatnya..


"aku membawakanmu ini..!" disodorkannya paperbag berwarna putih yang ternyata berisi sebuah ponsel baru..


"kak.. kakak serius membelikan aku ponsel baru..?" Luna mendongak menatap Devin tak percaya setelah mengintip isinya..


Devin tersenyum sambil mengangguk


Dengan cepat Chery menarik paperbag itu dan mengeluarkan isinya.


"waaah.. Luna kamu benar-benar ajaib, kak Devin sampai memberikanmu barang sekeren ini...!" tatapan takjub tidak bisa ia hindari


Luna berdecak dan mengambil alih kembali barang yang Devin berikan dari tangan Chery..


"kak.. aku kan udah bilang jangan yang mahal-mahal, tapi_______"


ucapan Luna terputus karena Devin tiba2 meraup wajahnya dan membuka masker yang menutupi wajah Luna..


Bukannya menjawab, Devin malah menghujani Luna dengan pertanyaan..


"wajahmu kenapa Luna? kenapa jadi begini? sejak kapan jadi seperti ini..?" ia membolak balikan wajah Luna sama seperti yang Chery lakukan padanya.


Merasa menjadi obat nyamuk, gadis yang duduk disamping Luna itu pun lekas berdiri..


"sepertinya aku haus, aku kekantin dulu Luna..!"


tanpa ada yang peduli padanya, gadis itu keluar dengan memanyunkan bibirnya..


"bisa-bisanya nya ya mereka gada yang peduli sama aku..!" gerutunya setelah keluar kelas dan tak sengaja berpapasan dengan orang yang dia sukai..


waahh.. Satya kamu keren sekali..


gumamnya dalam hati dengan mulut terperangah hingga memutar badan mengikuti pergerakan Satya walaupun pemuda itu sama sekali tidak meliriknya..


"eh.. mau kemana dia? kenapa kearah ruang kelasku??" gumamnya lagi dengan memandang punggung Satya yang mulai menjauh dengan membawa paperbag juga seperti Devin. Hanya saja yang Satya bawa lebih kecil..


"oh tidak.. jangan-jangan dia mau menemui Luna..!" dengan cepat ia mengikuti langkah Satya karena sudah tertinggal jauh.


Dan seperti dugaannya, Satya berhenti dan berdiri tepat didepan kelasnya dan menyaksikan adegan Devin yang masih menangkup wajah Luna dengan kedua tangannya..


Tanpa mengatakan apa-apa, Satya berbalik dan pergi begitu saja..


"eh.. kenapa Satya terlihat marah??"


Chery menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal.


bersambung


🍃🍃🍃🍃🍃


tinggalkan jejak kalian dengan Like n Komen ya..

__ADS_1


sukur-sukur kalau kasih vote.. hehe..


😙😙💞💞


__ADS_2