The Magic Girlfriend

The Magic Girlfriend
Pertolongan atau Ujian tambahan?


__ADS_3

Luna melirik jam dinding dikelasnya berulang kali dengan perasaan cemas.


"Kenapa jam segini Chery belum datang?" gumamnya yang was-was karena jam pelajaran pertama hampir dimulai.


Kalau dia tidak masuk sekolah, harusnya memberi kabar kan?


Samar terdengar suara hentakan kaki yang terdengar semakin mendekat.


"huh.. huh.. huh..."


Chery terlihat kelelahan saat menjatuhkan diri dikursi samping Luna duduk. Nafasnya terengah dan tubuhnya terkulai lemas seakan kehabisan seluruh tenaganya.


"kamu kenapa? abis dikejar anjing tetangga ya?" ledek Luna yang kemudian tertawa tanpa dosa.


"Ahh.. kau ini. Bukannya memberiku minum malah meledekku" dengus Chery kesal.


Luna tertawa lagi.


Mudah ditebak, pasti hari ini Chery bangun kesiangan lagi.


"nih, bukan cuma minum. Tapi juga sarapan" Luna menyodorkan botol minum dan sekotak roti panggang yang diberikan oleh pemilik kost untuknya.


"waah.. kamu memang terbaik! tau aja aku belum sarapan" ucap Chery yang langsung melahap roti didepan matanya dan Luna tersenyum senang dibalik maskernya.


"eh.. kenapa roti ini berisi selai kacang?" tanya Chery dengan mulut penuh. Pasalnya dia tau kalau Luna alergi kacang-kacangan.


"Iya, makanya aku berikan untukmu" jawab Luna yang dibubuhi tawa diakhir kalimatnya.


"Sudahlah, makan saja. Ini sehat dan halal kok" imbuh Luna meyakinkan Chery yang nampak menerka-nerka dari mana roti yang ia makan itu berasal.


braakkk


"uhukk..!" Chery tersedak karena terkejut. Luna segera memberikannya minum dan beralih menatap tajam kearah seorang gadis yang tiba-tiba datang menggebrak mejanya.


Sontak saja seisi kelas memperhatikan mereka.


Orang itu dan kedua dayangnya tersenyum sinis saat melihat Luna yang beranjak berdiri.


"Ada apa kak? kenapa tiba-tiba datang mengganggu kami?" ucap Luna tak kalah sinisnya.


Seisi kelas berbisik membicarakan mereka. Bikin masalah apa lagi dia sama senior?


Kurang lebih begitulah yang mereka katakan.


"Huh, aku mencari orang yang sudah kurang ajar padaku tadi pagi" jawabnya santai tanpa menatap lawan bicaranya. Dia hanya sibuk memperhatikan kuku jari tangannya yang berkilauan.


"Oh, kalau begitu carilah"


balas Luna acuh dan memilih untuk kembali duduk.


Brakk


"Dasar bodoh!"


Luna dan Chery mengerjap kaget karena dia menggebrak meja lagi. Entah kenapa apapun yang Luna lakukan ataupun katakan selalu membuatnya ingin marah.


"Yang aku cari itu kamu, bodoh!" teriaknya dengan menunjuk wajah Luna.


"Tolong kak, jangan membuat keributan disini!" Luna berdiri lagi dengan menepis tangan Maura.


"Kalau begitu ikut denganku!" tanpa persetujuan, tangan Luna sudah ditarik dan dibawa keluar oleh Maura.


Chery ingin mencegahnya, namun dua dayang Maura menahan dan mengancamnya.


"Kalian tidak boleh mengganggu Luna, kak Devin akan menghukum kalian nanti!"


Chery mengancam balik.


"huh, Devin tidak akan bisa menolongnya kali ini" ucap Fera yakin


"Karena kakeknya Devin sedang sakit, hehehe" imbuh Fetty yang ditanggapi pelototan dan Fera.


"Apa? Kak Devin tidak ada?" Chery panik. Tidak ada yang bisa ia mintai tolong selain Devin. Tapi..... sesaat kemudian, Chery menarik kedua sudut bibirnya keatas membuat Fetty dan Fera merasa heran.


Chery berdiri dengan percaya dirinya


"Kalian jangan salah, kalau kalian macam-macam dengan Luna, bukan cuma Devin yang akan menghukum kalian. Karena akan ada orang lain yang melindungi Luna!" ia menyeringai.


Awalnya dua dayang itu hampir termakan ucapan Chery. Namun setelah dipikir ulang, tidak mungkin ada yang melindungi Luna selain Devin yang kelilipan.


"Memangnya siapa yang akan peduli padanya!" ucap Fera dengan mendorong bahu Chery hingga terduduk lagi.


"Kalian lihat saja nanti!"


Tanpa mempedulikan ucapan Chery mereka berlalu setelah kembali memberi ancaman untuk tidak menolong Luna apalagi melapor pada Guru.


🌹🌹

__ADS_1


"Akkhh...!"


Luna tersungkur diatas hamparan kerikil dibelkang sekolah. Maura yang menarik tangan Luna kemudian mendorongnya itu tertawa puas melihat Luna yang merasakan kesakitan diarea lututnya.


"Sakit ya?" ledek Maura lalu tertawa.


"Aku salah apa lagi kak, bukankah sekarang kita sudah tidak punya masalah?" protes Luna sambil membersihkan lulutnya yang tergores dan sedikit berdarah.


"Enak saja kalau bicara!" ucap Maura dengan membungkuk mengarahkan wajahnya kearah Luna.


"Tadi pagi kau sudah berani mengacuhkanku, bukankah itu kurang ajar?"


Apa?


jadi karena masalah itu?


aku melawannya salah, diam saja juga salah. Lalu aku harus bagaimana coba?


"Kalau begitu aku minta maaf, biarkan aku pergi karena pelajaran pertama akan dimulai kak" ucapnya mengalah saja dari pada urusannya panjang.


"Maaf katamu?? Cuihh!!"


Luna terbelalak.


"Pagi ini semua guru pergi kerumah sakit untuk menengok tuan Abimana. Tidak akan ada guru dijam pertama, hahaha" ia teryawa lagi.


Tuan Abimana sakit?


berarti kak Devin tidak mungkin datang kesekolah..


sekarang bagaimana keadaan beliau ya? kenapa aku ikut khawatir??


"Heh, gadis bodoh" Luna terkejut dari lamunanya.


"Kamu masih punya hutang padaku!" lanjut Maura dengan santainya.


"Hutang apa kak? kapan aku meminjam uang padamu?"


"APA?? Benar-benar gadis bodoh. Apa kamu lupa dengan hutang jimat ajaib itu, hah?"


Luna meringis karena bentakan Maura.


aaa.. ternyata dia masih saja menginginkan benda seperti itu??


Oh astagaa..


"Kak, sudah berulang kali aku katakan, aku tidak memiliki benda seperti itu. Tolong percayalah!" pinta Luna dengan nada frustasi.


"Beraninya kau mempermainkanku Luna!"


"Akhh..!" Luna kembali memekik kesakitan karena Maura mencengkram rahangnya dengan kuat.


Namun seketika mata Maura seakan terkesiap saat melihat sebagian wajah Luna. Gadis dihadapannya terlihat berbeda.


Jiwa penasaranya mulai naik.


"Hugh"


Maura melepaskan cengkraman tangannya dan berdiri tegap dengan melipat tangan didepan dada.


"Buka maskermu!" perintahnya dengan tatapan tajam.


tidak, aku tidak mungkin membuka maskerku. disini panas!


gumamnya dalam hati.


Luna masih ingat betul dengan apa yang disarankan Satya untuk menjaga wajahnya dari sinar matahari langsung.


"Tidak bisa kak, aku harus tetap menggunakan masker" tolaknya sesantai mungkin.


"Kenapa?? apa wajahmu itu semakin penuh jerawat dan semakin merah-merah, heum??"


Luna ragu untuk menjawab.


Namun akhirnya ia mengangguk juga.


Lebih baik mengiyakan dari pada harus menjawab jujur. Setidaknya Maura pasti akan merasa jijik dan tidak mau melihat wajahnya lagi.


Begiu fikirnya.


"Tidak apa, buka saja. Aku ingin melihat wajahmu yang menyedikan itu!"


What??


Nggak.. nggak.. aku gak mau memperlihatkan wajahku.


"Kenapa diam?"

__ADS_1


Luna masih belum merespon. Gadis yang masih terduduk di hamparan kerikil itu terlihat ragu.


"Tunggu apa lagi Luna? Cepat buka!"


Sontak saja bentakkan Maura membuat Luna mendongak dengan cepat.


"Aku gak mau kak!" tolaknya lagi dengan memegang pipinya yang terhalang masker.


"Berani kamu ya nolak perintahku? Sini, biar aku yang buka!"


"Jangan kak!"


Luna mencoba menahan tangan Maura yang ingin membuka maskernya dengan paksa.


Ya Tuhan..


ada apa dengan gadis gila ini??


aku sangat benci saat-saat seperti ini..


racau Luna dalam hati.


Sebisa mungkin Luna mempertahankan maskernya. Maura yang penasaran dengan wajahnya itu sangat berusaha keras, Luna hampir saja tidak bisa mempertahankannya.


"HEH!!"


Kerah belakang baju Maura tiba-tiba ditarik keatas yang membuatnya terangkat bergerak menjauhi Luna sehingga aksinya itu terpaksa terhenti.


Gadis itu sudah seperti anak kucing yang digendong ibunya saja, hehehe.


"Akhh...!"


Pekikan kali ini adalah suara Maura yang terhuyung karena didorong hingga terjatuh sama seperti yang baru saja ia lakukan pada Luna.


"SATYA..??" Maura terbelalak.


"Bangun!" titahnya menatap mata kebiruan milik gadis yang juga sedang menatapnya.


Tuhaan..


ini pertolongan atau ujian tambahan?


Luna segera berdiri menerima uluran tangan Satya. Meskipun begitu, saat ini Luna sudah merasa tidak tenang.


Sepertinya ungkapan keluar dari kandang buaya masuk ke kandang macan akan terjadi dalam sejarah hidupnya.


Ya Ampuuunn..


bagaimana ini??


Kini tatapan pemuda tampan itu kembali beralih menatap gadis yang baru saja terjatuh dengan memegangi pinggangnya yang sakit.


"Heh, dengar ya!"


Maura sedikit beringsut mundur saat Satya mendekatkan wajahnya dengan tatapan tak bersahabat.


"Sekali lagi kamu gangguin dia, habis kamu!" ancamnya serius.


Luna saja sampai gemetar mendengar ancaman dari mulut Satya yang bahkan bukan untuk dirinya.


"Memangnya apa urusanmu!"


Satya yang sudah berbalikpun kembali menoleh.


"Karena cuma aku yang boleh mengganggu dia, paham??"


Luna terkejut bukan main karena lengan atletis Satya tiba-tiba mengapit lehernya.


Dia tidak bisa bergerak dengan mata yang masih terbelalak.


"Ayo pergi dari sini!"


"Eh..!"


Karena tak berkutik, Luna hanya menurut saja saat Satya membawanya pergi. Masih dengan leher yang diapit, Luna mengikuti irama langkah Satya yang lebar dengan sedikit terseok-seok.


Kenapa?


Kenapa sekarang Satya juga melindungi Luna. Sebenarnya yang kamu pakai untuk menarik mereka itu apa Luna??


"Hrgmm,, aku tidak boleh kalah oleh gadis buruk rupa itu. Lihat saja nanti.


AWAS KAU LUNA..!!!"


bersambung


🌹🌹

__ADS_1


Terus kasih dukungan yaa


LIKE KOMEN N VOTE see u 😙😙


__ADS_2