
Untuk menghindari keributan, Satya memilih pergi sebelum emosinya naik jika harus berlama-lama dengan Devin.
Chery pun pulang lebih dulu, ibunya sudah mengomel karena anak gadisnya belum juga pulang.
Dan kini, hanya Devin yang masih setia menemani Luna.
Banyak hal yang Devin tanyakan tentang Satya, namun Luna benar-benar tidak tau apa maksud dan tujuan Satya melakukan sebanyak itu untuk dirinya..
"mau lagi..?" Devin menawari Luna buah apel yang sudah ia kupas untuk yang kedua kalinya.
"sudah kak, terimakasih..!" tolak Luna yang masih mengunyah dan berusaha menelan makanannya.
"kak..!"
"hmm??" Devin mendongak..
"sebenarnya ada apa antara Kak Dev dengan Satya..??" Luna penasaran dengan sikap mereka yang tak terlihat wajar..
Devin nampak tertegun, tercetak jelas dia tengah kesulitan merangkai kalimat..
Kemudian ia mendesah pelan..
"Satya itu sahabatku..!"
"HAH?? apa aku tidak salah dengar...??"
Davin menyunggingkan senyuman khasnya..
"tentu tidak,, kami memang tumbuh bersama sejak kecil..!"
Luna semakin bingung,,
bagaimana tidak, hubungan sahabat yang Devin bilang berbanding terbalik dengan apa yang ia lihat.
"berhentilah menatapku seperti itu..! apa aku terlalu mempesona..??"
goda Devin yang membuat Luna mengerjap gugup..
Pesona Devin memang tak bisa ia hindari, tapi bukan itu yang ada difikirannya saat ini.
Devin tertawa kecil melihat ekspresi Luna yang ia mengerti, pasti gadis itu tengah kebingungan dengan ucapannya.
"aku dan Satya sudah berteman sejak kecil. karena kakek ku selalu sibuk dengan perusahaan, orang tua Satya menggantikan posisi orang tuaku setelah mereka meninggal. Yah, kedua orang tuaku meninggal karena kecelakaan saat perjalanan pulang dari rumah sakit setelah ibuku melahirkan yang juga merenggut nyawa adikku yang bahkan belum sempat aku melihatnya. Aku masih terlalu kecil saat itu.."
"lalu..??"
"Aku dan Satya sudah seperti anak kembar, apapun yang Satya miliki, maka aku juga memilikinya. Kakekku juga menyayangi Satya seperti cucunya sendiri.
Sampai pada suatu kesalahpahaman yang membuat kami jadi terpecah..!"
"apa itu..??"
"itu karena....... kami menyukai gadis yang sama..!!"
degg!!
APA??
Kak Devin menyukai seorang gadis??
"si..siapa itu kak..??" tanya Luna gugup..
"kau tau Freya Felisya??"
Seketika mata Luna membulat sempurna dan terlihat belum yakin dengan dugaannya
"Freya model yang sedang naik daun itu kah..??"
"tepat sekali, aku yakin pasti kau mengenalnya..!" ucap Devin yakin yang kemudian memasukkan potongan apel kedalam mulutnya.
"siapa yang tidak mengenalnya kak, bahkan setiap hari aku selalu melihat poster iklannya, dan aku sangat mengaguminya..!" tutur Luna tulus dan Devin tersenyum senang
Freya adalah gadis cantik dan modis yang juga teman masa kecil Devin dan Satya. Sejak memasuki SMA, Freya sudah mulai terkenal sebagai model iklan. Dan karirnya mulai merambah menjadi seorang bintang film. Devin menyukai Freya sejak dibangku SD, dan baru bisa menyatakan perasaannya saat mereka SMP dulu.
Yang menjadi kesalahpahaman diantara Devin dan Satya adalah karena Devin tak pernah tau perasaan Satya pada Freya. Begitu pula sebaliknya.
Sejak saat itu, Satya merasa dikhianati oleh sahabatnya sendiri.
Jika harus memilih, mungkin Freya akan memilih Devin. Bukan karena masalah harta atau pun kemampuan akademis mereka, karena mereka dalam posisi yang sama.
Tapi karena Devin lebih kalem dan sabar berbeda dengan Satya yang temperamen dan juga arogan.
Namun demi menjaga persahabatan mereka, Freya tak memilih siapapun bahkan tak mau satu sekolah bersama mereka.
Merskipun usahanya tetap sia-sia. Devin dan Satya tak bisa seperti dulu. Bahkan terlihat seperti orang asing.
Dan Luna mengangguk mengerti dengan semua yang sudah Devin ceritakan padanya.
Walaupun hati kecilnya teramat kecewa, namun Luna cukup tau diri. Memangnya dia siapa??
Luna bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan Freya yang jauh 'lebih' segalanya dari dirinya..
"emm.. kak, darimana kakak tau aku ada disini??" tanya Luna mengalihkan pembicaraan..
__ADS_1
"aku melihat Chery panik, setelah kutanya katanya ada pesan misterius yang mengatakan kamu dirawat dirumah sakit ini, jadi aku ikut untuk memastikan pesan itu benar atau tidak. jujur saja aku khawatir saat chery mengatakan kamu beberapa hari ini tidak masuk..!"
"benarkah..??"
Devin mengangguk, dan wajah Luna bersemu..
beginikah rasanya dikhawatirin??
uunchh.. Devin aku padamu.. hehehe
Luna yang senyum-senyum sendiri membuat Devin mengerutkan keningnya..
"hey.. kenapa..?" Davin melambaikan tangannya didepan wajah Luna hingga mengejutkannya dan semakin malu..
"kenapa nomor kamu tak bisa dihubungi?" lanjut Devin
"Oh.. hp ku rusak kak, padahal aku belum ada uang untuk menggantinya..!" Luna tersenyum meringis
"ya udah nanti ku belikan..!"
"hah? ja..jangan kak. aku gak mau ngrepotin kakak lagi..!" Luna menolak karena merasa tak enak hati..
"gapapa,, lagipula hp kamu yang dulu memang sudah ketinggalan jaman. lebih baik diganti saja..!"
"jadi maksa nih?? ya udah deh, jangan yang malah-mahal ya kak.. hehe..!"
"cih.. tadi berlagak gak mau..!" sindirnya yang dibalas cengiran dari gadis itu yang menampakkan sisi manisnya..
"menurut kamu siapa ya yang ngirim pesan itu sama Chery??"
Luna nampak berfikir, tak ada yang tau dia disana selain Satya. "em.. mungkin Satya kak..!" tebak Luna
Davin mengangguk.. "aku fikir juga begitu. sepertinya dia perhatian sekali padamu. kau apakan dia hmm??" godanya dengan menaik turunkan alisnya
"kakak...!!"
Davin tertawa geli..
***
"gimana Feng..? aku kan gak punya uang buat naik bus..!" ucap Luna yang nampak frustasi setelah dokter membolehkannya pulang.
"kita jalan kaki saja..!" saran Feng yang jelas mendapat penolakan dari sang gadis..
"gak mau,, yang benar saja..!" Luna memalingkan wajahnya kesal
"itu bagus buat kesehatanmu, bukankah beberapa hari ini kamu tidak pernah bergerak? kalau perlu, akan aku perpanjang jalurnya, biar tambah jauh sekalian..!"
"gila kamu ya?? kamu pengen aku mati gempor apa..?? ihh.. dasar nyebelin..!!" Luna memburunya dengan beberapa pukulan dilengan Feng yang ternyata malah membuatnya tertawa puas..
Entah sejak kapan, Luna merasa terbiasa dengan kehadiran Feng. Terlebih lagi, Feng tak pernah membahas tentang YangMi ataupaun dunianya. itu membuat Luna merasa nyaman bersama Feng, dan membuat mereka semakin akrab layaknya kawan lama.
"Luna, kalau kau terus begini jangan salahkan aku jika aku mengutukmu jadi toples kacang..!" ancam Feng disela tawanya..
"lakukan saja, kamu memang sangat senang membuatku teranianya Feng,, rasakan ini..!" racau Luna yang kini beralih menggelitiki pinggang Feng sampai ia terpingkal-pingkal..
ceklekk
Suara pintu terbuka membuat Luna gelagapan dan buru-buru merapikan diri karena pergulatannya dengan Feng membuat dia sedikit berantakan..
Dan itu adalah Satya..
"kau sudah siap? aku antar kau pulang..!"
ajaknya yang kemudian langsung melangkah pergi
"heun..??
apa aku harus mengikutinya Feng..?" Luna berbisik agar Satya tak mendengar
"ikuti saja, daripada harus jalan kaki..iya kan?!"
"tapi lihatlah,, wajahnya sangat menyeramkan..!"
"apa kau bilang..?" Satya yang hampir menyentuh handel pintu menoleh karena sedikit mendengar ucapan Luna. dan gadis itu pun langsung dibuat gelagapan..
"oh.. tidak apa-apa.. semalam aku mimpi seram.. iya seram.. hehe..!" jawab Luna dengan senyum terpaksanya
"cepatlah, aku tidak punya banyak waktu..!" ujarnya datar seraya pergi lebih dulu..
"tuh.. kan?? aku gak yakin dia benar-benar baik..!"
"sudahlah,, ayo cepat susul dia..!"
Luna pun berlari kecil agar bisa menyusul Satya yang semakin menjauh..
***
"kamu benar-benar tinggal disini..?" tanya Satya dengan memperhatikan gedung empat lantai yang ditunjukkan Luna sebagai tempat tinggalnya.
"iya, aku tinggal di lantai 4" jawab Luna yang kemudian turun dari mobil Satya dan ternyata pemuda tampan itu juga ikut turun.
"terima kasih kak, sudah membantuku selama ini. sekali lagi terima kasih banyak..!" ucap Luna tulus namun Satya tidak menaggapinya. wajahnya masih nampak datar seperti biasanya.
__ADS_1
"asal kamu tau aja, yang aku lakukan buat kamu itu gak GRATIS..!" ujarnya dengan menekan kata gratis
nah lo..!!
tuh kan, minta imbalan..!!
"ta..tapi kak, aku gak punya apa-apa buat mengganti semuanya..!" ucap Luna terbata dan matanya sudah mulai berkaca.
Jujur saja, saat ini Luna sangat takut..
"sudahlah jangan banyak bicara, tunggu disini..!"
Luna hanya patuh, bagaimana pun Satya sudah mengeluarkan uang banyak untuknya. Meskipun itu bukan kemauannya..
Luna masih memperhatikan gerak Satya yang membuka bagasi mobilnya dan mengambil ransel yang nampak penuh dan terlihat berat.
"ayo, tunjukan dimana rumahmu..!" ucap Satya melangkah memasuki rumah susun tempat Luna kost setelah menggantungkan ransel dipundaknya.
Luna yang sudah membuka mulutnya untuk memprotes pun diurungkannya dan segera menyusul Satya agar dia tak salah kamar.
sebenarnya apa yang mau dia lakukan,??
Oh Tuhan.. lindungilah diriku dari pria menakutkan ini..!
rapalnya dalam hati
**
"hufftthh...!"
terdengar Satya yang membuang nafas dari mulut membuat Luna menahan tawa.
"setiap hari kau melewati tangga sebanyak ini??" tanyanya dengan nafas sedikit terengah
"iya, menyehatkan bukan??" sindir Luna dengan tersenyum. Padahal hatinya ingin tertawa melihat Satya yang nampak kelelahan.
"sudah, cepatlah kita masuk..!" ajak Satya tak sabaran..
"ta.. tapi apa yang akan kau lakukan kak..?" tanya Luna panik..
"tentu saja aku ingin duduk, dasar bodoh..!" dengus Satya yang langsung membuat Luna menciut dan kembali patuh.
Saat membuka pintu, Luna sedikit terkejut karena Fengying sudah berada didalam tengah rebahan santai. Namun Luna bersikap biasa saja agar Satya tak menaruh curiga.
"masuklah,,!"
Satya masuk dan langsung menyapukan pandangannya di kamar kost Luna.
sempit, tapi cukup bersih..!
gumam Satya sambil mengangguk-angguk sendiri..
Diapun menduduki sofa tempat Feng berada yang membuat Luna panik..
"STOP..!!" teriaknya yang membuat Satya mengurungkan niat duduknya
"kenapa..?" tanyanya heran..
"eh.. ini banyak debunya, aku bersihkan dulu..hehe..!" ucapnya yang langsung mengibas-ngibas sofa menggunakan kemonceng yang sebenarnya mengusir Feng dari situ.
Mau tak mau Feng beranjak dan pindah, Satya pun mulai duduk dengan nyaman.
"maaf kak, sebenarnya ada maksud apa kakak ikut kemari..??" tanya Luna hati-hati
"bukankah sudah ku katakan yang kulakukan itu tidak gratis..??"
Luna mengangguk ragu, jantungnya berdebar kencang karena takut Satya akan melakukan sesuatu padanya..
Mengerti dengan sikap Luna yang ketakutan dalam wajah tertunduknya, Satya pun melekakkan ransel dan mengeluarkan semua isinya..
BRUKKK
Luna mendongak, ternyata Satya meletakkan setumpuk buku dengan ketebalan yang berbeda diatas mejanya.
"ma.maksudnya apa ini..??" Luna kebingungan..
"aku lihat nilaimu semuanya sangat buruk, dan aku ingin kau membalas kebaikanku dengan nilai yang bagus! apa kau sanggup??" tantangnya yang membuat Luna terkulai lemas..
Dia paling sungkan dengan yang namanya belajar..
"mana mungkin aku bisa melakukannya..!" ucapnya lemah dan hampir menangis..
Dia rasa lebih baik jadi budak dari pada harus belajar keras untuk mendapat nilai bagus.
"belum apa2 sudah menyerah..!" Satya menyindir
"kamu pasti bisa, mulai saat ini, aku akan menjadi guru les privat kamu..!!"
"APA..??????"
TIDAAAAAKKKKK!!!!!!!!!
bersambung...
__ADS_1
_______________________________________
jangan lupa tinggalin jejaknya kawan..😙💕