The Magic Girlfriend

The Magic Girlfriend
kegundahan Satya


__ADS_3

tap tap tap


"Satya..!!"


Mendengar namanya dipanggil, langkah pemuda tampan tinggi tegap itu terhenti saat kakinya baru saja melangkahi beberapa anak tangga..


ia menoleh tanpa menjawab atau mengatakan apapun, hanya menunggu kalimat apa yang ingin ayahnya katakan..


"ada Devin diruang baca, temui dia dulu. Sudah lama dia menunggumu..!"


"aku gak mau..!" jawabnya acuh dan melanjutkan langkahnya dengan berjalan cepat..


"SATYA..!!" kali ini suara ayahnya terdengar lebih lantang, Satyapun kembali berhenti melangkah ketika hampir mencapai lantai dua. Namun dia tidak menoleh sama sekali..


"jaga kelakuanmu Satya,, Devin itu temanmu bahkan dia sudah seperti saudaramu sendiri. kenapa sikapmu masih saja kekanakan seperti itu. Kurang apa usaha Devin yang bahkan meminta maaf atas kesalahan yang tidak ia perbuat , dia anak yang baik. Jangan hanya sebuah kesalahfahaman membuat kalian pecah seperti ini..!"


terus saja pah, puji dia sepuas papa. dimatamu akulah yang selalu salah..


Satya mengeratkan tangannya pada jaket yang ia bawa. ia berbalik tanpa berniat mengatakan sepatah katapun pada ayahnya yang ia lewati menuju ruang baca dengan kedongkolan didadanya..


"dasar anak itu, selalu saja begitu.. kapan dia dewasanya??" ucap ayah Satya dengan menatap punggung putranya yang memasuki ruangan itu sambil menggelengkan kepalanya.


brukk...


Perhatian Devin teralihkan dari buku yang ia pegang ke arah sofa malas yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri, terlihat jelas yang membaringkan tubuhnya disana tidak dengan keberadaannya..


"kamu dari mana jam segini baru pulang..?" tanya Devin yang mendekat dan sedikit menepuk kaki Satya agar bergeser memberinya ruang untuk duduk menggunakan buku yang ia pegang..


"kau sendiri ngapain malem begini masih berkeliaran disini?" balik bertanya dengan nada songongnya..


Devin tersenyum, " aku datang sejak sore tadi, om mengundang aku dan kakek makan malam. Tapi Kakek ada urusan mendadak, jadi aku datang sendiri..!"


ya, aku sudah tau dan aku tidak memintamu untuk menjelaskan..


Jika saja Kakek bisa hadir, ceritanya pasti akan lain. Satya sangat menghormati kakek Abimana, tidak mungkin dia melewatkan makan malam bersama kakek yang menurutnya orang yang paling menyayanginga dibandingkan orangtuanya sendiri.


"jangan banyak bicara, katakan ada apa?" pungkas Satya yang enggan berlama-lama dengannya. Bukan sesuatu yang sepele jika Devin sampai menunggunya selama itu..


Devin kembali tersenyum..


"apa kemarin kau membawa Luna ke salon tante Shinta??"


apa??


kenapa dia tau??


Satya mencoba bersikap tenang dengan keterkejutannya itu..


"cih... jangan sok tau..!" jawab Satya dengan senyum meremehkan..


"aku memang tidak tau gadis mana yang tadi diceritakan mamamu, tapi kemarin saat aku melihat Luna, sepertinya bukan sebuah kebetulan wajahnya yang merah seperti itu..!" apalagi Devin juga melihat sikap Satya yang tidak wajar saat Luna masuk rumah sakit..


ahh.. sial..!!


aku lupa menutup mulut Hana untuk tidak mengatakannya pada mama..


Seketika Satya bangkit, wajahnya tidak kalah menyeramkan seperti saat dia melihat Devin yang menyentuh wajah Luna..


"apa pedulimu pada gadis bodoh itu, bukankah kau sudah menyukai Fee, apa kau ingin mengkhianatinya, hah??"


"lalu apa bedanya dengan dirimu??" balas Devin yang ikut berdiri mensejajarkan tubuhnya dengan orang yang berada dihadapannya..


"bukankah kau juga menyukai Fee?? kenapa sekarang kau juga perhatian pada gadis yang kau sebut bodoh itu dengan membiayai perawatannya dirumah sakit sampai kau membawanya untuk perawatan wajah! sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan??"


Tentu saja Devin masih sangat menyukai Freya, tapi jujur saja Devin punya ketakutan sendiri saat Satya bersikap berlebihan pada Luna. Padahal dia sendiri tidak mengerti kenapa rasa ingin melindungi gadis itu sangat kuat dihatinya..


"huh, atas dasar apa aku peduli pada gadis itu? sudah bodoh, jelek lagi. aku hanya ingin bermain-main dengan dia..!"

__ADS_1


"Satya,,..!"


Devin menahan dengan mencengkram tangan Satya dengan tatapan marah kearahnya saat pemuda itu hendak meninggalkannya..


"jangan lakukan hal yang tidak-tidak pada Luna, dia tidak punya salah apa-apa padamu..!"


"dia tidak salah??? huh..!!" Satya mengibaskan tangan Devin kasar..


"kau tidak tau kalau dia sudah berani membuat masalah denganku, kau harus tau itu..!" ucapnya dengan mendorong dada Devin menggunakan telunjuknya lalu pergi..


"jangan sakiti Luna, Satya,.. aku mohon..!"


Satya hanya senyum menyeringai tanpa menoleh sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan Devin..


Kini..


diatas tempat tidur kingsize'nya Satya merebahkan tubuh lelahnya dengan melipat salah satu tangan sebagai bantalan, padahal bantal ditempat tidurnya sudah sangat nyaman..


ahh.. apalagi kalau bukan sedang melamun??


Samar terdengar deru mesin kendaraan roda empat yang sangat ia kenali.


Ya, sepertinya Devin telah pergi, dan Satya tidak peduli..


Dan fikirannya kembali berputar pada orang-orang yang saat ini berkelebatan dikepalanya..


Devin menyukai Freya sama seperti dirinya, dan Satya pun menyadari kalau Freya memiliki perasaan yang sama pada Devin. Hanya saja Freya tidak ingin menyakiti perasaan Satya sampai saat ini hubungan mereka belum diresmikan dan membuat ketiganya memiliki status yang sama..


JOMBLO 😅😅


Lalu sekarang.... muncul seorang gadis bodoh, jelek, miskin pula..


Tapi kenapa Devin sangat peduli bahkan rela memohon hanya untuk melindunginya..??


Sempat terfikirkan olehnya kalau Luna mempunyai sesuatu yang ajaib sampai dirinya juga ikut peduli pada gadis yang bahkan dulu tidak pernah terlihat oleh pandangannya..


tidak.. tidak..


sangkalnya dalam hati..


Menyangkal perasaannya pada Luna yang tidak lebih dari sebuah tebusan kesalahan.


l


Lalu kenapa gadis bermata kebiruan itu kerap kali hadir didalam mimpinya??


Bahkan Satya marah saat melihat Devin yang menyentuh wajahnya...


argkhh... sial...!!


ada apa dengan gadis bodoh itu..??


Satya meremas rambutnya dan mengusap wajahnya dengan gusar.


Ingin menyangkal kalau hatinya tidak memiliki perasaan lain selain untuk menebus kesalahannya..


tok tok tok


"sayang... apa kamu sudah tidur??"


Satya tersadar dari lamunannya, ia bangkit dan menuju pintu untuk membuka kuncinya..


"mama boleh masuk??" ucap seorang wanita cantik ketika pintu yang ia ketuk telah terbuka..


"masuklah ma..!"


Lantas wanita yng tak lain adalah Shinta itu masuk dan menduduki sofa dikamar putranya..

__ADS_1


"kemarilah..!" pintanya dengan menepuk tempat disebelahnya. Satya pun menurut..


"kenapa ma?" tanyanya malas


"Devin sudah pulang, dia titip salam untukmu..!"


"aku tau..!"


Satya masih malas jika membicarakan Devin, yang ada nanti Satya salahfaham lagi karena berfikir dirinya selalau membela Devin.


Tapi putranya memang selalu menjengkelkan.


Oke, kalau begitu ganti saja pembahasannya..


"sayang..!"


Shinta menyentuh bahu Satya lembut..


"apa?"


"Hana bilang kemarin kamu membawa seorang gadis.. siapa dia?" tanyanya lembut..


"teman..!" jawabnya cepat..


Shinta tersenyum, mencoba bersabar menghadapi putranya.


"Hana bilang,,, dia tidak cantik dan_______"


Keraguan Shinta memaksa Satya memotong ucapannya..


"mama mau bilang dia jelek, bodoh dan miskin begitu??"


Shinta gelagapan dengan tanggapan Satya yang menyangka dia berfikiran seperti itu..


Terlihat jelas dari raut wajah putranya kalau dia marah..


"e.. bukan begitu sayang, mama cuma_____"


"bukan apa ma?" memotong ucapan Shinta lagi


"kalau mama mau menghina dia, hina saja. aku tidak peduli..!" ucapnya yang langsung beranjak berdiri dan dengan cepat menyambar jaket dan kunci motornya lalu keluar..


"sayang,, kau mau kemana? dengarkan mama dulu..!"


Shinta mengejar namun langkah kaki putranya yang lebar membuatnya kalah cepat..


"kembalilah nak, ini sudah malam..!"


teriaknya dari lantai dua dengan berpegangan pada besi pembatas, karena kalau mengejarpun tidak mungkin terkejar..


Beruntungnya Shinta mempunyai seorang anak yang tinggi tegap dengan ketampanan diatas rata-rata.


Tapi baru kali ini ia mengeluh dengan keadaan sang anak, karena kaki anaknya yang panjang membuatnya tidak bisa mengimbangi langakah cepat putranya..


"dasar anak itu, bilangnya tidak peduli. tapi kenapa marah..??"


hemmmm....


jadi penasaran, gadis itu siapa ya???


gumamnya dengan memainkan jemarinya dalam posisi bersidekap..


**bersambung..


🍃🍃


Vote dong..

__ADS_1


jangan lupa jempol n komentarnya yaaa...


😙😙😙😙😙**


__ADS_2