The Magic Girlfriend

The Magic Girlfriend
Mendadak Gugup


__ADS_3

"Dasar kalian bodoh!''


Fetty dan Fera menunduk tanpa berani menjawab apapun.


"Bagaimana bisa kalian diam saja saat Satya datang? Kalau saja dia tidak mengganggu, pasti aku sudah berhasil mengerjai gadis bodoh itu!" ucap Maura berapi-api. Dia paling tidak suka dengan kegagalan, apalagi semua itu bersangkutan dengan Luna.


"Bagaimana aku bisa memberimu kode, Satya datang tiba-tiba dan mengancam kami. Tentu saja kami tidak bisa berbuat apa-apa!"


Fetty mengangguk menguatkan penjelasan yang diucapkan Fera.


"Dengan ancaman Satya saja takut, huh payah!" cibir Maura dengan tangan yang bersidekap.


"Ya, sebenarnya bukan mengancam dengan kata-kata, tapi dia melototin kita gitu!" lanjut Fetty.


Mendengar penjelasan Fetty membuat Fera melebarkan matanya.


kenapa pake bilang begitu segala sih? dumal batinnya.


"Kalian benar-benar tidak berguna, dasar tidak bisa diandalkan! Kalian membuatku malu!" dengus Maura kesal kemudian pergi meninggalkan kedua temannya.


"Seenaknya saja mengatai kita bodoh, dia sendiri ketakutan kan saat berhadapan dengan Satya?"


Lagi-lagi Fetty mengangguk tanda setuju dengan ucapan Fera setelah Maura pergi menjauh.


"Emangnya dia gak tau apa, tatapan Satya yang tampan itu bisa mewakili semua kata-kata pedasnya?"


Kali ini Fera tercengang mendengarkan ucapan Fetty..


"Tumben, bicaramu kali ini benar Fetty.."


Fetty tersenyum bangga.. "Tapi,tapi.. Maura marah, kita berdua harus bagaimana sekarang?" senyumnya berubah menjadi manyunan.


"Ah.. biarkan saja. Tidak lama lagi dia pasti mencari kita, jangan pedulikan dia." ucap Fera tak peduli.


"Kamu benar Fera, dia kan gak punya teman lagi selain kita. Iya kan, hahaha"


Mereka pun bertos ria lalu pergi ke kelas dengan tertawa bersama.


🌹🌹


☉


"Argkh... lama sekali..!" gerutu pemuda tampan yang beberapa kali melihat jam ditangannya sambil bersandar dibadan mobil.


"kamu sengaja ya biar aku nunggu kamu disini sampai kering?" tuduh Satya dengan menampakan wajah kesal saat orang yang ditunggunya sudah berdiri tepat dihadapannya.


Pasalnya, terhitung lebih dari tiga puluh menit setelah bel pulang berbunyi, dia sudah menunggu Luna yang tak kunjung muncul. Mulai dari duduk santai dikursi kemudi sampai mondar mandir disamping mobilnya yang sudah terparkir didepan sekolah, gadis itu masih belum menapakkan kehadirannya.


Gadis itu memutar bola matanya jengah, "memangnya siapa suruh menungguku?" gumamnya yang masih bisa didengar Satya.


ehh.. kenapa malah melototin aku??


ucap batinnya.


"Ya ya ya, maaf. Aku menunggu sekolah sepi dulu baru bisa menemuimu"


"Apa? Jadi maksudmu kamu gak mau orang lain tau kau pergi bersamaku begitu?" terdengar tidak suka.


"Tentu saja!" jawab Luna santai.


"Huh, memangnya aku sangat buruk sampai tidak ingin orang lain melihat kita berdua?"


Luna tak mejawab.


" Sedangkan bersama Devin kalian bahkan blak-blakan sering berjalan bersama. Emang bedanya sama dia apa sih?" Satya membuang muka.


loh, kok marah?


apa maksudnya coba??


"Bu.. bukan begitu, kau tau kan sepopuler apa dirimu disekolah ini?"

__ADS_1


Satya kembali menoleh dengan menerbitkan senyuman. Mood nya tiba-tiba berubah. ia menegakkan berdirinya dan membusungkan dada dengan memasang wajah sombongnya.


"Kamu mana tau bagaimana kesulitannya aku menjawab keingintahuan mereka. Kau harus ingat Satya, aku ini siapa dan kau siapa. Mereka akan berfikir macam-macam jika mereka melihat kita bersama!" ucap Luna yang membuat bahu Satya seketika merosot.


Yang diucapkan Luna memanglah benar. Bagaimana mungkin gadis jelek dan bodoh sepertinya bisa bersama Satya yang sangat populer?


Tapi kenapa Satya terlihat tidak suka dengan penjelasan Luna.


ternyata kau masih menganggap tak pantas berada didekatku!


"Ahh.. sudahlah. Cepat masuk, kita berangkat sekarang" ajak Satya yang langsung masuk dan menduduki kursi kemudi tanpa mempedulikan Luna yang masih terlihat bingung.


"memangnya kita mau kemana?" tanya Luna belum mau bergerak sedikitpun.


"Jangan banyak bertanya. Mau patuh padaku atau______"


"Oke oke.. aku masuk!" potong Luna yang segera menuruti kemauan Satya.


Lebih baik patuh daripada menambah masalah, karena ancaman pemuda itu tidak pernah main-main..


aaaa... jangan tersenyum seperti itu.


kau akan terlihat semakin tampan..


serunya dalam hati ketika mendapati wajah sumringah Satya saat Luna mulai duduk disampingnya.


"kamu mau ngapain?" Luna terkejut sampai memundurkan wajahnya saat Satya tiba-tiba mendekatinya.


Tanpa menjawab apapun, satya menarik safebelt dan memasangkannya untuk Luna.


aishh.. bodoh!


dia hanya memakaikan sabuk pengaman, tapi apa yang sudah aku fikirkan?


malu kan jadinyaa..


gerutunya dalam hati.


Pengap, lagipula dia didalam mobil dan hanya bersama Satya. Tidak ada salahnya kan aku membuka masker? itu fikirnya.


Namun jelas saja yang Luna lakukan membuat kecanggungan itu terjadi.


Lagi-lagi Satya menelan ludahnya berat saat melihat bibir Luna yang terlihat sangat manis dan juga lembut.


arghk.. sial..


kenapa aku gugup? umpat batinnya dengan terus bersaha menstabilkan kemudinya.


Meski terlihat tidak peduli, namun sesekali Satya melirik Luna yang sedari tadi hanya diam. Dan entah kenapa, dirinya pun sulit untuk memulai kalimat apa yang harus dia ucapkan untuk memulai percakapan.


Sebenarnya kemana dia membawaku pergi?


Kenapa dia tidak bicara apapun padaku..


Luna tak berani bertanya langsung, kejadian salah faham tadi sudah membuatnya malu. Dan Luna tidak mau salah bicara lagi.


Ahh... suasana hening seperti itu membuatnya mengantuk.


"Kita sampai, ayo turun!" ucap Satya setelah memarkirkan mobilnya diparkiran yang tidak terlalu padat saat itu.


Namun...


"Heuh, dia tidur?"


Satya tersenyum sambil menggeleng ketika baru mengetahui gadis disampingnya tengah tertidur pulas.


Tangannya terulur untuk membangunkan sang gadis, tapi lagi-lagi wajah gadis yang tengah tertidur itu membuatnya kembali mendadak gugup.


Wajahnya terlihat lebih halus, bekas jerawatnya sudah memudar. Kulit kusam dan kemerahannya sudah tidak ada lagi.


Ternyata Luna memang cantik, gumamnya yang tanpa sadar mendekati sang gadis dengan menyentuh dan mengusap pipi dengan lembut menggunakan punggung tangannya..

__ADS_1


kamu manis sekali..


gumamnya disertai senyuman manis yang merekah.


Luna melenguh, Satya yang terkejut langsung menarik mundur tangannya dengan cepat.. Dia takut Luna menyadari apa yang dilakukannya.


Namun tubuh mungil itu hanya menggeliat kecil merubah posisi tanpa adanya tanda-tanda ingin terbangun.


Sekali lagi Satya dibuat tersenyum dengan apa yang dilakukannya.


"Dasar gadis bodoh, apa kau tidak takut aku akan melakukan sesuatu padamu? Bisa-bisanya kau tidur pulas saat bersama seorang pria? Apa senyaman itu kau ada didekatku? Dasar tidak waspada!" ucapnya dengan mengusap lembut puncak kepala Luna.


Gadis itu melenguh lagi. Bibirnya bergerak-gerak kecil membuat Satya semakin gemas melihatnya.


Tidurnya Luna yang senyenyak itu mengundang naluri liarnya yang semula tak terfikirkan menjadi sebuah kesempatan. Mungkin jika hanya melakukan sesuatu yang kecil Luna tidak akan menyadarinya, begitu fikirnya.


Meski sedikit ragu, pemuda tampan itu mencoba mendekati gadis manis yang terlihat masih tertidur pulas.


Masih dengan perasaan ragu, Satya semakin mendekat, dekat lagi, lebih dekat, dan lebih dekat lagi hingga hembusan nafas Luna yang teratur bisa ia rasakan.


deg


deg


deg


Kenapa aku jadi gemetar begini?


kenapa jantungku berdebar lebih cepat dari biasanya?


Tangannya mencengkram kuat kursi penumpang yang diduduki Luna.


Wajahnya sudah tepat dihadapan sang gadis.


Ahh.. tidak tidak!


aku tidak bisa melakukannya, ini seperti maling saja..


Satya berniat mengurungkan sikap tidak terpujinya. Namun belum sempat ia mundur, Satya terkejut saat mata Luna tiba-tiba saja terbuka dan membuat mereka terkejut bersama-sama.


"Kamu??"


"Aduh..!!"


"Ah.. maaf!!''


Luna menarik kembali tubuh Satya yang sempat ia dorong hingga membentur dashboard.


"Akhh.. sakit sekali" pekik Satya saat kembali menduduki kursinya.


"Maaf, tadi aku kaget. Lagipula apa yang ingin kamu lakukan padaku sampai sedekat itu?" selidik Luna penuh curiga.


"Aku ingin membangunkan dan memakaikan maskermu karena kita harus turun sekarang!" kilahnya dengan nada kesal sambil meregangkan punggungnya yang masih sedikit terasa sakit.


Oh.. benarkah??


astaga... aku salah faham lagi..


"Memangnya dimana ini?"


"Turunlah, nanti kau akan tau!" jawab Satya dengan menuruni mobilnya.


Luna pun melakukan hal yang sama, dan ia semakin bingung saat matanya menangkap nama sebuah tempat yang mereka datangi saat ini.


"Apa maksudnya ini? kenapa kau membawaku ke rumah sakit??"


Satya tersenyum menyeringai.......


bersambung


💓💓

__ADS_1


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE yaaa 😙😙


__ADS_2