
Sepasang muda mudi duduk berhadapan disalah satu kantin rumah sakit yang saat ini sedang sepi.
Terhitung sejak mereka menerima minuman yang dipesan, ternyata sudah cukup lama mereka berdua berada disana tanpa adanya percakapan.
Keduanya tengah sibuk dengan fikiran masing-masing.
Satya hanya memutar-mutar botol minumannya diatas meja.
Sedangkan Luna mengigit-gigit sedotan dalam gelas minuman yang dipegangnya.
Keduanya sama-sama menatap kosong..
-flashback-
"Kenapa membawaku kesini?" Luna melepaskan tangan Satya yang menggengamnya.
Mereka berdua dalam keadaan sehat, lalu kenapa Satya membawanya kerumah sakit?
Luna kan takut dokter..
Langkah mereka jadi terhenti.
"Kamu bawel banget sih? ikut saja, mau protes atau______"
"Ya ya ya, kau menang lagi" pasrah Luna dengan menurunkan telunjuk Satya yang menunjuknya.
Pemuda tampan itu tersenyum penuh kemenangan.
Jantung Luna kembali berdebar saat Satya meraih tangannya lagi untuk ia genggam.
ahh... lagi-lagi mengenggam tanganku.
aku kan jadi takut.
lihatlah.. semua orang menatap kita.
gumam hati Luna sambil mengikuti langkah pemuda itu membawanya pergi.
Tangan itu masih saling berpagut meski sudah memasuki lift menuju lantai empat.
Entah sadar atau tidak, Satya tidak ingin melepaskan tangan gadis yang saat ini sangat penurut kepadanya.
Walaupun wajah tampan itu terlihat dingin, orang-orang yang mereka melewati saling berbisik mengagumi rupa pemuda yang menggenggam tangan sang gadis.
"Dirumah sakit ini saya sudah dua kali liat pemuda tampan seperti ini, tapi mereka sudah punya pacar semua" bisik seorang ibu yang berdiri dibelakang Luna terdengar kecewa.
"Iya ya, sayang sekali. Padahal kan cocok banget kalau dijadikan kandidat calon mantu, hehe" timpal ibu yang lain sambil berbisik namun masih bisa Luna dengar.
Dia denger gak sih ibu-ibu itu ngomongin dia? Tapi walaupun dengar, dia tidak mungkin peduli. Dasar manusia kaku!
Cibir Luna dalam hati.
Tingg
Pintu lift terbuka.
Satya kembali menarik tangan Luna untuk membawanya ke sebuah kamar rawat inap kelas VVIP.
"Tunggu dulu!" Luna menahan lagi saat Satya hendak membuka salah satu ruangan itu.
"Apa lagi sih?"
"Sebenarnya siapa yang sakit?"
Satya menghela nafas, "Kakek Abimana"
Apa?
Tuan Abimana?
Kakeknya Kak Devin kan?
Oh, Tuhan.. mungkinkah aku akan bertemu Kak Devin disini? Aduh, aku dek-dekan..
racau batinnya.
Dan saat pintu terbuka...
ceklekk
Luna dan Satya terkejut dengan pemandangan yang mereka lihat didalam sana.
Bukan hanya mereka berdua yang terkejut, tapi sepasang insan yang berada didalam pun tak kalah terkejutnya.
Mereka adalah Devin dan Freya.
__ADS_1
Yang membuat suasana tiba-tiba membeku adalah pemandangan dimana Devin yang tengah merebahkan kepalanya dipangkuan Freya dengan mendapatkan belaian penuh sayang dari sang gadis.
"Eh, Satya?" Devin segera bangun dan menyambut kedatangan Satya dan Luna.
Tidak ada jawaban apa-apa dari keduanya, yang terlihat hanya wajah syok yang masih belum memudar.
"Luna, kau juga datang?"
"Eh, iya Kak. Satya yang mengajakku kesini" jawab Luna sedikit gugup dan juga canggung.
"Jadi kalian hanya datang berdua?" tanya Devin lagi dengan menatap tangan mereka yang masih bertautan.
Dengan cepat mereka melepaskan pagutan tangan yang sedari tadi menempel tanpa mereka sadari.
"Iya kak!" lagi-lagi Luna yang menjawab. Ekspresi wajah Satya yang terlihat tidak suka sejak mereka masuk, mana mungkin mau menjawab.
"Hai Satya, apa kabar?" sapa Freya yang kini mendekat.
"Aku mau melihat kakek!" ucap Satya yang tidak mempedulikan sapaan Freya. Sang gadis hanya tersenyum saat Satya mengacuhkannya dengan melewatinya begitu saja mendekati tempat dimana Abimana tertidur dengan peralatan medis ditubuhnya.
Disitu Freya bisa mengerti, karena itu dia tidak sakit hati diperlakukan seperti itu oleh Satya.
"Oh iya Luna, ini Freya. Kamu pasti mengenalnya kan?" Devin mencairkan suasana dengan mengenalkan Freya pada Luna.
"Iya tentu saja Kak. Siapa yang tidak mengenal model secantik Kak Fee?" Luna tersenyum kaku.
"Kamu bisa saja Luna. Aku senang akhirnya bisa bertemu denganmu." Freya tersenyum manis.
"Bertemu denganku? Memangnya Kak Fee mengenalku?"
"Tentu saja, Devin sering menceritakan tentang kamu. Bahkan dia suka memujimu."
Devin hanya senyum-senyum mendengar penuturan Freya.
Ya Tuhan, benarkah?
Aaaa.. ternyata kak Devin suka memujiku didepan orang lain. Uuh.. kak Devin, aku padamu.
Luna senyum-senyum gemas dibalik maskernya. Membayangkan saat Devin memujinya, membuat Luna serasa melayang.
"Luna!"
"Eh, iya Kak?"
Luna terlihat ragu.
"Jangan memakaanya Fee, mungkin Luna malu" ucap Devin.
"Ih Devin" Freya mencubit pinggang Devin.
"Masa malu, tentu saja tidak kan Luna? Devin berlebihan!" mencubit lagi hingga Devin meringis sambil tertawa lalu mengusap puncak kepala Freya.
Mereka terlihat mesra sekali?
Tiba-tiba hati Luna terasa bergetar.
Dan Luna tidak mungkin menolak permintaan Freya yang hanya ingin melihat wajahnya.
Maskerpun siap ia lepas, namun..
"Ayo kita pulang!"
"Ehh!"
Devin dan Freya sedikit terperangah dengan sikap Satya yang tiba-tiba menarik tangan Luna dan membawanya pergi.
"Apa ada sesuatu diantara mereka, Dev?" tanya Freya.
"Entahlah. Kalaupun ada sesuatu, aku masih belum bisa yakin kalau sesuatu itu yang baik untuk Luna" jawab Devin dengan merangkul bahu Freya sambil menatap kepergian Satya dan Luna.
Flashback off
Sesaat, Luna teringat obrolan ibu-ibu dalam lift. Mungkin saja pemuda tampan lain yang mereka lihat dan dikatakan sudah punya pacar juga itu adalah Devin.
Apa mungkin mereka benar-benar sudah....
"Satya?" Luna memenacahkan keheningan.
"Apa?" datar.
"Apa kau memikirkan hal yang sama seperti yang aku fikirkan?"
"Memikirkan apa? Memangnya kau tau apa tentang yang kupikirkan?"
"Ya gak ngegas juga kali!" Luna mendengus kesal. Sedangkan Satya membuang muka dengan menatap kearah lain.
__ADS_1
"Aku tau kamu pasti memikirkan hubungan Kak Devin dan Kak Fee kan? Aku rasa mereka sudah...."
"Sudahlah, jangan membahas mereka. Gak penting juga."
Luna berdecak kesal, " Lalu kenapa dari tadi kamu melamun? Kamu cemburu kan?"
"Huh, sok tau. Siapa yang cemburu? Bukankah itu dirimu sendiri? Kamu memikirkan Devin kan?" sangkal Satya dengan nada meledek.
"Iya, memangnya kenapa?"
"Jangan memikirkan dia lagi!" Satya terlihat marah.
"Apa hak kamu melarang aku memikirkan tentang Kak Devin?" Satya terdiam, dan Luna pun beranjak berdiri.
"Walaupun aku banyak berhutang budi padamu, tapi kamu tidak punya hak melarang aku untuk memikirkan apa yang ada di pikiranku." Satya masih tidak mau menanggapi. Dia hanya diam tanpa mau menatap Luna yang terlihat marah.
"Ah sudahlah, aku pulang!"
"Aku antar!" ucap Satya dengan meraih tangan Luna saat sang gadis ingin pergi.
"Tidak usah, aku bisa pulang sendiri" Luna menolak dengan mengibaskan tangan Satya yang mencekalnya.
"Aku bilang pulang denganku, ya dengan aku. Patuhlah!"
Kenapa sih sikapnya padaku selalu seperti bos yang sedang memerintah bawahannya terus ?
Luna diam saja saat Satya menaikkan maskernya untuk menutupi wajah sang gadis tanpa mengatakan apa pun.
Lantas, ia pun kembali menggenggam tangan Luna dan membawanya keluar.
Dan anehnya, Luna selalu patuh dengan semua sikap dan ucapan Satya yang kadang membuatnya risih tanpa adanya perlawanan ataupun penolakan.
Sikap Satya yang bossy tapi kadang perhatian membuat Luna bingung sendiri.
Mungkinkah ada sesuatu dihati keduanya??
***
Ditempat lain.
Ciittttt.....
"Aduh, kalo ngerem jangan mendadak gitu dong? Kamu supir amatir ya?" bentak seorang wanita cantik pada supir barunya.
"Maaf nona, tadi saya melihat cahaya aneh dan terjatuh tepat didepan mobil kita nona!" jawab sang supir sedikit gemetar. Dia juga syok dengan kejadian yang baru saja terjadi didepan matanya.
"Cahaya? Cahaya apa?"
"Nanti saya cek dulu nona."
Sang supir pun turun dan sangat terkejut dengan apa yang kini ia lihat.
"Nona, ini orang nona!" sedikit berteriak.
"Orang?" ia pun turun dan mengecek sendiri apa yang sebenarnya terjadi.
Disana ia melihat sesosok manusia yang tengah pingsan dengan berpakaian serba putih dan rambut putih yang menjuntai panjang dalam posisi telungkup.
Kenapa aku merasa tidak asing dengan sosok ini?
Mungkinkah...
Ah.. mana mungkin!
"Nona, sepertinya orang ini adalah costplay " ucap sang supir.
"Mungkin saja. Coba, balikkan badannya!"
Dengan tubuhnya yang kurus, sang supir mencoba membalikkan tubuh orang itu dengan sekuat tenaganya.
"Ukhhh.. akhirnya!" ucap supir itu dengan nafas senin kamis.
Seketika wanita itu menutup mulutnya yang terperangah karena benar-benar tak menyangka.
"Ternyata ganteng ya non?"
Bukan, bukan itu yang ada dipikirannya, tapi setelah melihat wajahnya dia benar-benar yakin dan langsung mendekat untuk mengangkat kepala orang itu keatas pangkuannya.
"Pangeran Feng? Apa ini benar-benar kau? Bangunlah pangeran!" ucapnya dengan nada yang sedikit bergetar.
"Hah? Pangeran?" sang supir hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
**
jangan lupa di like n komen bebs..
__ADS_1