The Magic Girlfriend

The Magic Girlfriend
kejutan lagi


__ADS_3

" kenapa muka kamu jadi kaya gini sih, kamu salah pakai krim wajah ya??"


Luna tak kuasa membuka mulut walau hanya untuk menjawab pertanyaan Devin. Dirinya justru sibuk mengendalikan detak jantungnya yang semakin tak terkontrol. Tangan Devin yang masih menangkup wajahnya membuatnya tidak berdaya dalam posisi sedekat ini..


"Luna, sebaiknya aku membawamu kesalon kecantikan tante Shinta untuk mengobati wajahmu ini..!"


"heuh?? tante Shinta itu siapa..??" tanyanya yang merasa baru mendengar Devin menyebutkan nama itu..


" mamanya Satya, salonnya itu tempat perawatan kecantikan yang terbaik. Wajahmu pasti akan sembuh..!" ucap Devin dengan menurunkan tangannya


APA?


milik mama Satya??


NO! NO! NO!


kau tidak tau wajahku seperti ini karena ulah Satya yang membawaku kesana..


"e.. tidak usah kak. aku hanya perlu menutupi nya saja.. ini tidak akan lama. pasti cepat sembuh..!" Luna menolak karena sebenarnya dia ketakutan.


Proses yang ia jalani kemarin masih sangat terasa dan ia bersumpah tidak ingin masuk kesana lagi..


"kamu ini bandel sekali ya..!" ucap Devin dengan menyentil kening Luna pelan..


"kamu fikir wajah kamu yang merah-merah itu bisa sembuh cuma ditutupin masker apa??"


"bukan begitu..!" kilahnya dengan mengusap keningnya yang tak berdosa


"kakak sudah melakukan banyak hal untukku, dan pemberian kakak yang ini juga sudah sangat berlebihan. sudah cukup kak, aku sangat berterimakasih untuk semua ini, rasanya yang kakak berikan tidak sebanding dengan apa yang aku lakukan untuk kakak..!"


Terdengar Devin mendesah pelan, ada raut tidak suka yang terpancar dari wajahnya.. "apa kamu fikir aku bersikap baik padamu hanya karena pertolonganmu saat itu??"


Luna tak menjawab


"mungkin salah satunya memang itu, tapi asal kamu tau Luna,yang aku lakukan untukmu itu tulus. Aku gak berharap imbalan apapun dari kamu. Dan jika kamu ingin berterima kasih, maka patuh lah.. itu sudah cukup..!" imbuhnya dengan mengusap kepala Luna pelan.


Ya Tuhan.. ternyata Devin sangat tulus kepadaku..


Luna benar2 tidak bisa berkata-kata, perlakuan Devin membuatnya seakan melambung keawan. Walau ada rasa tidak enak hati, tapi hatinya sudah terlanjur terlalu bahagia..


Namun ada satu hal yang harus dia ingat dan jangan sampai terlupakan..


jangan pernah berfikiran Devin menyukaimu Luna..!


Luna sudah mendapatkan lebih dari Devin, jangan pernah berharap lebih yang jelas-jelas itu sesuatu yang tidak mungkin. Semua kebaikan Devin sudah menjadi kejutan yang luar biasa didalam hidupnya..


Tanpa mereka sadari, ternyata ada seseorang yang tidak suka melihat adegan beberapa saat lalu diantara mereka..


braakk..


yang derada didalam ruangan itu jelas sangat terkejut..


"wow.. wow.. wow.. sabar kawan, ada apa ini..??" tanya Dion sambil membangunkan kursi yang terkena tendangan kasar Satya


"apa ada orang yang membuat masalah sama lo?" sambung Bian yang hanya melirik sebentar lalu kembali fokus pada game onlinenya


"katakan saja siapa orangnya, gue beri pelajaran biar dia kapok..!" saut Gio dengan nada berapi-api


"DIAM SEMUA..!"


Satya menjatuhkan tubuhnya dikursi tanpa berniat menanggapi pertanyaan teman-temannya..


kurang ajar..!


beraninya dia mengkhianati Fee, kalau suka dengan Fee ya sudah Fee saja. kenapa pake acara mendekati gadis yang jelek dan bodoh seperti Luna..


Dan kenapa gadis bodoh itu mau saja dipegang oleh dia, dasar keduanya sama-sama menyebalkan..!!


Tanpa dia sadari, umpatannya dalam hati itu harusnya berlaku untuk dirinya juga.


Bukankah Satya juga menyukai Freya??


Lalu kenapa dia juga mendekati Luna??

__ADS_1


"kurang ajar..!!" teriaknya dengan sekali lagi menendang meja didepannya..


Dion yang sigap langsung menahannya sebelum benda yang cukup berat itu terjungkal dan mengenai kakinya..


"tenanglah Satya, katakan ada masalah apa?" tanya Bian lagi setelah memasukan ponselnya kedalam saku dan pindah terfokus pada sahabatnya meski dia tidak memberi jawaban apa-apa..


"jangan membuat tebak-tebakan kawan, katakan ada apa. Lo mau turun tangan sendiri apa kita yang beresin?" tawar Dion kemudian sok tau...


Ya, memang sudah kebiasaan bagi mereka menerima tugas semacam itu dari Satya. Wajah pemuda didepannya terlihat sangat marah, tapi tidak biasanya dia tetap diam dengan menelan amarahnya sendiri seperti saat ini..


Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Satya kembali keluar tidak lupa membawa mini paperbag yang ingin ia berikan untuk Luna.


"sepertinya ada yang tidak beres..! sekarang dia suka main rahasiaan,.." ucap Gio dengan berkacak pinggang melihat kepergian Satya..


"kayanya sih gitu, kalian nyadar gak sih sejak Gio ngerjain cewek jelek itu sikap dia agak aneh, sering ngilang gak ngasih kabar lagi..!" ucap Dion yang bersandar dimeja dengan melipat tangannya didada masih dalam mode berfikir dan Gio mengangguk menguatkan dugaan Dion..


"bener banget, sekarang dia jarang gabung dibasecamp pula..!" imbuh Gio..


Sedangkan Bian hanya diam dengan terus menatap pergerakan Satya yang semakin menjauh..


🍃🍃🍃


"Luna.. kita duduk disana yuk..!" ajak Chery dengan menarik tangannya menuju tempat kosong dikantin sekolah


Niat hati ingin berdiam diri dikelas untuk tidak bertemu orang lebih banyak lagi, tapi dalam kondisi seperti ini perutnya tidak bisa diajak kompromi. Di jam istirahat kedua Luna menyerah dan terpaksa mengikuti ajakan sahabatnya.


Alasan yang paling Luna hindari adalah bertemu dengan gadis yang merasa paling cantik disekolahnya, siapa lagi kalau bukan Maura.


Ya, belum lima detik Luna duduk, saat ini gadis itu sudah berdiri tepat didepan mejanya bersama dua dayang setianya sambil melipat tangannya didada.


Senyum meremehkannya tercetak jelas diwajahnya yang... yaa cukuplah dibilang cantik..


astagaa.. kenapa aku beruntung sekali langsung bertemu dengannya disini..


benar-benar waktu yang tidak tepat..


gumamnya dalam hati..


Luna acuh, mencoba bersikap tenang dengan tidak menanggapi apapun yang diucapkan seniornya. Dan Chery menggenggam tangan Luna dengan tetap setia disampingnya.


"kenapa kau memakai masker seperti itu hah, apa wajahmu semakin jelek Luna,??" mereka tertawa mengejek lagi namun Luna masih enggang menanggapi..


"boleh aku melihatnya??"


plakk


Luna menepis tangan Maura yang hampir membuka maskernya.


"beraninya kau memukul tanganku..!" Maura berteriak. Dan jelas saja mereka menjadi pusat perhatian..


"aku mohon jangan ganggu aku kak!" ucap Luna masih berusaha menahan diri..


"huh.. kau pikir aku akan melepaskan mu begitu saja hah?? jangan harap..!!"


"jangan kak..!" Luna meronta dan mencoba melakukan perlawanan saat Fera menahan tubuhnya untuk tidak bergerak.


Dan Chery bisa apa? diapun tak berdaya karena Fetty mencengramnya...


"hahaha... lihatlah...!!"


Maura melepas masker Luna dan melemparnya kelantai lalu tertawa puas bersama teman-temannya...


"wajahmu benar-benar semakin jelek Luna...!" tawanya semakin menjadi-jadi..


Luna tak berdaya, dia hanya bisa diam dengan menundukan wajahnya..


Satya.. ini salahmu..


gumamnya dalam hati.


Rasanya ia ingin sekali menangis,,


"kakak jahat..!" racau Chery yang berusaha melepaskan diri meski tidak bisa terlepas juga..

__ADS_1


"diam kau,,!" menunjuk Chery dengan mata melototnya..


"kalau kamu protes lagi, aku pastikan kamu akan mendapatkan lebih dari apa yang aku lakukan pada temanmu yang kurang ajar ini..!"


Chery menciut, sebagai teman ia merasa tak berguna sama sekali karena rasa takutnya juga sama besarnya.


"Luna.. maaf..!" ucap Chery dengan memeluk Luna dari samping selepas Maura pergi setelah puas mempermalukannya.


"tidak apa Chery, kau tetap disampingku saja aku sudah bahagia..!" ucapnya dengan mengussap punggung tangan Chery yang berada dibahunya..


"kamu tenang saja, bagaimana pun keadaanmu aku akan tetap menjadi temanmu Luna.."


Luna pun tersenyum dan membalas pelukan sahabatnya..


"terima kasih Chery..!"


tiba-tiba...


brukk


Sebuah mini paperbag jatuh tepat dipangkuan Luna.


Spontan saja Luna dan Chery terkejut dan mendongak bersama melihat siapa yang menjatuhkannya..


"Luna, apa aku tidak salah lihat..??" tanya Chery dengan mengusap matanya berulang kali melihat punggung orang yang menjatuhkan benda itu dipangkuan Luna itu yang semakin menjauh..


Luna terpaku melihat orang itu yang pergi begitu saja tanpa mengatakan apa-apa setelah memberikan benda itu padanya..


"dia ngasih apa sih?? coba ku lihat??"


Chery mengambil alih dan melihat isinya yang ternyata cukup membuatnya tercengang..


"astaga Lunaa... ini kan... kosmetik terbaik dari sebuah salon kecantikan..!" ucapnya yang masih terkagum-kagum melihat satu set skincare ternama itu..


"Luna, bacalah...!"


Gadis bermata kebiruan itu terkejut saat Chery menyodorkan secarik kertas kepadanya. Tenyata dia melamun..


***kenapa kau melarikan diri kemarin?


dan sekarang kau tau akibatnya karena perawatan wajahmu yang belum selasai itu?


pakailah benda-benda ini, Hana sudah memberikan petunjuk pemakaiannya.


Lakukan dengan benar.


Perbaiki wajah jelekmu itu, jangan biarkan Maura melakukan hal yang sama padamu.


Kalau perlu, buat dia struk melihat perubahanmu***!!!


Luna menatap kertas ditangannya dengan tatapan yang masih belum percaya..


"apa ini benar-benar tulisannya..??" dan Chery yang mengintip pun ikut membacanya..


"aaaa... Luna, kau memberikan aku kejutan lagi. Bagaimana bisa Satya melakukan semua ini untukmu.. aku iri...!" dia merengek dengan mengguncangkan lengan Luna..


"jangan berisik Cher, jangan sampai orang lain tau. Kamu fikir aku tidak terkejut dengan kejutan ini..??"


Chery memberengut dengan bergelayut manja dilengan Luna..


Satya.. kenapa kamu juga sangat peduli padaku??


kau benar-benar memberiku kejutan lagi..


bersambung


🍃🍃


jangan lupa jempolnya kakak..


komentar n vote ya...


see uu...😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2