The Magic Girlfriend

The Magic Girlfriend
tutupi wajahmu Luna


__ADS_3

Mohon maaf atas keterlambatannya.


Terima kasih yang masih setia dan terus kasih dukungan buat aku.


Selamat membaca..


☘☘


"harusnya kakak nggak bentak mbak Sari tadi..!" ucap Luna yang duduk berhadapan dengan Devin diruang karyawan..


"itu masih lebih baik karena dia salah satu karyawan yang paling lama disini. Sebagai senior dia tidak bisa berlaku seenaknya dengan juniornya. Memberi peringatan itu boleh, tapi main kasar aku gak suka. Apalagi dengan kesalahan yang tidak diperbuat!"


terlebih lagi orang itu adalah kamu!


imbuh kata batinnya..


"mbak Sari itu cuma salah paham kak..!"


"Ah.. sudahlah, jangan dibahas lagi. Tamunya aja gapapa kok..!" pungkas Devin yang membuat Luna merapatkan bibirnya.


"baiklah kak, kalau begitu aku kembali kerja dulu!"


Luna beranjak berdiri, namun Devin menahan tangannya hingga terduduk lagi.


"kenapa?" Devin menatap wajah pemilik mata kebiruan itu lekat, dan tentu saja gadis itu menjadi gugup dengan menundukkan wajahnya


jangan menatapku seperti itu kak, nanti jantungku lepas..


yang berdetak didalam sana sudah berdebar tidak karuan..


kenapa Luna menjadi semanis ini ya??


batin Devin


ah.. tidak tidak..


bukan itu yang ingin kutanyakan


"apa kamu pernah bertemu kakek??"


"heum?"


Luna mendongak menatap Devin yang masih mencengkram tangannya..


"Maksudnya tuan Abimana??"


"Iya"


"Oh.. itu.. iya benar kak, beberapa hari lalu bertemu disekolah. Memangnya kenapa?"


"Em.. tidak apa" jawabnya dengan melepaskan tangan Luna.


"Apa yang kalian bicarakan?" tanyanya penasaran


Luna menggeleng, "Tidak ada yang penting kak, beliau hanya menyapa saja"


Devin mengangguk paham, mungkin memang tidak ada maksud tersembunyi yang kakeknya lakukan.


"Tapi.." Luna ragu


"Kenapa Luna?" desak Devin


"Beliau bilang, kapan-kapan ingin mengobrol denganku lagi..!" jawabnya masih terdengar ragu. Apa ini penting diceriatakan pada Devin? fikirnya.


"Oh.. begitu ya? kalau begitu lanjutkan pekerjaanmu!"


Luna berpamit dan meninggalkan Devin diruang karyawan yang semakin memiliki banyak pertanyaan.


☘☘


Pemuda yang semula tidur nyenyak kini bangun dan beranjak kekamar mandi dengan tergesa-gesa..


"Ahh...!" ia mendesah setelah berhasil membuang hajat kecilnya.. Legaaa..


Siapa lagi kalau bukan Satya.


Kembali ke tempat tidur Luna adalah pilihannya, protes karena sang mama yang selalu membela Devin membuatnya malas pulang.


Sudah seperti anak kandungnya saja, dumal batinnya.


Dering ponsel yang disenyapkan membuatnya tidak tau entah sudah ada berapa kali panggilang dari sang mama yang pastinya karena cemas.


Tapi perhatian Satya justru terarah pada benda-benda diatas meja belajar Luna.


Seringainya muncul kala ia membuka setiap benda itu yang tak lain adalah kosmetik yang ia berikan beberapa hari lalu.


"Ternyata dia mau pake juga!" gumamnya setelah melihat isinya yang sudah tidak utuh lagi.


Satya kembali merebahkan tubuhnya ditempat tidur bersamaan dengan kemunculan Feng dari dalam batu giok putih.


Kalau manusia itu sudah bangun, berarti Feng harus mengawasinya kan?


Tidak banyak yang Satya lakukan, ia hanya menjelajahi setiap sudut kamar sempit Luna yang sangat sederhana tapi terasa nyaman untuknya.


Bahkan udara yang masuk dari fentilasi cukup membuatnya tidak kegerahan walaupun ia terbiasa dengan dinginnya AC.


Feng terus memperhatikannya dengan duduk dikursi belajar milik Luna. Mencoba membaca fikiran manusia didepannya dan menerawang masa depannya.


Fengying menyeringai..



pukul 17:00 sore hari


Luna tergesa-gesa menaiki anak tangga menuju tempat tinggalnya. Luna baru ingat seharian ini dia meninggalkan seseorang didalam kamar dan tidak tau bagaimana orang itu saat ini.


Ceklek..


Luna membuka pintu, tidak menemukan siapapun termasuk Feng.


Tapi dia tidak salah lihat tadi, sepeda motor yang menjadi perbincangan warga sekitar masih terparkir nyaman sejak pagi tadi.


Tanpa berfikir panjang Luna lekas menyimpan makanan yang ia bawa diatas meja dan melempar tas gendongnya sembarang kesofa lalu menuju kamarnya.


Ceklekk..


pintu kamar terbuka dan..

__ADS_1


"AAaaaaaaa!!!"


Mereka yang terkejut sama-sama berteriak.


"Apa yang kamu lakukan?" teriak Luna dengan menutupi wajahnya menggunakan kedua tangannya.


Melihat seorang pemuda bertelanjang dada dikamarnya tentu saja membuatnya terkejut.


"Kau sendiri kenapa masuk tanpa ijin?" Satya balas berteriak


"Aaa.. cepat pakai bajumu, jangan seperti itu..!" Luna masih berteriak meski sudah berbalik memunggungi Satya..


"Heh, harusnya kamu yang pergi. Ini rumah Luna, jangan seenaknya masuk rumah orang kamu ya!"" tegas Satya sambil mengenakan kembali kaos miliknya..


"Hey!!" Luna berbalik dan mendapati Satya yang sudah melipat tangannya didada dengan tatapan menantang.


"Ini rumahku, bukannya kamu yang seenaknya masuk kerumahku tanpa ijin heum??" Luna berkacak pinggang


Dengan santainya Satya melangkah untuk mendekat.


"Tapi ini rumah Luna, bukan rumahmu!" mendorong bahu kiri gadis didepannya dengan jari telunjuk.


Sontak saja Luna terperangah dan mendengus kesal.


"jadi kau tidak mengenali siapa tuan rumah ini begitu?" ia balas mendekat hingga nyaris berdempetan


"Dan kau benar-banar tidak kenal aku, hah?" Luna mendongakkan wajahnya tepat dihadapan Satya tanpa menurunkan tangannya yang masih bertengger dipinggang..


"Huh, memangnya kau siapa?" ucap Satya songong tanpa mau menatap gadis didepanya.


astagaaa..


apa bantalku sudah menyerap semua ingatannya??


Luna menggeleng dengan menepuk keningnya.


"Sadarlah Satya, apa tidur seharian masih belum cukup? kalau begitu tidurlah lagi, anggap saja ini istanamu. Dan pergilah setelah membayar sewa tiga kali lipat!"


Disitu Satya seakan mulai menyadari sesuatu..


"Tunggu!" Luna yang sudah memegang handel pintupun menoleh


"Apa?" jawabnya ketus.


Luna yakin kalau Satya akan protes tentang ucapannya yang mengatakan harus bayar sewa tiga kali lipat itu.


Dasar tidak mau rugi.


Dumal dalam hatinya


Pemuda itu pun mendekat seraya menangkup wajah Luna. Jantung gadis yang membalas tatapan Satya itu tiba-tiba berdegup dengan kecang tanpa diminta.


Apa yang terjadi denganmu wahai jantung? berhentilah berdebar seperti ini..


aku takut dia mendengarnya


batin Luna.


Kedua pasang mata itu masih saling beradu pandang.


Satya menatap lekat manik mata gadis yang kebiruan didepannya tanpa berkedip.


Pertanyaan bodoh itu sontak membuat sang gadis yang masih dalam posisi semula membulatkan matanya tak percaya .


"Ya.. i..ini aku..!" jawabnya terbata karena Satya belum mau melepaskan wajahnya..


Jangan ditanya bagaimana keadaan Luna saat ini, kedua tangannya yang memegang pergelangan pemuda tampan itu saja sudah bergetar.


"Jadi kamu benar-benar Luna?"


ahh.. sial!


kenapa sekarang dia manis sekali?


gerutunya dalam hati


"Hahaha, tentu saja aku Luna. Memangnya kenapa? apa sekarang aku terlihat cantik?"


aishh..


berani sekali aku bicara seperti itu?


bukan salahku juga sih, kenapa dia menatapku seperti masih tidak percaya begitu..


Spontan Satya menurunkan tangannya.


Namun yang mengherankan bagi Luna, pemuda itu terlihat gugup.


"Cih.. kepedean..!" jawab Satya dengan memalingkan wajahnya dan berlalu kembali ketempat tidur Luna dan merebahkan tubuhnya disana.


Walaupun hatinya mengatakan "iya", tapi tidak ada sejarahnya seorang Satya mengakui kecantikan gadis lain selain gadis yang disukainya..


Luna memanyunkan bibir..


"Kenapa tiduran lagi? kapan kamu akan pulang, ini sudah hampir petang. Orang tuamu pasti khawatir?"


kenapa kau betah sekali dikasurku?? batin Luna


"Jangan membahas orang tuaku, mereka lebih sayang Devin mu itu dari pada aku!" balasnya dengan beranjak bangun dan duduk bersila diatas tempat tidur Luna.


"Kenapa begitu? pasti karena kamu sangat merepotkan, iya kan? haha.. kasian sekali orang tuamu!"


astaga, kenapa aku bicara sembarangan lagi? pasti dia marah.


tuh kan, dia melotot..


Luna segera menutup mulut dengan merapatkan bibirnya yang sulit diajak kompromi. Dia memang tidak bisa menahan kata-katanya saat di depan Satya. Yang ingin dia katakan pasti keluar begitu saja..


Dan sekali lagi Luna tidak mengerti dengan sikap pemuda dihadapannya. Tatapan Satya yang semula tajam kini mulai meredup.


"Sini..!" titahnya dengan menepuk tempat tidur Luna agar gadis itu duduk dihadapannya.


eh.. dia menyuruhku duduk disitu?


apa tidak apa-apa?


dia gak jadi marah ya??

__ADS_1


Hatinya mengucapkan keraguan, tapi tubuhnya bergerak mendekat begitu saja saat pemuda itu mengangguk seolah mengatakan "tidak apa-apa, kemarilah"


Luna pun duduk ditepi tempat tidurnya tepat dihadapan Satya yang duduk bersila menghadap kearahnya.


"Apa kamu memakai skincare yang aku berikan?" tanyanya dengan menopang dagu menggunakan tangannya yang bertumpu pada lutut. Menatap Luna seperti itu terasa nyaman.


aeh.. kenapa membahas itu, aku fikir dia akan membahas tentang orang tuanya?


"emm.. ini.. iya, aku memakainya. Dan sepertinya hasilnya cocok!" jawab Luna dengan menyentuh wajahnya sendiri. Dan entah kenapa, wajah gadis itu sedikit bersemu.


ahh.. benar-benar gadis ajaib.


dibalik wajahnya yang buruk rupa sebenarnya ada kecantikan yang tersembunyi.


kenapa tidak dari dulu saja aku mendepak jerawat diwajahnya..


"begini Luna, wajahmu itu masih dalam proses perawatan. Jadi.. setiap hari kamu harus menggunakan masker!" ucapannya terdengar serius.


"loh, memangnya kenapa kalau aku tidak memakai masker?" Luna panik, sebelumnya dia mengenakan masker karena wajahnya yang yang terlihat lebih parah dari sebelumnya. Sekarang kan sudah mulai bersih, kenapa masih harus mengenakan masker? fikirnya


tentu saja agar tidak ada yang bisa melihat wajahmu, walau Devin sekali pun.


Semua berkat usahaku yang membuatnya seperti sekarang ini.


Karena itu, hanya aku yang boleh menikmati hasilnya..


"Wajahmu masih sensitif Luna, tidak boleh kena sinar matahari, debu apalagi polusi. Kau ingin wajah mu jadi rusak lebih parah dari sebelumnya heum??" Satya beralasan.


"Aaa.. kenapa merepotkan seperti itu? kalau begitu kembalikan wajahku seperti semula saja. Aku takut Satyaa.." rengek Luna yang membayangkan bagaimana wajahnya nanti jika hal yang Satya ucapkan benar-benar terjadi padanya..


Satya berdecak dan menegakkan duduknya


"mana bisa, wajahmu itu sudah melalui proses yang sulit kan? memakai masker itu bukan sesuatu yang sulit. Lebih baik menjaganya dari sekarang. Hana sendiri yang mengatakan saran itu padaku."


Luna harus percaya, fikir Satya.


Tanpa disadari, ia sudah membuat gadis ini terikat padanya.


Dan benar saja, karena percayanya dia pada ucapan Satya, saat itu juga Luna kelabakan mencari masker yang ia lupa simpan dimana.


"apa yang kamu lakukan?"


"mencari maskerku!" jawabnya tanpa menoleh saat mengobrak abrik lacinya.


Namun tanpa diduga, entah sejak kapan Satya sudah berdiri dibelakangnya.


"hentikan!!" ia menahan tangan Luna agar menghentikan aksinya.


Lunapun mendongak kaget. Sama halnya dengan Satya, dia sendiri tidak menyadari apa yang baru saja ia lakukan.


"ru.. rumahmu bersih, tidak perlu memakai masker didalam rumah" ujarnya terbata. Karena sebenarnya dia ingin terus menatap wajah Luna yang semakin terlihat menggemaskan. Apalagi saat panik begini.


"lalu dimana saja aku diharuskan menggunakan masker?" Luna tidak menyadari Satya yang masih memegang tangannya.


"pokoknya saat diluar rumah, disekolah, dicafe Devin dan ditempat umum lainnya, wajahmu harus ditutupi Luna. Kecuali saat bersamaku."


"apa?"


kenapa itu terdengar seperti perintah?


"maksud kamu apa kecuali saat bersamamu?" imbuh Luna yang belum faham ucapan Satya.


memangnya tadi aku bicara begitu ya?


ahh sial..!!


"ya.. ya maksudnya.. kamu______"


kruyùuk...


Suara misterius terdengar..


"phfttt...!"


Luna dengan cepat menutup mulutnya dengan satu tangan. Suara cacing perut Satya yang berdemo terdengar menggelikan.


"hehe..!" Satya melepaskan tangan Luna lalu tersenyum seperti orang bodoh..


"aku tau kau pasti lapar, ada makanan di meja. Kamu boleh memakannya!" ujar Luna dengan sedikit tawa diujung kalimatnya.


"kalau begitu, kita makan bersama!"


apa?


dia ingin makan bersamaku??


Luna hanya patuh saat Satya kembali meraih tangannya dan membawanya keluar kamar..


"kamu yakin ingin makan bersamaku?"


"tentu saja, dan beritahu dimana rumah pemilik rumah jelek ini. Aku akan membayar sewanya!"


"kamu serius?" Luna mendongak saat Satya mendudukanya dikursi meja makan.


"seriuslah, sekarang ayo kita makan!" ucap Satya yang menduduki kursi dihadapannya dan membuka makanan yang Luna bawa.


kenapa malah dia yang seperti tuan rumah sih?


Dumalnya dalam hati sambil menikmati makanan yang sudah Satya bagi menjadi dua.


Namun seketika Luna merasakan kehilangan sesuatu. Kehilangan sosok yang selalu menemaninya saat makan seperti ini.


"kamu kenapa? cari apa sih?" tanya Satya bingung melihat Luna yang celingukan seperti mencari sesuatu.


"ah.. tidak.. tidak ada apa-apa" jawabnya gugup lalu melanjutkan acara makannya.


Feng kemana ya?


kenapa aku belum melihatnya sejak tadi??


Tidak dipungkiri, tanpa kemunculan Fengying membuatnya merasakan ada sesuatu yang kurang..


Ahh.. Feng.. kamu kemana??


bersambung


☘☘

__ADS_1


Kasih jempolnya dong, komentar terus vote. Sedekahkanlah poin mu disini 😅😅


See u.. 😙💕💕


__ADS_2