The Magic Girlfriend

The Magic Girlfriend
tertarik akan Luna


__ADS_3

Dan didepan sekolahnya kini Luna berada. Menatap pintu gerbang tanpa ekspresi.


Selepas perdebatannya dengan Fengying dirumah, Luna nampak menyimpan kekesalan.


Bagaimana tidak, Feng memintanya untuk ikut kedunianya yang entah membayangkannya saja Luna merasa takut.


Apalagi Fengying selalu membahas tentang putri YangMi..


Tidak,, aku bukan YangMi.


Mungkin saja dia seorang penjahat atau mungkin seorang buronan. Bagaimana mungkin dia menyamakan aku dengan orang yang sama sekali aku gak tau..


Oh Tuhan,, sebenarnya ada apa dengan hidupku..??


Disinilah duniaku,, bukan disana..! dan aku gak mau ikut dengan Feng walau dunianyalebih bagus sekalipun..


Seketika hentakan dibahunya membuat lamunannya pecah..


"heyy,, kenapa berdiri disini? ayo kita masuk, sebentar lagi gerbangnya ditutup..!" ajak Chery yang langsung mengapit lengannya membawanya masuk.


Melihat perubahan Luna yang tak seceria biasanya, Chery menghentikan langkahnya dan menahan Luna.


"kamu kenapa..??"


tapi sebelum Luna menjawab, Chery lebih dulu terkejut dengan luka-luka di tubuh sahabatnya..


"hah,, ya ampun.. apa yang terjadi denganmu Luna..??"


Luna hanya diam dan menjauhkan tangan Chery yang menyentuh wajahnya.


"aku tidak apa2..!" jawabnya malas..


Tiga orang gadis memperhatikan pergerakan Luna dari kejauhan..


"apa aku tidak salah lihat??" tanya Fera yang menatap Luna belum percaya..


"tidak,, matamu normal Fera, itu memang Luna. Dia selamat..!!" jawab Maura yang sama terkejutnya seperti Fera.


"Luna memang masih hidup, kemarin aku melihatnya makan siang berdua dengan Devin..!"


"APA..??" Maura dan Fera terkejut dengan menatap Fetty yang menampakkan wajah polos menyebalkan..


"kenapa kau baru bilang hah..??" sentak Maura


"ya ku fikir selamatnya Luna berarti kita tenang dong,, kita kan gak usah nyari dia..!"


"dasar bodoh,, keselamatan dia bisa membuat kita dalam bahaya tau gak??."


Fetty yang memiliki tampang polos ngeselin itu hanya cengengesan tanpa mengerti apa yang dimaksud Maura dengan terus menyesap minuman dalam cup ditangannya.


Mereka menghampiri Luna dan Chery dengan tergesa-gesa..


Spontan Chery beringsut mundur dan bersembunyi di balik tubuh Luna.


"beruntung sekali kau Luna..? ternyata kamu bisa kembali. Kau mendapatkannya??? " Maura bertanya dengan tampang tanpa dosanya


Luna yang biasanya bersikap manis dengan segala rayuannya, kini telah berbanding terbalik.


Matanya memberikan tatapan membunuh yang membuat Maura dan kawannya reflek mundur selangkah..


Marah..??


Jelas..


Bukan karena mereka mengakibatkan ia luka-luka, tapi Luna sangat marah karena ulah merekalah yang membuat ia terjebak masuk kedalam dunia Fengying yang sangat tak dimengertinya.


"PERGI KALIAN..!!"


Luna meneriaki mereka untuk segera menjauh..


Tapi bukannya pergi, mereka malah semakin terpancing untuk memberi Luna pelajaran..


"berani ya kau sekarang..!" pekik Maura dengan mengeratkan rahangnya..


Direbutnya minuman Fetty dan siap mengguyurkan cairan berwarna coklat gelap itu ke wajah Luna..

__ADS_1


Tapi entah apa yang membuat Maura tiba-tiba terpeleset dan minuman yang ia pegang sukses mengguyur tubuhnya sendiri..


"aakkhhh....!!" pekiknya dengan wajah yang teramat murka..


Luna dan Chery hanya menahan tawa sambil bertos ria sebelum melanjutkan langkah menuju kelas mereka..


Tanpa Luna ketahui, ada Fengying yang ikut tersenyum disudut yang tak terlihat oleh Luna.


Apa itu ulah Feng??


Dan bagaimana dengan Maura?


Jangan ditanya, jelas dia malu bukan main karena menjadi tontonan gratis sepagi ini..


Luna dan Chery tertawa-tawa puas sambil terus membicarakan Maura. Dan Chery bisa menebak, kalau luka Luna pasti ulah gadis sok berkuasa itu.


Luna mengiyakan, namun tak memperjelas apa yang mereka lakukan padanya.


Tapi masalah Luna pagi ini belum berakhir. Didepan kelasnya berdiri dua orang kakak kelasnya yang ia ketahui adalah antek-antek Satya...


perasaan aku gak enak..!!


Luna beringsut mundur saat kedua orang itu menatap tajam dengan terus mendekat.


"ada apa ini kak..?" tanya Luna kaku dengan ditemani Chery yang setia berpegangan pada lengannya..


"kamu Luna kan??" ia balik bertanya dengan berkacak pinggang


"iya, aku Luna, ta..tapi ada apa kakak..!?"


"jangan banyak omong, ayo ikut..!" sentaknya dengan meraih pergelangan tangan Luna memaksanya untuk ikut.


Terjadi adu mulut dan penolakan keras dari Luna, dia tak mau mengikuti begitu saja tanpa ada alasan yang jelas.


Luna terus meronta meolak ajakan seniornya tanpa ada yang mau membantu.


Chery juga bisa apa? dipelototin saja dia sudah menciut..


"heh.. lepasin dia..!" suara itu sangat Luna kenali, siapa lagi kalau bukan Devin..


"tentu saja ada,, Luna juga adik kelasku. Dan aku bisa saja melaporkan kalian karena sudah membuat keributan dengan adik kelas..!" ujarnya santai..


"huh.. awas aja kamu ya..! urusan kita belum selesai..!" ucapnya dengan melepaskan cengkraman ditangan Luna dengan kasar.


Senior itu tersenyum menyeringai sebelum pergi dengan menyenggol bahu Devin dengan sengaja.


"kamu gapapa kan?" tanya Devin khawatir..


"i..iya kak.. makasih.. lagi-lagi kakak nolongin aku..!" ucapnya dengan memegangi pergelangan tangannya yang terasa sakit.


"udah aku bilang jangan sungkan, bilang aja kalo mereka bikin ulah lagi..!" pesannya yang kemudian beranjak pergi setelah menepuk lengannya pelan dengan tersenyum..


Luna hanya mengangguk, dan si cerewet Chery terus menatap kepergian Devin dengan mata berbinar dan mulutnya yang menganga saking terpesonanya..


"heh.. udah sih liatinnya, Satya apa kabar neng?" sindirnya yang mendapat cebikan bibir dari Chery..


***


"bawa satu cewek kesini aja gak becus..!" dengus laki-laki tampan dengan tersenyum meremehkan.


"sory Sat.. kalo gak ada Devin, udah pasti dia udah ada disini sekarang..!" balasnya membela diri..


"siapa kamu bilang?? Devin..??" tanyanya dengan mencengram kerah baju temannya yang mengenakan seragam yang sama dengan dirinya.


"i..iya Sat.. Devin emang selalu lindungin cewek itu..!"


Satya melepaskan cengkramannya dan nampak mengerutkan keningnya..


"selalu melindungi??


mungkin hanya kebetulan, mana mungkin Devin melindungi gadis seperti dia??" ujarnya berpendapat..


"nggak Sat,, bukan hanya kali ini. Devin juga terlihat sangat akrab dengan Luna dan selalu menolongnya saat sicantik Maura mengganggunya..!"


Tanpa disadari, bibir kanan Satya terangkat dan menampilkan ekspresi yang tak biasa.

__ADS_1


Sepertinya dia menemukan ketertariakan pada Luna. Bagaimana mungkin Devin bisa sepeduli itu jika tak ada sesuatu dengan gadis biasa itu.


"kalau rencana A ini gagal, kalian lanjutkan dengan rencana B.. aku ingin memberi pelajaran pada gadis itu karena sudah berani membuat masalah denganku. Kita lihat, apa Devin bisa menolongnya kali ini..!" perintahnya dengan senyum menyeringai...


***


Bel tanda pulang berdering..


Riuh para siswa terdengar menggema dimana-mana..


Seperti biasanya, Luna memilih menunggu sekolah sepi sebelum meninggalkan kelas.


Bukannya tidak mungkin, sudah biasa Maura akan menghukumnya jika Luna telah berbuat salah padanya. Dan hari ini Luna merasa Maura pasti sangat marah atas kejadian tadi pagi..


Tanpa ragu Luna terus melenggang dengan santai karena dirasanya sekolah sudah sepi.


Bergumam ria dengan melantunkan sebuah lagu yang ia tak hafal liriknya..


Namun tak terduga, seseorang tiba2 menutup kepalanya dengan sebuah kaos dan memaksanya untuk ikut..


"aakhhh...!" Luna memekik dan meronta saat tubuhnya disekap dan dipaksa mengikutinya.


Apalah arti kekuatan yang dimiliki tubuh kecilnya yang berlawanan dengan orang yang menyekapnya.


Dan BRUKKKKK


Luna tersengukur dan terdengar suara pintu yang tertutup dengan keras..


"heeeyyy... keluarkan aku dari sini..!!" teriaknya setelah melepaskan kaos yang menutup kepalanya dan beranjak bangun untuk menggebrak-gebrak pintu itu..


Tak ada respon apapun dari luar,, Luna melemas didepan pintu sebuah ruangan gelap dan pengap penuh debu yang ia yakini adalah sebuah gudang.


ia yakin, sudah tak ada siapapun disekolah saat ini.


Luna tak bisa menahan untuk tidak menangis. Dia takut,, Luna sangat takut gelap..


ia terduduk dengan menenggelamkan wajah diatas lututnya yang ia tekuk..


Entah sudah berapa lama ia terkurung didalam sana.


Perutnya terasa perih karena belum ada apapun yang bisa ia cerna didalamnya.


Suhu ruangan semakin terasa dingin, tubuh Luna bergetar hebat menahan rasa takut dan dingin yang mulai membuatnya terasa kaku..


"siapa saja tolong aku..!" gumamnya lirih dengan sisa kekuatannya..


Kepalanya berputar-putar dan terasa berat. Penglihatannya kabur dengan pandangannya yang berkunang-kunang..


Hanya dalam hitungan detik, tubuhnya terkulai kehilangan tenaga..


Cicak dan binatang kecil lainnya hanya bisa menyaksikan kesakitan yang Luna rasakan tanpa bisa berbuat apa-apa. Hingga sebuah cahaya masuk dan membuat gerombolan binatang itu melarikan diri..


"ck..ck.. ck.. bodoh sekali kau Luna..!" cibirnya dengan menggelengkan kepala..


"seharusnya kau ikut saja denganku, dunia ini terlalu kejam untukmu..!" ucapnya dengan menatap Luna yang tak berdaya..


"tapi aku menghargai keputusanmu, mungkin ini saatnya aku merubah takdir burukmu. kau tak boleh mati dengan keadaan seperti ini..!" tuturnya yang kemudian berjongkok dan menjentikkan jarinya yang mengeluarkan cahaya berwarna putih kebiruan.


Diletakkannya cahaya itu dikening Luna. Seketika Luna merasakan kenyamanan, tubuhnya menghangat.


Tutup matanya ini seolah ia tengah tertidur pulas..


dan sesaat kemudian...


BRAAAKKKKK


pintu gudang terbuka dan menampakkan seorang pemuda yang terlihat panik dengan nafas yang terengah-engah..


bersambung


________________________________________


like dulu dong ya..


terus kasih komentar deh..😙😙

__ADS_1


__ADS_2