
Bagaimana aku mengatakannya?
Kalau ternyata dia gak peduli gimana?
Tapi aku harus mencobanya!
Aaah.. tidak tidak!
Kalau dia marah sama aku gimana coba?
"Aduuuhh.. gimana ini?"
Chery mondar mandir didepan salah satu ruang kelas dua belas dengan perasaan gugup.
Bagaimana tidak, selain takut mendapat respon tidak menyenangkan, Chery juga gugup karena harus berhadapan dengan orang ia sukai.
"Oh iya, telfon saja!"
Chery mengambil ancang-ancang untuk melakukan panggilan diponselnya. Tetapi..
"haiyyah.. aku kan gak punya nomer dia!"
ucap Chery dengan menepuk keningnya.
Tidak ada satu orang pun yang melihatnya kelimpungan seperti itu. Walaupun tidak ada guru, setiap murid mematuhi aturan tetap dikelas untuk mengerjakan tugas.
Walaupun tiap kelas berisiknya melebihi keramaian pasar, selama tidak berkeliaran diluar itu sudah aman.
Kecuali Chery yang sedang bingung mencari bantuan dan seorang senior yang tiba-tiba muncul mengejutkan gadis yang berdiri tak jauh dari pintu kelasnya.
"Heh, sedang apa kau?"
"Astaga!" Chery menoleh dengan cepat. Jantungnya berdetak kencang bukan hanya sekedar terkejut, tapi ia juga kaget dengan siapa yang mengejutkannya.
"Kak Satya..!" ucapnya tanpa sadar dengan mata yang berbinar.
"Sedang mengintip ya?" tuduh Satya dengan melipat tangannya didepan dada .
"Eh.. mana ada. Aku mencarimu kak"
Satya menaikkan sebelah alisnya.
"Kakak habis dari mana, kenapa berkeliaran diluar?"
berani sekali dia bertanya seperti itu, dirinya sendiri berkeliaran dan mengaku sedang mencariku!
"Huh, apa urusanmu? Memangnya kau siapa berani bicara seperti itu?"
astaga, benar juga.
bodoh sekali, pertanyaanku sudah seperti gurunya saja.
"Aaa.. tidak tidak. Bukan itu yang ingin aku katakan" jawab Chery cepat.
"Lantas??" Satya mulai malas
"Emm.. tolong kak, temanku sedang membutuhkan bantuanmu" jawab Chery ragu sambil memainkan jemari tangannya.
"Huh, apa peduliku dengan temanmu itu!"
enak saja, temannya yang bermasalah kenapa minta bantuanku.
Satya tidak peduli, lebih baik masuk kelas dari pada meladeni adik kelas yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan dirinya.
Chery sudah frustasi.
Satu-satunya orang yang ia harapkan selain Devin ternyata memang tak peduli.
"Tapi Luna dalam bahaya!" gumam Chery dengan suara kecil. Tidak akan ada yang membantunya, sampai dia hampir menangis.
Tapi siapa sangka, Satya yang sudah memegang handle pintu itu mendengarnya dan menoleh.
"Siapa kau bilang?" tanyanya pelan
"Luna kak, hiks. Dia sedang dalam bahaya"
"Argh,,sial! Kenapa tidak bilang dari awal"
"Tadi kan aku______"
"Jangan banyak bicara, bawa aku kesana!"
"Eh...!"
Chery terkejut bukan main, Satya yang langsung panik saat mendengar nama Luna dalam bahaya, ia menarik lengan Chery tanpa disadari.
waaah.. ini adalah moment bersejarah dalam hidupku..
seru Chery dalam hati
Pasalnya, Satya sangat jarang bersentuhan dengan wanita jika bukan ada sesuatu yang mengharuskannya bersentuhan.
"Tunggu!"
Satya menghentikan langkahnya dan melepaskan tangan Chery.
"Dibawa kemana dia?"
eh.. maksudnya Luna kan?
"Kebelakang sekolah, iya Luna dibawa kesana" jawabnya terbata.
"Aku akan kesana, sebaiknya kamu kembali ke kelas"
"Tapi aku______"
Satya kembali menoleh setelah beberapa melangkah dengan menatap tajam kearah Chery.
Oke, tanpa harus melanjutkan kalimatnya Chery mengerti dengan tatapan tajam itu. Dia harus kembali ke kelas dan tidak boleh mengikuti Satya pergi.
__ADS_1
Di ujung sudut gedung sekolah, Satya melihat dua orang gadis yang sedang memantau situasi.
Hanya dengan sekali melotot saja, Satya mampu membungkam mulut keduanya untuk tidak protes walau satu katapun.
Benar saja, dibelakang sana ada Maura yang sedang memaksa Luna untuk membuka maskernya dengan kasar.
🌹🌹
Entah harus bersyukur atau harus protes dengan siapa yang menolongnya hari ini.
Jujur saja, jika bersama Satya, Luna masih belum yakin dengan keselamatannya sendiri.
"Satya, lepaskan. Aku kesulitan berjalan" pekik Luna masih dalam posisi diapit lengan pemuda tampan itu.
"Diamlah, aku sudah menyelamatkanmu. Sekarang aku antar kau kembali ke kelas" ujarnya tanpa mempedulikan langkah Luna yang terseok-seok.
"Tapi kaki ku sakit!"
apa?
Dan seketika langkahnya terhenti.
"Bagian mana yang sakit, hah?" tanyanya yang langsung melepaskan leher Luna dan berjongkok dihadapannya.
"Apa yang kamu lakukan?" Luna panik.
Dia celingukan memperhatikan situasi. Kalau ada yang melihat Satya berjongkok didepannya, apa kata dunia??
Luna mundur selangkah saat Satya menyentuh kakinya.
"Lututmu berdarah!" ucapnya dengan mendongakkan wajah menatap gadis bermasker didepannya.
"Ya, aku tau. Makanya jangan menyeretku seperti tadi. Sekarang bangunlah, jangan seperti ini" Luna menarik lengan Satya agar ia bangun.
"Apa itu sangat sakit?" tanyanya lagi dengan kening yang berkerut.
sepertinya aku harus melebih-lebihkan agar dia tidak berani menyeretku lagi, hehehe
"Tentu saja sangat sakit, dan kamu membuatnya semakin parah" jawab Luna dengan diimbuhi beberapa persen emosi.
Berharap Satya akan marah dan meninggalkannya, namun siapa sangka pemuda itu malah melakukan sesuatu diluar dugaannya.
"Eh, apa yang kamu lakukan? turunkan aku!" rengek Luna yang meronta saat Satya tiba-tiba membopongnya.
"Berhentilah bergerak, atau kujatuhkan kau nanti!"
Reflek tangan Luna mengalung dileher Satya dan berpegangan erat membuat kepala Luna menempel didadanya. Luna yakin, ucapan Satya tidak akan main-main.
Dan senyum kemenanganpun tercetak disudut bibir Satya.
"Jangan bercanda Satya, tutunkan aku!" sedikit berteriak
Huh, apanya yang bercanda?
Terluka begitu apa aku masih bisa bercada?
Minta diturunkan tapi pegangannya kenceng banget!
Tapi tentu saja keadaannya lain.
apa dia tidak pernah makan, tubuhnya masih saja ringan begini?
gumamnya dalam hati.
"Kita mau kemana? ini bukan jalan ke kelasku" protes Luna karena Satya membawanya semakin menjauhi arah kelasnya.
"Berisik!" jawabnya singkat.
Luna tak menyangka, ternyata pemuda itu membawanya masuk keruangan kesehatan.
Tak hentinya Luna memperhatikan wajah Satya sejak masuk sampai menurunkannya di tempat tidur dengan posisi duduk.
Tanpa banyak bicara, pemuda itu mencari alkohol dan plester dirak obat.
"Akhh.. pelan-pelan!" pekik Luna dengan menahan tangan Satya yang tengah membersihkan luka dilututnya.
"Tahan sedikit, ini tidak lama" ucapnya tetap fokus pada kegiatannya. Entah kenapa Luna jadi menikmati perhatian yang Satya berikan.
d**ia tidak melakukan yang macam-macam padaku. keterlaluan sekali aku sudah mencurigainya. padahal dia sangat baik!
Dia tidak menuntutku kali ini..
"Yap, selesai"
ucap Satya dengan mendongakkan wajahnya setelah selesai memasangkan plester pada luka Luna.
Seketika suasana menjadi hening.
Mereka yang duduk saling berhadapan tidak bisa menghindari untuk tidak saling beradu pandang.
ternyata kamu sangat tampan..
ucap batin Luna tanpa ia sadari.
"Apa yang Maura lakukan padamu?" tanyanya memecah keheningan dengan memasang wajah kesal.
"Eh.."
astaga, apa yang aku fikirkan??
yang tampan cuma Devin seorang.
sangkalnya dalam hati.
"Emm.. sebenarnya hanya masalah kecil. Tapi Maura selalu bereaksi berlebihan. Tadi dia memaksaku membuka masker!" jawabnya jujur.
jadi dia petuh dengan ucapanku?
"Anak pintar!" ucap Satya dengan menepuk puncak kepalanya pelan.
__ADS_1
apa maksudnya bilang aku anak pintar?
gak jelas..
gumam Luna dengan mengerutkan keningnya.
"Lain kali, kalau ada yang membuat masalah denganmu jangan diam saja. Lawan dia, kalau perlu kau bisa mencariku"
ucapnya dengan duduk bersandar dan kaki yang melipat.
waah.. angin apa yang membuatnya sebaik ini?
Luna mengangguk tanpa menatap pemuda didepannya. Jujur saja dia senang mendengar Satya yang garang itu menawarkan perlindungan untuknya. Hatinya sedang berbunga-bunga saat ini.
"Bagus, sekarang buka maskermu!" titah Satya kali ini terdengar dingin.
"Apa?" Luna mendongak
"Bukankah kau bilang aku tidak boleh membuka maskerku?
iya aku tau kau bilang hanya boleh membuka masker didepanmu. tapi kan aku gak mau!
Satya berdecak lalu beranjak berdiri dengan melipat tangannya didada.
"Apa kau mau membantah?"
"Heuh??"
Mata Luna yang membulat dan jantung yang mulai berdebar membuatnya tidak mampu untuk menjawab.
"Aku sudah membayar sewa rumahmu selama satu tahun kedepan, dan aku sudah membantumu dari gadis brutal itu. Sekarang kau mau membantah ku? Apa kau juga lupa dengan apa yang aku katakan saat itu, hah?"
Oh Tuhan.. tolong aku.
apa yang ingin dia lakukan?
Luna semakin gemetar saat Satya mendekat dan mengurung Luna menggunakan kedua tangannya.
"Sudah ingat?" tanyanya dengan senyum menyeringai dengan terus mendekatkan wajahnya.
"i..iya, aku ingat!" jawab Luna dengan memalingkan wajahnya dengan kedua tangan didada Satya untuk menahan tubuh pemuda itu agar tidak semakin mendekati wajahnya.
aku ralat ucapanku tadi.
ternyata Satya tetaplah Satya, semua yang dia lakukan pasti meminta imbalan.
orang baik mana yang ingin macam -macam padaku?
Feengg.. aku membutuhkanmu..
"Buka maskermu!" perintahnya sekali lagi tanpa mundur sedikitpun. "Kalau tidak_____"
"Oke oke.. aku buka!" ucap Luna cepat. Melawan seorang Satya tidak akan menang. Lebih baik menyerah saja dari pada Satya semakin mendekatinya. Dia sudah hampir roboh kalau saja sukutnya tidak menopang dengan kuat.
Mata Satya semakin melebar kala sang gadis perlahan mulai membuka penutup wajahnya.
Satya semakin terbelalak, wajah gadis didepan matanya terlihat semakin bersinar, bibir merah muda alami nan glossy membuatnya menelan ludah dengan berat. Jantungnya berdebar kencang..
kenapa dia semakin cantik?
gumam Satya dalam hati.
Sebuah rasa aneh tiba-tiba menelusup kedalam rongga hatinya tanpa ia mengerti rasa itu perasaan apa.
ternyata semakin dekat, dia semakin tampan..
hati Luna ikut berkata-kata.
Tangan Satya tiba-tiba terulur, tanpa sadar ia menyentuh pipi Luna dan mengusapnya lembut menggunakan ibu jarinya.
Kulitnya terasa halus, Satya lupa diri dengan terus memandangi wajah Luna.
Masih tanpa sadar, dia mengagumi kecantikan Luna yang tersembunyi sebelumnya.
kenapa aku merasa nyaman dengan perlakuannya..
ucap Luna membatin dengan membalas tatapan pemuda dihadapannya.
"Ekhem..!"
Kekacauanpun terjadi.
Luna kelabakan mencari maskernya yang sedari tadi ia pegang.
Sedangkan pemuda didepannya terlihat gelagapan seolah mencari sesuatu setelah menjauhkan diri dari Luna dan berakhir dengan kedua tangannya yang dimasukkan dedalam kantong celananya.
Dia masih saja bersikap jaim, padahalkan sudah keliatan. (hehehe)
"Aku tidak melakukan apa-apa!" ucap Satya yang kemudian tersenyum bodoh.
"Emang aku nanya?"
apa??
argkh.. Dion sialan!
umpat Satya pada orang yang mengganggu kegiatannya.
Rasanya ingin menjungkir balikkan anak itu saking kesalnya.
"Pulang sekolah aku tunggu didepan. Jangan membantah!" ucapnya dingin lalu menarik Dion memaksanya untuk keluar.
Meski banyak yang ingin Dion tanyakan, tapi Satya yang sudah menatapnya dengan tatapan membunuh membuatnya bungkam.
"Apa lagi yang kamu rencanakan untukku Satya?" gumam Luna yang mendongak menatap kepergian Satya yang menyeret dengan mengapit leher Dion sama seperti yang dia lakukan padanya.
bersambung
🌹🌹
__ADS_1
tinggalkan jejak dengan Like n Komen ya
😚😚